Google+
Tampilkan postingan dengan label Tri Kaya Parisudha. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Tri Kaya Parisudha. Tampilkan semua postingan

Tri Kaya Parisudha

Tri Kaya Parisudha sebagai landasan pendidikan

Tri Kaya Parisudha berasal dari kata:
  • “Tri” yang berarti tiga, 
  • “Kaya” berarti perilaku atau perbuatan, dan 
  • “Parisudha” yang berarti baik, bersih, suci atau disucikan. 
Tri Kaya Parisudha artinya tiga perilaku manusia berupa pikiran, perkataan, dan perbuatan yang harus disucikan. Pikiran, perkataan, dan perbuatan yang disucikan dimaksudkan perilaku manusia yang baik atau perilaku manusia itu tidak boleh dikotori dengan perilaku yang tidak baik. Ketiga perilaku yaitu berpikir, berkata, dan berbuat yang baik harus selalu dijadikan pedoman khususnya bagi umat Hindu dan bagi umat manusia pada umumnya dalam menjalani kehidupan sehari-hari, sehingga tercipta hubungan yang harmonis antara manusia dengan lingkungannya, manusia dengan sesamanya, dan munusia dengan maha pencipta.

Tanya Jawab Tatwa dan Filsafat Hindu Bali

Tanya Jawab Tatwa dan Filsafat Hindu Bali

Hiruk pikuk dunia modern menuntut kita memberikan waktu lebih banyak untuk mengejar kehidupan duniawi dan kadang-kadang melupakan kehidupan spiritual kita. Dari percakapan Guru dan Murid di Asrama Jagathita, mungkin kita dapat bersantai sejenak dan menyimak pertanyaan-pertanyaan mendasar tentang Agama dan Dharma yang diajukan oleh sang murid kepada gurunya. ini merupakan cara belajar yang sering disebut dengan Upadesa, yakni duduk di dekat guru. 
semoga percakapan ini bermanfaat.

Tersebutlah seorang guru suci yang bernama Rsi Dharmakerti. Beliau tinggal di dalam asrama Jagathita yang telah terkenal karena pengetahuan dan laksananya dalam kebenaran yang tinggi yaitu Dharma atau Dhamma.

Penerapan Ajaran Dharma dalam kehidupan masyarakat Bali

Penerapan Ajaran Dharma dalam kehidupan masyarakat Bali

saha-yajnah prajah srstva purovaca prajapatih anena prasavisyadhvam esa vo ‘stv ista-kama-dhuk (BG. III.X)
Terjemahannya :
Dahulu kala Prajapati menciptakan manusia dengan yajnya dan bersabda; "dengan ini engkau akan berkembang dan akan menjadi kamadhuk keinginanmu".
Dari satu sloka di atas jelas bahwa manusia saja diciptakan melalui yadnya maka untuk kepentingan hidup dan berkembang serta memenuhi segala keinginannya semestinya dengan yadnya. Manusia harus berkorban untuk mencapai tujuan dan keinginannya. Kesempurnaan dan kebahagiaan tak mungkin akan tercapai tanpa ada pengorbanan. Pengorbanan dalam hal ini bukan saja dalam bentuk materi. Segala aspek yang dimiliki manusia dapat dikorbankan sebagai yadnya, seperti; korban pikiran, pengetahuan, ucapan, tindakan , sifat, dan lain-lain termasuk nyawa sendiri dapat digunakan sebagai korban.

dengan semakin pesatnya perkembangan jaman, media internet untuk mencari dan mengkonfirmasi kebenaran sebuah kegiatan yang membudaya semakin gampang, membuat warga bali resah dan galau, hingga umat hindu bali ada yang sampai bingung dengan keyakinannya. sehingga muncul pertanyaan:
apakah kegiatan umat hindu dibali sudah sesuai dengan sastra yang digariskan oleh weda?
apakah budaya bali yang sampai kini berlangsung sudah sesuai dengan ajaran dharam?
dan masih banyak pertanyaan-pertanyaan umum dari umat dibali, yang masih menanyakan keyakinannya. karena ini, melalui tulisan ini tyang akan coba memberi gambaran tentang prilaku kegiatan yang telah membudaya di bali.

secara umum, ajaran dharma sangatlah simple, dimana cara menjalankan ajaran kita yang paling mendasar adalah "Tri Kaya Parisudha". dimana dengan dasar ini perlahan-lahan dikembangkan untuk dapat mencapai tujuan agama secara umum yaitu "moksatam jagadhita ya ca iti dharma" untuk mencapai moksa yang diawali dengan kebahagiaan duniawi yang berdasarkan ajaran dharma.

implementasi Tri Hita Karana dalam kehidupan

implementasi Tri Hita Karana dalam kehidupan

Om Swastyastu,
Istilah Tri Hita Karana pertama kali muncul pada tanggal 11 Nopember 1966, pada waktu diselenggarakan Konferensi Daerah l Badan Perjuangan Umat Hindu Bali bertempat di Perguruan Dwijendra Denpasar. Konferensi tersebut diadakan berlandaskan kesadaran umat Hindu akan dharmanya untuk berperan serta dalam pembangunan bangsa menuju masyarakat sejahtera, adil dan makmur berdasarkan Pancasila. Kemudian istilah Tri Hita Karana ini berkembang, meluas, dan memasyarakat.
Tri Hita Karana merupakan suatu konsep atau ajaran dalam agama hindu yang selalu menitikberatkan bagaimana antara sesama bisa hidup secara rukun dan damai. 
Tri HitaKarana
Tri Hita Karana:
Hubungan Manusia dengan Tuhan (Parhyangan), dengan Sesama (Pawongan) dan dengan Alam Lingkungan (Palemahan)
Tri hita karana bisa diartikan Secara leksikal yang berarti tiga penyebab kesejahteraan. Yang mana Tri yang artinya tiga, Hita yang artinya sejahtera, dan Karana yang artinya penyebab. Pada hakikatnya Tri Hita Karana mengandung pengertian tiga penyebab kesejahteraan itu bersumber pada keharmonisan hubungan antara: 

  1. Manusia dengan Tuhannya (Parhyangan), 
  2. Manusia dengan alam lingkungannya (Palemahan), dan
  3. Manusia dengan sesamanya (Pawongan)

edukasi weda selama masa prenatal

edukasi weda selama masa prenatal


Perkembangan balita (bayi di bawah lima tahun) sangat menakjubkan. Masa pertumbuhan sejak masa prenatal menjadi dasar pembentukan karakter. Untuk membentuk sifat anak yang baik, mengajarkan Weda sangat penting di mulai sejak masa prenatal yaitu masa janin di dalam kandungan.

Pada masa prenatal, bayi mengalami perkembangan organ-organ mulai dari sistem saraf, penerimaan sensor (telinga, hidung, mata, dan bagian kulit, rambut dan kuku), sistem peredaran, tulang, otot, sistem pembuangan dan sistem reproduksi. Setelah semua organ-organ terbentuk maka bayi sudah bisa merasakan apa yang terjadi di luar rahim ibu. Bayi sudah bisa merasakan gangguan fisik dan psikis yang dialami ibunya. Bayi memiliki kemampuan merasakan perasaan ibu yang sedang mengalami rasa senang, sedih, sakit. Bahkan sang anak mampu mendengarkan suara dari keluarga terdekat lainnya, seperti ayah.