Google+

Jumat, 04 Januari 2013

Banten Canang dan cara membuatnya

Banten Canang dan cara membuatnya

Besar/kecilnya volume Banten Canang tergantung dari kemampuan riil kita. Maka disediakan sembilan alternatif volume banten sebagai berikut : mula-mula dibagi dalam 3 kelompok : alit, madya, ageng. Kemudian masing-masing kelompok dibagi lagi menjadi 3 sub kelompok, misalnya : aliting alit, madyaning alit, utamaning alit, dst. Jadi tidak benar untuk setiap upacara diharuskan dengan volume banten besar (tentunya dengan biaya tinggi).

Banten Canang adalah bagian dari upacara, dan upacara adalah salah satu wujud yadnya. Selanjutnya yadnya dilakukan karena ada Rnam (hutang manusia kepada Widhi, Rsi dan Pitra).

Maka yadnya yang baik adalah yang "satwika" Unsur-unsur satwika antara lain bahwa upacara dilaksanakan berdasarkan hati suci yang tulus ikhlas. Maka sekali lagi berupacaralah dengan kemampuan yang riil, agar tujuan upacara tercapai dengan baik.

Fungsi Banten Canang


  1. Sebagai niyasa (simbol) Hyang Widhi/Dewa/Bhatara-Bhatari
  2. Sebagai sarana penyucian
  3. Sebagai sarana penyaksian (saksi) untuk acara tertentu
  4. Sebagai ayaban (aturan/persembahan, cetusan rasa bhakti)
  5. Sebagai tataban (prasadam/berkah yang kemudian disantap setelah ngelungsur ayaban)

berikut ini cara dan bahan-bahan yang diperlukan dalam membuat banten canang, yang disusun dari bawah keatas, diantaranya:

CANANG GENTEN 

atau biasa disebut canang sodan karena sering dipakai dalam menghaturkan soda.
alas Ituk-ituk / ceper/taledan

  1. Porosan
  2. Sampyan Uras sari
  3. Bunga
  4. Kembang Rampe
  5. Boreh Miyik
  6. Minyak wangi
Sebagai alas dapat digunakan taledan, ceper ataupun daun pisang yang berbentuk segi empat. Diatasnya berturut-turut disusun perlengkapan yang lain seperti: bunga dan daun-daunan, porosan yang terdiri dari satu/dua potong sirih diisi sedikit kapur dan pinang, lalu dijepit dengan sepotong janur, sedangkan bunganya dialasi dengan janur yang berbentuk tangkih atau kojong. Kojong dengan bentuk bundar disebut "uras-sari".

Bila keadaan memungkinkan dapat pula ditambahkan dengan pandan-arum, wangi-wangian dan sesari (uang). Waulupun perlengkapan banten ini sangat sederhana, tetapi hampir semuanya mempunyai arti simbolis antara lain: jejaitan/tetuwasan reringgitan, melambangkan kesungguhan hati, daun-daunan melambangkan ketenangan hati. Sirih, melambangkan dewa wisnu, kapur melambangkan dewa siva, pinang melambangkan dewa brahma, suci bersih, dan wangi-wangian sebagai alat untuk menenangkan pikiran kearah kesegaran dan kesucian.

Canang ini, baik besar maupun kecil bahkan selalu digunakan untuk melengkapi sesajen-sesajen yang lain, hanya saja bentuk alat serta porosannya berbeda-beda.

CANANG LENGAWANGI BURATWANGI

alas Taledan / ceper
  1. plawa
  2. porosan
  3. celemik berisi akar-akaran wangi-beras- kunir-air cendana yg ditumbuk halus (buratwangi)
  4. celemik berisi menyan-malem dicampur minyak kelapa, minyak wangi, kacang putih, kacang komak yang digoreng gosong, ditumbuk halus hingga berwarna hitam
  5. sampyan uras sari
  6. Bunga
  7. Rampe
Bentuk banten ini seperti canang genten dengan ditambahkan "burat wangi" dan dua jenis "lenga wangi". Ketiga perlengkapan tersebut masing-masing dialasi kojong atau tangkih. Burat wangi dibuat dari beras dan kunir yang dihaluskan dicampur dengan air cendana atau mejegau. Ada kalanya dicampur dengan akar-akaran yang berbau wangi. Lenga Wangi ( minyak wangi) yang berwarna putih dibuat dari menyan, 'malem" ( sejenis lemak pada sarang lebah), dicampur dengan minyak kelapa. Lenga wangi (minyak wangi) yang berwarna kehitam-hitaman dibuat dari minyak kelapa dicampur dengan kacang putih, komang yang digoreng sampai gosong lalu dihaluskan.

