Google+

Korelasi Catur Warna dengan Catur Marga Yoga

Korelasi Catur Warna dengan Catur Marga Yoga

seperti telah diketahui bahwa warna (profesi) dalam hidup ini ada empat yang utama. itu Artinya warna menjadi bagian tersendiri yang tiada dipisahkan pada kehidupan yang sosial. Dikatakan pula pada Manawa Dharmasastra Bab II pasal 18, dikatakan bahwa:
tasmidece ya acarah parampyakramagatah,warnamam santralanam sa sadacara ucyate.
Artinya:
Adat istiadat yang diturunkan dalam urutan yang wajar dari sejak dulu kala diantara empat golongan utama masyarakat serta suku-suku campruran yang ada,dinamai “Adat istiadat orang-orang Bijaksana”
Jadi dengan demikan berarti bahwa tidak ada suatu ketidakbijaksaan bagi para leluhur yang menciptakan adat istiadat tersebut sebaai sesuatu yang memiliki kharisma tersendiri.

Namun batasan terpenting dari empat golongan itu,sangatlah universal adanya, maka tercantum di sarasamuscaya bahwa itu melibatkan tanggung jawab yang sangat besar dan beban itu selayaknya disetujui diri sebagai kebenaran. Kitab Sarasamuscaya 61 menyatakan bahwa:

raja bhirur brahmanah sarvahakso vaicyo’nihavan, hinahvarno’lasasco, vidvanacilo vrttahinah kulinah bhrasto brahmanah stri ca dusta
terjemahan dalam jawa kunonya:
Hana pwa mangke kramanya, ratu wedi-wedi, brahmana sarwabhaksa, waica nirutsaha ring krayawikrayadi karma, sudra alemen sewaka ring sang triwarna, pandita dussila, sujanma anasar ring maryadanya, brahmana tan satya, stri dustra dussila
Artinya adalah
Jika hal yang demikian keadaannya ; raja yang pengecut, brahmana yang doyan makanan, waisya yang tidak ada kegiatan dalam pekerjaan berniaga, berjual beli dan sebagainya, sudra enggan, tidak suka mengabdi pada tri warna, pandita yang bertabiat jahat, orang yang berkelahiran utama nyeleweng dari hidup sopan santun, brahmana yang curang dan wanita yang bertabiat nakal dan berlaku jahat.

Tetapi filsafat tat twam asi akan trus mengumandangkan kebersamaan yang indah dan mendamai, sprti disebutkan Bhagawad Gita Bab V ayat 18 disebutkan bahwa:
widya-winaya-sampanne brahmane gawi hastini suni caiwa swa pake ca panditah sama-darsinah
artinya adalah
Hati orang bijak melihat dengan pandangan sama. baik seorang brahmana yang terpeajar dan rendah seekor sapi seekor gajah atau bahkan seekor anjing atau seseorang yang berkelahiran hina.

Lalu dalam hindu sendiri,dikatakan terdapat 4 jalan atau catur marga yang disesuaikan dengan siapa bagaimana serta apa yang cocok bagi IA itu. Tentu saja Maya dunia (sattwika rajasik tamasik) akan selalu ikut ambil bagian mempengaruhi setiap jalan jejak langkah penuh makna manusia itu sendiri.
Marga yang pertama adalah

Bhakti Marga Yoga

Secara jelas bahwa seorang bhakta adalah pengabdi sejati yang artinya melayani tuhan secara tulus iklas. Seorang bhakta secara jelas di sunting pada percakapan suci bhagwadgita XII dan dijelaskan di itu adalah bahwa seorang bhakta dikatakan sebagai berikut :
Bhagawad gita XII.10
abhyase ‘py asamartho’si mat-karma-paramobhawa, ma-artham api karmani siddhim awapsyasi.
Artinya :
Bila engkau juga tak mampu melakukan ini, maka jadikanlah dirimu sebagai orang yang melayani diri_KU; bahkan dengan melakukan kegiatan demi untuk-ku saja, engkau akan mencapai kesempurnaan..

Dalam hal ini adalah bahwa seorang bhakta akan melayani tuhan sesembahannya dengan tulus iklas, tentu saja itu akan dipengaruhi oleh Sattwikam shingga menjadi kebahagiaan yang bajik dan bijak.

Setiap dari sebuah yadnya akan ada berbagai tinjauan akan struktur sosial, alam itu akan memilij semua itu dalam yadnya..Melayani semua itu terluapkan pada keseluruhan warna, dan seorang brahmana adalah seorang bhakta yang menyomyakan sarana upacara menuju yang dituju. Dan semua itu akan memiliki berbagai kedudukan sesuai yang tergenerasikan dan tertuju pada penghormatan di seluruh makna yang ada

Karma Marga Yoga

Secara jelas bahwa karma marga disunting pada Bhagawad gita bagian III.
Karma Marga adalah jalan yang diibaratkan seperti seorang pekerja yang meleburkan hasil kerjaNya kepada yang menjaga dan menjadi sesembahan para Karmin. Di Bhagawad Gita Bab III.8 disebutkan :
niyatam kuru karma twam karma jyayo hyakarmanah,sarira yatrapi ca te na prasidhyed akarmanah.
Artinya : 
Lakukan kegiatan yang diperuntukkan bagimu, karena kegiatan kerja lebih baik dari pada tanpa kegiatan (pngruh tamasika) dan memelihara kehidupan fisik sekalipun tak dapat dilakukan tanpa kegiatan kerja..

Maka seorang karmin akan sangat dekat denga waisya ketika melaksanakan itu untuk mencari menemukan kesejahteraan dan kebahagiaan duniawi yang dicari dengan baik dan benar untuk mencapai karma yang baik.. Dan selain golongan waisya, maka tiga golongan lain tentu saja tetap untuk mencari amertha,mertha dari seluruh kewajiban mereka..Hal ini juga sangat erat hubungannya dengan catur asrma grehasta. Dimana tanggung jawab untuk menjaga kebahagiaan adalah denggan mencari artha dengan sokongan dharma itu sendiri.Tidak ada yang sebenarnya lepasdari kegiatan kerja karmin..

Jnana Marga Yoga

Jalan pengetahuan suci untuk mengenal panca sraddha secara mendalam.. Bagaimana panca sraddha itu diwujudkan sebagai filsafat hindu yang mendalam dan wajib oleh seorang jnanin mengupasnya untuk kemudian diberikan pemahamannya kepada seluruh umat yg memerlukan. Maka seorang jnanin juga seorang bhakta yang melayani untuk memberikan pengetahuan suci itu kepada yang semuanya.Jnana marga dapat dipahami Bhagawad Gita IV.19
yaysa sarve samarambhah kama sankalpa warjitah,
jnanagni dadha karmanam tam ahuh panditam buddha.
Artinya : 
Ia yang melakukan kegiatan yang seluruhnya bebas dari pamrih, yang kegiatan kerjanya dibakar oleh apai kebijaksanaan (jnana), oleh para bijak disebut Ia sebagai orang yang terpelajar..

Maka bahwa seorang jnanin yang memahami panca sraddha akan masuk pada wilayah masing-masing dari itu. Brahman maka diketahui oleh jnanin tentang pelajaran brahma widya, Atman kemudian diketahui oleh IA sebagai pengetahuan Atma Widya, ter masuk sampai manunggalnya Moksah di dunia dan di alam nanti..Semua itu adalah selayaknya dimiliki seorang jnani dengan pengetahuan itu sendiri.

Ada tiga cara untuk mengetahui pengetahuan suci, yaitu anumana pramana prtyaksa pramana agama pramana, maka ketika itu dikombinasikan, akan menjadi suatu bahan tersendiri untuk senantiasa membuat NYA tersenyum bahagia..

Seorang Jnanin adalah pula seorang Brahmana yang melayani umatnya,dan Weda yang dikatakan sebagai aje wera, sebenarnya tidak terlalu perlu ditakuti. Karena bagi mereka yang telah menerima eka jati atau pewintenan saraswati dan pewintenan lainnya,Hendaknya senantiasa mempelajari weda itu sendiri, dan bahkan sambil lalu mengagumi keagunganNYA mengamali ajaran sucinya dan menjadi tauladan dari seluruh lingkungan terdekat bahkan ke luar lingkungan..

Ilmu lain seperti ilmu artha sastra sangat layak dipertimbangkan sebagai bagian ekonomi umat, cara untuk mempertahankan diri, serta kebersamaan yang berkeadilan sosial..Manawdhramsastra dan kitab2 suci lelontaran lain, akan sangat bermanfaat ketika moral makna dalamnya dikombinasikan diakulturasi kan di sikretiskan untuk kejayaan hindu itu sendiri..

Raja Marga Yoga
Raja marga adalah sebuah jalan kontemplasi, ini biasanya dikatakan sebagai jalan dri sanyasin bhiksuka, Namun belakangan ini jalan meditasi serta jalan kontempasli adalaha jalan indah untuk melepaskan diri dari belenggu MAYA(KU) itu sendiri. Jalan ini sangatlah baik, namun selayaknya dilaksanakan di ruangan yang tenang dan ruangan yang sunyi senyap, agar panca tan matra tidak ditangkap oleh panca buddhindriya dan tidak mempengaruhi panca karmendrya.Dan khusyuk menemukan atmaning rahsya di sekeliling citta sebagai alam bawah sadar yang dalam. Raja marga seperti tapa yoga samadhi adalah jalan menuju kemoksaan itu sendiri. Di saat menyatu IA pada hyang disembahnya, akan menuju pada kewaskitaan itu sendiri..

Jalan ini adalah jalan berkat, dan sungguh harus mengalami pengalaman mental yg tidaklah mudah..Maka berbagai itu maya yg mereka lampaui, maka pengalaman itu akan mencapai kepada planet-planet keindahan surga di ketiga dunia. Menurut sloka Bhagawad Gita VIII.8 sebagai berikut :
abyasa yoga yuktina, cetasa nanya-gamina, patamam purusam divyam yati parthanucintayam

Artinya adalah 
Orang yang bersemadi kepada KU sebagai Kepribadian Tuhan yang maha esa, dengan pikirannya senantiasa tekun ingat kepada-KU, dan tidak pernah menyimpang dari jalan itu, dia lah yang pasti mencapai kepadaKU wahai partha.

Maka dari ini, dikatakan bahwa raja marga adalah jalan yang menuju kewasikataan dan persatuan pula kepadaNYA hyang ilahiah. Jalan ini dapat dilihat pada para pelaku spiritual, yang supranatural dan dekat dengan alam ghaib serta mampu menggunakan itu untuk kebermafaatan. Wilayah ini termasuk pada para balian atau yg memiliki berkat-berkat keindahaan para Hyang mereka suhun, dan ngiring. Dalam berbagai warna, ini ada dimana mereka diberikan jalan yang tentunya dirasa berat bagi yang lain, tetapi sangat penuh iklas dan insyaf pada seluruh kualitas yang disembah itu.

Mereka terlepas dari warna apa pun, dan mereka melayani tuhanNYA sebagai bhakta, melakukan kerja karmin yng iklas, secara intuisi mngalami jnana yg sesuai serta dekat dengan pengetetahuan suciNYa..Weda sendiri sangatlah dianjurkan untuk membacanya dengan dasar yang kuat, namun itu bukanlah halangan yang besar..Ketika ingin mencari kebenaran dari weda, apakah itu kebenaran yang suci, yang benar atau yang melepaskan diri dari Maya(ku), maka sesungguhnya pun niat suci itu terus menerus akan memberikan kedamaian dari purifikasi atma widyaning rahasya.
dalam Sarasamuscaya 15 disebutkan bahwa:
Yatnah kamarthamoksanam krtopi hi wipadyate, dharmmaya punararambhah sankalpopi na nisphalah
terjemahan jawa kunonya:
ikang kayatnan ri kagawayangin kama, artha muwang moksa, dadi ika tanpa phala, kunang ikang kayatnan ring dharmasadhana, niyata maphala ika, yadya pin angenangen juga, maphala atika.
maksudnya:
supaya diperhatikan, dengan diingat-ingat dalam mengusahakan kama, artha dan moksa, sebab tak ada pahalanya. adapun yang harus diusahakan dengan jalan dharma, tujuan itu pasti tercapai, walaupun hanya di angan-angan saja, akhirnya akan berhasil juga.
Artinya adalah bahwa niat suci untuk melakukan dan melaksanakan dharma di weda atau menyebarkan dan mengkontemplasikan diri pada saat mewacakang weda maka itu adalah sebuah kebercukupan. Dan niat suci itu dikalikan berlipat-lipat jua, bahwa mereka yang meyakini weda dan bisa memahaminya adalah sebuah kebahagiaan paling sejati. Namun weda sendiri akan menantang mereka untuk tidak percaya dahulu, tetapi menyerahkan semua pada KALA (waktu) untuk membersihkan hati menuranikan rahsa untuk menjadikan mereka sebagai wedantis yang diagungkan alam semesta..

Maka berbahagialah wahai para dharma raksaka.Berbahagialah wahai itu yang meyakini (KU)-Weda. Bahwa dengan itu engkau mendapatkan berkat, kejayaan, kerahayuan, kesejatian sebagai pejuang Dharma, dan sebagai para Bijaksanawan yang hakiki

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar