Google+
Tampilkan postingan dengan label kitab Sarasamuscaya. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label kitab Sarasamuscaya. Tampilkan semua postingan

Korelasi Catur Warna dengan Catur Marga Yoga

Korelasi Catur Warna dengan Catur Marga Yoga

seperti telah diketahui bahwa warna (profesi) dalam hidup ini ada empat yang utama. itu Artinya warna menjadi bagian tersendiri yang tiada dipisahkan pada kehidupan yang sosial. Dikatakan pula pada Manawa Dharmasastra Bab II pasal 18, dikatakan bahwa:
tasmidece ya acarah parampyakramagatah,warnamam santralanam sa sadacara ucyate.
Artinya:
Adat istiadat yang diturunkan dalam urutan yang wajar dari sejak dulu kala diantara empat golongan utama masyarakat serta suku-suku campruran yang ada,dinamai “Adat istiadat orang-orang Bijaksana”
Jadi dengan demikan berarti bahwa tidak ada suatu ketidakbijaksaan bagi para leluhur yang menciptakan adat istiadat tersebut sebaai sesuatu yang memiliki kharisma tersendiri.

Namun batasan terpenting dari empat golongan itu,sangatlah universal adanya, maka tercantum di sarasamuscaya bahwa itu melibatkan tanggung jawab yang sangat besar dan beban itu selayaknya disetujui diri sebagai kebenaran. Kitab Sarasamuscaya 61 menyatakan bahwa:

Kitab Sarasamuscaya

Kitab Sarasamuscaya (sarasamuccaya)

Om A No Bhadrah Kratawo Yantu Wiswatah (Reg Weda I.89.1)
Semoga semua pikiran yang baik datang dari semua penjuru.
Sarasamuscaya pertamakali diterjemahkan kedalam bahasa jawa kuno dan kemudian diterjemahkan pula ke dalam bahasa indonesia, merupakan salah satu kitab suci. pentingnya sarasamuscaya dalam tata kehidupan umat hindu di indonesia karena dalam menilai tata kehidupan umat itu ternyata sejak jaman dahulu dianggap sebagai salah satu sumber dharma atau hukum yang kaedah-kaedahnya masih diperhatikan sebagai panutan oleh masyarakat umumnya.

didalam buku "history of sanskrit literature" terdapat keterangan yang menyatakan bahwa sarasamuscaya ditulis sebagai pujian oleh ratnakara, sedangkan menurut rontal, sarasamuscaya itu sendiri menyebut-nyebut nama Wararuci sebagai penulisnya. bila benar bahwa Wararuci adalah Ratnakara, yang dalam sejarah sastra juga dikenal dengan sebutan Katyayana, salah satu permata kerajaan yang dianggap setara dengan sastrawan besar lainnya. Wararuci, nama lain untuk Katyayana adalah salah satu pujangga, yang hidup sekitar abad ke-5 SM. banyak yang menyebut-nyebut namanya, salahsatunya oleh patanjali, sastrawan raja Wikramaditya.

Sadaka/Sulinggih

Sadaka/Sulinggih

Kesulinggihan 
Berdasarkan Keputusan Mahasabha PHDI ke-2 tanggal 2 s/d 5 Desember 1968, yang dimaksud dengan Sulinggih ialah mereka yang telah melaksanakan upacara Diksa, ditapak oleh Nabe-nya dengan Bhiseka: Pedanda, Bhujangga, Rsi, Bhagawan, Mpu, dan Dukuh.

Pada Keputusan Seminar Kesatuan Tafsir terhadap Aspek-aspek Agama Hindu ke-14 tahun 1986/1987 tentang Pedoman Pelaksanaan Diksa, ditetapkan sebagai berikut:
Umat Hindu dari segala warga yang memenuhi syarat-syarat:
  1. Laki-laki yang sudah kawin dan yang nyuklabrahmacari
  2. Wanita yang sudah kawin dan yang tidak kawin (kania)
  3. Pasangan suami/ istri
  4. Umur minimal 40 tahun
  5. Paham Bahasa Kawi, Sanskerta, Indonesia, memiliki pengetahuan umum,pendalaman intisari ajaran-ajaran agama
  6. Sehat lahir bathin dan berbudi luhur sesuai dengan sesana
  7. Berkelakuan baik, tidak pernah tersangkut perkara pidana
  8. Mendapat tanda kesediaan dari pendeta calon Nabe-nya yang akan menyucikan
  9. Sebaiknya tidak terikat akan pekerjaan sebagai pegawai negeri ataupun swasta kecuali bertugas untuk hal keagamaan
Ketentuan-ketentuan di atas dikelompokkan pada persyaratan formal bagi seorang Sulinggih.

Memaknai CARU dalam ruang dan waktu

Memaknai CARU dalam ruang dan waktu

Setiap upacara agama yang berdasarkan Veda selalu ada lima unsur yang memvisualkan nilai-nilai suci upacara agama Hindu. Lima unsur tersebut adalah Mantra, Tantra, Yantra, Yadnya dan Yoga. Yantra itu berasal dari bahasa Sanskerta yang artinya alat atau sarana dalam bentuk simbol.

Yantra dalam upacara agama Hindu di Bali disebut banten atau upakara. Banten inilah yang menggunakan sarana tumbuh-tumbuhan dan hewan di samping unsur unsur panca maha bhuta lainya.

Dalam Lontar Yadnya Prakerti disebutkan, sebagai berikut, 
" ... Sehananing bebanten pinaka raganta twi, pinaka warna rupaning Ida Bhatara, pinaka Andha Bhuwana ..." 
Artinya:
semua bebanten adalah lambang dirimu sendiri, lambang kemahakuasaan Tuhan dan lambang isi alam semesta.