Ada kalanya campuran tersebut dilengkapi dengan ubi dan keladi (talas), yang juga digoreng sampai gosong. Biasanya untuk memperoleh campuran yang baik, terlebih dahulu minyak kelapa dipanaskan, kemudian barulah dicampur dengan perlengkapan lainnya. Secara keseluruhan "lenga-wangi" dan "burat-wangi" melambangkan Hyang Sambhu. Menyan melambangkan Hyang Siva, Majegau melambangkan Hyang Sadasiva sedang cendana melambangkan Hyang Paramasiva.

Banten ini dipergunakan pada hari-hari tertentu seperti pada hari Purnama, Tilem, hari raya Saraswati dan melengkapi sesajen-sesajen yang lebih besar.

CANANG TUBUNGAN 

biasanya digunakan pada canang gantal
alas ituk-ituk/ceper

  1. plawa
  2. base tubungan
  3. sampyan uras sari
  4. bunga
  5. rampe
  6. boreh miyik

CANANG SARI

alas Taledan/ceper

  1. plawa
  2. porosan
  3. seiris tebu
  4. seiris pisang mas
  5. kakiping
  6. celemik berisi buratwangi
  7. celemik berisi lengawangi
  8. celemik berisi beras kuning
  9. sampyan uras sari
  10. rampe
  11. bunga
  12. boreh miyik
  13. uang kepeng
Bentuk Canang sari ini agak berbeda dengan banten/canang genten sebelumnya, yaitu dibagi menjadi dua bagian. Bagian bawahnya bisa berbentuk bulat ataupun segiempat seperti ceper atau taledan. Sering pula diberi hiasan "Trikona/plekir" pada pinggirnya. Pada bagian ini terdapat pelawa, porosan, tebu, kekiping (sejenis jajan dari tepung beras), pisang emas atau yang sejenis dan beras kuning yang dialasi dengan tangkih. Dapat pula ditambah dengan burat wangi dan lengawangi seperti pada canang buratwangi. Di atasnya barulah diisi bermacam-macam bunga diatur seindah mungkin dialasi dengan sebuah "uras sari/sampian uras".

Canang sari dilengkapi dengan sesari berupa uang kertas, uang logam maupun uang kepeng. Perlengkapan seperti tebu, kekiping, dan pisang emas disebut "raka-raka". Raka-raka melambangkan Hyang Widyadhara-Widyadhari. Pisang emas melambangkan Mahadewa, secara umum semua pisang melambangkan Hyang Kumara, sedangkan tebu melambangkan Dewa Brahma.

Canang sari dipergunakan untuk melengkapi persembahan lainnya atau dipergunakan pada hari-hari tertentu seperti: Kliwon, Purnama, Tilem atau persembahyangan di tempat suci.

CANANG PENGRAWOS

digunakan saat ngrawos atau membicarakan sesuatu, baik dalam rapat umum, meminang penganten ataupun saat nunas beras / meluasin.
alas taledan maplekir dg setiap sudut diisi kojong

  1. pinang (diletakkan di kojong)
  2. gambir ( diletakkan di kojong)
  3. tembakau (diletakkan di kojong)
  4. kapur (diletakkan di kojong)
  5. beberapa lembar base lembaran (bagian tengahnya)
  6. rokok dan korek api
  7. dibagian atasnya diisi ceper/taledan dg tangkih berisi beras kuning-minyak wangi
  8. sampian uras sari
  9. bunga
  10. rampe
  11. boreh miyik
Canang ini disebut juga canang pesucian yang terdiri atas dua buah aled atau ceper. Pada bagian bawah berisi kapur, pinang, gambir, tembakau yang dialasi dengan kojong. disusuni beberapa lembar daun sirih, sedangkan aled atau ceper yang lain berisi bija serta minyak wangi yang dialasi celemik atau kapu-kapu kemudian dilengkapi bunga yang harum.

