Upakara dan Upacara Manusa Yadnya
Manusa yadnya adalah korban suci yang bertujuan untuk memelihara hidup dan membersihkan lahir bathin manusia mulai dari sejak terwujudnya jasmani di dalam kandungan sampai pada akhir hidup manusia itu. Pembersihan lahir bathin manusia selama hidupnya dianggap perlu agar
dapat menerima ilham atau petunjuk suci dari Ida Sang Hyang Widhi Wasa,
sehingga selama hidupnya tidak menempuh jalan yang sesat, melainkan
dapat berpikir, berbicara, berbuat yang benar dan akhirnya setelah
meninggal roh/atmannya menjadi suci bisa bersatu kembali kehadapan
Tuhan, setidak-tidaknya mendapat tempat disisinya.
Bagi mereka yang sudah tinggi kekuatan bathinnya pembersihan itu dapat
dilakukan sendiri, yaitu dengan melakukan yoga semadhi yang tekun dan
disiplin. Sebaliknya mereka yang merasa belum mampu melaksanakan hal
tersebut akan memerlukan alat serta bantuan orang lain misalnya,
melaksanakan upacara yang pada dasarnya tidak dapat dipisahkan dengan
upakara (banten), besar atau kecilnya disesuaikan dengan keadaan.
Unsur-unsur pembersihan di dalam Upacara Manusa Yadnya dapat di ketahui dengan adanya upakara-upakara seperti tirtha panglukatan atau tirtha pembersihan dan lain sebagainya. Tirtha-tirtha ini adalah air suci yang telah di berkati oleh sang sulinggih pandita (pendeta), sehingga air suci tersebut mempunyai “twah“ (wasiat), yang secara spiritual dapat menimbulkan adanya kebersihan (kesucian) itu.
Prinsip-prinsip yang harus dipegang dalam berYadnya yaitu keikhlasan, kesucian dan pengabdian tanpa pamrih.
Aphalakaanksibhir yadnyo
Vidhi drsto ya ijyate,
Yastavyam eveti manah
Samaadaya sa saatvikah (Bhagavad Gita, XVII.11)
Maksudnya:
Yadnya yang dilakukan menurut petunjuk kitab suci (vidhi drstah), dilakukan dengan ikhlas, yang sepenuhnya dipercaya bahwa yadnya itu sebagai suatu kewajiban suci. Yadnya yang demikian itu tergolong Satvika Yadnya.