Google+

Sanggah Kamulan

Sanggah Kamulan

Sanggah Kamulan
Sanggah Kamulan /Kemulan
Hampir setiap karang perumahan di Bali, pada bagian hulu atau udiknya terdapat sebuah “sanggah”. dimana salah satu palingihnya yang umum disebut “Sanggah kamulan” untuk golongan tertentu disebut juga “Sanggah Kemimitan”. Karena sanggah tersebut selalu letaknya pada udik atau hulu dari karang, maka disebut juga “Panghulun Karang”. adanya sanggah kamulan selalu berdampingan dengan Sanggah Taksu. sehingga dalam keseharian, masyarakat bali lebih failiar menyebut Pamerajan Alit dengan sebutan Sanggah Kamulan Taksu.

Belakangan ini, di kalangan generasi muda tidak sedikit yang mulai berpikir, bahkan telah melaksanakan bahwa Sanggah Kamulan telah diganti dengan satu pelinggih saja yaitu Padma Sari dengan berbagai alasan, persoalan tanah, biaya, efesiensi dan masih ada seribu alasan untuk membenarkan tindakannya.

Bagi para pembaca yang berniat mengganti (Prelina) Sanggah Kamulan, sebelum melaksanakan niatnya sebaiknya membaca artikel sederhana ini.

Umat Hindu pada prinsipnya memuja Tuhan dengan segala manifestasinya dan memuja Roh (Dewa Pitara). Disamping memuja Tuhan, Weda juga mengajarkan dan membenarkan memuja Roh Suci leluhur.

Dalam Kekawin Ramayana dinyatakan bahwa:
Gunamanta sang Dasaratha, Wruh sira ring weda bhakti ring dewa, Tar malupeng pitra puja, Masih ta sireng swagotra kabeh
Artinya:
Keutamaan sang Dasaratha,Beliau paham akan Weda, berbakti kepada Tuhan, Tidak pernah lupa memuja leluhur, Juga sayang terhadap keluarga dan rakyat
Secara etimologi kata, Sanggah Kamulan terdiri dari dua buah kata yaitu:
- Sanggah, dan
- Kamulan.

Sanggah adalah perubahan ucapan dari pada “sanggar”, arti sanggar menurut pengertian lontar keagamaan di Bali adalah tempat memuja. Misalnya dalam lontar Sivagama disebutkan “nista sapuluhing saduluk sanggar pratiwi wangun” (Rontal Sivagama, lembar 328).

Kamulan berasal dari kata “mula” (samkrit), yang berarti; akar, umbi, dasar, permulaan, asal. Awalan ka-, dan akhiran –an menunjukkan tempat pemujaan asal atau sumber.
Sanggah Kamulan adalah tempat pemujaan asal atau sumber, Hyang Kamulan atau Hyang Kamimitan.
Kamimitan berasal dari kawa Wit, (huruf m adalah sekeluarga huruf W).
Kamimitan adalah lain ucapan dari kata kawiwitan, berasal dari kata wit, yang berarti asal atau sumber pula (Wikarman, 1998: 2). Dengan pengertian ini sebenarnya kita sudah dapat menarik atau menyimpulkan bahwa yang dipuja pada Sanggah Kamulan itu tidak lain yang merupakan sumber atau asal dari mana manusia itu ada.

Dalam lontar Siwagama tentang pendirian Hyang Kamulan. 

Kutipannya sebagai berikut;
“……bhagawan manohari, Sivapaksa sira, kinwa kinon de Sri Gondarapati, umaryanang sadhayangan, manista madya motama, mamarirta swadarmaning wong kabeh. Lyan swadadyaning wang saduluking wang kawan dasa kinon magawe pangtikrama. Wwang setengah bhaga rwang puluhing saduluk, sanggarpratiwi wangunen ika mwang kamulan panunggalanya sowing……”
Arti kutipan tersebut ;
“….. Bhagawan Manohari pengikut Siva, beliau disuruh oleh Sri Gondarapati, untuk membangun Sad Khayangan Kecil, sedang maupun besar. Yang merupakan beban kewajiban orang semua. Lain kewajiban sekelompok orang untuk empat pulih keluarga harus membangun panti. Adapun setengah bagian dari itu yakni 20 keluarga, harus membangun ibu. Kecilnya 10 keluarga pratiwi harus dibangun, dan kamulan satu-satunya tempat pemujaan (yang harus dibangun) pada masing-masing pekarangan…..”

Dengan kutipan di atas jelaslah bagi kita, bahwa setiap keluarga yang menempati karang perumahan tersendiri wajib membangun Sanggah Kamulan. Jadi lontar Sivagama inilah yang merupakan dasar hukum bagi pendirian Sanggah Kamulan itu.

Kamulan dimaksudkan untuk selalu ingat kepada sumber atau asal manusia. Manusia dalam bahasa Sanskrit berasal dari kata 'jatma' yaitu ' ja + atma '.
- Ja berarti lahir,
- Atma artinya roh yang merupakan bagian dari Brahman.
Jatma atau manusia adalah roh yang lahir (reinkarnasi). Maka dapat disimpulkan bahwa manusia hidup karena adanya roh yang lahir. Jadi yang menjadi sumber asal manusia adalah roh itu sendiri.

Lontar Siwagama adalah merupakan Pustaka suci bagian Smrti dari Sekte Siwa. Oleh karena itu ajaran Siwa seperti yang tercantum pada lontar Siwagama itu wajib diikuti oleh pengikutnya.

Sanggah Kemulan dalam lontar Usana Dewa disebutkan :

“ring kamulan ngaran ida sang hyang atma, ring kamulan tengen bapa ngaran sang paratma, ring kamulan kiwa ibu ngaran sang sivatma,ring kamulan tengah ngaran raganya, tu brahma dadi meme bapa, meraga sang hyang tuduh….” (Rontal Usana Dewa, lembar 4)
Yang artinya :
”Pada sanggah Kamulan beliau bergelar Sang Hyang Atma, pada ruang kamulan kanan ayah, namanya Sang Hyang Paratma. Pada kamulan kiri ibu, disebut Sivatma. Pada kamulan ruang tengah diri-Nya, itu Brahma, menjadi purusa pradana, berwujud Sang Hyang Tuduh (Tuhan yang menakdirkan).”

Sanggah Kemulan dalam lontar Gong Wesi, 

dalam lontar Gong Wesi kita jumpai kutipan yang hampir sama dengan yang tersurat pada Usana Dewa. Kutipannya adalah sebagai berikut :
“….. ngaran ira sang atma ring kamulan tengen bapanta, nga, sang paratma, ring kamulan kiwa ibunta, nga, sang sivatma, ring kamulan madya raganta, atma dadi meme bapa ragane mantuk ring dalem dadi sanghyang tunggal, nungalang raga….” (Rontal Gong Wesi, lembar 4b).
Artinya :
“…… nama beliau sang atma, pada ruang kamulan kanan bapakmu, yaitu Sang Paratma, pada ruang kamulan kiri ibumu, yaitu Sang Sivatma, pada ruang kamulan tengah adalah menyatu menjadi Sanghyang Tunggal menyatukan wujud”

Dari dua kutipan lontar di atas jelaslah bagi kita, bahwa yang bersthana pada sanggah kamulan itu adalah Sanghyang Triatma, yaitu; Paratma yang diidentikkan sebagai ayah (purusa), Sang Sivatma yang diidentikkan Ibu (predana) dan Sang Atma yang diidentikkan sebagai diri sendiri (roh individu). Yang hakekatnya Sanghyang Triatma itu tidak lain dari pada Brahma atau Hyang Tunggal/ Hyang Tuduh sebagai pencipta (upti).

Sanggah Kemulan dalam lontar Purwa Bhumi Kamulan

dalam Lontar Purwa Bhumi Kamulan disebutkan bahwa atma yang telah disucikan yang disebut Dewapitara, juga disthanakan di sanggah kamulan, seperti disebutkan :
“riwus mangkana daksina pangadegan Sang Dewa Pitara, tinuntun akena maring sanggah kamulan, yan lanang unggahakena ring tengen, yan wadon unggahakena maring kiwa, irika mapisan lawan dewa hyangnya nguni……” (Purwa Bhumi kamulan, lembar: #).
Yang artinya :
“Setelah demikian daksina perwujudan roh suci dituntun pada Sanghyang Kamulan, kalau bekas roh itu laki naikkan pada ruang kanan, kalau roh suci itu bekas perempuan dinaikkan di sebelah kiri, disana menyatu dengan leluhurnya terdahulu.”

Sanggah Kemulan dalam lontal Tatwa Kapatian 

dalam lontar Tatwa Kapatian disebutkan bahwa sanghyang atma (roh) setelah mengalami proses upacara akan bersthana pada sanggah kamulan sesuai dengan kadar kesucian atma itu sendiri. Atma yang masih belum suci, yang hanya baru mendapat “tirtha pangentas pendem” atau upacara sementara (ngurug) juga dapat tempat pada Sanggah Kamulan sampai tingkat “batur kamulan”, seperti disebutkan :
“Mwah tingkahing wong mati mapendem, wenang mapangentas wau mapendem, phalanya polih lungguh Sang Atma munggwing batur kamulan” (Rontal Tattwa Kapatian, 1a. 1b).
Artinya :
“Dan prihalnya orang mati yang ditanam, harus memakai tirtha pangentas baru diurug, hasilnya mendapatkan tempat Sang Atma pada Batur Kamulan”

Dari kutipan-kutipan di atas jelaslah bagi kita bahwa Hyang Kamulan yang dipuja pada Sanggah Kamulan adalah juga roh suci leluhur, roh suci Ibu dan Bapak ke atas yang merupakan leluhur lencang umat yang telah menyatu dengan Sang Penciptanya, yang dalam lontar Gong Wesi/ Usana Dewa sebagai Hyang Tuduh atau Brahma, yang merupakan asal muasal adanya manusia di dunia ini.

Hyang Tri Murti Dewanya Sanghyang Tri Atma

Kalau kita renungkan lebih mendalam, tentang Sanghyang Tri Atma seperti disebutkan pada Gong Wesi dan Usana Dewa, maka pengertian Hyang Kamulan sesungguhnya akan lebih tinggi lagi. Karena telah disebutkan bahwa Penyatuan Sanghyang Tri Atma adalah hyang Tuduh/Tunggal yang menjadi Brahma sebagai Sang Pencipta.

Di samping itu, ketiga tingkatan Sanghyang Tri Atma itu juga ditinjau dari segi filsafat Siwa Tattwa, maka “atma” adalah yang menjadikan hidup pada mahkluk. Sivatma adalah sumber atma di alam nyata (sekala) ini. Sedangkan Paratma adalah sumber atma (roh) di alam niskala. Ia adalah atma tertinggi. Ia adalah Tuhan menurut sistim yoga. Ia adalah identik dengan Paramasiva dalam Siva Tattwa. Dalam sistim wedanta ia adalah Tuhan Nirguna Brahma.

Dalam mantram “Sapta Omkaratma” disebutkan yang dimaksud dengan Tri Atma, adalah:
  • Am, Atma dewanya Brahma,
  • Antaraatma dewanya Wisnu, dengan wijaksaranya Um, dan
  • Paramatma dewanya adalah Iswara dengan wijaksaranya Mang.
Ketiga dewa tersebut dalam sekte Siwa Sidhanta umum disebut Tri Murti. Ketiga dewa tersebut adalah merupakan roh alam semesta. Sebagai roh (atma) alam semesta ia adalah juga bergelar Tri Purusa atau Trilingga.

dikarenan Sanggah Kemulan adalah linggih Ida Hyang Tri Purusa, maka mantra pada saat memuja beliau di Sanggah Kamulan atau Kawitan adalah sebagai berikut:
"Om Dewa-dewi Tri Dewanam
Tri Murti Tri Lingganam
Tri Purusa Suddha Nityam
Sarwa jagat Jiwatmanam"
(Anandakusuma: 45).
Artinya:
Om Dewa-dewi yang bergelar Tri Dewa, adalah Tri Murti (Brahma, Wisnu, Iswara) yang juga Tri Lingga, Tri Purusa yang suci selalu, adalah roh (atma) atau semesta beserta isinya (jagat).

Sesungguhnya yang merupakan jiwa (atma) atau roh dari jagat kita ini termasuk mahkluk hidup utamanya manusia adalah beliau yang bergelar Tri Murti., Tri Purusa dengan wujud Trilingganya. Sebagai roh (atma) dengan sendirinya beliau itu adalah Ida Hyang Widhi, yang didalam penunggalan-Nya adalah Ida Hyang Widhi, yang di dalam lontar Usana Dewa dan Gong Wesi disebut Hyang Tuduh / Hyang Tunggal atau Brahma sebagai pencipta alam dengan isinya termasuk manusia.

Siwa adalah Tuhan dalam dimensi imanen (sakala), Sadasiwa adalah Tuhan dalam dimensi sakala-niskala (Ardenareswara), sedangkan Paramasiwa adalah Tuhan dalam dimensi niskala (transcendental).

Siwa dalam ketiga wujud di atas, dalam lontar Siwagama digelari Batara Guru, karena beliau (Siwa) menjadi “Dang Guru ing Iswara” di jagat kita ini. Konon gelar Batara Guru dihaturkan oleh murid beliau terpandai yakni Dewa Surya, setelah Dewa Surya dianugerahi gelar Siwa Raditya oleh Siwa sendiri sebagai Dang Guru (Wikarman, 1998: 12).

Oleh karena Siwa beraspek tiga, sebagai Tri purusa maka Guru pun ada tiga aspek pula, yakni Guru Purwam, Guru Madyam, Guru Rupam. Guru purwam, guru dalam dimensi niskala, Guru Madyam, guru dalam dimensi sakala-niskala, sedangkan Guru Rupam, adalah guru dalam dimensi sakala. Tri Guru, dalam mantram “ngaturang bakti ring kawitan” juga merupakan objek yang dipuja, seperti dinyatakan :
Om Guru Dewa Guru Rupam
Guru Madyam Guru Purwam
Guru Pantaram dewam
Guru Dewa Sudha nityam
(Anandakusuma, Dewayadnya: 45).
Artinya:
“Om Guru Dewa, yaitu Guru Rupam (sakala), Guru Madya (sakala-niskala) dan Guru Purwa (niskala) adalah guru para dewa. Dewa Guru Suci selalu”

Jadi melihat uraian dan kutipan mantra di atas, jelaslah bagi kita bahwa yang dipuja pada Sanggah Kamulan pada hakekatnya adalah Tuhan/Sang Hyang Widhi, baik sebagai Hyang Tri Atma, yang sebagai roh (atma) alam semesta dengan isinya (jagat) yang dewanya adalah Brahma, Wisnu dan Iswara, yang merupakan aspek Tuhan dalam bentuk horizontal dan Siwa, Sada Siwa, Parama Siwa, aspek Tuhan dalam bentuk vertikal (Tri Purusa). Sebagai Tri Purusa beliau juga disebut Guru Tiga. Oleh karenanya umum juga menyebutkan bahwa Sanggah Kemulan “sthana” Bhatara Guru/Hyang Guru.

Dengan demikian pengertian Kamulan atau Kawitan sesungguhnya mengandung pengertian yang sangat tinggi, yang merupakan asal muasal manusia yang tidak lain dari Ida Sang Hyang Widhi sendiri dengan semua manifestasinya.

FUNGSI SANGGAH KAMULAN

1. Tempat Pemujaan Ida Hyang Widdhi
Dimuka sudah dijelaskan, bahwa pengertian Hyang Kamulan, adalah Sanghyang Tri Atma yang panunggalannya adalah Hyang Tuduh atau Hyang Tunggal. Sanghyang Tri Atma yakni : Atma, Sivatma dan Paratma adalah Tuhan, dalam manifestasinya sebagai Roh. Menurut sistim Yoga, Ia adalah identik dengan Tri Purusa (Siva, Sadasiva dan Paramasiva) menurut filsafat Siva Sidhanta dan sesuai pula dengan Brahma, Visnu, Isvara. Ia juga sesuai dengan fungsi Siva sebagai Guru. Oleh karenanya Hyang Kamulan adalah juga Bhatara Guru, yang berdimensi tiga pula, yaitu Guru Purwam (Paramasiva), Guru Madyam (Sadasiva) dan Guru Rupam (Siva). Jadi dengan demikian sesungguhnya yang dipuja pada Sanggah Kamulan adalah Ida Hyang Widhi dalam wujud sebagai Sanghyang Tri Atma, Sanghyang Tri Purusa (Bhatara Guru) dan Sanghyang Tri Murti.

2. Tempat Memuja Leluhur
Sanggah Kemulan dalam lontar Purwabhumi kamulan, dinyatakan bahwa Sanggah Kamulan adalah tempat Ngunggahang Dewapitara,
… iti kramaning anggunggahaken pitra ring kamulan …” (Rontal Purwabhumi Kamulan, lembar 53).
Ngunggahang Dewapitara pada kamulan dimaksudkan adalah untuk “melinggihkan” atau mensthanakan” dewa pitara itu. Yang dimaksud dengan dewa pitara adalah : roh leluhur yang telah suci, yang disucikan melalui proses upacara Pitra Yadnya, baik Sawa Wedana maupun Atma Wedana.

Ngunggahang Dewa Pitara pada Sanggah Kamulan adalah mengandung maksud mempersatukan dewa pitara (roh leluhur yang sudah suci) kepada sumbernya (Hyang Kamulan). Kalimat “irika mapisan lawan dewa Hyangnia nguni” mengandung pengertian bersatunya atma yang telah suci dengan sumbernya, yakni Sivatma (ibunta) dan Paratma (ayahta). Hal ini adalah merupakan realisasi dari tujuan akhir Agama Hindu yakni mencapai moksa (penyatuan Atma dengan paratma).
Pemikiran tersebut didasarkan atas aspek Jnana kanda dari ajaran Agama Hindu.

Dari segi susila (aspek etika) ngunggahang Dewa Pitara pada Sanggah Kamulan, adalah bermaksud mengabdikan/melinggihkan roh leluhur yang telah suci pada Sanggah Kamulan untuk selalu akan dipuja, mohon doa restu dan perlindungan.

Atma yang dapat diunggahkan pada Sanggah Kamulan adalah Atma yang telah disucikan melalui proses upacara Nyekah atau mamukur seperti dinyatakan dalam rontal :
“… iti kramaning ngunggahakan pitra ring kamulan, ring wusing anyekah kurung muah mamukur, ri tutug rwa wales, dinanya, sawulan pitung dinanya…”
Artinya :
“… Ini perihalnya menaikkan dewa pitara pada Kamulan, setelah upacara nyekah atau mamukur, pada 12 harinya, atau 42 harinya…”.

Jadi upacara ngalinggihang Dewapitara adalah merupakan kelanjutan dari upacara nyekah atau mamukur itu. Tetapi karena pitara sudah mencapai tingkatan dewa, sehingga disebut Dewapitara, maka upacara ini tidak tergolong pitra yadnya lagi, melainkan tergolong Dewayadnya. Dari uraian di atas itu, jelaslah bagi kita, bahwa Sanggah Kamulan disamping untuk memuja Hyang Widhi, juga tempat memuja roh suci leluhur yang telah menunggal dengan sumbernya (Hyang Kamulan, atau Hyang Widdhi).

Jenis Sanggah Kamulan

Umat Hindu di Bali menurut dimensi dan kondisinya, membedakan Sanggah Kamulan menjadi beberapa jenis antara lain :

  1. Turus Lumbung, adalah Sanggah Kamulan darurat, karena satu dan lain hal belum mampu membuat yang permanent. Bahannya dari turus kayu dapdap (kayu sakti). Fungsinya hanyalah untuk ngelumbung atau ngayeng Hyang Kamulan atau Hyang Kawitan. Satu tahun setelah membuka karang baru diharapkan sudah membangun Kamulan yang permanen.
  2. Sanggah Penegtegan, adalah kamulan yang berfungsi hanya sebagai tempat negtegang (membuat ketentraman) dengan memuja Hyang Kawitan bagi mereka yang baru berumah tangga. kamulan sejenis ini banyak kita jumpai di daerah Kabupaten Bangli bagian atas. Setiap mereka yang baru kawin diwajibkan membangun sebuah Sanggah rong tiga, sehingga dalam satu pekarangan akan berdiri beberapa yang telah berumah tangga.
  3. Kamulan jajar. Sesuai dengan namanya, kamulan ini memiliki dua saka (tiang) yang berjajar dimuka yang menancap langsung pada bebaturan (palih batur).

Disamping itu, Kamulan jenis ini, disamping mempunyai ruang tiga yang berjajar, juga terdiri dari tiga bagian, yaitu :

  • bebaturan, 
  • ruang lepitan, dan 
  • ruang gedong sampai atapnya. 

Ruang lepitan letaknya dibawah rong tiga yang berjajar itu. Jadi kalau disimpulkan Kamulan jajar ini terdiri dari jajar horisontal dan jajar vertikal, sebagai simbolis dari Hyang Murti dan Tri Purusa.

Apa fungsi ruang lepitan itu?
Belum diketemukan sumber pasti. Namun kita lihat fungsi Kamulan sebagai Palinggih Atma dapat dijelaskan sebagai berikut :

  • Batur Kamulan, Sthana Atma yang masih kotor, yang baru mendapat pengentas pendem (lontar Tattwa Kapatian) 
  • Rong tiga, terutama kiri dan kanan adalah tempat Atma suci yang telah dilinggihkan. 
  • Ruang lepitan adalah tempat yang dapat dicapai oleh Atma yang sudah diaben. 
Jadi dengan demikian dapatlah dikatakan, Sanggah Kamulan terdiri dari tiga bagian kosmos, yakni bebaturan sebagai Bhur Loka atau pitra loka alamnya para Pitara, yaitu Atma yang sudah diaben, sedangkan Rong tiga sebagai Swah Loka alamnya para Dewa, yang dapat dicapai oleh atma yang mencapai alam kedewaan setelah melalui proses upacara memukur.


Ngunggahang Dewapitara di Sanggah Kamulan

Selain tempat memuja Ida Sanghyang Widhi Wasa,Sanggah kamulan adalah tempat memuja dan menstanakan roh suci leluhur. Agar leluhur dapat berstana di Sanggah Kamulan tentunya melalui proses upacara yang disebut dengan Ngunggahang Dewapitara. Tata cara mengenai ngunggahang Dewapitara diuraikan dalam Lontal Purwabhumi Kamulan dan Lontal Lebur Gangsa.
Berikut adalah kutipan lontal Purwabhumi Kamulan:
Iti kramaning angunggahaken pitra ring kamulan, ring wusing anyekah kurung mwang mukur, ring tutug rwawlas dinanya, sawulan pitung dinya, kunang wenang magawe bebanteng mangunggahaken pitra agung alit, lwir pabanten kadi piodalan dewa, maduluran; saji dewa putih kuning mwang jarimpen agung, pesayutan, pengambeyan, pangulapan, lawerti warna pada matukel, jinah 225, iniketan ring tulup, matatakan beruk misi beras, saha satsat gegantungan, riwus pinuja, terpana, kinabhaktine dening swagotranira, ring wus mangkana, ikang daksina pangadegan Sang Dewapitara, tinuntunakena maring tengen, yan wadon unggahaken ring kiwa, irika mapisan lawan dwa hyangnia nguni, winastu jaya-jaya depandhita kinabhaktenana mwah dening sawargania mwang santananira. Telas mangkana tutug saparikramania, puja simpen pralina kadi lagi. Ikang adegan wenang lukar saprakarania, wenang gesengakena juga, pushadika winadahan nyuh gading saha wangi, pendem ring ulwaning Sanggah kamulan, saha raramyania,dening kidung kakawin sakawruhan nira. (Rontal Purwabhumi Kamulan,lembar 53).
Adapun tata cara dalam ngunggahang Dewapitara adalah sebagai berikut:

  1. Dewapitara mula-mula dipuja tarpana melalui daksina pangadegan,sebagai simbolik daripada Dewapitara.
  2. Setelah puja tarpana,lalu warganya menyembah kepada Dewapitaranya.
  3. Berikutnya daksina pangadegan Dewapitara itu dituntun ke Sanggah Kamulan.
  4. Kemudian dinaikan dan disthanakan.Kalau laki-laki ditempatkan disebelah kanan,sedangkan kalau perempuan ditempatkan disebelah kiri dari ruang kamulan tersebut.
  5. Setelah itu kembali dijaya-jaya oleh pendeta sekali lagi pula persebahan dilakukan oleh keluarga dan keturunannya.
  6. Terakhir dilaksanakan puja Pralina yang artinya menyimpan dan mengembalikan kepada asal Dewapitara tersebut. Daksina pangadegan dilukar lalu dibakar. Abunya dikumpulkan dan ditaruh di dalam nyuh gading, disertai wangi-wangian,kemudian ditanam pada hulu sanggah kamulan tersebut.

Mengenai upakara atau bebantenan yang digunakan dalam ngunggahang Dewa pitara menurut Lontal Purwabhumi Kamulan adalah bebantenan yang sama seperti bebantenan hari pawedalan dewa dengan disertai:

  1. Saji dewa agung
  2. Jarimpen agung
  3. Sesayut
  4. Pengambeyan
  5. Pangulapan
  6. Panuntunan,yang peralatannya terdiri dari: Tulup yang dialasi dengan beruk berisi beras, Uang kepeng 225, dan Benang Tridatu 3 tukel (warna merah,putih,hitam). Uang kepeng dan benang dikaitkan pada tulup.
  7. Daksina pangadegan Dewapitara.

Dari uraian di atas ada beberapa hal yang perlu digaris bawahi yaitu:
Kalimat "irika mapisanan lawan Dewahyangnia nguni" dapat diartikan menunggalnya Atman individu yang telah disucikan dengan Sumbernya (Hyang Kamulan).

Upacara ngunggahang Dewapitara adalah tergolong Dewa Yadnya. Sehingga bebantenannya yang diperlukan sama seperti hari pawedalan dewa, banten apasarean (Odalan pemereman).

Tentang upacara ngunggahang Dewapitara juga diuraikan dalam Rontal Tutur Plebur Gangsa berikut beberapa baris petikannya:
Iki pebantennia pesakapan Nilapati pangunakarahaken pitra,angunggahaken pitra ring ibu dengen ring kamulan... Yadnya nawur denda kalepasan pitrane sane sampun liwar yadnya lara tan karuwat dening tamba,mwang panglukatan ika wenang tawurin ring pasakapan Nilapati.Yan sira angunggahaken pitra gawenen daksina makadi linggan Sanghyang Atma,sang pandita wenang ngwastonin ring sampune puput raris muspa sami-sami matur ring Dewapitara mangda jenek malinggih ring kamulan. (Drs.I Ketut Winaya,1989:22)
Dari kutipan di atas perlu digaris bawahi bahwa:

  1. Ngunggahang Dewapitara di Sanggah Kamulan disebut sebagai Pesakapan Nilapati
  2. Tempat ngunggahang Dewapitara adalah Ibu dengen kamulan
  3. Pada upacara ini diperlukan nawur denda kelepasan pitra. Yang maksudnya adalah penebusan dosa-dosa pitra tersebut yang pernah diperbuat semasa hidupnya
  4. Adanya perwujudan Dewapitara berupa daksina palinggan sanghyang Atma.
  5. adanya suatu harapan agar Dewapitara abadi bersthana pada Sanggah Kamulan.
Sanggah Kamulan (kanan) dan Sanggah Palihyangan (kiri)

Sanggah Kamulan Stana Hyang Guru

seperti yang telah dijelaskan dalam kutipan lontar-lontar diatas, Sanggah Kemulan merupakan salah satu tempat suci pekarangan rumah, yaitu tempat berstananya Bhatara Hyang Guru, yang juga merupakan tempat pemujaan/pengayatan Tri Murti. Selain itu Fungsi sanggah kemulan adalah sebagai tempat suci untuk memuja Bhatara-bhatari leluhur atau dewa pitara.
memang, kadang-kala, pengayatan dewa-pitara atau leluhur biasanya dibuatkan bangunan (sanggah rong kalih) disebelah selatan sanggah kemulan yang kemudian disebut "Sanggah palihyangan" kemudian lebih sering disebut "Paliangan", yang mungkin berasal dari kata "palinggan + hyang" yang artinya tempat leluhur.

Di dalam Sanggah ini ada bangunan rong tiga (tiga ruang) yang disebut Sanggah Kemulan tempat roh leluhur itu. Roh-roh tersebut dapat memberikan perlindungan dan pertolongan kepada manusia, tetapi dapat pula menimbulkan bencana. Oleh karena itu untuk mengambil hati roh-roh tersebut (agar tidak mencelakakan, tetapi sebaliknya memberikan bantuan) maka roh tersebut dipuja melalui persembahan saji-sajian. Yang pertama yang dipuja adalah roh orang-orang besar dan roh nenek moyang, yang disebut Hyang atau Dewa Hyang. Roh suci seseorang ditempatkan di Sanggah Kamimitan/Pamerajaan.

Sesuai dengan hasil Keputusan pada pertemuan para Sadaka (pemimpin Sekte) yang dipimpin oleh ida Mpu Kuturan di Bedahulu antara 9 SAMPRADAYA (sekte) yang ada di Bali, maka didalam lingkungan masyarakat yang lebih kecil (keluarga ) diharuskan untuk membangun sanggah / pemrajan di pekarangan masing – masing berupa pelinggih rong 3 yang biasa di sebut sanggah kemulan. Sanggah kemulan / Pemerajan berfungsi sebagai tempat memuja Ida Sanghyang Widhi Wasa dengan segala manifestasinya. Sanggah Kamulan ini berbentuk segi empat panjang bertiang empat dengan 3 buah ruangan.

Pada Sanggah Kemulan Sebelah Kanan adalah linggih Dewa Brahma, Ruang sebelah kiri adalah Linggih Dewa Wisnu ,dan ditengah – tengah adalah linggih Dewa Siwa.

Pada ruang tengah biasanya diisi buah kelapa yang masih bertampuk dan bertangkai serta kulitnya tiada bercacat, disebut : “Tahulan“. Tahulan ini dianggap sebagai sebagai simbul jiwa, Tapuk sebagai Lambang Siwadwara dan tangkai sebagai simbul rambut,sedangkan ruang kanan dan kiri sebagai simbul mata.
Jadi Sanggah Kamulan sebagai perwujudan Lingga Tri Murthi yang merupakan pancaran dari Ida Sanghyang Widhi Wasa.

Maksud dari pembangunan Palinggih rong Tiga dalam lingkungan keluarga adalah agar kita selalu ingat dan memuja kebesaran Ida Sanghyang Widhi Wasa dalam kaitannya hutang kita yang di sebut Tri Rnam.
Tempat tersebut dinamai Sanggah/Pemerajan bila minimal terdapat:
  1. Kemulan Rong Tiga sebagai linggih Tri Murti / Leluhur
  2. Linggih Sedana Penglurah
  3. Gedong Linggih Taksu.
Dan menurut beberapa sumber yang daerah kami di desa guwang serta pendapat para guru spiritual hindu, yang distanakan di Rong 3 tersebut adalah jiwa - jiwanya para leluhur, dan jiwa itu bersifat cahaya. Dan penempatan Jiwa-jiwa leluhur di areal rumah adat bali, yaitu :
  1. Roh yang belum meninggal posisinya masih ngayah di areal tempat suci di desa setempat, bagi keluarga yang ingin melaksanakan "ritual Munjung" dapat dilakukan di 2 tempat, yaitu: di kuburannya langsung atau di lebuh rumah (depan pintu masuk pekarangan).
  2. Leluhur setelah upacara Ngaben, didalam rumah beliau diberi tempat di "Bale Dagin", itulah sebabnya di bale dangin bagian hulu dibuatkanlah sebuah tempat (lenggatan), yang dijadikan tempat mengaturkan sesajen ataupun munjung. terkadang di beberapa rumah tangga (sanggah gede/pamugeran) beliau distana di palinggih "dewa pitra" yang bertempat di timur "bale daja" biasanya posisinya nempel di tembok luar bale daja sisi timur.
  3. Dewa Pitra, yang kemudian diberikan yadnya "upacara Nyekah",dewa pitra berubah status menjadi "Dewa Pitara", saat ini beliau sudah boleh memasuki areal Sanggah/Pamerajan, yang kemudian malinggih di "Anda Kamulan atau Lepitan Kemulan" posisinya di ruangan di bawah rong tiga. bagi Sentana (keluarga) yang mampu membangun "sanggah palihyangan". kata Palihyangan berasal dari kata "Palingih Hyang"
  4. setelah dilaksanakannya Yadnya Piodalan di Sanggah tersebut, barulah beliau boleh malingih di Rong Tiga, dan saat tersebutlah beliau bergelar "Dewa Hyang".
  5. setelah Dewa Hyang ataupun Dewa Pitara dihaturkan "Yadnya Panilapati", barulah beliau dapat menyatu dengan Tri Murti, yang kemudian beliau bergelar "Hyang Guru". inilah puncak status dari perjalanan Suci Roh/Jiwa Manusia yang belum mencapai "Adi Moksa".
jadi secara umum, yang dapat ber-reinkarnasi secara baik adalah reinkarnasi dari Dewa Pitara, sedangkan posisi lainnya kurang memenuhi syarat baik treinkarnasi, apalagi roh yang belum diupacari Ngaben. apabila belum ngaben roh tersebut sering disebut "pitra dekot (roh yang masih kotor)" biasanya dicirikan dengan adanya banyak halangan semasa hidup sang numadi.

Artikel yang terkait dengan Sanggah Kamulan adalah:

Sukat - Membuat Sanggah Kemulan


Sanggah Kamulan secara umum memakai ukuran tampak kaki pemiliknya yaitu: 11 x 7 tampak rincian jarak Utara - Selatan 11 tampak ditambah atampak ngandang dan jarak Timur Barat 7 tampak ditambah juga atampak ngandang. Pemakaian tampak kaki pemiliknya dan bukan tampak kaki orang lain didasarkan kepada keputusan Sang Hyang Anala yang berbunyi sebagai berikut:
Muwah kenge takna, yan ri kalaning kita ngawe sukat wewangunan tulakakna ring buana sariranto, para ikang mamet, sakeng rika juga pasuk wetunia, yata urip lawan patinia, paweh lawan walinia, suksma mwah maring nguni
Artinya:
Yang patut diingat, pada waktu Anda membuat ukuran bangunan, ukurlah diri Anda, dari sanalah diambil bagian-bagiannya, sebab dari sana jugalah keluar masuknya, demikian pula hidup dan matinya, memberi dan mengembalikannya, pada akhirnya kembali musnah pada asalnya dahulu.

Pada kutipan di atas terdapat pernyataan "tulakakna ring buana sariranta (ukurlah diri Anda), para ikang ngamet (dari sanalah diambil bagiannya)". Jadi untuk mengukur sebuah bangunan digunakan ukuran bagian organ tubuh pemiliknya. Saking rika juga pasuk wetunia ( dari sana jugalah keluar masuknya). Organ tubuh yang dapat menggerakkan manusia untuk dapat bergerak keluar dan masuk adalah kaki. Itulah sebabnya digunakan tampak kaki pemiliknya.

Titik tolak pengukuran Pembangunan Sanggah Kamulan dimulai dan Ersania (Timur Laut) dan Timur, yaitu batas tembok penyengker ke Barat sebanyak 7 tampak. Dimulai dari Timur karena Timur lambang kesucian keutamaan. Pemakaian 7 tampak dari Timur didasari oleh perhitungan Asta Kosala Kosali bahwa perhitungan membuat bangunan didasarkan astawara; sri, indra, guru, yama, ludra, brahma, kala dan uma. perhitungan ini berlaku kelipatannya, sehingga pemakaian 11 tampak jatuh pada perhitungan "Guru" dan 7 tampak jatuh pada "kala". ini dimaksudkan agar sepanjang waktu (kala) penghuni rumah selalu dilindungi dan diberikan sinarnya (guru).
apabila  kewalahan/lahan tidak memungkinkan, ukuran sanggah kemulan juga bisa di sesuaikan, minimal sri (sejahtera), atau diusahakan indra (berwibawa) - guru (dibimbing).
Demikianlah sekilas tentang Sanggah Kamulan, semoga bermanfaat bagi krama Hindu Bali.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar