Google+

Angkul-angkul atau Gerbang Rumah Adat Bali

Angkul-angkul atau Gerbang Rumah Adat Bali

angkul-angkul atau Pamedal (kori)
Angkul-angkul atau sering juga disebut Pamedal/Kori yang merupakan salah satu bentuk pamesuan (pintu keluar dari pekarangan),  pintu masuk utama ke pekarangan rumah adat Bali dengan berbagai ukiran dan ornamen khas bali di bagian atas maupun samping kiri-kanan, juga sebagai salah satu wujud arsitektur tradisional Bali yang telah berkembang dengan pesat baik yang terjadi pada fungsi, estetika (bentuk dan langgam) serta struktur. angkul-angkul rumah adat bali selain sebagai kesan pertama saat memasuki rumah keluarga hindu bali, juga merupakan struktur bangunan bali yang memiliki nilai magis. angkul-angkul juga akan melengkapi konsep tri hitakarana yang diusung masyarakat hindu dalam penerapannya pada bangunan tempat tinggal. secara umum angkul –angkul rumah tradisional Bali memiliki pintu kwadi dan aling – aling untuk menghindari sirkulasi langsung dan akses langsung menuju tempat tujuan.

Penempatan Angkul-angkul atau pintu halaman akan menentukan kehidupan rumah tangga, maka dari itu sastra wajib diikuti seperti yang tersirat dalam astha bumi dan astha kosala-kosal, sesuai dengan posisinya masing-masing. Memiliki lebih dari 1 (satu) pintu rumah dan atau angkul-angkul sangat tidak direkomendasikan dalam sastra, karena akan berakibat boros, terjadinya perselingkuhan, kehilangan dan sakit-sakitan

Makna dan Fungsi Angkul-Angkul

angkul-angkul pada Rumah Adat Bali
Angkul-angkul adalah salah satu dari beberapa bentuk pamesuan di Bali, yang merupakan satu unit umah atau pintu pekarangan untuk unit bangunan rumah tinggal tradisional Bali. Bentuk masa bangunan adalah pasangan masif dengan lubang masuk beratap. Atap Angkul-angkul (kori) bisa merupakan pasangan lanjutan dari bagian badan, dapat pula merupakan konstruksi rangka penutup atap serupa dengan atap bangunan rumah. Dalam bentuknya yang tradisional, lengkap dengan anak tangga, baik anak tangga naik maupun turun.

Angkul-angkul yang berawal dengan dimensi lubang yang tingginya apanyujuh (tangan direntangkan ke atas) dan lebar kori apajengking (tangan bercekak pinggang, ± 50-80cm) merupakan pintu pekarangan rumah yang juga pada awalnya tidak dipersiapkan untuk dilalui hewan peliharaan (seperti sapi) dan kendaraan pada jaman itu (seperti dokar atau delman). Dalam perkembangannya, dengan adanya sepeda motor keluar masuk kori, tangga-tangga dilengkapi dengan lintasan roda atau anak tangga dihilangkan. Dengan adanya lintasan kendaraan, lebar lobang kori disesuaikan dengan apa yang melintasinya.

angkul-angkul dengan Peletasan
Dalam variasinya angkul-angkul dibangun dengan berbagai kemungkinan untuk keindahan sesuai dengan fungsi dan lingkungannya, untuk kori yang tergolong utama di perumahan, kori dipergunakan sebagai pintu formal untuk upacara-upacara resmi, sedangkan sebagai pintu sehari-hari dibangun pintu harian disamping pintu utama yang disebut "betelan" atau "peletasan".

Untuk pekarangan yang luas atau perumahan utama atau madia juga dibangun kori untuk pintu betelan ke arah samping atau belakang. Letak kori pada bagian tertentu disisi pekarangan menghadap ke jalan depan rumah. Sedangkan pada tempat-tempat yang diagungkan seperti Pura, kori umumnya bergandengan dengan tembok penyengker dengan 4 paduraksa pada keempat sudutnya.

Dengan lubang angkul-angkul yang relatif sempit maka sebagai wujud fisiknya, bangunan ini memiliki makna simbolik sebagai berikut :

  1. Makna tata krama, dengan lebar pintu hanya apajengking (± 50-80cm) memperlihatkan suatu usaha untuk menutupi sesuatu yang ada di dalam. Andaikata terlihat, maka diusahakan seminimal mungkin. Disini manusia diajak hidup dengan tata krama agar tidak secara vulgar memperlihatkan miliknya yang dapat menimbulkan nafsu orang lain untuk ingin memilikinya.
  2. Makna keamanan, terkadang angkul-angkul juga dilengkapi dengan kehadiran apit lawang di posisi depannya (berjumlah sepasang di sisi kanan dan kiri angkul- angkul), merupakan simbol penjaga pintu bersenjata yang bertugas menjaga, mengawasi dan yang mengijinkan tamu masuk menemui penghuni. Biasanya apit lawang pada angkul-angkul ini berupa patung Duarapala (duara berarti pintu, pala berarti pundak) dalam wujud kala (raksasa) yang sedang membawa gada dalam kondisi siap siaga.
  3. Makna magic, penempatan berdasarkan asta kosala kosali dan asta bumi dimana memiliki perhitungan yang berbeda-beda sesuai dengan arah mata angin, dan memiliki nilai magic yang dipercaya dapat membawa dampak sesuai dengan yang diharapkan penghuninya. Angkul-angkul juga merupakan simbol mulut, dimana saat terbuka korinya merupakan simbol mulut terbuka dan saat kori tertutup merupakan simbolis mulut tertutup, secara niskala diartikan sebagai benteng yang tertutup rapat sehingga segala sesuatu gaib tidak bisa memasuki rumah tersebut.

Tipekologi Angkul-Angkul

Angkul-angkul mempunyai tipelogi awal serta tipelogi perkembangan yang telah mengalami transformasi dari berbagai pengaruh. Beberapa dari sejumlah tipelogi perkembangan ini mempunyai kemungkinan tidak dapat disebut sebagai salah satu jenis pamesuan lagi bila perkembangannya tidak dalam batas-batas yang dapat disebut sebagai kategori pamesuan.

Tipekologi Angkul-Angkul Berdasarkan Dimensi
Angkul-angkul sangat besar dipengaruhi oleh status sosial penghuninya selain kondisi perekonomiannya. Dari hal tersebut akan melahirkan beragam bentuk angkul-angkul. Eksploitasi desain angkul-angkul salah satunya dapat dilakukan dengan tipelogi. Berdasarkan dimensinya, angkul-angkul ini dapat dibedakan atas tipelogi dimensi vertikal dan tipelogi dimensi horisontal.

Angkul-angkul mempunyai gabag-gabagan atau pintu dengan lebar lubang atau dimensi horisontal kurang lebih selebar orang mapejengking atau bertolak pinggang. Mapejengking itu sendiri ada dua jenis yaitu mapejengking dengan kepalan tangan diletakkan di pinggang atau kepalan tangan bertemu di depan perut. Selain itu dimensi lebar juga dapat diperoleh dari tiga tapak ditambah satu tapak ngandang. Lebar lubang pintu yang ± 80cm ini mengajak orang agar melangkah hati-hati, tertib dan penuh hormat. Sedangkan dari dimensi vertikal, pintu atau gabag-gabagan angkul-angkul memiliki dimensi yang berbeda-beda sesuai dengan asta kosala kosali sehingga terdapat perbedaan antara angkul-angkul yang menghadap ke arah kangin (timur), kauh (barat), kaja (utara atau ke arah gunung) dan yang ke arah kelod (selatan atau ke arah laut). Dimensi yang dipergunakan sesuai dengan apa yang diharapkan oleh penghuni. Tinggi lubang angkul-angkul ini secara garis besarnya adalah 2½ kali lebar lubangnya ditambah dengan pengurip. Penggunaan ukuran ini biasanya dilakukan dengan hati-hati karena dipercaya membawa dampak baik atau buruk kepada penghuninya. Selain dimensi tersebut, masyarakat juga mengenal dimensi vertikal gabag-gabagan yang memiliki tinggi apenyujuh.

Tipekologi Angkul-Angkul Berdasarkan Struktur
Berdasarkan strukturnya, pamesuan di Bali terdiri atas dua jenis. Pertama, pamesuan cecandian yang memiliki struktur masif baik dari bataran (bagian kaki atau pondasi) hingga ke bagian atapnya. Yang kedua adalah pamesuan makekerep yang memiliki struktur masif hanya pada bagian bataran dan pengawak (bagian badan), sedangkan struktur atapnya berupa rangka dengan penutup atap dari bahan yang disusun berlapis- lapis sehingga rapat (kerep) dan tidak dapat ditembus air hujan. Sehingga dapat dikatakan bahwa melihat dari struktur yang dimilikinya maka angkul-angkul termasuk kategori pamesuan makekerep. Angkul-angkul beratap kakerepang (dari bahan-bahan yang dirapatkan atau dianyam) dibedakan atas tipelogi struktur atap malimas, kampyah dan trojogan (grojogan atau gegudangan).

