Google+
Tampilkan postingan dengan label ajaran dharma. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label ajaran dharma. Tampilkan semua postingan

Tri Kaya Parisudha

Tri Kaya Parisudha sebagai landasan pendidikan

Tri Kaya Parisudha berasal dari kata:
  • “Tri” yang berarti tiga, 
  • “Kaya” berarti perilaku atau perbuatan, dan 
  • “Parisudha” yang berarti baik, bersih, suci atau disucikan. 
Tri Kaya Parisudha artinya tiga perilaku manusia berupa pikiran, perkataan, dan perbuatan yang harus disucikan. Pikiran, perkataan, dan perbuatan yang disucikan dimaksudkan perilaku manusia yang baik atau perilaku manusia itu tidak boleh dikotori dengan perilaku yang tidak baik. Ketiga perilaku yaitu berpikir, berkata, dan berbuat yang baik harus selalu dijadikan pedoman khususnya bagi umat Hindu dan bagi umat manusia pada umumnya dalam menjalani kehidupan sehari-hari, sehingga tercipta hubungan yang harmonis antara manusia dengan lingkungannya, manusia dengan sesamanya, dan munusia dengan maha pencipta.

Dewa Tertinggi Orang Hindu Bali

Dewa Tertinggi Orang Hindu Bali

Konsep Ketuhanan dibali adalah Memuja Tuhan berdasarkan FungsiNya, yang lebih dikenal dengan manifestasi Brahman, sering disebut Dewa (Div: sinar suci Brahman bersifat positif). karena fungsi Tuhan yang meresap dalam hukum Karma ciptaanNya sangat banyak, maka semakin banyak pula sebutan tuhan yang terrefeksi dengan penamaan Dewa.
semakin banyaknya film Itihasa dan purana dipertontonkan di indonesia, menyebabkan kebingungan beberapa umat hindu bali yang sedang "mencari jati diri" dan mencari pembenaran atas keyakinannya. kejadian ini menjadi semakin goyangnya keyakinan gama tirtha dibali, karena beberapa umat tersebut mulai mengesampingkan ajaran dari mpu kuturan, yang telah berjuang mempersatukan sekte/sampradaya yang dulunya banyak berkembang di Bali.
bila dipikir kembali, mungkinkah umat hindu bali kembali mundur pemahaman agama hindunya?
dari mendalami ajaran universal hindu melompat mundur mempelajari sekte-sekte yang diidolakan. bukankah sekte tersebut bagian dari hindu? inilah yang aneh bin ajaib yang terjadi dibali.
orang-orang beramai-ramai memuja dewa-dewanya, dan mengesampingkan local-genius yang sudah mengakar sebagai konsep hindu yang universal.
dengan memuja satu dewa tertinggi dan menggapnya sebagai tuhan, bukankah itu sudah menyalahi dasar keimanan hindu sendiri?
mohon diingat, bahwa pokok-pokok keimanan hindu adalah percaya dengan adanya Tuhan, Atma, Karmaphala, Punarbhawa, dan Moksa.

Penerapan Ajaran Dharma dalam kehidupan masyarakat Bali

Penerapan Ajaran Dharma dalam kehidupan masyarakat Bali

saha-yajnah prajah srstva purovaca prajapatih anena prasavisyadhvam esa vo ‘stv ista-kama-dhuk (BG. III.X)
Terjemahannya :
Dahulu kala Prajapati menciptakan manusia dengan yajnya dan bersabda; "dengan ini engkau akan berkembang dan akan menjadi kamadhuk keinginanmu".
Dari satu sloka di atas jelas bahwa manusia saja diciptakan melalui yadnya maka untuk kepentingan hidup dan berkembang serta memenuhi segala keinginannya semestinya dengan yadnya. Manusia harus berkorban untuk mencapai tujuan dan keinginannya. Kesempurnaan dan kebahagiaan tak mungkin akan tercapai tanpa ada pengorbanan. Pengorbanan dalam hal ini bukan saja dalam bentuk materi. Segala aspek yang dimiliki manusia dapat dikorbankan sebagai yadnya, seperti; korban pikiran, pengetahuan, ucapan, tindakan , sifat, dan lain-lain termasuk nyawa sendiri dapat digunakan sebagai korban.

