Google+

Jumat, 09 April 2010

Percaya adanya Tuhan (Brahman/Hyang Widhi)

Percaya adanya Tuhan (Brahman/Hyang Widhi)

Yang merupakan bagian dari pokok kepercayaan dari Umat Hindu (Panca Srada)
Janmadyasya yatah” [Kitab Brahmasutra I.I.2]
artinya:
Tuhan ialah merupakan darimana asal mula semua ini.
Sarwam khalv idam brahma…” (Chandogya Upanisad III.14.1)
Artinya:
“Semua yang ada sesungguhnya Brahman…”

Sesungguhnya, setiap agama yang ada dan berkembang dimuka bumi ini, bertitik tolak kepada kepercayaan kepada Tuhan Yang Maha Kuasa. Banyak hal yang mendorong kita harus percaya terhadap adanya Tuhan itu dan berlaku secara alami. Adanya gejala atau kejadian dan keajaiban di dunia ini, menyebabkan kepercayaan itu semakin mantap. Semuanya itu pasti ada sebab- musababnya, dan muara yang terakhir adalah Tuhan Yang Maha Kuasa. Tuhanlah yang mengatur semuanya ini, Tuhan pula sebagai penyebab pertama segala yang ada.

Kendati kita tidak boleh cepat-cepat percaya kepada sesuatu, namun percaya itu penting dalam kehidupan ini. Banyak sekali kegiatan yang kita laksanakan dalam kehidupan sehari-hari hanyalah berdasarkan kepercayaan saja. Setiap hari kita mneyaksikan matahari terbit dan tenggelam. Demikian pula adanya bulan dan bintang yang hadir di langit dengan teratur. Belum lagi oleh adanya berbagai mahluk hidup dan hal-hal lain yang dapat menjadikan kita semakin tertegun menyaksikannya. Adanya pergantian siang menjadi malam, adanya kelahiran, usia tua, dan kematian, semuanya ini mengantarkan kita harus percaya kepada Tuhan, bahwa Tuhanlah yang merupakan sumber dari segala yang terjadi di alam semesta ini.
Karena agama itu adalah kepercayaan, maka dengan agama pula kita akan merasa mempunyai suatu pegangan iman yang menambatkan kita pada satu pegangan yang kokoh. Pegangan itu tiada lain adalah Tuhan, yang merupakan sumber dari semua yang ada dan yang terjadi. Kepada-Nya-lah kita memasrahkan diri, karena tidak ada tempat lain dari pada-Nya tempat kita kembali. Keimanan kepada Tuhan ini merupakan dasar kepercayaan agama Hindu. Inilah yang menjadi pokok-pokok keimanan agama Hindu.

Adapun pokok-pokok keimanan dalam agama Hindu dapat dibagi menjadi lima bagian yang disebut dengan Panca Sraddha, yaitu percaya adanya Tuhan (Brahman/Hyang Widhi), percaya adalanya Atman, percaya adanya Hukum Karma Phala, percaya adanya Punarbhawa (Reinkarnasi/Samsara) dan percaya adanya Moksa.

Percaya adanya Tuhan (Brahman/Hyang Widhi)

Percaya terhadap Tuhan, mempunyai pengertian yakin dan iman terhadap Tuhan itu sendiri. Yakin dan iman ini merupakan pengakuan atas dasar keyakinan bahwa sesungguhnya Tuhan itu ada, Maha Kuasa, Maha Esa dan Maha segala-galanya. Tuhan Yang Maha Kuasa, yang disebut juga Hyang Widhi (Brahman), adalah ia yang kuasa atas segala yang ada ini. Tidak ada apapun yang luput dari Kuasa-Nya. Ia sebagai pencipta, sebagai pemelihara dan Pelebur alam semesta dengan segala isinya. Tuhan adalah sumber dan awal serta akhir dan pertengahan dari segala yang ada.
Purusa evedam sarvam yad Bhūtam yacca bhavyam,
Utāmrtatvasyeśāno yad annenāti rohati
” (Rgveda : X.90.2)
Artinya :
“Apapun yang ada di dunia ini, apapun yang telah terjadi dan apapun yang akan terjadi, semua itu adalah Purusa. Dia adalah rajanya moksa. Dia juga rajanya yang tumbuh dari makanan”

Tuhan merupakan keuniversalan dari segala apa yang telah ada di dunia Bila kita megkaji Kitab Suci Veda maupun praktek keagamaan di India dan di Indonesia (Bali) maka Tuhan Yang Maha Esa disebut dengan berbagai nama. Berbagai wujud digambarkan untuk Yang Maha Esa itu, walaupun Tuhan Yang Maha Esa tidak berwujud dalam pengertian materi maupun dalam jangkauan pikiran manusia, dan di dalam bahasa sansekerta disebut Acintyarupa yang artinya: tidak berwujud dalam alam pikiran manusia (Monier, 1993 : 9), dan dalam bahasa Jawa Kuno dinyatakan: “Tan kagrahita dening manah mwang indriya” (Tidak terjangkau oleh akal dan indriya manusia).

Bila Tuhan Yang Maha Esa tidak berwujud, akan muncul pertanyaan mengapa dalam sistem pemujaan kita membuat bangunan suci, arca, pratima, pralingga, mempersembahkan bhusana, sesajen dan lain-lain.
Bukankah semua bentuk perwujudan maupun persembahan itu ditujukan kepada Tuhan Yang Maha Esa yang berwujud dalam pikiran manusia? 
Sebelum kita tinjau lebih jauh lagi membahas tentang Tuhan Yang Maha Esa, kita tinjau definisi atau pengertian tentang Tuhan Yang Maha Esa yang di kemukakan oleh maharsi Vyasa yang dikenal juga dengan nama Badarayana dalam bukunya: Brahmasutra, Vedantasastra atau vedantasara, sebagai berikut: Janmadyasya yatah (I.1.2), yang oleh Swami Sivananda (1977) diterjemahkan sebagai berikut: Brahman adalah asal muasal dari alam semesta dan segala isinya (janmadi= asal, awal, penjelmaan dan sebagainya, asya= dunia/alam semesta ini, yatah= dari padanya). Jadi menurut sutra (kalimat singkat dan padat) ini, Tuhan Yang Maha Esa yang disebut Brahman ini merupakan asal muasal dari segalanya. Demikianlah pula, Tuhan Yang Maha Esa sebagai sumber segalanya dan sumber kebahagiaan hidup.

Yo bhutam cabhavyam ca,
Sarvam yascadhitisthati,
Svar yasyaca kevalam tasmai,
Jyesthaya Brahmane namah.
(Atharvaveda X.8.1)
Artinya:
Tuhan Yang Maha Esa hadir dimana-mana, asal dari segalanya yang telah ada dan yang akan ada. Ia penuh dengan rahmat dan kebahagiaan. Kami memuja Engkau, Tuhan Yang Maha Tinggi.

Segala yag ada di dunia ini, merupakan perwujudan Tuhan yang Maha Esa, beliau yang selalu meresapi segala pelosok tempat, dan dapat menjangkau segala tempat, tidak terhalang langkahnya oleh siapapun, tidak terbatas oleh ruang dan waktu pada saat yang bersamaan. Oleh sebab itu beliau bersifat “Wyapi-Wyapaka Nirwikara” artinya: Ada di mana-mana namun tidak terpengaruh oleh yang ada bahkan kepori-pori sudut terkecil pun beliau ada, maka dari itu kita sebagai salah satu ciptaannya harus saling menghargai segala ciptaan yang ada karena itu sesungguhnya adalah Tuhan.

Narayana evedam sarvam,
Yadbhutam yacca bhavyam,
Niskalanko niranjano nirvikalpo,
Nirakhyatah suddho deva eko,
Narayano na dvitiyo’sti kascit.
(Narayana Upanisad 2)
Artinya:
Ya Tuhan Yang Maha Esa, dari engkaulah semua ini berasal dan kembali yang telah ada dan yang akan ada di alam raya ini. Hyang Widhi Maha Gaib, mengatasi segala kegelapan, tak termusnahkan, maha cemerlang, maha suci (tidak ternoda), tidak terucapkan, tiada dua-nya).
Dari pengertian diatas apapun yang ditujukan untuk memberikan batasan kepada Tuhan Yang Tidak Terbatas itu tidaklah menjangkau kebesaran-Nya, maka dari itu ada yang menyebutkan yang tepat untuknya yakni Neti-Neti (Na+iti, na+iti) Bukan ini bukan itu. Semua yang ada dan yang tiada itu hanya bisa kembali ke Tuhan.Dengan demikian Sang Hyang Widhi adalah Tuhan sebagai pencipta alam semesta. Tuhan sebagai Widhi disebut bersthana di luhuring akasa, yakni diatas angkasa, nan jauh disana, Tuhan yang mahasuci, beliau akan selalu memerciki sinar sucinya terhadap insan yang benar-benar memujanya. Memeberikan cahaya terang atau jalan yang baik bagi umat yang memujanya. Tuhan yang selalu memberikan kecemerlangan pikiran agar senantiasa pikiran yang tertuju terhadap beliau selalu jernih tanpa ada hal-hal yang kotor menyelimuti pikiran kita.

Didalam Weda (Bhagavad Gita), Tuhan (Hyang Widhi) bersabda mengenai hal ini, sebagai berikut:

Etadyonini bhutani, 
sarvani ty upadharaya, 

aham kristnasya jagatah, 

prabhavah pralayas tatha
.
(Bhagawad Gita VII.6)
Artinya:
Ketahuilah, bahwa semua insani mempunyai sumber-sumber kelahiran disini, Aku adalah asal mula alam semesta ini demikian pula kiamat-kelaknya nanti.

Aham atma gudakesa, sarva bhutasaya sthitah, 
aham adis cha madhyam cha, 

bhutanam anta eva cha.
(Bhagawad Gita X.20)
artinya:
Aku adalah jiwa yang berdiam dalam hati segala insani, wahai Gudakesa. Aku adalah permulaan, pertengahan dan penghabisan dari mahluk semua.

yach cha pi sarvabhutanam, 
bijam tad aham arjuna, 

na tad asti vina syan, 

maya bhutam characharam.
(Bhagawad Gita X.39)
Artinya:
Dan selanjutnya apapun, oh Arjuna, aku adalah benih dari segala mahluk, tidak ada sesuatupun bisa ada, bergerak atau tidak bergerak, tanpa aku.
Tuhan (Hyang Widhi), yang bersifat Maha Ada, juga berada disetiap mahluk hidup, didalam maupun doluar dunia (imanen dan transenden). Tuhan (Hyang Widhi) meresap disegala tempat dan ada dimana-mana (Wyapi Wyapaka), serta tidak berubah dan kekal abadi (Nirwikara). Di dalam Upanisad (k.U. 1,2) disebutkan bahwa Hyang Widhi adalah "telinga dari semua telinga, pikiran dari segala pikiran, ucapan dari segala ucapan, nafas dari segala nafas dan mata dari segala mata", namun Hyang Widhi itu bersifat gaib (maha suksma) dan abstrak tetapi ada. Di dalam Bhuana Kosa disebutkan sebagai berikut:
"Bhatara Ciwa sira wyapaka sira suksma tan keneng angen-angen kadiang ganing akasa tan kagrahita dening manah muang indriya". (Lontar Bhuana Kosa)
Artinya:
Tuhan (Ciwa), Dia ada di mana-mana, Dia gaib, sukar dibayangkan, bagaikan angkasa (ether), dia tak dapat ditangkap oleh akal maupun panca indriya.

Walaupun amat gaib, tetapi Tuhan hadir dimana-mana. Beliau bersifat wyapi-wyapaka, meresapi segalanya. Tiada suatu tempatpun yang Beliau tiada tempati. Beliau ada disini dan berada disana Tuhan memenuhi jagat raya ini.
"Sahasrasirsa purusah sahasraksah sahasrapat,
sa bhumim visato vrtva tyatistad dasangulam
". (Rg Veda X.90.1)
Artinya:
Tuhan berkepala seribu, bermata seribu, berkaki seribu, Ia memenuhi bumi-bumi pada semua arah, mengatasi kesepuluh penjuru.

Seribu dalam mantra Rg Veda di atas berarti tak terhingga. Tuhan berkepala tak terhingga, bermata tak terhingga, bertangan tak terhingga. Semua kepala adalah kepa_Nya, semua mata adalah mata-Nya, semua tangan adalah tangan-Nya. Walaupun Tuhan tak dapat dilihat dengan mata biasa, tetapi Tuhan dapat dirasakan kehadirannya dengan rasa hati, bagaikan garam dalam air. Ia tidak tampak, namun bila dicicipi terasa adanya disana. Demikian pula seperti adanya api di dalam kayu, kehadirannya seolah-olah tidak ada, tapi bila kayu ini digosok maka api akan muncul.
Eko devas sarva-bhutesu gudhas sarva vyapi sarwa bhutantar-atma karmadyajsas sarvabhutadhivasas saksi ceta kevalo nirgunasca. (Svet. Up. VI.11)
yang maksudnya:
Tuhan yang tunggal sembunyi pada semua mahluk, menyusupi segala, inti hidupnya semua mahluk, hakim semua perbuatan yang berada pada semua mahluk, saksi yang mengetahui, yang tunggal, bebas dari kualitas apapun.

Karena Tuhan berada di mana-mana, ia mengetahui segalanya. Tidak ada sesuatu apapun yang ia tidak ketahui. Tidak ada apapun yang dapat disembunyikan kepada-Nya. Tuhan adalah saksi agung akan segala yang ada dan terjadi. Karena demikian sifat Tuhan, maka orang tidak dapat lari kemanapun untuk menyembunyikan segala perbuatannya. Kemanapun berlari akan selalu berjumpa dengan Dia. Tidak ada tempat sepi yang luput dari kehadiran-Nya.
Yas tisthati carati yasca vancanti Yo nilayam carati yah pratamkam dvatu samnisadya yanmantrayete raja tad veda varunas trtiyah (Atharwa Weda IV.16.2)
artnya:
Siapapun berdiri, berjalan atau bergerak dengan sembunyi-sembunyi, siapaun yang membaringkan diri atau bangun, apapun yang dua orang duduk bersama bisikan satu dengan yang lain, semuanya itu diketahui oleh Tuhan (Sang Raja Alam Semesta), ia adalah uyang ketiga hadir di sana.

Kendatipun Tuhan itu selalu hadir dan meresap di segala tempat, tetapi sukar dapat dilihat oleh mata biasa. Indra kita hanya dapat menangkap apa yang dilihat, didengar, dikecap dan dirasakan. Kemampuannya terbatas, sedangkan Tuhan (Hyang Widhi) adalah Maha Sempurna dan tak terbatas.


TUHAN Yang Maha Esa

Di dalam Weda disebutkan bahwa Tuhan (Hyang Widhi) tidak berbentuk (nirupam), tidak bertangan dan berkaki (nirkaram nirpadam), tidak berpancaindra (nirindryam), tetapi Tuhan (Hyang Widhi) dapat mengetahui segala yang ada pada mahluk. Lagi pula Hyang Widhi tidak pernah lahir dan tidak pernah tua, tidak pernah berkurang tidak juga bertambah, namun Beliau Maha Ada dan Maha Mengetahui segala yang ada di alam semesta ini. Tuhan berkuasa atas semua dan Tunggal atau Esa adanya.
Yoccitdapo mahina paryapacyad
daksam dadhana janayantiryajnam, 

Yo deweswadhi dewa eka asit
kasmai dewaya hawisa widhema.
(Rg Weda X.121.8)
artinya:
Siapakah yang akan kami puja dengan segala persembahan ini? Ia Yang Maha Suci yang kebesaran-Nya mengatasi semua yang ada, yang memberi kekuatan spiritual dan yang membangkitkan kebaktian, Tuhan yang berkuasa. Ia yang satu itu, Tuhan di atas semua.

ya etam devam ekavrtam veda, 
na dwitya na trtiyas cateutho napyucyate, 

na pancamo na sasthah saptamo napyucyate, 

nasthamo na navamo dasamo napyucyate,

sa sarvasmai vi pasyati vacca pranati yacca na, 

tam idam nigatam sahah sa esa eka ekavrd eka eva, 

sarve asmin deva ekavrto bhavanti.
(Atharwa Veda XIII.4)
artinya:
Kepada ia yang mengetahui ini Tuhan semata-mata hanya tunggal. Tidak ada yang kedua, ketiga, keempat Ia dipanggil. Tidak ada yang kelima, keenam, ketujuh, Ia dipanggil. Tidak ada yang kedelapan, kesembilan Ia dipanggil. Ia melihat segala apa yang bernafas dan apa yang tidak bernafas. Kepada-Nya-lah tenaga penakluk kembali. Ia hanya tunggal belaka. Padanya semua dewa hanya satu saja.

Tuhan Yang Maha Esa, Yang Maha Kuasa, yang tak terjangkau oleh pikiran, yang gaib dipanggil dengan nama sesuai dengan jangkauan pikiran, namun ia hanya satu, Tunggal adanya.
Keesaan Tuhan Yang Maha Tunggal dijelaskan secara gamblang dalam mantra berikut ini:
"Ekam eva advityam Brahma" (Chandogya Upanisad IV.2.1)
artinya:
Tuhan hanya satu tidak ada yang kedua.

"Eko Narayanad na dvityo 'Sti kaccit" (Weda Sanggraha)
artinya:
Hanya satu Tuhan sama sekali tidak ada duanya.

"Bhineka Tungal Ika, tan hana Darma mangrwa" (Lontar Sutasoma)
artinya:
Berbeda-beda tetapi satu tidak ada Dharma yang dua.

Yo Devanam namadha eka eva (yayur weda XVII.27)
artinya:
Ia adalah satu dan dia disebut dengan banyak nama yang berbeda

Yad ekam jyotir bahudha vibhati (Atharwa weda XIII.3.17)
artinya:
Ada satu yang maha esa dan maha agung yang bercahaya, dia bersinah dalam bentuk yang berbeda-beda
Na dvitiyo na trtiyas caturtho napi ucyate (atharva veda 13.4.16)
artinya:
Yang Maha Esa tidak dipanggil yang kedua, uga tidak yang ketida maupun yang ke empat

 Sa esa eka ekavrd eka eva (atharwa weda XIII.4.20)
artinya:
Tuhan adalah satu dan hanya tunggal

Sarve asmin deva kkavrto bhavanti (Atharvaveda XIII.4.21)
artinya:
semua para dewa menjadi satu di dalamNYA

Upo te badve badvani yadi vasi nyarbudam (Atharwa weda XIII.13.4.45)
artinya:
semua bentuk yang tidak terkira banyaknya, terhubung dengan Tuhan yang Maha Agung

Sa eva mrtyuh so amrtam (Atharwa weda XIII.4.25)
artinya:
Ia adalah penguasa kematian dan keabadian

So aryama sa varunah sa rudrah sa mahadevah, 
So agnih sa u suryah sa u eva mahayamah
(atharwa weda XIII.4.5)
artinya:
Ia adalah aryamam, baruna, rudra dan mahadewa. ia adalah agni, surya dan maha yama

Tvam indras  twam mahendrah (atharwa weda XVII.1.18)
artinya:
ia adalah indra dan mahendra

Tad evagnis tad adityas tad vayus tad u candramah,
tad eva sukra tad brahma, ta apan sa prajapatih 
(Yajur Veda 32.1).
Artinya:
Agni adalah Itu, Aditya adalah Itu, Vayu adalah Itu, Candrama adalah Itu, Cahaya adalah Itu, Brahman adalah Itu, Apah adalah Itu, Prajapatilah Ia.

Agne bhurini tava jatavede deva svadhavo'mrtasya nama, yasca maya mayinamvisvaminva tve purvih sanndhuh prstabandho (Rg Veda III.20.3)
artinya:
banyak nama yang ditujukan kepada-MU, oh agni, Tuhan Yang Maha Kekal Abadi, Tuhan Yang Maha Suci, Jataveda dan banyak keindahan dari yang indah, yang memberikan inspirasi kepada segalanya, yang terbentang di dalamNya, Tuhan Yang Maha Esa dari pengiring yang sejati.

Idam mitram Varunam agnim ahur atho,
divyah sa suparno garutman,

Ekam sad vipra bahudha vadantyagnim,
yamam matarisvanam ahuh. 
(RgWeda.I. 164.46)
Artinya :
Mereka menyebut Indra, Mitra, Varuna, Agni dan Dia yang Bercahaya, yaitu Garutman yang bersayap elok, Satu Itu (Tuhan), sang bijaksana menyebut dengan banyak nama, seperti Agni, Yama Matarisvam. 

Sa eko bhagavan sarvah Siva karana karanam,
aneko viditah sarwah catur vidhasya karanam,
Eka twanckatwa swalaksana Bhattara,
Ekatwa ngaranya, kahidep makalaksana ng siwatattwa.
Ndan tunggal, tan rwatiga kehidepanira.
Mengekalaksana Siwa karana juga, tan pa prabheda.
Aneka ngaranya kahidepan Bhattara makalaksana caturdha.
Caturdha ngaranya laksananiran sthula suksma parasunya
. (lontar Jnana Siddhanta)
Artinya :
Sifat Bhatara Siwa adalah eka dan aneka. Eka (Esa) artinya Ia dibayangkan bersifat Siwatattwa. Ia hanya Esa, tidak dibayangkan dua atau tiga. Ia bersifat Esa saja sebagai Siwakarana (Siwa sebagai pencipta), tiada perbedaan.

di dalam kitab suci bhagawadgita juga menyatakan tentang keagungan Tuhan, sebagai berikut:
Vayur yamo'gnir varunah sasankah,
Prajapati tvam pra pitamahas ca 
(Bhagawad Gita XI.39)
Artinya:
Engkau adalah vayu dan Yama, Agni, Varuna dan Dewi Sasanka (rembulan), Engkau adalah Prajapati, Pencipta alam semesta dan leluhur umat manusia.
Tuhan Yang Maha Esa adalah kebenaran yang maha luhur, berikut ini dinyatakan keluhuran beliau (dalam wujudNYA yang neutrum), menunjukan bahwa sebelum ada suatu ciptaan, tidak ada nilai-nilai material:
Nasadasinn sadasittadanim nasid rajo no vyoma paro yat,
kim avarivah kuha kasya sarma nnambhah kimasid gahanam gabhiram 
(Rgveda X.129.1)
Artinya:
Pada saat itu tidak ada kenyataan, ketidak-nyataan, tidak ada udara, tidak ada langit. apakah yang menutupi dan dimanakah itu? dan adakah perlindungan disana, adakah disana air yang sangat dalam dan tidak terbatas?

Na mrtyurasid amrtam na tarthi na ratrya ahna asit praketah, anid avatam svadhaya tadekam tasmaddhanyanna parah kimca (Rgveda X.129.2)
artinya:
kematian belum muncul disana, demikian pula keabadian, tidak ada tanda-tanda siang atau malam, Yang Maha Esa hidup tanpa nafas yang menjadikan dirinya sendiri, sebagian dari padaNYA tidaklah diketahui apa sebenarnya.
Mantra Weda ini mengandung ajaran filsafat ketuhanan yang sangat tinggi. hal ini pula menunjukan bahwa alam pikiran umat manusia sangat terbatas, tidak dapat menjangkau yang maha besar dan maha tinggi itu.

selanjutnya dapat kita jumpai mantra yang menjelaskan semua dewata dan ciptaannya adalah satu, penjelasan ini tidak kontradiksi karena satu adalah segalaNYA dan segalaNya adalah satu. berikut ini petikan mantranya:
Ya eko asti damsana mahan ugro abhi vrataih, (Rg Veda VIII.1.27)
artinya:
Iya yang maha esa, yang mengagumkan, agung dan kuat serta mengendalikan hukum suciNYA.

ayam eka itya casthevi vispatih tasyan ratay anuyas caramasi (Rg Weda VIII.24.6)
artinya:
disini Yang Maha Esa, rajanya umat manusia, yang terlihat membentang terus jauh dan luas untuk kesejahteraan hidupmu, ikutilah hukum-hukumNYA.

Ejad druvapatyate visvam ekam caratpatatrivisunam vijatam (Reg Weda III.54.8)
artinya:
Esa dalam segalaNya adalah maharaja dari yang bergerak dan yang tidak bergerak, yang berjalan datau yang terbang dalam multi wujud ciptaanNYA.

esa dalam segalanya (visvam ekam) menunjukan tanpa jenis kelamin, netral, maha suci yang meliputi segala esensi. dengan demikian semua ciptaannya ada dalam yang esa, yang maha esa dalam berbagai aspek atau penampakanNYA yang suci. Visvadewah (dewa yang beraneka ragam) adalah ekodevah (yang maha esa) yang maknanya sama, yakni ESA, sesungguhnya ia yang maha esa adalah esensi segalanya (ekam).

pernyataan yang sama juga dijelaskan dalam petikan mantra berikut ini:
Mahad devanam asuratvam ekam (Rgveda III.55.1)
artinya:
Maha Esa dan Maha Agung adalah yang Tunggal gemerlapan

berdasarkan kutipan mantra weda diatas, jelas bagi kita bahwa ketuhanan dalam weda adalah Maha Esa. 

Dalam Kitab Veda juga membicarakan wujud Brahman (Tuhan). Di dalamnya menjelaskan bahwa Brahman sebenarnya adalah energi, cahaya, sinar yang sangat cemerlang dan sulit sekali diketahui wujudnya. Dengan kata lain Abstrak, Kekal, Abadi, atau dalam terminologi Hindu disebut Nirguna atau Nirkara Brahman (Impersonal God) artinya Tuhan tidak berpribadi dan Transenden. Meski Brahman tidak terjangkau pemikiran manusia atau tidak berwujud, namun jikalau Brahman menghendaki dirinya terlihat dan terwujud, hal itu sangat mudah dilakukan. Brahman yang berwujud disebut Saguna atau Sakara Brahman (personal God), Tuhan yang berpribadi atau immanent.

Kedua konsep Tuhan yang impersonal dan personal tersebut di atas dapatlah ditemukan dalam mantra Bhagavadgita IV.6,7,8 dan Bhagavadgita XII,1 dan 3 dengan sebutan sebagai berikut.
  1. ParanaamamTuhan Maha Tinggi dan Abstrak, Kekal Abadi tidak berpribadi impersonal, nirkara (tak berwujud), nirguna (tanpa sifat guna) dan Brahman. Tuhan atau Brahman dalam bentuk yang abstrak tersebut di Bali disebut Sang Hyang Suung, Sang Hyang Embang, Sang Hyang Sunya. Karena tidak berbentuk, sulit dibayangkan dan dipikirkan (acintya, Bali).
  2. VyuhanaamaTuhan berbaring pada ular di lautan susu. Gambaran Tuhan seperti ini hanya bisa dilihat oleh para dewa. Di Bali penjelasan seperti itu disebut Hana Tan Hana (Ada tidak Ada), artinya Tuhan itu diyakini ada, namun tidak bisa dilihat.
  3. VibhawanaamaTuhan dalam bentuk ini disebut Avatara (turun menyebrang). Tuhan. Ia juga biasa disebut Saguna atau Sakara Brahman (personal god). Visualisasinyapun dapat: Tumbuhan/binatang (Unanthropomorphes): tumbuhan Soma, Ikan, Kura-kura, Babi Hutan, Garuda. Setengah Manusia-binatang (semi-antropomorphes): Hayagrva yaitu manusia berkepala kuda , Natrasimha yaitu manusia berkepala singa. Bentuk manusia dengan segala kelebihannya (anthro-pomorphes) seperti Vamana, Sri Raama, Kresna, Bhagawan Sri Sathya Narayana.
  4. AntaraatmanamaTuhan meresapi segalanya dalam bentuk atma atau zat ketuhanan. Segalanya adalah Brahman (monisme).
  5. ArchananaamaTuhan yang terwujudkan dalam bentuk archa atau pertima (replika mini) seperti patung dalam berbagai bahan dan wujud.

Pada tingkat pemahaman Nirguna Brahman, Tuhan sering disebutkan sebagai:
  • Apramaya, yaitu kemahakuasaan yang sulit dibayangkan melalui panca indra karena beliau sangat halus dan sempurna.
  • Ananta, yaitu kemahakuasaan dilukiskan tiada terbatas, beliau ada di mana-mana, dan beliau mampu merubah segala sesuatu yang diingini olehNya.
  • Aupamya, yaitu kemahakuasaan Hyang Widhi yang sangat sulit mencari bandingannya. Karena semua makhluk yang ada di alam semesta tidak ada menyamai kemahakuasaan-Nya.
  • Anamaya, yaitu yang Maha Suci. Beliau sangat mulia, tidak pernah menderita suatu penyakit.
  • Mahasukma, yaitu Maha Gaib yang sangat halus.
  • Sarwagata, yaitu Maha ada, Maha Besar meliputi seluruh jagad raya.
  • Dhruwa, yaitu sangat tenang, tiada bergerak, stabil namun Ia berada di mana mana.
  • Awyayam, yaitu Maha sempurna, walaupun Ia mengisi seluruh alam raya semesta, kesempurnaan beliau tiada berkurang.
  • Iswara, yaitu Raja alam semesta. Ia mengatur alam raya semesta, dan tiada satupun kekuatan yang mampu mengatur beliau.
  • Swayambhu, yaitu Absolut dalam segala-galanya, tidak dilahirkan karena Beliau ada dengan sendirinya.
Brahman (tuhan) memiliki 3 aspek utama yaitu Sat - Cit - Ananda.
  1. Sat, sebagai Maha Ada satu-satunya, tidak ada keberadaan yang lain di luar beliau. Dengan kekuatanNya Brahman telah menciptakan bermacam-macam bentuk, warna, serta sifat banyak di alam semesta ini. Planet, manusia, binatang, tumbuh-tumbuhan serta benda yang disebut benda mati berasal dari Tuhan dan kembali pada Tuhan bila saatnya pralaya tiba. Tidak ada satupun benda-benda alam semesta ini yang tidak bisa bersatu kembali dengan Tuhan, karena tidak ada barang atau zat lain di alam semesta ini selain Tuhan.
  2. Cit, sebagai Maha Tahu. Beliaulah sumber ilmu pengetahuan, bukan pengetahuan agama, tetapi sumber segala pengetahuan. Dengan pengetahuan maka dunia ini menjadi berkembang dan berevolusi, dari bentuk yang sederhana bergerak menuju bentuk yang sempurna. Dari avidya (absence of knowledge- kekurangtahuan) menuju vidya atau maha tahu.
  3. Ananda, merupakan kebahagiaan abadi yang bebas dari penderitaan dan suka duka. Maya yang diciptakan Brahman menimbulkan illusi, namun tidak berpengaruh sedikitpun terhadap kebahagiaan Brahman. Pada hakikatnya semua kegembiraan, kesukaran, dan kesenangan yang ada, yang ditimbulkan oleh materi bersumber pula pada Ananda ini bersumber pula pada Ananda ini, bedanya hanya dalam tingkatan. Kebahagiaan yang paling rendah ialah berwujud kenikmatan instingtif yang dimiliki oleh binatang pada waktu menyantap makanan dan kegiatan sex. Tingkatan yang lebih tinggi ialah kesenangan yang bersifat sementara yang kemudian disusul duka. Tingkatan yang tertinggi adalah suka tan pawali duhka, kebahagian abadi, bebas dari daya tarik atau kemelekatan terhadap benda-benda duniawi.
Alam semesta ini adalah fragmenNya Tuhan. Brahman memiliki prabawa sebagai asal mula dari segala yang ada. Brahman tidak terbatas oleh waktu tempat dan keadaan. Waktu dan tempat adalah kekuatan Maya (istilah sansekerta untuk menamakan sesuatu yang bersifat illusi, yakni keadaan yang selalu berubah baik nama maupun bentuk bergantung dari waktu, tempat dan keadaan) Brahman.

Jiwa atau atma yang menghidupi alam ini dari makhluk yang terendah sampai manusia yang tersuci adalah unsur Brahman yang lebih tinggi. Adapun bnda-benda (materi) di alam semesta ini adalah unsur Brahman yang lebih rendah. Walaupun alam semesta merupakan ciptaan namun letaknya bukan di luar Brahman melainkan di dalam tubuh Brahman.

Tuhan, yang bersifat Maha Ada, juga berada disetiap mahluk hidup, didalam maupun diluar dunia (imanen dan transenden). Tuhan meresap disegala tempat dan ada dimana-mana (Wyapi Wyapaka), serta tidak berubah dan kekal abadi (Nirwikara). Di dalam Upanisad disebutkan bahwa Hyang Widhi adalah "telinga dari semua telinga, pikiran dari segala pikiran, ucapan dari segala ucapan, nafas dari segala nafas dan mata dari segala mata", namun Hyang Widhi itu bersifat gaib (maha suksma) dan abstrak tetapi ada.

Karena Tuhan berada di mana-mana, ia mengetahui segalanya. Tidak ada sesuatu apapun yang ia tidak ketahui. Tidak ada apapun yang dapat disembunyikan kepada-Nya. Tuhan adalah saksi agung akan segala yang ada dan terjadi. Karena demikian sifat Tuhan, maka orang tidak dapat lari kemanapun untuk menyembunyikan segala perbuatannya. Kemanapun berlari akan selalu berjumpa dengan Dia. Tidak ada tempat sepi yang luput dari kehadiran-Nya.

Kendatipun Tuhan itu selalu hadir dan meresap di segala tempat, tetapi sukar dapat dilihat oleh mata biasa. Indra kita hanya dapat menangkap apa yang dilihat, didengar, dikecap dan dirasakan. Kemampuannya terbatas, sedangkan Tuhan adalah Maha Sempurna dan tak terbatas.

Di dalam Weda disebutkan bahwa Tuhan tidak berbentuk (nirupam), tidak bertangan dan berkaki (nirkaram nirpadam), tidak berpancaindra (nirindryam), tetapi Tuhan dapat mengetahui segala yang ada pada mahluk. Lagi pula Hyang Widhi tidak pernah lahir dan tidak pernah tua, tidak pernah berkurang tidak juga bertambah, namun Beliau Maha Ada dan Maha Mengetahui segala yang ada di alam semesta ini. Tuhan berkuasa atas semua dan Tunggal atau Esa adanya.
Tuhan Yang Maha Esa, Yang Maha Kuasa, yang tak terjangkau oleh pikiran, yang gaib dipanggil dengan nama sesuai dengan jangkauan pikiran, namun ia hanya satu, Tunggal adanya.
Hampir semua kitab menjelaskan keberadaan tuhan dimana tuhan itu pada hakekeatnya ada pada semua mahluk dan tuhan juga merupakan tunggal, seperti matahari yang menyinari jagat raya ini.
Karena Tuhan tidak terjangkau oleh pikiran, maka orang membayangkan bermacam-macam sesuai dengan kemampuannya. Tuhan yang Tunggal (Esa) itu dipanggilnya dengan banyak nama sesuai dengan fungsinya. Ia dipanggil Brahma sebagai pencipta, Wisnu sebagai pemelihara dan Ciwa sebagai pelebur/pemralina. Banyak lagi panggilannya yang lain. Ia maha tahu, berada dimana-mana. Karena itu tak ada apapun yang dapat kita sembunyikan dihadapan-Nya. Orang-orang menyembah-Nya dengan bermacam-macam cara pada tempat yang berbeda-beda. Kepada-Nyalah orang menyerahkan diri, mohon perlindungan dan petunjuk-Nya agar ia menemukan jalan terang dalam mengarungi hidup ini.

Tuhan didalam agama Hindu merupakan suaru esensi tertinggi yang meresapi seluruh jagat raya ini. Penggambaran tentang Tuhan Yang Maha Esa ini, meskipun telah berusaha menggambarkan Tuhan semaksimal mungkin, tetap saja sangat terbatas. Oleh karena itu kitab-kitab Upanisad menyatakan definisi atau pengertian apapun yang ditujukan untuk memberikan batasan kepada Tuhan Yang Tidak Terbatas itu tidaklah menjangkau kebesaranNya. Sehingga kitab-kitab Upanisad menyatakan tidak ada definsi yang tepat untukNya, Neti-Neti (Na + iti, na + iti), bukan ini, bukan ini.

Untuk memahami Tuhan, maka tidak ada jalan lain kecuali mendalami ajaran agama, memohon penjelasan para guru yang ahli di bidangnya yang mampu merealisasikan ajaran ketuhanan dalam kehidupan pribadinya. Sedangkan kitab suci Veda dan temasuk kitab-kitab Vedanta (Upanisad) adalah sumber yang paling diakui otoritasnya dalam menjelaskan tentang Brahman (Tuhan Yang Maha Esa).

TUHAN Maha Pencipta

berikut ini sloka yang menjelaskan bahwa Beliau maha pencipta, sumber dari segala yang ada:
Brahma jajnanam prathamam purastat (Atharwa weda IV.1.1)
artinya:
Beliau adalah yang pertama-tama, yang ada di alam semesta

Brahmana bhumir vihita,
brama dyaur uttara hita, 

brahma-idam urdhvam tiryak
ca-antariksam vyaco hitam
(Atharwaweda X.2.25)
artinya:
Brahman menciptakan bumi ini. brahma menempatkan langit ini diatasnya, brahman menempatkan wilayah tengah yang luas ini diatas dan di jarak lintas.

Aham jajana prthivim uta dyam,
Aham rtun ajanayam sapta sindhun
(Atharwa veda VI.61.3)
artinya:
Aku menciptakan langit dan bumi, aku menciptakan musim-musim dan 7 buah sungai

Ya Ime dyava prthivi jajana (Atharwa weda XIII.3.1)
artinya:
Ia yang menciptakan langit dan bumi

Satas ca yonim asatas ca vi vah (Atharwa weda IV.1.1)
artinya:
Tuhan memperlihatkan keaslian segalanya, apakahitu terwujudkan ataukah tidak terwujudkan

inilah pandangan orang bijak tentang tuhan:
Hana wuta samoha, amalaku winarah wruh ring liman, saka swikaranya wruha, amalaku ta ginamelaken dening wong manon liman, ndan kapwa dudu ginamelnya sowang-sowang, hana anggameli hulu, kadi kumbha liman lingnya, waneh angameli talinga, kadi hirir liman lingnya, waneh anggameli gading kadi kakayu binunut liman lingnya”. (Wrhaspati Tattwa: 4. 1)
Artinya:
Ada orang buta berkumpul, mohon diberi tahu oleh orang yang mengetahui gajah, karena keingin tahuannya demikian kuat, (ia) mohon agar dirabakan oleh orang yang melihat gajah, tetapi masing-masing dirabakan pada bagian yang tidak sama, ada yang dirabakan pada kepala, seperti tempayan gajah itu katanya, yang lain dirabakan pada telinga seperti kipas gajah itu katanya, yang lain dirabakan pada gadingnya, seperti kayu dibubut gajah itu katanya.

Yato va imani bhutani jayante,
yena jatani jivanti,
yat prayanty abhisam visanti,
tad vijinasasva tad brahmeti
. (Taittiriya Upanisad III.1)
Artinya :
Dari mana semua ini lahir, dengan apa yang lahir ini hidup, kemana mereka masuk setelah kembali, ketahuilah, bahwa itu adalah Brahman.

Eko devas sarva-bhutesu gudhas,
sarva vyapi sarwa bhutantar-atma,
karmadyajsas sarvabhutadhivasas,
saksi ceta kevalo nirgunasca
. (Svet. Up. VI.11)
Artinya :
Tuhan yang tunggal tersembunyi pada semua mahluk, menyusupi segala, inti hidupnya semua mahluk, hakim semua perbuatan yang berada pada semua mahluk, saksi yang mengetahui, yang tunggal, bebas dari kualitas apapun.

Isavasyam idam sarwam yat kiňca jagatyam jagat tena tyaktena bhuňjitah, ma grdah kasya sviddhanam”. (Īśavasya upanisad)
Artinya :
Semua hal dari alam semesta ini, yang sementara, yang dapat lenyap, dilingkupi oleh Tuhan (Īśa), yang merupakan realitas sebenarnya: oleh karena itu, ia harus dipergunakan dengan secukupnya dan rasa puas, tanpa rasa loba atau tamak karena kesemuanya itu milik Tuhan dan bukan milik seseorang”.

ya eko jālavān īśata īśanībhih sarvān lokān īśata īśanībhih,
ya evaika udbhave ca, ya etad vidur amrtās te bhavanti
”. (Sweta Swatara Upanisad)
Artinya :
“Dia Diri Yang Maha Agung, yang di alam semesta ini menjadi satu-satunya Penguasa Alam Semesta, yang memiliki kemampuan mencipta, yang menguasai Alam Semesta dengan kekuasaan-Nya yang amat besar, dengan kemampuan Maya-Nya itu telah mencipta dan mengatur muncul dan lenyapnya segala sesuatu di Alam Semesta ini. Siapa yang telah dapat menyadari dan menghayati Kasunyataan ini, Dia menjadi bersifat abadi”

Yac cid hi tva jana ime nana havanta utaye,
asmakam brahmedam indra bhutute,
aha uisva ca vardhanam
(Rgveda VIII.1.3)
artinya:
umat manusia pada waktu keadaan darurat memohon kepadaMU, dengan beraneka ragam untuk keselamatan mereka, semoga doa-doa kami terkabulkan.

Anasnan anyo abhicakasiti (Rgveda I.164.20)
artinya:
Tuhan hanya menyaksikan tindakan-perbuatan dari semuanya. dia tidak mengalami akibat dari suatu tindakannya itu

Na tasya pratima asti (Yajurweda XXXII.3)
artinya:
Tuhan Yang Maha Esa yang tidak tergambarkan tak terpikirkan

Tam eva viditva ati mrtyum eti (yajurveda XXXI.18)
artinya:
hanya dengan mengenat Beliau (tuhan), orang bisa mencapai keselamatan.

yasmad rco apataksan,
yajur yasmad apakasan,
samani yasya lomani
atharvangiraso  mukham
(atharwa weda X.7.20)
artinya:
Rgweda dan yajur weda berasal dari dia, samaweda adalah rambutNYA dan atharwa weda adalah mulutNYA.

Asac ca yatra sac ca antah (atharwa weda X.7.10)
artinya:
segalanya baik yang termanifstasikan maupun tidak ada dalam diriNYA

Aham Brahmasmi
Artinya:
“aku adalah Brahman” (Brhadaranyaka Upanishad 1.4.10 – Yajur Veda)

Prajnanam Brahma
Artinya:
“Kesadaran adalah Brahman” (Aitareya Upanishad 3.3 – Rig Veda)

Ayam Atma Brahma
Artinya:
“Sang Diri adalah Brahman” (Mandukya Upanishad 1.2 – Atharva Veda).

Tat tvam asi
Artinya:
“aku adalah kamu, dan kamu adalah aku” (Chandogya Upanishad 6.8.7 – Sama Veda).

Prajapatiscarati gaebhe antarajayamano bahudha vijayate,
Tasyayonim paripasyanti dhirastasminha tasthur bhuvavani visva
. (yajurveda 31.19)
artinya,
Tuhan tidak pernah terlahirkan (ajayamanam), Ia merupakan ayah alam semesta (prajapati),Ia tinggal di dalam atmanya manusia (garbhe antascarati),Ia dg berbagai macam cara ( bahuda) menciptakan dunia ini ( vijayate).Para Yogi yg melaksanakan Yoga ( dirah) mengetahui (tasyanonim) dan melihatnya ( paripasyanti) di semua loka. Tetapi semua loka tersebut berada di dalamnya (tasthur).

Ayam eka itya pururu casthevi visatih
Tasyan vratanyanu vas caramasi. (Rgveda VIII.25.26)
Artinya:
Disini Tuhan Yang Maha Esa , Rajanya umat manusia, yang terlihat membentang terus, jauh dan luas, untuk kesejahteraan hidupmu, ikutilah hukum-hukum-Nya
Yatra viśvam bhavatyekanīdam (Yajur Veda 32.8)
Artinya:
Padanya seluruh alam semesta menjadi satu rumah

Dhatabjayonir druhino
Virancih kamalasanah,
Srasta prajapatir vedha
Vidhata visvasrtvidhih.
(Widhi papincatan)
Artinya:
Brahma adalah Dhata (yang memegang atau menampilkan segala sesuatu), Abjayoni (yang lahir dari bunga teratai), Druhina (yang membunuh raksasa), Viranci (yang menciptakan), Kamalasana ( yang duduk diatas bunga teratai), Srsta (yang menciptakan), prajapati (raja dari semua mahluk/masyarakat), Vedha (ia yang menciptakan), Vidhata (yang menjadikan segala sesuatu), Visvasrt (ia yang menciptakan dunia) dan Vidhi berarti yang menciptakan atau yang menentukan, juga berarti yang mengadilinya.

Dibali kita telah temukan sebuah lontar bernama Widhi Papincatan yang berisi keputusan-keputusan hukum/ pengadilan semacm Yurisprudensi. Demikian pula nama lontar Widhisastra yang berarti pengetahuan tentang widhi (theology), dan juga lontar-lontar susastra jawa kuno lainnya. Pengertian Vidhi (dalam bahasa jawa kuno ditulis widhi) sebagai pencipta, aturan atau perintah tertinggi, tertib (aturan) alam semesta, nasib, penguasa tertinggi adalah sejalan dengan pengertian yang terdapat di dalam susatra veda.

Dengan demikian Sang Hyang Widhi adalah Tuhan sebagai pencipta alam semsta. Tuhan sebagai widhi tersebut bersthana di luhuring akasa yakni di angkasa. Dalam pengertian ini tentunya Tuhan Yang Maha Esa di gambarkan tidak berwujud (impersonal god).Kapan Sang Hyang Widhi dimohon turun hadir untuk menerimapersembahan, maka saat itu juga beliau telah terwujud dalam alam pikiran. Wujud-wujud utamanya itu disebut dengan Tri murti (Brahma, Wisu, Siwa)

Nama Sang Hyang Widhi ( Sang Hyang Widhi Wasa) berarti yang menakdirkan, yang maha kuasa yang dalam bahasa bali diterjemahkan dengan Sang Hyang Tuduh atau Sang Hyang Titah. Nama ini adalah nama yang amat umum, yang gambarannya lebih lanjut tidak disebut-sebut dalam sastra-sastra lontar. Bhatara Siwalah panggilannya dalam sastra-sastra lontar, yang gambarannya selalu kita jumpai baik dalam sastra-sastra agama , seperti pada lontar-lontar BhuwanaKosa, Wrhaspatitattva, Tatwajanana, Mahajnana, Ganapatitatwa, Bhuwanasanksepa dan sebagainya. Demikian pula pada saat upacara dipuja, upakara-upakara, arca-arcca dan tempat pemujaan.

Kata Siva berarti: Yang memberikan keberuntungan (kerahayuan), yang baik hati, ramah, suka memaafkan, menyenangkan, memberi banyak harapan, yang tenang, membahagiakan dan sejenisnya. Sang Hyang Siva di dalam menggerakkan hukum kemahakuasaan-Nya di dukung oleh saktinya Durga atau Parvati. Hyang Siva adalah Tuhan Yang Maha Esa sebagai pelebur kembali (aspek pralaya atau praline dari alam semesta dan segala isinya). Siva yang sangat ditakuti disebut Rudra (yang suaranya menggelegar dan menakutkan). Siva yang belum kena pengaruh Maya (berbagai sifat seperti guna, sakti dan svabhawa) disebut paramasiva, dalam keadaan ini disebut juga Acintyarupa atau niskala dan tidak berwujud ( Impersonal God).

Kata Brahman (adalah bentuk neutrum dari Brahma) yang berarti: yang tumbuh berkembang, berevlusi, yang betambah besar, yang meluap dari dirinya, dan sejenisnya. Ciptaanya muncul dari dirninya, seperti halnya Veda muncul dari nafasnya. Kemahakuasaan Hyang Brahma sebagai pencipta jagat raya di dukung oleh saktinya yang disebut sarasvati, dewi pengetahuan dan kebijaksanaan yang memberikan inspirasi untuk kebajikan umat manusia. Bila disebut sebagai brahma , maka ia adalah manifestasi utama Tuhan Yang Maha Esa sebagai pencipta, dengan demikian Brahma saat ini adalah Tuhan yang Berpribadi (personal God). Brahma digambarkan berwajah empat (Caturmukha) dan lain-lain. Dengan demikian Hyang Widhi adalah Brahman, Tuhan yang tidak berwujuddalam alam pikiran manusia (Impersinal God), sedang disebut brahma, ketika ia telah mengambil wujud (personal God) dalam menciptakan alam semesta beserta segala isinya.

Manifestasi utama-Nya adala Visnu. Visnu manifestasi Tuhan Ynag Maha Esa memelihara jagat raya dan segala isinya. Ia yang menghidupkan segalanya. Kata Visnu berarti: pekerja, yang meresapi segalanya dan sejenisnya (Ibid:999). Kemahakuasaan Sang Hyang Visnu dalam memelihara alam semesta beserta segala isinya didukung oleh saktinya yang bernama Sri dan Laksmi.

Berdasarkan uraian diatas, jelaslah bagi kita bahwa Hyang Widhi Wasa adalah Tuhan yang maha esa, ia disebut juga Brahman (dalam bentuk Neutrum), Brahma (dalam bentuk maskulinum), sebagai sang hyang Siva (yang maha pemurah) dan berbagai nama lainnya. Bila Tuhan Yang Maha Esadi puja dengan anekapersembahan, maka ia dipuja sebagai Tuhan Yang Personal, yang berpribadi.

silahkan baca artikel yang terkait:

Karena Tuhan tidak terjangkau oleh pikiran, maka orang membayangkan bermacam-macam sesuai dengan kemampuannya. Tuhan yang Tunggal (Esa) itu dipanggilnya dengan banyak nama sesuai dengan fungsinya. Ia dipanggil Brahma sebagai pencipta, Wisnu sebagai pemelihara dan Ciwa sebagai pelebur/pemralina. Banyak lagi panggilannya yang lain. Ia maha tahu, berada dimana-mana. Karena itu tak ada apapun yang dapat kita sembunyikan dihadapan-Nya. Orang-orang menyembah-Nya dengan bermacam-macam cara pada tempat yang berbeda-beda. Kepada-Nyalah orang menyerahkan diri, mohon perlindungan dan petunjuk-Nya agar ia menemukan jalan terang dalam mengarungi hidup ini.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar