Google+
Tampilkan postingan dengan label Wangsa Celuk. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Wangsa Celuk. Tampilkan semua postingan

Arya Celuk

Arya Celuk

Berikut sekilas cerita sejarah ataupun babad mengenai keberadaan Arya Celuk, dapat diinformasikan bahwa di Bali terdapat beberapa orang memakai nama I Gusti Celuk,

Gusti Celuk Keturunan Arya Kenceng.

dikisahkan oleh Mahapatih Kryan Gajah Mada waktu berhasil menyerang dan menaklukkan Bali, Arya Kenceng dinobatkan sebagai Anglurah, beliau berkedudukan di Pucungan pada tahun saka 1255 (tahun 1343 M).
adapun salah satu keturunan dari Arya Kenceng adalah I Gusti Gading alias I Gusti Tegeh Kori anglurah Badung.
dikisahkan I Gusti Gading menurunkan beberapa putra, salah satunya adalah I Gusti Ngurah Pujungan, yang nantinya menurunkan salahsatunya bernama I Gusti Ngurah Celuk

Pucungan sekarang merupakan sebuah desa bernama desa Buahan, Kabupaten Tabanan, dan pura Kawitan dari mereka keturunan dari Arya Kenceng tanpa kecuali apa pun sebutan atau gelarnya bersama-sama nyungsung Pura Kawitan di Bontinggih. 

Gusti Celuk Keturunan Gusti Bebalang

I Gusti Celuk juga ada keturunan I Gusti Bebalang di Desa Marga, Kabupaten Tabanan, yang mengikuti I Gusti Agung Putu merebas hutan yang berlokasi di sebelah selatan Marga, dan sesudah menjadi Desa Belayu, Belayu berasal dari kata “bala ayu”(rakyat pilihan) yang ngiring I Gusti Agung Putu, yang selanjutnya mendirikan kerajaan Mangwi, dan kata Mangwi terdiri dari dua kata yaitu “Mangu” karena di Gunung mangu inilah I Gusti Agung Putu memperoleh wara lugraha dari Yang Kuasa atau dari Kawi (Sanghyang Widhi Wasa/Tuhan Yang Maha Esa). 
Sebab itu kerajaannya dinamakan “mangu-wi”(di Gunung Mangu mendapatkan wahyu dari Kawi), dan juga disebut Kawyanegara, yaitu Negara karena kehendak atau diciptakan oleh Kawi (sanghyang Widhi Wasa/Tuhan Yang Maha Esa).

Gusti Celuk Keturunan Arya Kapakisan

Keturunan Arya Kapakisan alias Arya Kresna Kapakisan juga ada bernama I Gusti Celuk, salah seorang putra dari I Gusti Purnadesa putra angakt oleh I Gusti Kamasan dan Keturunan I Gusti Penida.

Adapun pura Sada yang berlokasi di Desa Kapal, Kecamatan Mengwi, Kabupaten Badung didirikan oleh Raja Mangwi, disungsung oleh seluruh rakyat kerajaan Mangwi, sedangkan pura Pedarman keturunan Arya Kapakisan termasuk I Gusti Celuk, salah seorang putra I Gusti Purnadewa ialah di pura Pedarman yang lazim disebut duwe Mangwi.
Pembangunan Pura Sada tersebut tidak lebih dahulu dari pura Besakih, dan cenderung dibangun lebih dahulu dari pura pedarman Arya Kapakisan yang terdapat di kompleks pura Besakih.
Memang di pura Besakih tidak ada pura pedarman khusus untuk I Gusti Celuk (dan bukan Arya Celuk), melainkan satu dengan kturunan Arya Kapakisan lainnya. Karena tidak tiap keturunannya memiliki pura Pedarman khusus di kompleks pura Besakih.
sumber: Jro mangku Gde Ktut Soebandi mengenal leluhur

Babad Gusti Celuk

Babad Gusti Celuk

Diceritakan Ki Gusti Celuk, keturunan Ki Gusti Kaler yang diusir dari Gelgel oleh Ida Dalem. Alasannya Ki Gusti Celuk disuruh menyelidiki ke daerah Sasak dan di Negri Cakranegara. Dalam hal ini akibat bertemu dengan Kiyai Asak, menjadi lupa dengan perintah Dalem.

Kemudian Ki Gusti Celuk meninggalkan Gelgel menuju daerah Kapal. Sampai di tengah jalan dihadang oleh Ki Arya Kenceng. 

Sesampainya di Kapal putri Ki Gusti Celuk diperistri oleh Ki Gusti Agung yang memerintah di Kapal. Dalam perkawinan ini lahirlah 

  1. Ki Gusti Gelgel, 
  2. Ki Gusti Umbara, 
  3. Ki Gusti Mundur. 

Tak diceritakan Ki Gusti Umbara menurunkan:

  1. Ki Gusti Tangkeban dan 
  2. Ki Gusti Biuh. 

Juga Ki Gusti Mundur menurunkan 

  1. Ki Gusti Jlantik dan 
  2. Ni Gusti Ayu Cenik. 

Ki Gusti Gelgel yang menggantikan tahta beliau. 
Kemudian Ki Gusti Tangkeban kawin dengan Ni Gusti Ayu Cenik atas persetujuan kedua orang tua mereka. Suatu ketika I Gusti Agung timbul perselisihan dengan Sang Pandya Wanasara, diutusnya lah Ki Gusti Tangkeban untuk menangkap Sang Pandya, dengan diberikan pusaka keris yang bernama I Balangapi. Ki Gusti Agung Kapal mengambil istri yang bernama Ni Gusti Ayu Sari.

Tak diceritakan Ki Gusti Jlantik berada di Celuk dan sampai menurunkan

  • Ki Gusti Nata 

dan ingin beliau kembali pulang ke negri Kapal. Setelah mereka berada di Kapal, kerajaan diperluas sampai ke Manganagara (Mengwi), dan Ki Gusti Jelantik tinggal di Mengwi. Setelah itu lahirlah putranya bernama 

  • Ki Gusti Jaruman. 

Beliau kawin dengan Ki Gusti Luh Made, tetapi terjadi kesalahpahaman di antara mereka.

Ki Gusti Nata memerintah dengan bijaksana, 
Ni Gusti ayu Sidemen Sudira dan kakaknya Ki Gusti Mranggi yang menurunkan 

  • Ki Gusti Wayahan Celuk. 

Ki Gusti Wayahan Celuk kawin dengan Ni Gusti Ayu Kajeng dan mempunyai 3 orang putra yang bernama 

  1. Ki Gusti Damar, 
  2. Ki Gusti Nengah dan 
  3. Ki Gusti Batu.

Sedang bersenang-senang Ki Gusti Nengah di Manganagarapura datanglah Ki Gusti Panji Sakti untuk meminang adiknya. Dalam kekacauan ini Sang Nata melarikan Ki Gusti Mataram sampai di Amlapura dan menetap di Tianyar. Beliau diterima oleh Ki Gusti Gajah Para, 
Ki Gusti Mataram di Tianyar mempunyai 5 orang putra bernama:

  1. Ni Gusti Cempaga, 
  2. Ki Gusti Nengah Kedisan, 
  3. Ki Gusti Nyoman Kaler, 
  4. Ki Gusti Ketut Songan dan 
  5. Ki Gusti Putu Rasa.

Ki Gusti Putu Rasa bertekad mendirikan tempat pemujaan di hulu desa Tianyar, dan selalu beliau bersemadi memuja Bhatara Siwa. Dan tak lama kemudian Ki Gusti Putu Rasa meninggal dan putranya Ki Gusti Celuk mengikuti jejak ayahnya.

Tersebut Ki Gusti Asak dan telah menurunkan Ki Gusti Bogol yang nantinya putra-putra beliau menyebar, misalnya ke Denpasar, ke Lombok dan ada juga yang masuk agama Islam. Juga ada keturunannya mengalih ke Sukawati, menjadi penguasa Sukawati, yang lari ke Gianyar dan ke Klungkung. 
Demikian lah asal usul Ki Gusti Celuk
sumber: Babad Gusti Celuk, Va. 1315/10 Gedong Kirtya, Singaraja.