dengan semakin pesatnya perkembangan jaman, media internet untuk mencari dan mengkonfirmasi kebenaran sebuah kegiatan yang membudaya semakin gampang, membuat warga bali resah dan galau, hingga umat hindu bali ada yang sampai bingung dengan keyakinannya. sehingga muncul pertanyaan:
apakah kegiatan umat hindu dibali sudah sesuai dengan sastra yang digariskan oleh weda?
apakah budaya bali yang sampai kini berlangsung sudah sesuai dengan ajaran dharam?
dan masih banyak pertanyaan-pertanyaan umum dari umat dibali, yang masih menanyakan keyakinannya. karena ini, melalui tulisan ini tyang akan coba memberi gambaran tentang prilaku kegiatan yang telah membudaya di bali.

secara umum, ajaran dharma sangatlah simple, dimana cara menjalankan ajaran kita yang paling mendasar adalah "Tri Kaya Parisudha". dimana dengan dasar ini perlahan-lahan dikembangkan untuk dapat mencapai tujuan agama secara umum yaitu "moksatam jagadhita ya ca iti dharma" untuk mencapai moksa yang diawali dengan kebahagiaan duniawi yang berdasarkan ajaran dharma.

implementasi Tri Hita Karana dalam kehidupan

implementasi Tri Hita Karana dalam kehidupan

Om Swastyastu,
Istilah Tri Hita Karana pertama kali muncul pada tanggal 11 Nopember 1966, pada waktu diselenggarakan Konferensi Daerah l Badan Perjuangan Umat Hindu Bali bertempat di Perguruan Dwijendra Denpasar. Konferensi tersebut diadakan berlandaskan kesadaran umat Hindu akan dharmanya untuk berperan serta dalam pembangunan bangsa menuju masyarakat sejahtera, adil dan makmur berdasarkan Pancasila. Kemudian istilah Tri Hita Karana ini berkembang, meluas, dan memasyarakat.
Tri Hita Karana merupakan suatu konsep atau ajaran dalam agama hindu yang selalu menitikberatkan bagaimana antara sesama bisa hidup secara rukun dan damai. 
Tri HitaKarana
Tri Hita Karana:
Hubungan Manusia dengan Tuhan (Parhyangan), dengan Sesama (Pawongan) dan dengan Alam Lingkungan (Palemahan)
Tri hita karana bisa diartikan Secara leksikal yang berarti tiga penyebab kesejahteraan. Yang mana Tri yang artinya tiga, Hita yang artinya sejahtera, dan Karana yang artinya penyebab. Pada hakikatnya Tri Hita Karana mengandung pengertian tiga penyebab kesejahteraan itu bersumber pada keharmonisan hubungan antara: 

  1. Manusia dengan Tuhannya (Parhyangan), 
  2. Manusia dengan alam lingkungannya (Palemahan), dan
  3. Manusia dengan sesamanya (Pawongan)

Tujuan Agama Hindu - Moksartham Jagadhitaya ca iti Dharma

Tujuan Agama Hindu

Agama sebagai pengetahuan kerohanian yang menyangkut soal-soal rohani yang bersifat gaib dan methafisika secara esthimologinya berasal dari bahasa sansekerta, yaitu dari kata "A" dan "gam". "a" berarti tidak dan "gam" berarti pergi atau bergerak.

Jadi kata agama berarti sesuatu yang tidak pergi atau bergerak dan bersifat langgeng. Menurut ajaran dharma - Hindu yang dimaksudkan memiliki sifat langgeng (kekal, abadi dan tidak berubah-ubah) hanyalah Hyang Widhi Wasa (Tuhan Yang Maha Esa).

Demikian pula ajaran-ajaran yang diwahyukan-Nya adalah kebenaran abadi yang berlaku selalu, dimana saja dan kapan saja.

Berangkat dari pengertian itulah, maka agama adalah merupakan kebenaran abadi yang mencakup seluruh jalan kehidupan manusia yang diwahyukan oleh Hyang Widhi Wasa melalui para Maha Rsi dengan tujuan untuk menuntun manusia dalam mencapai kesempurnaan hidup yang berupa kebahagiaan yang maha tinggi dan kesucian lahir bathin.

Tujuan Agama Hindu yang dirumuskan sejak Weda mulai diwahyukan adalah
"Moksartham Jagadhitaya ca iti Dharma"
yang artinya bahwa agama (dharma) bertujuan untuk mencapai kebahagiaan rohani dan kesejahteraan hidup jasmani atau kebahagiaan secara lahir dan bathin. Tujuan ini secara rinci disebutkan di dalam Catur Purusa Artha, yaitu empat tujuan hidup manusia, yakni Dharma, Artha, Kama dam Moksa.