Tipekologi Angkul-Angkul Berdasarkan Bahan
Berdasarkan bahannya, angkul-angkul dapat dibedakan atas tipeloginya dari bahan tanah polpolan, tanah tatalan, batu bata peripihan, batu paras (sejenis paras Belayu), campuran batu paras dan batu bata, paras batu (sejenis paras kerobokan) dan paras tombong (batu karang laut). Selain bahan-bahan tersebut, batu kali yang keras dan kuat juga dipergunakan sebagai pondasi dan undag yang kini menyerupai ramp (tangga yang memiliki kemiringan).

Tanah polpolan merupakan bahan bangunan yang terbuat dari tanah. Dalam pemasangan atau pembentukannya dilakukan dengan cara menumpuknya selapis demi selapis dalam lapisan yang cukup tebal. Tanah yang dipergunakan sebagai bahan bangunan ini mengalami proses pencampuran dengan sekam dan dibusukkan selama kurang lebih tiga hari sehingga mudah dibentuk dan tidak menimbulkan retak-retak. Tanah polpolan dalam jangka waktu tertentu akan mengalami pengikisan dan perbaikannya dilakukannya dengan cara diplester atau dikapur. Sedangkan tanah tatalan merupakan bahan bangunan dari tanah, yang setelah kering dibentuk menjadi balok dengan alat perancak. Tanah yang dipergunakan juga mengalami proses pencampuran dengan sekam dan dibusukkan selama kurang lebih tiga hari.

Bata peripihan merupakan batu bata yang padat, tidak mengandung batu, berwarna lebih merah serta mudah diukir dibandingkan dengan batu bata biasa. Batu peripihan mengalami proses pengayakan, dicampurkan dengan abu (sisa pembakaran) serta dibusukkan selama kurang lebih tiga hari sebelum dicetak dan dibakar. Bahan lainnya yaitu batu paras yang merupakan batu padas yang padat, berwarna abu-abu dan mudah diukir, oleh sebab itu sering pula disebut sebagai paras ukir. Batu padas ini biasanya digali di tebing-tebing sungai dan dibentuk menjadi balok. Bila batu paras ini banyak mengandung batu, sering disebut sebagai paras batu. Paras tombong merupakan batu karang yang diambil dari bawah permukaan laut. Karang tersebut dirapikan atau dipotong sehingga berbentuk balok.

Sedangkan jika dilihat dari bahan penutup atapnya, angkul-angkul beratap kakerepang dapat dibedakan atas tipelogi dengan bahan penutup atap dari klangsah (daun kelapa), sumi (batang padi), ambengan (alang-alang), genteng, ijuk dan bambu yang dibelah ataupun kelopekan tiing atau kelopak bambu. Angkul-angkul dengan bahan atap ijuk kadangkala dilengkapi dengan bubungan atau pemugbug yang dilengkapi dengan dore dari bahan terakota.

Pemakaian bahan bangunan pada angkul-angkul mendapat pengaruh sangat besar dari kondisi alam dan kepercayaan setempat karena ketentuan mengenai pemakaian bahan tidak terdapat dalam asta kosala kosali maupun asta bumi.

Tipekologi Angkul-Angkul Berdasarkan Ragam Hias
Ragam hias angkul-angkul terdapat pada bagian kepala, badan dan kaki angkul-angkul maupun kelengkapannya. Ragam hias yang menghiasi gidat atau bagian atas dari angkul-angkul, selain teterek dan mas-masan yang sederhana juga dapat berupa karang boma, karang sae atau juga dapat berupa bunbunan. Karang boma yang merupakan simbol penjaga keselamatan atau pelindung terhadap kejahatan, sedangkan karang sae seringkali dipergunakan untuk puri.

Untuk paumahan atau perumahan seringkali dipergunakan bunbunan yang merupakan ragam hias yang menggambarkan flora. Sedangkan pada bagian penutup atap, sering dilengkapi dengan dore, gegodeg, ikut teledu, util, murda dan bentala.

Dewasa ayu membuat Angkul-angkul

Pemilihan dewasa ayu dalam memulai pembangunan Angkul-angkul juga menti diperhatikan, mengingat akan fungsi magis dari angkul-angkul tersebut. adapun konsep pemilihan dewasa ayu membangun sebuah angkul-angkul adalah sebagai berikut:
  • Menurut sasih, pada sasih ke-sanga atau caitra.
  • menurut sapta wara, adalah pada hari senin, rabu, kamis atau jumat.
  • Menurut sanga wara, pada dina yang mengandung tulus atau dadi.
  • Menurut penanggal: mulailah bekerja membuat angkul-angkul pada penanggal ke – 1, 2, 5, 7, 10, 11, 13
  • Dapat juga menggunakan dina yang mengandung “kala ngadeg” tetapi hindari “karna sula”.

Membuat Angkul-angkul

Nyukat tempat pamedal (pintu angkul-angkul) harus ikut konsep “murwa daksina” yaitu dari timur keselatan (arah jarum jam) karena fungsinya adalah untuk mencari kehidupan yang lebih baik (nyujur kauripan). Seperti sastra Arjuna Wiwaha, disaat Sanghyang Indra mengawasi pembangunan oleh Bhagawan Wiswakarma, “ngukir Manik Swarga”dari awalnya belum “maurip” menjadi “maurip” 7 Widyadari yang sangat cantik dan ayu yang akan menggoda yoga Sang Arjuna di gunung Indrakila.

Membuat pintu gerbang atau angkul-angkul mengikuti aturan umum yang tertuang dalam lontar asta kosala-kosali. Dimana jarak angkul-angkul ke aling-aling sejauh 7 tampak ngandang atau nuju kala.
Ruang kosong antara batas tembok panyengker dengan bangunan rumah sejauh 3 tampak ngandang atau nuju guru. Ini merupakan “pemargin niskala” alias jalan alam gaib.

Untuk membuat angkul-angkul dilakukan dengan mengukur tembok, dimana pintu akan dibuat. Menghadap kemanapun pintu halaman, pengukuran dimulai dari ujung tembok disebelah kiri halaman sampai ujung tembok disebelah kanan halaman, lalu hasil pengukuran dibagi lima atau Sembilan dan setiap bagian dari hasil bagi tersebut memiliki makna tersendiri yang akan memiliki pengaruh terhadap penghuni rumahnya.

Bila dibagi Lima, meghadap kemanapun Pintu halaman (angkul-angkul), memiliki arti yang sama, yaitu
  1. Karta : Sentosa
  2. Karti : Baik
  3. Kala : Buruk
  4. Kali : Susah
  5. Sangara : Menderita


Berbeda dengan yang dibagi 9 (Sembilan), setiap arah pintu rumah atau angkul-angkul memiliki makna. Adapun makna angkul-angkul dengan pembangi 9, diantaranya:

Makna pintu menghadap ke timur, nyukat angkul-angkul dimulai dari utara ke selatan. Adapun maknanya:

  1. Akasing prih ala,
  2. Kenabhaktian ala,
  3. Werdhi guna ayu,
  4. Danateka ayu, 
  5. Brahma stana ala,
  6. Danawerdhi ayu, 
  7. Nohan ayu,
  8. Istri jahat ala,
  9. Nistayusa ala.


Makna pintu menghadap ke Barat, nyukat angkul-angkul dimulai dari sisi selatan ke utara

  1. baya agung ala,
  2. musuh makweh ala,
  3. werdi mas ayu,
  4. werdi guna ayu,
  5. danawan ala,
  6. brahma stana ala,
  7. suka manggeng ayu,
  8. kapyutangan ala,
  9. karogan kala ala.


Makna Pintu mengahadap ke selatan, nyukat angkul-angkul dimulai dari sisi timur ke barat. Adapun maknanya:

  1. baya agung ala,
  2. tan panak ala,
  3. suka mageng ayu,
  4. brahma stana ala,
  5. dana werdi ayu,
  6. sugih baya (tan werdi sugih) ala,
  7. teka werdi ayu,
  8. kapaten ala
  9. kageringan ala



Makna Pintu menghadap ke utara, nyukat angkul-angkul dimulai dari sisi barat ke timur. Maknanya:

  1. tan panak  ala,
  2. Kawikanan, wijara kler/gering/wicara ala,
  3.  Nohan ayu,
  4. kadwan/kadalih ala,
  5. brapanganan/danawan ala,
  6. brahma stana ala,
  7. suka agung ayu,
  8. kasyasih/kawisesan/bagia asih ayu,
  9. kagengan baya ala.

Hiasan Patung pada Angkul-angkul

angkul-angkul dengan patung
Awalnya keberadaan patung-patung sebagai simbol tertentu diletakkan sebagai pendukung arsitektur Pura sebagai simbol penguasa alam niskala (tak kasat mata). Peletakan patungnya pun disesuiakan dengan fungsi tertentu. Misalnya pada Pura Dalem dan Pura Prajapati yang lebih dominan penggunaan patungnya adalah patung dengan karakter seram dan menakutkan. Adapun pada jeroan pura cenderung menampilkan karakter patung lebih lembut, widyadara, widyadari atupun karakter dewa.

Perletakan, fungsi dan makna patung terus mengalami perkembangan. Patung yang biasanya hanya ada di kawasan pura dan puri kini merambah ke tempat tinggal permukiman masyarakat. Contoh paling mudah dijumpai adalah penempatan patung pada kanan kiri pintu masuk (angkul- angkul), aling-aling, sampai pintu masuk merajan atau sanggah.

Pada arsitektur Rumah Tinggal pun tokoh-tokoh seram sebagai penjaga pintu masuk (Dwarapala) sangat sering dapat dijumpai. Adapula yang mengambil tokoh parekan dalam pewayangan seperti Merdah dan Tualen atau tokoh manusia sedang menabuh gambelan, membawa senjata, sampai karakter lucu.

Secara sekala, patung-patung tersebut dapat digunakan sebagai elemen estetis penata rumah. Selain itu dari segi niskala dapat digunakan sebagai sarana proteksi dari hal-hal negatif. Angkul-angkul, aling-aling dan patung Dwarapala menjadi kesatuan fungsi proteksi secara sekala dan niskala.

Sebagaian masyarakat ada yang meletakkan patung Ganesha pada aling-aling. Patung seperti Ganesha memberikan suatu filsafat lambang kebijaksanaan. Bhatara Gana sebutan lain beliau, juga ahli dalam tenung. Berdasarkan konsep tersebut kemudian diwujudkan pada aling-aling dengan harapan apabila ada gangguan negatif yang masuk, bisa dinetralisir. hanya saja, menurut para panglingsir kebayan, Peletakan patung Ganesha secara sembarangan di aling-aling biasanya akan berdampak negatif apabila rumah tersebut belum secara ruting ngelinggihang balagana melalui caru Rsi Ghana. pendapat ini sudah sering terbukti, dimana banyak permasalahan keluarga ditimbulkan karena penempatan patung ganesha di Rumah Tinggal yang tanpa diupacarai.

Patung Nawa Sura & Nawa Sari biasanya diletakkan pada pintu masuk merajan atau sanggah, tempat sembahyang di rumah. Nawa Sura digambarkan dengan sosok raksasa dengan senjata berupa kapak atau pedang. Adapun Nawasari bersenjatakan bunga. Sama halnya pada angkul-angkul (pintu gerbang di rumah). Kedua patung ini mengapit pintu masuk sebelum menuju area merajan atau sanggah.

Sebelum berkembangnya penggunaan patung-patung oleh masyarakat umum, masyarakat biasanya menggunakan "kelangsah" (daun kelapa kering) atau "kelabang mantri" sebagai sarana proteksi dari kekuatan negatif. Ulat-ulatan dari daun kelapa tersebut diletakkan pada aling-aling.

kesemua hal tersebut mempunyai nilai dan makna pada kehidupan sebuah rumah tangga. Jika ditinjau lebih dalam, sebenarnya konsep hidup yang baik telah diwujudkan para leluhur masyarakat Bali melalui simbol-simbol yang secara fisik sangat sering kita jumpai. Apabila sebuah keluarga telah berada dalam tatanan tersebut, tentu dapat melahirkan keharmonisan dalam kehidupan berumah tangga. Begitu juga halnya dengan keberadaan dan perletakan setiap patung di lingkungan rumah. Apabila bisa ditarik makna dan nilai filosfisnya dalam kehidupan tentu akan berdampak positif. Jika hanya dimaknai sebagai komponen pelengkap keindahan rumah tentu tidak salah pula. Tetapi alangkah baiknya jika setiap penataan yang kita lakukan diketahui nilai estetis dan filosofisnya sebagai sesuluh (cermin) dalam kehidupan.

Perkembangan Angkul-Angkul

Angkul-angkul dengan bentuknya yang masih asli terutama masih dapat dilihat di desa- desa Bali Aga seperti di desa Penglipuran (Bangli), desa Trunyan (Kintamani), desa Pinggan (Kintamani) dan beberapa desa lainnya. Bentuk asal mula angkul-angkul adalah bentuk yang masih menggunakan konsep Tri Angga dimana bentuk tersebut terbagi menjadi tiga bagian yaitu bagian kepala, badan dan kaki. Bagian kepala berupa atap yang ketika itu masih menggunakan bahan sirap (bambu) dan ijuk. Hal ini dikarenakan desa-desa Bali Aga tersebut sebagian besar terletak di daerah pegunungan yang dingin dan berada tidak jauh dari hutan sehingga bahan-bahannya pun dapat dengan mudah diambil dari lingkungan sekitarnya. Namun seiring dengan perkembangan teknologi dan ekonomi masyarakat, kini bahan atap sering menggunakan seng dan genteng walaupun masih berada di desa yang sama dengan bentuk pertama tadi. Ragam hias pun mulai terlihat pada bagian atap ini seperti yang berupa ikut teledu. Lalu pada bentuk badan, pertama kali hanya berupa tanah polpolan biasa saja, polos tanpa adanya oranamen sedikit pun. Lalu dalam perkembangannya, badan angkul- angkul sekarang ini sering dipenuhi dengen ornamen hias sebagai penambah nilai estetik. Bahan yang dipergunakan pun mulai beralih dengan menggunakan bata maupun paras. Dimensi lubang pada bagian badan ini masih banyak yang memiliki tinggi dan lebar yang hanya bisa dilewati oleh satu orang saja atau dengan kata lain, pada awalnya hingga kini masih dapat ditemukan angkul-angkul yang memiliki lubang dengan rata-rata lebar 80-100cm dan tinggi 200-250cm.
Pada bagian bataran atau kaki angkul-angkul, yang menjadi ciri khasnya disini adalah adanya undag-undagan (beberapa anak tangga). Pada jaman dahulu, kehadiran tangga pada angkul-angkul ini selain membiasakan penghuninya untuk selalu melangkah hati-hati, seringkali juga dipergunakan sebagai tempat duduk-duduk untuk berbincang atau berteduh karena dahulu orang-orang masih terbiasa berjalan kaki bila ingin menjangkau ke suatu tempat dan hal ini disebabkan karena juga tingkat perekonomian masyarakat pada jaman dahulu yang masih rendah sehingga saat itu mereka belum memiliki kendaraan bermotor. Dalam perkembangan bentuk pada bagian bataran ini, masyarakat sering menambahkan buk pada sisi kanan dan kiri bagian terbawah tangga sebagai pengganti tempat duduk-duduk yang semula hanya memanfaatkan anak tangga.

Dari segi proporsi angkul-angkul dengan bentuk yang masih sederhana ini, dalam pembangunannya selalu didasari dengan asta kosala kosali maupun asta bumi. Pembangunannya selalu dilandasi dengan segala macam pertimbangan kepercayaan demi kebaikan penghuninya. Artinya, para pemilik angkul-angkul dengan bentuk yang masih sederhana ini, yang kebanyakan merupakan masyarakat yang memiliki latar belakang adat-istiadat Bali Aga yang masih sangat mengental pada kehidupan sehari- harinya ini, masih menerapkan nilai-nilai kosmologinya dalam kehidupan sehari-hari dan hal ini terlihat pada bangunan-bangunannya termasuk dalam bentuk angkul- angkulnya.

Kini dalam perkembangannya di kota-kota, bentuk yang seperti ini ada beberapa yang masih ingin mempertahankan eksistensinya, yang dimaksudkan untuk menunjukkan identitas arsitektur tradisional Bali. Namun seringkali, kecocokan dengan bangunan yang ada di belakangnya tidak diperhatikan, sehingga sering menimbulkan suatu pemandangan yang saling bertolak belakang dengan adanya angkul-angkul sebagai wakil bentuk arsitektur tradisional Bali dengan bangunan serba modern yang ada di belakang angkul-angkul. Dalam hal ini sepertinya terlihat munculnya gejala post modern dimana masyarakat modern yang memiliki berbagai desain berdasarkan fungsi, namun masih belum bisa lepas dari nilai-nilai kosmologis yang dipercayai sebelumnya. Bangunan tempat tinggal yang didesain berdasarkan pemenuhan kebutuhan fungsi melahirkan bentuk bangunan yang begitu modernnya, digabungkan dengan bentuk angkul-angkul yang didesain dengan menerapkan nilai-nilai kosmologis yang dipercayai sebelumnya. Dengan alasan jaminan keamanan maka angkul-angkul ini pun lalu dilengkapi dengan kehadiran daun pintu sehingga bisa menyembunyikan dan mengamankan segala sesuatu yang terdapat di belakang angkul-angkul tersebut.

Adanya usaha untuk mempertahankan bentuk awal angkul-angkul ini merupakan upaya untuk mempertahankan identitas arsitektur tradisional Bali yang dimiliki. Dalam perkembangannya pula kemudian lahirlah keberadaan 2 entrance untuk satu pekarangan rumah.

  • Entrance pertama adalah angkul-angkul itu sendiri yang hanya bisa dimasuki oleh satu orang saja, 
  • Entrance kedua adalah pagar garasi atau Peletasan (batelan) yang selain sangat bisa dimasuki manusia tapi juga bisa dimasuki kendaraan bermotor berupa mobil dan sepeda motor.

Sehingga timbul kesan bahwa kehadiran angkul-angkul tersebut hanya sebagai unsur estetis saja. Fungsi angkul-angkul sebagai pamesuan sebagian besar sudah diambil alih oleh pagar garasi yang sebetulnya merupakan ruang untuk lewat dan menyimpan kendaraan. Dalam hal ini terjadi pergeseran nilai, dimana pintu masuk bagi kendaraan lebih utama daripada pintu masuk bagi manusia. Ini tidak terlepas dari perletakan angkul-angkul dan pagar garasi yang sejajar (sehingga tidak membentuk ruang pengikat) maupun dalam posisi menyiku (membentuk sudut 90°).
angkul-angkul modern dengan 2 peletasan

Hampir sama dengan permasalahan sebelumnya bahwa hal ini merupakan usaha untuk mempertahankan nilai-nilai kosmologis tradisional yang dilakukan oleh masyarakat modern. Kehadiran angkul-angkul dalam bentuk dasar awal dengan berbagai perhitungan kosmologis merupakan bukti nyata dari usaha tersebut, walaupun kehadirannya juga disertai dengan adanya pagar garasi sebagai entrance yang berfungsi sebagai tempat keluar masuknya kendaraan yang dimiliki penghuninya. Jadi dalam bentuk ini, angkul-angkul hanya berfungsi sebagai entrance pada saat upacara atau terkadang untuk tamu.

Selain itu terdapat juga angkul-angkul lengkap dengan tembok panyengkernya (berbentuk seperti tembok pagar pekarangan rumah) yang terletak di tengah halaman rumah. Sehingga pagar garasi menjadi pamesuan utama sedangkan angkul-angkul hanyalah sebagai ruang masuk bagi tamu saja setelah mereka meninggalkan kendaraannya di halaman rumah dan berjalan kaki menuju bangunan utama. Posisi angkul-angkul di tengah halaman ini menciptakan pembagian halaman rumah menjadi dua bagian yaitu bagian pertama merupakan halaman yang menuju garasi kendaraan yang diawali dengan pagar garasi dan bagian kedua merupakan halaman rumah yang diawali dengan angkul-angkul itu sendiri.

Lalu pada beberapa tahun sebelumnya, kehadiran tangga pada angkul-angkul ini selain membiasakan penghuninya untuk selalu melangkah hati-hati, seringkali juga dipergunakan sebagai tempat duduk-duduk untuk berbincang atau berteduh karena dahulu orang-orang masih terbiasa berjalan kaki bila ingin menjangkau ke suatu tempat dan hal ini disebabkan karena juga tingkat perekonomian masyarakat pada jaman dahulu yang masih rendah sehingga saat itu mereka belum memiliki kendaraan bermotor. Namun kini masyarakat lebih senang menggunakan kendaraan untuk mencapai tempat-tempat yang sebetulnya masih layak dicapai hanya dengan berjalan kaki, selain juga ditunjang dengan keadaan ekonomi masyarakat yang jauh lebih baik daripada pada jaman dahulu. Perkembangan bentuk angkul-angkul terjadi pada bagian kaki dengan dengan adanya ramp kecil. Hal ini dikarenakan adanya perkembangan ekonomi masyarakat sehingga saat itu mereka pun sudah memiliki kendaraan terutama sepeda motor. Namun lubang pada bagian badan masih menggunakan dimensi yang sebelumnya, yang hanya bisa dilewati oleh satu orang. Posisi ramp ini pada awalnya ada ditengah-tengah dengan beberapa anak tangga mengapitnya. Dalam perkembangannya kemudian beberapa anak tangga tersebut mulai dihilangkan dan muncullah bentuk dengan ramp keseluruhan, tanpa anak tangga satu pun. Dan sebagai pengganti tempat duduk-duduk para penghuninya, muncullah buk kecil (sebagai tempat duduk-duduk) di sisi kanan dan kiri ramp.

Kehadiran ramp selebar lubang angkul-angkul yang hanya bisa dimasuki oleh satu orang itulah yang kemudian menjadi cikal bakal perkembangan bentuk angkul-angkul dewasa ini. Perkembangan ekonomi masyarakat terutama masyarakat perkotaan yang sangat pesat, juga salah satunya sebagai penyebab perubahan bentuk angkul-angkul dewasa ini terutama dalam hal dimensi lubangnya. Banyak masyarakat yang telah memiliki kendaraan bermotor berupa mobil sehingga lubang angkul-angkul kini pun memiliki dimensi tinggi dan lebar yang disesuaikan dengan dimensi mobil yang mereka miliki (bahkan melebihi tinggi mobil jip sekalipun). Sehingga angkul-angkul yang terbentuk pun berfungsi sebagai entrance bagi penghuninya dan kendaraannya. Maka nilai angkul-angkul yang berfungsi sebagai pamesuan manusia pun mulai bergeser.

Bahkan kini bisa dijumpai angkul-angkul dengan lubang ekstra lebar dan ekstra tinggi agar bisa dimasuki truk dan bis. Bentuk yang seperti ini bisa dilihat pada workshop kerajinan dan juga art shop, sehingga bentuk dengan lubang yang sangat besar ini dapat memudahkan truk-truk yang hendak membawa barang-barang produksi maupun bis-bis pariwisata yang membawa para pengunjung ke workshop maupun ke artshop tersebut. Angkul-angkul yang dapat dilewati truk dan bis tersebut mengalami kurang lebih empat kali pelebaran dan dua kali peninggian. Sehingga perbandingan lebar dan tinggi angkul-angkul tersebut tidak memenuhi konsep angkul-angkul sebagai salah satu bentuk pamesuan dan menjadi bersifat out of scale (tidak proporsional lagi). Oleh karena bukan hanya sekedar berfungsi sebagai entrance, angkul-angkul tersebut juga berfungsi sebagai daya tarik para wisatawan. Sehingga hal ini kemudian diwujudkan dengan penggunaan ornamen hias secara berlebihan atau kembali dengan menggunakan bahan- bahan tradisional seperti ijuk.

Lalu perubahan yang terjadi pada angkul-angkul tidak hanya terjadi pada dimensi yang menimbulkan perubahan bentuk saja, namun perubahan bentuk ini juga terjadi disebabkan karena pemilihan bentuk dasar itu sendiri. Kini banyak dijumpai angkul-angkul yang tanpa bagian kepala, sehingga pada bagian tersebut hanya berupa bentuk datar saja. Bentuk ini tampak sebagai miniatur dari L’Arc de Triomphe dan The Arch Septimius Severus in the Forum yang terdapat di Paris. Terkadang pada bagian atap tersebut diganti dengan menggunakan tanaman rambat. Selain itu dapat juga dijumpai angkul-angkul dengan badan bangunan yang berbentuk segitiga, bukan persegi panjang lagi (jika dilihat dari tampaknya). Ragam hias juga ditinggalkan, sehingga nilai estetis diperoleh melalui eksploitasi dari bentuk angkul-angkul itu sendiri. Ornamen-ornamen sebagai ragam hias pun ada beberapa masyarakat yang mulai meninggalkannya. Beberapa dari mereka memilih bentuk yang modern dengan meninggalkan ornamen- ornamen tersebut (ornamen is crime, terutama bagi orang-orang yang berfikiran lebih modern) sehingga muncullah bentuk minimalis. Dan pada bagian bataran (kaki) yang dulunya berupa tangga maupun ramp mulai ditinggalkan sehingga tidak ada lagi peralihan level pada bagian bawah angkul-angkul yang menandakan adanya perubahan atau peralihan ruang yang ditujunya.
The Arch Septimius Severus dan L'Arc de Triomple

Seperti telah disebutkan di atas, selain dipertahankan sebagai identitas di beberapa rumah tinggal, seringkali hal yang sama juga dilakukan oleh usaha komersial seperti art shop dan usaha lainnya. Kehadiran angkul-angkul tersebut bukan hanya sebagai entrance tetapi juga sebagai unsur estetis. Sehingga keberadaan angkul-angkul ini terkadang dianggap sebagai suatu kehadiran yang berlebihan (yang tidak seharusnya ada) dan seringkali dalam bentuk yang sementara (bukan merupakan bentuk permanen).

Sebagai daya tarik, hal ini juga dilakukan di desa Penglipuran, Bangli yang sengaja menyeragamkan bentuk angkul-angkul yang masih asli di setiap pekarangan warganya. Lalu bentuk angkul-angkul itu sendiri juga sering digunakan sebagai batas wilayah, yang membuat bergesernya nilai angkul-angkul sebagai salah satu bentuk pamesuan yang ada. Pergeseran tersebut ditengerai dari usaha untuk mengangkat suatu bentuk yang dapat memberikan kesan atau karakter daerah tersebut. Bila hanya untuk mencari karakter, dapatkah angkul-angkul yang merupakan batas wilayah ini disebut lagi sebagai salah satu bentuk pamesuan? Seperti diketahui, karakter berarti sifat kejiwaan, akhlak atau budi pekerti yang membedakan sesuatu dengan sesuatu yang lainnya.

lebih lanjut tentang rumah adat bali, silahkan baca juga artikel berikut ini:

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar