Google+
Tampilkan postingan dengan label Manawa Dharmasastra. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Manawa Dharmasastra. Tampilkan semua postingan

Kewajiban Suami - Grahasta Asrama

Kewajiban Suami - Grahasta Asrama

salah satu bagian dari Catur Asramaadalah masa Grahasta, yang sering disebut dengan masa berkeluarga. langkah awal dalam membangun keluarga adalah kawin (baca: "Pernikahan menurut Pandangan Hindu"). Selain sebagai ikatan/jalinan pengabdian yang tulus ikhlas antara seorang ayah kepada ibu dan anak, dalam keluarga juga terdapat kewajiban atau swadarma untuk melakukan panca yadna (Weda Smrti III 67.71), itu lima pengabdian yang ikhlas, suci, nirmala antara lain:
  1. Kepada Hyang Widhi beserta manifestasi-Nya (dewa yadnya)
  2. Kepada orang suci (Rsi Yadnya)
  3. Kepada orang tua, leluhur/guru rupaka (Pitra Yadna).
  4. Kepada sesama manusia (Manusa Yadnya).
  5. Kepada Alam semesta (Bhuta yadnya).
Selain kewajiban panca yadnya tersebut diatas, setiap unsur dalam keluarga Hindu memiliki kewajiban masing-masing antara lain:

Agama Veda dharma

Agama Veda dharma

Veda atau dalam istilah Bali disebut dengan WEDA, merupakan Wahyu yang diturunkan oleh Hyang Widhi (Tuhan) melalui para Rsi, dikumpulkan atau dihimpun menjadi suatu kitab suci. 
Kata Weda dapat dikaji melalui dua pendekatan, yaitu berdasarkan etimologi  (akar katanya) dan berdasarkan semantic (pengertiannya).
  • Secara etimologi berasal dari bahasa Sansekerta, dari akar kata "Wid" yang berarti mengetahui atau pengetahuan. Dari kata Weda yang ditulis dengan huruf A (panjang) berarti pengetahuan kebenaran sejati atau kata-kata yang diucapkan dengan aturan-aturan tertentu yang dijadikan sumber ajaran Agama Hindu. 
  • Secara semantic Weda berarti kitab suci yang mengandung kebenaran abadi, ajaran suci atau kitab suci bagi umat Hindu. Maharsi Sanaya mengatakan bahwa Weda adalah wahyu Tuhan Yang Maha Esa yang mengandung ajaran yang luhur untuk kesempurnaan umat manusia serta menghindarkannya dari perbuatan jahat.
Weda adalah ilmu pengetahuan suci yang maha sempurna berasal dari Sang Hyang Widhi yang didengarkan oleh Para Maha Rsi melalui pawisik (wahyu), sehingga weda disebut Sruti yang berarti Sabda Suci atau pawisik yang didengarkan sehingga weda itu sebagian besar adalah nyanyian-nyanyian dari Hyang Widhi yang berbentuk puisi, dalam Weda disebut Chandra. Orang yang menghayati dan mengamalkan Weda akan mendapatkan kerahayuan atau ketenangan lahir batin.  

Keluarga Sukinah Dari Perspektif Agama Hindu

Keluarga Sukinah Dari Perspektif Agama Hindu

Prajanartha striyah srstah
Samtanartham ca manawah
Tasmat sadharano dharmah
ςrutau patnya sahaditah (Vedasmrti. IX.96)
artinya:
Untuk menjadi ibu, wanita itu diciptakan dan untuk menjadi ayah , laki-laki itu diciptakan Upacara keagamaan karena itu ditetapkan di dalam Veda untuk dilakukan oleh suami beserta dengan istrinya.
Sejak awal kehidupan manusia, ternyata bersatunya antara seorang wanita dengan seorang laki-laki yang disimbulkan akasa dan pertiwi sebagai cakal bakal sebuah kehidupan baru yang diawali dengan lembaga perkawinan. Hendaknya laki-laki dan perempuan yang telah terikat dalam ikatan perkawinan selalu berusaha agar tidak bercerai dan selalu menyintai dan setia sampai hayat hidupnya, jadikanlah hal ini sebagi hukum yang tertinggi dalam ikatan suami-istri (G.Pudja MA, 2002 :561). 

Korelasi Catur Warna dengan Catur Marga Yoga

Korelasi Catur Warna dengan Catur Marga Yoga

seperti telah diketahui bahwa warna (profesi) dalam hidup ini ada empat yang utama. itu Artinya warna menjadi bagian tersendiri yang tiada dipisahkan pada kehidupan yang sosial. Dikatakan pula pada Manawa Dharmasastra Bab II pasal 18, dikatakan bahwa:
tasmidece ya acarah parampyakramagatah,warnamam santralanam sa sadacara ucyate.
Artinya:
Adat istiadat yang diturunkan dalam urutan yang wajar dari sejak dulu kala diantara empat golongan utama masyarakat serta suku-suku campruran yang ada,dinamai “Adat istiadat orang-orang Bijaksana”
Jadi dengan demikan berarti bahwa tidak ada suatu ketidakbijaksaan bagi para leluhur yang menciptakan adat istiadat tersebut sebaai sesuatu yang memiliki kharisma tersendiri.

Namun batasan terpenting dari empat golongan itu,sangatlah universal adanya, maka tercantum di sarasamuscaya bahwa itu melibatkan tanggung jawab yang sangat besar dan beban itu selayaknya disetujui diri sebagai kebenaran. Kitab Sarasamuscaya 61 menyatakan bahwa:

Jnana Marga Menyebarkan Pengetahuan adalah yadnya utama

Jnana Marga Mengajarkan Ilmu adalah yadnya utama

Bekerja serta berbuat untuk sesama (Karma Marga) dan menyayangi mengasihi berbakti (bakti marga) tanpa didasarkan pada ilmu pengetahuan (jnana marga) yang benar akan sia-sia. Lebih-lebih pada zaman modern ini apa pun yang kita lakukan kalau tanpa pengetahuan yang jelas akan menjadi sia-sia. Melakukan kegiatan beragama tanpa didasarkan pada ilmu pengetahuan yang telah ditentukan dapat menimbulkan penyimpangan.

Dalam kehidupan ini ilmu pengetahuan (jnana) tersebut demikian pentingnya. Karena itu, beryadnya dengan ilmu pengetahuan dinyatakan dalam Sloka Bhagawad Gita yang dikutip dalam tulisan jauh lebih utama daripada beryadnya dengan harta benda dalam bentuk apa pun. seperti yang disebutkan dalam Bhagawad Gita Bab IV ayat 33 yang menyebutkan:
srayan dravyamayad yajnajjnanayajnah paramtapasarvam karma ‘khilam parthajnane perisamapyate (Bhagawad Gita IV.33)
artinya:
Persembahan berupa ilmu pengetahuan, Parantapa, lebih bermutu daripada persembahan materi; dalam keseluruhannya semua kerja ini berpusat pada ilmu pengetahuan, oh Parta.
Karena itu, dalam Manawa Dharmasastra III.70 dinyatakan, 
Adhyapanam brahma yajnah, pitr yajnastu tarpanam, homo daiwo balibhaurto, nryajno'tithi pujanam (Manawa Dharmasastra III.70)
maksudnya: belajar dan mengajar dengan keikhlasan disebut Brahma Yadnya. Karena proses belajar dan mengajar itu bertujuan untuk memberikan orang ilmu pengetahuan untuk menopang hidupnya mendapatkan kebahagiaan. 

Tradisi belajar dan mengajar dalam masyarakat Hindu di Bali pernah mandek karena salah dalam memahami istilah ayuwa wera. Pada hal konsep "ayuwa wera" itu adalah baik. Artinya, janganlah menyebarkan dengan sembarangan sastra agama tersebut.

Pembacaan Weda saat Upacara

Pembacaan Weda saat Upacara

Svadhyaayam sravayet pitrye. Dharmasastrani caiva hi. Akhyaananitihasamsca Puranani khilanica (Manawadharmasastra III.232).
Artinya: 
Pada waktu upacara yadnya terutama saat pemujaan leluhur, ia harus menperdengarkan kepada tamu-tamunya ajaran Weda, ketentuan-ketentuan hukum suci, cerita kepahlawanan dan cerita dalam kitab-kitab Purana dan Khila.

Dalam tradisi Hindu di Indonesia pada umumnya dan di Bali khususnya, kita akan menyaksikan pembacaan ajaran-ajaran agama lewat sastra weda. Pembacaan sastra weda itu umunya dalam bentuk kekawin atau prosa yang diambil dari Itihasa dan Purana.

Hukum Hindu bagi Orang Bali Pindah Agama

Hukum Hindu bagi Orang Bali Pindah Agama

Prinsip predana ikut purusa disalah artikan.
Jika anak perempuan harus ikut suami walau suami beragama bukan Hindu.
Padahal yang dimaksud adat bahwa istri ikut suami adalah bukan agamanya melainkan mengikuti adat yang masih berdasarkan Hindu.
Untuk itu kita akan membahas di dalam blog ini akibat berpindah agama, yang mungkin dapat bisa memberikan pencerahan dalam hati kalian wahai 'generasi Muda Hindu Nusantara' . 
Banyak sekali kejadian kejadian saya temukan setelah berpindah agama malah menjelek-jelekkan agamanya yang terdahulu dengan mengganggap keyakinannya yang sekarang "Lebih Benar" tanpa tau akibat dari perpindahannya itu.

Seseorang pindah agama umumnya disebabkan suatu perkawinan. Mereka memandang bahwa perkawinan itu terjadi karena jodoh. Cara pandang mereka ini sangat keliru dan sangat berbahaya bagi generasi Hindu. Mereka seolah olah berlindung di bawah keagungan brahman padahal mereka itu tidak mempercayai Brahman. kalau memang setiap perkawinan itu karena jodoh, mengapa tidak ada orang eskimo dari kutub kawin dengan orang bali. mengapa tidak ada gadis uganda yang berkulit hitam pekat kawin dengan bujang ganteng dari bali.

Tidak ada mantra mata seloka dalam kitab suci weda yang mencantumkan tentang perkawinan karena jodoh. Brahman hanya mewahyukan hukum untuk dijadikan pegangan hidup umatnya. mana yang boleh dan mana yang tidak boleh dilakukan tinggal kita yang melakoninya. Segala sesuatu yang kita lakukan dalam hidup di dunia maya ini tergantung dari kita. jadi nasi itu kita lah yang menentukannya. mau bernasib baik atau bernasib buruk tergantung dari diri kita.

Pernikahan menurut pandangan Hindu Bali

Pernikahan menurut pandangan Hindu Bali

Tahapan Hidup ke dua menurut Agama Hindu Bali (Catur Asrama) adalah tahap berumah tangga atau lebih dikenal dengan Grahasta Asrama. untuk mengawali tahap grahasta Asrama ini tentunya harus diawali dengan melangsungkan upacara perkawinan, sering juga disebut "pawiwahan", orang bali lebih lumrah dengan istilah "Nganten".
mengenai perkawinan dalam pandangan hindu didasari oleh beberapa sloka berikut ini:

Sam jaaspatyam suyamam astu devah (Rgveda X. 85. 23)
Hyang Widhi, semoga kehidupan pernikahan ini tenteram dan bahagia.

Asthuuri no gaarhapatyaani santu (Rgveda VI. 15. 19)
Semoga hubungan suami-istri ini tidak pernah putus dan berlangsung selamanya.

Ihaiva stam maa vi yaustam, Visvaam aayur vyasnutam, kriidantau putrair naptrbhih, modamaanau sve grhe (Rgveda X. 85. 42)
Semoga pasangan suami-istri ini tetap erat dan tak pernah terpisahkan, mencapai kehidupan yang penuh kebahagiaan, tinggal di rumah dengan hati gembira, dan bersama bermain dengan anak-anak dan cucu-cucu.

Pernikahan atau wiwaha dalam Agama Hindu adalah yadnya dan perbuatan dharma. Wiwaha (pernikahan) merupakan momentum awal dari Grahasta Ashram yaitu tahapan kehidupan berumah tangga. dalam adat Hindu di Bali merupakan upaya untuk mewujudkan hidup Grhasta Asmara, tugas pokoknya menurut lontar Agastya Parwa adalah mewujudkan suatu kehidupan yang disebut „Yatha sakti Kayika Dharma“ yang artinya dengan kemampuan sendiri melaksanakan Dharma. Jadi seorang Grhasta harus benar-benar mampu mandiri mewujudkan Dharma secara profesional haruslah dipersiapkan oleh seorang Hindu yang ingin menempuh jenjang perkawinan.

Kajian Nilai dan Makna Filosofis Kisah Mahabharata

Kajian Nilai dan Makna Filosofis Kisah Mahabharata

MAHABHARATA merupakan sastra klasik India yang besar sekali pengaruhnya terhadap khasanah sastra Jawa Kuna, disamping Ramayana. Mahabharata disebut juga Astadasaparwa karena ceritanya dibagi kedalam 18 parwa. kisah Mahabharata, adalah yang terbesar, terpanjang dan salah satu dari dua epos Sansekerta utama dari India kuno, yang lainnya adalah Ramayana. Dengan lebih dari 74.000 ayat, ditambah ayat-ayat prosa yang panjang, atau 1,8 juta kata dalam jumlah, adalah salah satu puisi epik terpanjang di dunia.

Ini berisi delapan belas Parwa (astadasaparwa) atau bagian, yaitu.,
  1. Adi-Parwa =Pendahuluan, kisah Raja Manu dan lahir serta dibesarkan Keturunan Manu (Pandawa-Korawa).
  2. Sabha-Parwa =Pandawa membangun istana indraprasta, permainan judi, dan hidup di pengasingan. Diceritakan pula Saat yudistrira menyelamatkan para saudaranya dari kematian diuji dengan pertanyaan tentang Dharma kehidupan oleh Dewata.
  3. Wana-Parwa Dua belas tahun di pengasingan di hutan
  4. Wirata-Parwa Tahun dalam pengasingan dihabiskan di kerajaan Wirata.
  5. Udyoga-Parwa negosiasi serta Persiapan perang
  6. Bhishma-Parwa Bagian pertama dari pertempuran besar, dengan Bisma sebagai komandan untuk Kaurawa. Dan juga bagian dimana Bhagawad-gita di turunkan oleh Sri Khrisna kepada sang arjuna, yang disaksikan oleh kusir kereta prabu Dhritarastra yang diangkat menjadi mentri raja, beliau bernama Sanjaya.
  7. Drona-Parwa Pertempuran berlanjut, denga n Drona sebagai panglima.
  8. Karna-Parwa Pertempuran lagi, dengan Karna sebagai panglima.
  9. Shalya-Parwa Bagian terakhir dari pertempuran dengan Salya sebagai panglima.
  10. Sauptika-Parwa Bagaimana Ashwattama dan sisanya Kaurawa membunuh tentara Pandawa dalam tidur mereka sehingga meninggalnya Panca kumara putra dari panca Pandawa.
  11. Stri-Parwa Gandari dan para istri ksatria meratapi suami mereka yang meninggal / Orang Mati.
  12. Shanti-Parwa Yudistira menjadi Raja Hastina
  13. Anusasana-Parwa Final instruksi dari Bisma kakek dari Pandawa dan Kowara
  14. Ashwamedhika-Parwa Upacara kerajaan ashwamedha yang dilakukan Oleh Yudistira.
  15. Ashramawasika-Parwa Dretarastra, Gandari dan Kunti pergi ke ashram, dan akhirnya meninggal Di Hutan.
  16. Mausala-Parwa pertikaian antara bangsa Yadawa karena senjata mausala
  17. Mahaprasthanika-Parwa Bagian pertama perjalanan "besar" menuju kematian dari Yudistira dan saudara-saudaranya.
  18. Swargarohana-Parwa Pandawa kembali ke dunia spiritual (swarga).

Buku indah ini disusun oleh Sri Byasa (Krishna Dwaipayana) yang merupakan kakek dari pahlawan epos. Dia mengajarkan epik ini kepada anaknya Suka dan murid Wesampayana beserta murid lainnya. Raja Janamejaya, anak Parikesit, cucu dari para pahlawan kisah, melakukan pengorbanan (yadnya) besar. epik itu dibacakan oleh Wesampayana untuk Janamejaya atas perintah Byasa. Kemudian, Suta membacakan Mahabharata sebagai dilakukan oleh Wesampayana pada Janamejaya, untuk Saunaka dan lain-lain, selama Yadnya yang dilakukan oleh Saunaka di Naimisaranya, yang dekat Sitapur di Uttar Pradesh.

Sangat menarik untuk mengingat pembukaan dan penutupan baris epik ini. ." Ini dimulai dengan: "Byasa menyanyikan tentang kebesaran dan kemegahan tak terlukiskan Tuhan Wasudewa, yang adalah sumber dan dukungan bagi semuanya, yang abadi, tidak berubah, diri bercahaya, yang merupakan yang menjiwai semua makhluk, serta kejujuran dan kebenaran Pandawa. "

Berakhir dengan: "Dengan tangan terangkat, aku berteriak dengan suara keras, tetapi sayangnya, tidak ada yang mendengar kata-kata saya yang dapat memberi mereka kedamaian, kegembiraan dan kebahagian Abadi. orang dapat mencapai kekayaan/kemakmuran dan semua objek keinginan yaitu melalui Dharma (kebenaran). Mengapa orang tidak melakukan Dharma? Seseorang tidak harus meninggalkan Dharma tanpa pengecualian, bahkan dengan risiko hidupnya.. Orang yang tidak melepaskan Dharma keluar dari gairah atau rasa takut atau iri hati atau demi menjaga satu kehidupan. dengan cara ini Bharata Gayatri… Renungkanlah (meditasi) setiap hari, ketika Anda hendak tidur dan ketika Anda bangkit dari tempat tidur setiap pagi. Anda akan mencapai segala sesuatu. Anda akan mencapai ketenaran, kemakmuran, umur panjang, kebahagiaan abadi, perdamaian abadi dan keabadian. "

Nilai yang terkandung dalam Astadasaparwa (Mahabharata)

Adapun nilai-nilai yang terkandung di dalam teks Astadasaparwa diantaranya adalah: Nilai ajaran dharma, nilai kesetiaan, nilai pendidikan dan nilai yajna (korban suci). Nilai-nilai ini kiranya ada manfaatnya untuk direnungkan dalam kehidupan dewasa ini.

Pertama, Nilai Dharma (kebenaran hakiki) ,
inti pokok cerita Mahabharata adalah konflik (perang) antara saudara sepupu (Pandawa melawan seratus Korawa) keturunan Bharata. Oleh karena itu Mahabharata disebut juga Maha-bharatayuddha. Konflik antara Dharma (kebenaran/kebajikan) yang diperankan oeh Panca Pandawa) dengan Adharma (kejahatan/kebatilan ) yang diperankan oleh Seratus Korawa. Dharma merupakan kebajikan tertinggi yang senantiasa diketengahkan dalam cerita Mahabharata. Dalam setiap gerak tokoh Pandawa lima, dharma senantiasa menemaninya. Setiap hal yang ditimbulkan oleh pikiran, perkataan dan perbuatan, menyenangkan hati diri sendiri, sesama manusia maupun mahluk lain, inilah yang pertama dan utama Kebenaran itu sama dengan sebatang pohon subur yang menghasilkan buah yang semakin lama semakin banyak jika kita terus memupuknya. Panca Pandawa dalam menegakkan dharma, pada setiap langkahnya selalu mendapat ujian berat, memuncak pada perang Bharatayuddha. Bagi siapa saja yang berlindung pada Dharma, Tuhan akan melindunginya dan memberikan kemenangan serta kebahagiaan. Sebagaimana yang dilakukan oleh pandawa lima, berlindung di bawah kaki Krsna sebagai awatara Tuhan. " Satyam ewa jayate " (hanya kebenaran yang menang).

Kedua, nilai kesetiaan (satya) ,
cerita Mahabharata mengandung lima nilai kesetiaan (satya) yang diwakili oleh Yudhistira sulung pandawa. Kelima nilai kesetiaan itu adalah: Pertama, satya wacana artinya setia atau jujur dalam berkata-kata, tidak berdusta, tidak mengucapkan kata-kata yang tidak sopan. Kedua, satya hredaya, artinya setia akan kata hati, berpendirian teguh dan tak terombang-ambing, dalam menegakkan kebenaran. Ketiga, satya laksana, artinya setia dan jujur mengakui dan bertanggung jawab terhadap apa yang pernah diperbuat. Keempat, satya mitra, artinya setia kepada teman/sahabat. Kelima, satya semaya, artinya setia kepada janji. Nilai kesetiaan/satya sesungguhnya merupakan media penyucian pikiran. Orang yang sering tidak jujur kecerdasannya diracuni oleh virus ketidakjujuran. Ketidakjujuran menyebabkan pikiran lemah dan dapat diombang-ambing oleh gerakan panca indria. Orang yang tidak jujur sulit mendapat kepercayaan dari lingkungannya dan Tuhan pun tidak merestui.

Ketiga, nilai pendidikan,
sistem Pendidikan yang di terapkan dalam cerita Mahabharata lebih menekankan pada penguasaan satu bidang keilmuan yang disesuaikan dengan minat dan bakat siswa. Artinya seorang guru dituntut memiliki kepekaan untuk mengetahui bakat dan kemampuan masing-masing siswanya. Sistem ini diterapkan oleh Guru Drona, Bima yang memiliki tubuh kekar dan kuat bidang keahliannya memainkan senjata gada, Arjuna mempunyai bakat di bidang senjata panah, dididik menjadi ahli panah.Untuk menjadi seorang ahli dan mumpuni di bidangnya masing-masing, maka faktor disiplin dan kerja keras menjadi kata kunci dalam proses belajar mengajar.

Keempat, nilai yajna (koban suci dan keiklasan) ,
bermacam-macam yajna dijelaskan dalam cerita Mahaharata, ada yajna berbentuk benda, yajna dengan tapa, yoga, yajna mempelajari kitab suci ,yajna ilmu pengetahuan, yajna untuk kebahagiaan orang tua. Korban suci dan keiklasan yang dilakukan oleh seseorang dengan maksud tidak mementingkan diri sendiri dan menggalang kebahagiaan bersama adalah pelaksanaan ajaran dharma yang tertinggi (yajnam sanatanam).

Kegiatan upacara agama dan dharma sadhana lainnya sesungguhnya adalah usaha peningkatan kesucian diri. Kitab Manawa Dharmasastra V.109 menyebutkan.:
"Tubuh dibersihkan dengan air, pikiran disucikan dengan kejujuran (satya), atma disucikan dengan tapa brata, budhi disucikan dengan ilmu pengetahuan (spiritual)"

Nilai-nilai ajaran dalam cerita Mahabharata kiranya masih relevan digunakan sebagai pedoman untuk menuntun hidup menuju ke jalan yang sesuai dengan Veda. Oleh karena itu mempelajari kita suci Veda, terlebih dahulu harus memahami dan menguasai Itihasa dan Purana (Mahabharata dan Ramayana), seperti yang disebutkan dalam kitab Sarasamuscaya sloka 49 sebagai berikut :
"Weda itu hendaknya dipelajari dengan sempurna, dengan jalan mempelajari itihasa dan purana, sebab Weda itu merasa takut akan orang-orang yang sedikit pengetahuannya"


Makna Filosofis Astadasaparwa (Mahabharata)

Tubuh manusia memiliki 10 organ (indriya), yaitu lima organ sensorik ( jinanendriyas) dan lima organ motorik ( karmendriyas), dan sebuah "antahkarana" atau organ/indera internal. Sedangkan organ sensorik dan motorikadalah organ eksternal (bahihkarana). Antahkarana berhubungan langsung dengan tubuh fisik. Antahkarana merupakan bagian intrinsik dari pikiran itu sendiri. Berkat kerja dari bagian inilah pikiran kita bisa merasakan perut yang kosong,dan kemudian merasa lapar. Begitu perut kosong, pikiran mulai mencari makanan, dan hal ini diekspresikan melalui aksi fisik. Jadi terdapat dua bagian, yang satu merupakan bagian intrinsik pikiran, dan satu bagian lagi adalah kesepuluh organ.

Yang mendorong terjadinya aktivitas adalah antahkarana. Antahkarana tersusun atas pikiran sadar (conscious) dan bawah sadar (subconscoius). Maka jika antahkarana menginginkan sesuatu, maka tubuh fisiklah yang bekerja menurut keinginan tersebut.

Dalam Sanskrit dikenal enam arah utama yang dinamakan "disha" atau "pradisha": Utara, Selatan, Timur, Barat, Atas, dan Bawah. Juga terdapat empat sudut yang dinamakan "anudisha": Barat Laut (iishana), Barat Daya (agni), Tenggara (vayu) dan Timur Laut (naerta). Jadi seluruhnya ada sepuluh.

Pikiran sesungguhnya buta. Dengan pertolongan "wiweka" (conscience/hati nurani) maka pikiran bisa melihat dan memvisualisasikan sesuatu. Jadi pikiran dapat dilambangkan dengan Dhritarastra (Seorang raja yg buta dalam kisah Mahabharata), dan daya fisik, yaitu kesepuluh organ dapat bekerja dalam sepuluh arah secara simultan. Jadi pikiran memiliki 10 organ X 10 arah = 100 ekpresi eksternal. Dengan kata lain, ke-100 putra Dhritasastra melambangkan seratus ekspresi eksternal ini.

Bagaimana dengan Pandawa?

Mereka melambangkan lima faktor fundamental dalam struktur manusia.
  1. Sadewa/Sahadeva melambangkan faktor padat, mereprestasikan cakra muladhara (kemampuan untuk menjawab segala sesuatu).
  2. Nakula pada cakra svadhisthana. Nakula berarti "air yang mengalir tanpa memiliki batas". "Na" berarti "Tidak", dan "kula" bararti "batas", melambangkan faktor cair.
  3. Arjuna, melambangkan energi atau daya, faktor cahaya pada cakra manipura, selalu berjuang untuk mempertahankan keseimbangan.
  4. Bhima, putra Pandu, adalah faktor udara "vayu", terdapat pada cakra anahata.
  5. Terakhir adalah Yudhisthira, pada cakra vishuddha, dimana terjadi peralihan dari sifat materi ke sifat eterik.
Jadi pada pertempuran antara materialis dan spiritualis, antara materi kasar dan materi halus, Yudhisthira tetap tak terpengaruh."Yudhi sthirah Yudhisthirah" artinya "Orang yang tetap tenang/diam saat pertempuran dinamakan Yudhisthira".

Krsna terdapat pada cakra sahasrara. Jadi ketika kundalinii (Keagungan yang tertidur) terbangkitkan, naik dan menuju perlindungan Krsna dengan bantuan Pandawa, maka Jiiva (unit diri) bersatu dengan Kesadaran Agung. Pandawa menyelamatkan jiiva dan membawanya ke perlindungan Krsna.

Sanjaya adalah menteri-nya Dhritarastra. Sanjaya adalah wiweka(Nalar/pertimbangan). Dhritarastra bertanya kepada Sanjaya, karena ia sendiri tidak bisa melihatnya, "Oh Sanjaya, katakan padaku, dalam perang Kuruksetra dan Dharmaksetra, bagaimana keadaan pihak kita?"

Keseratus putra Dhritarastra, pikiran yang buta, mencoba menguasai jiiva, yang diselamatkan oleh Pandawa melalui pertempuran. Akhirnya kemenangan ada di pihak Pandawa, mereka membawa jiiva ke perlindungan Krsna. Inilah arti filosofis dari Mahabharata.

Kuruksetra adalah dunia tempat melakukan aksi, dunia eksternal, yang menuntut kita terus bekerja. Bekerja adalah perintah. "Kuru" artinya "bekerja", dan ksetra artinya "medan", Dharmaksetra adalah dunia psikis internal. Disini Pandawa mendominasi.
by cakepane.blogspot - berbagai sumber

Tugas, Peranan dan Fungsi Warna, bukan kasta wangsa

Tugas, Peranan dan Fungsi Warna, bukan kasta wangsa

Peranan dan Fungsi Brahmana

Brahmana (brh artinya tumbuh), berfungsi untuk menumbuhkan daya cipta rohani umat manusia untuk mencapai katentrama hidup lahir batin. Brahmana juga berate Pendeta, yang merupakan pemimpin agama yang menuntun umat Hindu mencapai ketenangan dan memimpin umat dalam melakukan upacara agamanya. Oleh karena tugasnya itu seorang Brahmana wajib untuk mepelajari dan memelihara Weda, dan tidak melakukan pekerjaan duniawi.

Penjelasan tentang Brahmana ada pada Slokantara sloka I yang berbunyi 
“…..tidak ada manusia yang melebihi Brahmana, Brahmana arti (tepatnya) ialah orang yang telah menguasai segala ajaran-ajaran Brahmacari ……….. Brahmana ialah beliau yang mempunyai kebijaksanaan yang lebih tinggi melebihi (pengetahuan) manusia umumnya……” 
selanjutnya Mahabharata III. CLXXX, 21, 25 dan 26 menguraikan sifat-sifat dan tanda-tanda Brahmana dan hal itu tidak turun menurun. Bunyinya 
“…….jujur, dermawan, suka mengampuni, bersifat baik, sopan, suka melakukan pantangan agama dan pemurah dialah yang hendaknya dipandang Brahmana…..”
“……bila sifat-sifat ini ada pada Sudra dan tidak ada pada Brahmana, Sudra itu bukan Sudra dan Brahmana itu bukan Brahmana”
“Pada siapa tanda ini terdapat, hai ular, dialah yang harus dipandang Brahmana, pada siapa tanda ini tidak terdapat, hai ular, dia harus dipandang sebagai Sudra”.

Kasta Vs Wangsa, Warna di Bali part 1

Kasta Vs Wangsa dan Warna di daerah Bali umumnya.

Agama diturunkan kedunia oleh Tuhan Yang Maha Esa untuk menuntun manusia agar mendapatkan kebahagiaan hidup didunia maupun di alam rohani. Untuk itu setiap orang harus mempunyai empat landasan yang disebut dengan Catur Purusartha, yang artinya empat tujuan hidup.

Catur Purusartha sering disebut Catur Warga. Kata Warga dalam hal ini artinya ikatan atau jalinan yang saling melengkapi atau saling terkait antara satu dengan yang lainnya. Disamping itu, keempat tujuan hidup itu saling menunjang. 
  • Dharma adalah landasan untuk mendapatkan Arta dan Kama, 
  • Arta dan Kama landasan atau sarana untuk melaksanakan Dharma. 
  • Dharma, Arta dan Kama adalah landasan untuk mencapai Moksa, 
  • Moksa Juga landasan untuk mendapatkan Dharma, Arta dan Kama, akan justru mengikat mengikat manusia karena bukan tujuan akhir. 
Dalam kitab tafsiran tentang Catur Purusartha, disebutkan bahwa Dharma, Arta dan Kama merupakan tujuan pertama dan Moksa disebut tujuan akhir atau tujuan tertinggi untuk kembali kepada Sang Pencipta Tuhan Yang Maha Esa.