Google+
Tampilkan postingan dengan label Sembahyang. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Sembahyang. Tampilkan semua postingan

panca sembah atau kramaning sembah

panca sembah atau kramaning sembah

Sembahyang atau sering juga disebut muspa kramaning sembah merupakan jalan dan salah satu cara Memuja Tuhan bukan menyembah alam ciptaannya. sebelum memulai panca sembah terlebih dahulu ketahuilah apa itu sembahyang yang merupakan salah satu hakekat inti ajaran hindu, kemudian Pedoman dan Persiapan sembahyang,

Sikap Sembahyang dan Kramaning Sembah

  1. Kehadapan Sang Hyang Widhi, cakupan tangan diletakkan di atas dahi hingga ujung jari ada di atas ubun-ubun.
  2. Kehadapan para dewa (dewata), ujung jari-jari tangan di atas, diantara kening. 
  3. Kepada Pitara (roh) Leluhur, ujung jari-jari tangan berada di ujung hidung. 
  4. Kepada sesama manusia, tangan dihulu hati, dengan ujung jari-jari tangan mengarah ke atas.
  5. Kepada para Bhuta, tangan di hulu hati, tetapi ujung jari-jari tangan mengarah kebawah. (Titib, 1997:92).
untuk mantra atau meweda dalam panca sembah silahkan baca di "Sembahyang, kramaning sembah - Memuja Tuhan" yang didahului dengan mantra wajib bagi umat Hindu Bali yaitu Puja trisandya

Kupasan Mantra - mantra Tri Sandya

Kupasan Mantra - mantra Tri Sandya

kenapa mantra trisandya begitu penting untuk diucapkan dan dihayati?
inilah secara singkat penjelasan untuk hal tersebut,
semoga bermanfaat....

Mantram Pertama

Puja Trisandhya terdiri atas 6 mantram.
Mantram pertama disebut gayatri mantram, menurut nama iramanya, yaitu gayatri. Irama-irama lain misalnya:
  • anustup
  • tristup
  • canustup
  • pragathah
  • jagati, dan sebagainya
Di dalam Rg Veda III. 62. 10, kata bhur bhuvah svah tidak ada pada mantram ini.
Tambahan bhur bhuvah svah itu terdapat pada Yajur Veda Putih 36. 3.

Sembahyang, kramaning sembah - Memuja Tuhan

Sembahyang atau sering juga disebut muspa kramaning sembah  merupakan jalan dan salah satu cara Memuja Tuhan


salah satu hakekat inti ajaran agama Hindu (sanata dharma) adalah sembahyang. setiap orang yang mengaku beragama, ia pasti melakukan sembahyang karena sembahyang menurut agama bersifat wajib (harus). sembahyang intinya adalah iman atau percaya sehingga semua tingkah laku atau perbuatan, pikiran dan ucapan sebagai perwujudan dalam bentuk "bakti" hakekatnya sumber pada unsur iman (sradha).

menurut kitab Atharwa Weda XI.1.1, unsur iman atau sradha dalam agama hindu meliputi : Satya, Rta, Tapa, Diksa, Brahma dan Yadnya.

dari keenam unsur srada tersebut, dua ajaran trakhir termasuk ajaran sembahyang.
sembahyang terdiri dari dua suku kata, yaitu:
  • Sembah yang artinya "sujud atau sungkem" yang dilakukan dengan cara - cara tertentu dengan tujuan untuk menyampaikan penghormatan, perasaan hati atau pikiran, baik dengan ucapan kata - kata maupun tanpa ucapan (pikiran atau perbuatan).
  • Hyang artinya "yang dihormati atau dimuliakan" sebagai obyek pemujaan, yaitu Tuhan Yang Maha Esa, yang berhak menerima penghormatan menurut kepercayaan itu.
dalam kehidupan sehari - hari, sembahyang kadang sering disebut "muspa, mebakti atau maturan".
  • Muspa, karena dalam persembahyangan itu lazim dilakukan dengan jalan persembahan kembang, bunga (puspa).
  • Mebakti, yang berasal dari kata bakti. dikatakan demikian karena inti sembahyang itu adalah untuk memperlihatkan rasa bakti atau hormat yang setulus - tulusnya, sebagai penyerahan diri kepada yang dihormati atau Tuhan YME.
  • Maturan, artinya menyampaikan persembahan dengan mempersembahkan (menghaturkan) apa saja yang merupakan hasil karya sesuai menurut kemampuan dengan perasaan tulus iklas. intinya adalah perwujudan rasa bakti dan kerelaan untuk beryadnya.