CANANG PABERSIHAN 

digunakan saat menghaturkan banten pangresikan.
alas ceper/taledan maplekir dg 7 bh celemik

  1. ambuh ( daun pucuk diiris tipis/kelapa parut
  2. kakosok putih (tepung beras putih) atau kakosok kuning (tepung beras kuning)
  3. asem terbuat dari buah beras asem
  4. sisig yaitu jajan begina yang dibakar hingga gosong
  5. tepung tawar (campuran dadap-beras-kunir ditumbuk halus)
  6. wija/sesarik (beras dicuci dan direndam air cendana)
  7. minyak kelapa/minyak wangi

CANANG GANTAL 

biasanya digunakan saat pangresikan, dan dihaturkan bersamaan dengan Canang Pebersihan
alas ceper / taledan

  1. plawa
  2. lekesan 5bh / 7bh / 9bh /1 1bh (base lembaran diisi kapur dan pinang dan digulung lalu ditusuk) biasanya diisi juga Canang Tubungan.
  3. sampyan uras sari
  4. bunga
  5. rampe
  6. boreh miyik

CANANG MERAKA 

alas ceper/tamas

  1. plawa
  2. porosan
  3. raka-rakaan(buah-buahan)
  4. sampyan uras sari lengkap dg bunga dan rampe
Sebagai alas dari canang ini digunakan ceper atau tamas, diatasnya diisi tebu, pisang, buah-buahan, beberapa jenis jajan dan sebuah "sampian" disebut "Srikakili" dibuat dari janur berbentuk kojong diisi plawa, porosan serta bunga. Sesungguhnya masih banyak jenis-jenis canang tubungan, Canang Gantal, Canang Yasa. Canang pengraos dan lain-lain.

Pada umumnya bahan yang diperlukan hampir sama, hanya bentuk porosan dan cara pengaturannya yang berbeda. Rupanya pemakaian sirih, kapur dan pinang mempunyai dua fungsi sebagai simbul atau lambang yaitu:
  • Sirih melambangkan Dewa Wisnu
  • Pinang melambangkan Dewa Brahma
  • Kapur melambangkan Dewa Siwa

Untuk persembahan biasa berfungsi sebagai makanan, dalam hal ini penggunaannya dilengkapi dengan tembakau dan gambir.

Pada canang Raka sama seperti canang sari ditambah berisi lima macam buah dan berisi eteh-eteh pesucian. Maknanya adalah peleburan Panca Mala baik terhadap buana agung maupun buana alit, serta dianugrahkan Panca Amertha antara lain:

  1. Amerta Sanjiwani : disimbolkan dengan biu kayub dengan harapan umat bisa bijaksana
  2. Amerta Kamandalu : disimbolkan dengan buah salak agar memiliki kekuatan fisik, mental, akal dan budhi.
  3. Amerta Kundalini : disimbolkan dengan buah yang berwarna kuning seperti mangga, papaya, dan dan lainnya agar dianugrahkan kemakmuran, kesejahteraan dan nutug tuwuh
  4. Amerta Pawitra : disimbolkan dengan buah manggis agar memilki hati yang tulus ikhlas dan jujur
  5. Amerta Maha Merta : disimbolkan dengan buah jeruk dengan macamnya agar senantiasa memilliki batin yang suci untuk bisa menyatu kehadapan Sang Hyang Widhi.

Canang ini digunakan pada saat piodalan, mendem pedagingan, peperanian.

CANE / CANANG REBONG 

alas ulang kecil dihias dg jaro(janur berkeliling) dg ditengh-tengahnya ditancapkan batang pisang
  1. mangkuk kecil/takir berisi bija
  2. mangkuk kecil/takir berisi air cendana
  3. mangkuk kecil/takir berisi buratwangi
  4. kojong berisi tembakau
  5. kojong berisi pinang
  6. kojong berisi pinang
  7. kojong berisi rokok
  8. kojong berisi lekesan
  9. batang pisang dihiasi dengan bunga-bungaan
  10. cili dibagian atas batang pisang
  11. paku pipit dibagian atas batang pisang
Dipakai sebuah dulang kecil dihiasi dengan sesertiyokan dari janur. Ditengah-tengahnya ditancapkan batang pisang. Disekitarnya diisi perlengkapan lain seperti: Bija, Air cendana dan burat wangi, masing-masing dialasi dengan empat buah tangkir atau mangkuk kecil. Dilengkapi pula dengan kojong empat buah yang berisi tembakau, pinang dan lekesan yaitu, 2 lembar sirih yang dilengkapi dengan gambir dan kapur dan diikat dengan benang. Dapat pula ditambah dengan rokok dan korek api sebanyak empat batang.

Bunganya ditancapkan menlingkar pada batang pisang dan paling diatas diisi cili atau hiasan-hiasan lainnya. Cane dipergunakan terutama pada waktu upacara melasti dijunjung mendahului pratima atau dasksina pelinggih. Cane juga digunakan pada rapat-rapat desa adat untuk memohon agar pertemuan berjalan lancar. Setelah pertemuan selesai, cane akan dilebar yaitu dengan jalan membagi-bagikan air cendana, Bidja, Bunga serta perlengkapan lainnya.

CANANG OYODAN 

dipakai mendak panggungan atau ngening / nunas tirta ke beji
alas dulang berisi taledan maplekir / memakai trikona

  1. kojong berisi plawa
  2. kojong berisi porosan
  3. kojong berisi lengawangi
  4. kojong berisi buratwangi
  5. kojong berisi tebu
  6. kojong berisi pisang mas
  7. kojong berisi kekiping
  8. kojong berisi beras kuning
  9. tadah pawitra
  10. bunga-bungaan dengan ditusuk lidi sebagai hiasan dibagian atas badan dilengkapi hiasan janur lain yg ditancap pada batang pisang

TADAH PAWITRA / SUKLA 

alasceper / ituk-ituk / taledan kecil

  1. tangkih/kojong berisi pisang kayu matah
  2. tangkih/kojong berisi kacang komak
  3. tangkih/kojong berisi kacang putih
  4. tangkih/kojong berisi ubi/keladi goreng
  5. pelawa dan porosan dibagian atasnya
  6. wadah lengis
  7. bunga dan rampe
Bentuknya seperti canang genten ditambahkan dengan pisang kayu yang mentah, kacang komak, kacang putih, ubi dan keladi. Semua perlengkapan digoreng dan masing-masing dialasi tangkih dan kojong. Banten ini dipergunakan untuk melengkapi beberapa jenis sesajen seperti: daksina Pelinggih dan lain-lainnya.

CANANG YASA 

alas ceper / taledan yg diplekir

  1. tadah sukla
  2. kekiping
  3. pisang mas
  4. base tubungan 1 bh
  5. base tampelan 1 bh
  6. tembakau
  7. buratwangi-lengawangi
masing-masing dialasi kojong/tangkih

CANANG AGUNG 

alas ceper/taledan

  1. beras 4 tangkih yg ditumbuk halus (maseruh 11 kali dan dicuci dg air cendana)
  2. base tubungan 2 bh
  3. base tampelan 4 bh
  4. tadah pawitra
  5. pisang mas 4 bh

CANANG PAIKUP 

digunakan saat odalan mingkup sari
alas taledan maplekir

  1. kelapa gading dan kelapa bulan
  2. tangkih/kojong berisi tadah sukla
  3. tangkih/kojong berisi burat wangi
  4. tangkih/kojong berisi lengawangi
  5. tangkih/kojong berisi pisang mas
  6. tangkih/kojong berisi kekiping
  7. bunga berwarna 9
  8. base tampelan
  9. base tubungan
  10. daun cemara
  11. sampayan nagasari
  12. bunga sulasih
  13. majagau
  14. tembakau
  15. asep cina  / dupa harum / dupa pasupati

CANANG PASESULUH 

alas taledan dari janur

  1. lengawangi-buratwangi
  2. pelawa
  3. daun kedapan nagasari
  4. bunga

CANANG BRAKAT 

alasTaledan 1 :

  1. raka-raka 
  2. dodol
  3. kakiping
  4. pisang mas
  5. tadah sukla 1 tangkih

Taledan 2 :

  1. Daun bunga sulasih
  2. 4 bh base tubungan 
  3. 5 bh base lekesan 
  4. leletan 2 bh 
  5. base tampelan 2 bh 
  6. 2 btg rokok

Taledan 3 :

  1. rerasmen 4 tangkih 
  2. daun kedapan nagasari 
  3. asep cina 2 bh / dupa harum dupa pasupati
  4. minyak kelapa/wangi 
  5. menyan 
  6. dedes 
  7. buratwangi
  8. bunga 5 warna

DAKSINA

Alas Daksina disebut wakul Daksina atau bebedogan.
Kedalamnya berturut-turut dimasukan:

  • tampak (sejenis jejahitan berbentuk silang atau tampak dara) 
  • beras, 
  • sebutir kelapa yang sudah dikupas sampai bersih (mekelas), 
serta beberapa perlengkapan yang dialasi dengan kojong seperti:

  • telur itik yang mentah, 
  • bija ratus (campuran berbagai biji-bijian), 
  • gantusan (campuran berbagai jenis bumbu), 
  • Kelawa peselan (Daun salak, ceruring, Manggis,durian, dll), 
  • base-tampel, kemiri (tingkih), 
  • tangi, 
  • Pisang kayu yang mentah, 
  • uang, 
  • canang payasan, yaitu sejenis canang genten tetapi alasnya berbentuk segitiga ditempelin dengan reringgitan yang khusus. Dapat pula dilengkapi dengan canang buratwangi atau canang sari atau yang lain.

Perlengkapan seperti telur itik uang, ataupun gantusan kiranya dapat digolongkan buah sebab pengertian buah mempunyai arti yang agak luas. Persembahan yang berupa daksina dianggap sudah lengkap sebagai mana disut dalam Bagawadgitha. Disamping itu penggunaan telir itik dan uang rupanya mempunyai fungsi tersendiri secara umum kelapa dapat digolongkan sebagai buah, tatapi yang lebih diutamakan airnya.

Diusahakan mempergunakan telur itik bukan telur ayam sebab itik lebih banyak menunjukan sifat-sifat satwam sedangkan ayam lebih banyak menunjukan sifat rajas dan tamas oleh karena itu pula beberapa daksina terutama yang melambangkan bhutkala dipergunakan telur ayam, tetapi bila ditujukan kepada Hyang Widhi para Dewat dan Leluhur sedapat mungkin dipergunakan telur itik. Penggunaan uang yang disebut pula sesari atau akah kiranya untuk menyempurnakan isi daksina sehingga persembahan yang dilengkapi dilengkapi dengan daksina benar-benar diharapkan memberikan kesukseskan atau hasil yang sebagai mana diharapkan.

Daksina disebut Juga "Yadnya Patni" yang artinya istri atau sakti daipada yadnya. Daksina juga dipergunakan sebagai mana persembahan atau tanda terima kasih, selalu menyertai banten-banten yang agak besar dan sebagainya perwujudan atau pertapakan. Dalam lontar Yadnya Prakerti disebutkan bahwa Daksina melambangkan Hyang Guru/ Hyang Tunggal kedua nama tersebut adalah nama lain dari Dewa Siwa.

AJUMAN

Bahan perlengkapan yang diperlukan untuk membuat ajuman adalah: nasi yang disebut "penek" atau "telompokan", beberapa jenis jajan, buah-buahan, lauk pauk berupa serondeng atau sesaur, kacang-kacangan, ikan teri, telor, terung, timun, taoge (kedelai), daun kemangi (kecarum), garam, dan sambal. Sebagai alasnya dapat digunakan "taledan" atau yang lainnya. Di atasnya diisi dua buah penek, lauk pauk yang dialasi dengan tangkih berbentuk segitiga, jajan buah-buahan dan sampaian soda (sampian ajuman) berbentuk tangkih. Kadang bagian atasnya dibuat agak indah seperti kipas disebut "sampian kepet-kepetan". Dapat pula dilengkapi dengan canang genten/ canang sari/ canang burat wangi.

Ajuman disebut juga soda (sodaan) dipergunakan tersendiri sebagai persembahan ataupun melengkapi daksina suci dan lain-lain. Bila ditujukan kehadapan para leluhur, salah satu peneknya diisi kunir ataupun dibuat dari nasi kuning, disebut "perangkat atau perayun" yaitu jajan serta buah-buahannya di alasi tersendiri, demikian pula lauk pauknya masing-masing dialasi ceper /ituk-ituk, diatur mengelilingi sebuah penek yang agak besar. Di atasnya diisi sebuah canang pesucian, canang burat wangi atau yang lain.

PERAS

Perlengkapan serta cara penyusunannya hampir sama dengan ajuman, tetapi nasinya berbentuk tumpeng (dua buah), alasnya ditempeli "Kulit-peras" yaitu sejenis jejahitan yang khusus, sedangkan sampaiannya disebut Sampian Tupeng (Sampian Peras).

Banten ini boleh dikatakan tidak pernah dipergunakan tersendiri, tetapi menyertai banten-banten yang lain seperti: daksina, suci, tulang-sesayut dan lain-lainnya. Dalam beberapa hal, pada alasnya dilengkapi dengan sedikit beras dan benang putih. Untuk menunjukkan upacara telah selesai, maka seseorang (umumnya pimpinan upacara) akan menarik lekukan pada "kulit-peras", dan menaburkan beras yang ada dibawahnya. Pada lontar Yajna-prakerti disebut bahwa peras melambangkan Hyang Tri Guna-Sakti.

Kiranya kata "Peras" dapat diartikan "sah" atau resmi, seperti kata: "meras anak" mengesahkan anak, "Banten pemerasan", yang dimaksud adalah sesajen untuk mengesahkan anak/cucu; dan bila suatu kumpulan sesajen tidak dilengkapi dengan peras, akan dikatakan penyelenggaraan upacaranya "tan perasida", yang dapat diartikan "tidak sah", oleh karena itu banten peras selalu menyertai sesajen-sesajen yang lain terutama yang mempunyai tujuan-tujuan tertentu.

BANTEN JOTAN

Banten jotan (saiban) disebut pula "Yajnasesa", merupakan yadnya setiap hari bagi umat Hindu di Bali khususnya. Di India juga dapat ditemukan hal yang sama. Bahan perlengkapannya adalah: sedikit nasi, garam, serta lauk pauk lainnya yang baru dimasak. sebagai alas dapat dipakai daun atau piring kecil-kecil.

BANTEN SUCI

Alas dari banten suci ini adalah beberapa buah tamas. Warna jajan yang dipergunakan adalah putih dan kuning, jajan yang berwarna putih ditempatkan disebelah kanan dan yang kuning ditempatkan disebelah kiri. Di antara jajan tersebut ada yang dinamakan "sasamuhan" terbuat dari tepung beras yang dicampur sedikit tepung ketan, parutan kelapa serta air. Campuran tersebut lalu dibentuk kemudian digoreng. Jajan-jajan tersebut ada yang diberi nama: Kekeber, Kuluban, Puspa, Karna, Katibuan-udang, Panji, Ratu-magelung, Bungantemu dan lain sebagainya.

Yang perlu diperhatikan di sini adalah perbandingan antara jajan yang berwarna putih hendaknya lebih banyak dari pada jajan yang berwarna kuning, misalnya 12:6, 9:5, 7:5, 5:4, dst.

Pada banten suci tiap tempat /tamas diisi perlengkapan yang jumlahnya telah ditentukan, seperti: tamas yang paling bawah berisi pisang, tape, buah-buahan, masing-masing 5 biji/iris, jajan sesamuhannya 1 biji tiap jenis: tamas yang kedua berisi 2 biji/iris, dst. Secara sederhana 1 soroh suci terdiri dari: Suci, daksina, peras, ajuman, tipat kelan, duma (sejenis banten) pembersihan, canag lengawangi/ buratwangi, canang sari dan buah pisang. Pada upacara yang agak besar dilengkapi dengan perayunan.

BANTEN GEBOGAN / PAJEGAN

Gebogan atau pajegan adalah suatu bentuk persembahan berupa susunan dan rangkaian makanan termasuk juga buah-buahan dan bunga-bungaan. Umumnya dibawa dan ditempatkan dipura dalam rangkaian upacara Panca Yadnya. Ini karena keindahan bentuknya, hanya digunakan hanya sebagai dekorasi.

CANANG PENGENGKAB

Prinsipnya sama dengan membuat canang payasan yang membedakan adalah pada posisi tengahnya diletakkan takir yang berisi beras kuning dan satu base tubungan diletakkan pada posisi sebelah kanan. Takir yang berisi air cendana diletakkan pada sebelah kiri. Makna yang terkandung di dalamnya adalah untuk memohon kekuatan magis, kewibawaan atau taksu. Canang ini digunakan sebagai upakara saat piodalan yang berkenaan dengan tarian sakral (seperti topeng sidhakarya) atau alat musik yang digunakan dalam prosesi piodalan.

CANANG SARASWATI

Canang Saraswati digunakan sebagai upakara pada piodalan Saraswati yang jatuh pada Saniscara Kliwon Watugunung. Pada canang saraswati mempergunakan tamas yang berisi jajan, pisang, tebu, porosan, sampian plaus yang berisi selain itu juga terdapat celemik dengan isinya masing-masing seperti jajan suci bungan temu putih kuning , jajan suci kerang putih kuning, jajan suci kekuluban putih kuning, jajn suci karna putih kuning, jajan suci candigara putih kuning, celemik tersebut disusun mulai dari atas, kanan, bawah, kiri dan di tengah.

Kemudian disusun lagi dengan ceper yang disusun pula dengan lima buah celemik berisikan pala gantung, pala bungkah, bubur warna merah dan putih, disusun kembali dengan ituk-ituk yang berisikan beras, benang, uang kepeng, dan porosan. Setelah itu diisi jajan saraswati yang dialasi daun beringin serta di atasnya ditutup dengan ranting beringin. Diakhiri dengan canang pesucian dan canang sari. Makna yang bisa ditangkap dari canang ini adala sebagai permohonan kehadapan Ida Sang Hyang Widhi dalam hal ini Dewi Saraswati guna dianugrahi kepradnyanan dan kesiddhian.

Dari sekian banyak canang yang disebutkan di atas, canang sari lah yang paling sering digunakan, sedangkan untuk yang lainnya bersifat musiman yang maksudnya digunakan pada upacara-upacara tertentu. Untuk lebih memahami makna dari canang sari, mengenai kelengkapan isi dari canang sari dijelaskan pada sebagai berikutnya. adapun Arti Simbolik Canang Sari dalam Upacara antaralain sebagai berikut:

  • Ceper sebagai alas suatu canang adalah simbol dari “Ardha Chandra”, sedangkan bila yang digunakan sebagai alas canang adalah tamas itu simbol dari “Windhu”
  • Porosan yang terdapat dalam canang simbol dari “silih asih” dengan harapan para umat menjalani yadnya tersebut dengan welas asih.
  • Selain itu di dalam ceper juga terdapat jajan, tebu, dan pisang sebagai simbol “tedong ongkara” yang merupakan perwujudan Utpetti, Sethiti dan Pralina.
  • Jika isi ceper tersebut sudah lengkap, di atasnya kemudian diletakkan sebuah urasari yang berbentuk lingkaran . Urasari simbol dari “Windhu” dan ujung-ujung dari urasari tersebut simbol dari “Nadha”
  • Di atas urasari disusunkan bunga-bunga dengan sesuai dengan arah mata angin. i) Warna putih diletakkan di sebelah Timur sebagi simbol dari Sang Hyang Iswara. ii) Warna merah diletakkan di sebelah selatan , pemujaan diarahkan pada Sang Hyang Brahma. iii) Warna kuning diletakkan di sebelah barat dengan memuja Sang Hyang Mahadewa. iv) Warna biru atau hijau di posisi utara dengan memuja Sang Hyang Wisnu, dan yang terakhir bunga kembang rampai yang diletakkan di tengah-tengah dengan pemujaan kepada Sang Hyang Panca Dewata.


demikian sedikit informasi tentang nama - nama Banten Canang dan cara membuatnya, semoga bermanfaat

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar