Google+

Penerapan Tri Hita Karana pada Rumah Adat Bali

Penerapan Tri Hita Karana pada Rumah Adat Bali

Rumah dan perumahan yang layak merupakan kebutuhan dasar bagi manusia dan merupakan faktor penting untuk meningkatkan harkat, martabat dan kesejahteraan. Selain itu rumah dan perumahan merupakan cerminan dari jati diri manusia baik perorangan maupun kelompok dan kebersamaan dalam masyarakat.

Bali pada masa lalu mempunyai bentuk rumah dan perumahan yang didasari oleh konsep Tri Hita Karana, dalam pengaturan ruang, tata letak, bentuk, serta penggunaan bahan, berpedoman pada pemikiran, hubungan manusia dengan Tuhan, hubungan manusia dengan manusia lainnya, dan hubungan manusia dengan lingkungannya.

Bertambahnya jumlah penduduk, berkembangnya ilmu pengetahuan dan teknologi, dibarengi pengaruh pariwisata pada masa ini memberi perubahan cara pandang dalam pengaturan perencanaan perumahan yang akan menimbulkan baik dampak positif maupun negatif.


Masyarakat Bali yang berkehidupan agraris menciptakan suasana harmonis, berbeda dengan budaya pariwisata dengan kehidupan global dan ekonomi liberal. Kecanggihan teknologi sering menimbulkan ekploitasi alam dan budaya secara berlebihan. Dalam hal ini kehidupan budaya lokal banyak yang kontradiktif dengan kehidupan wisatawan global yang cendrung berkembang saat ini

Sebagian besar negara di dunia dengan sedikit sekali perkecualiannya berkompetisi dengan negara lain merebut sebanyak mungkin perolehan pendapatan dengan membangun yang berkaitan dengan pariwisata, yang memerlukan fasilitas kehidupan termasuk perumahan.

Tekanan kehidupan yang tinggi terhadap perumahan hampir selalu dikaitkan dengan kebutuhan akan lahan yang luas yang berdekatan dengan pusat kota dengan nilainya relatif mahal. Dalam upaya efisiensi penggunaan lahan, pengembang cenderung menterapkan sistem perumahan kelompok atau perumahan bertingkat banyak sering menimbulkan permasalahan teknis maupun sosial.

Berbagai permasalahan yang dihadapi dalam pembangunan rumah dan perumahan seperti di atas seiring dengan perkembangan penduduk dan aktivitas manusia, akan berpengaruh pada kehancuran sosial budaya pada masa yang akan datang. Berkenaan dengan itu perlu adanya suatu strategi untuk pembangunan disegala bidang termasuk perencanaan perumahan agar memberikan hal yang positif baik terhadap kehidupan sosial budaya, pariwisata dan kehidupan lainnya untuk masa kini dan masa yang akan datang

Ungkapan Perumahan Tradisional Bali

Yang dimaksud dengan rumah dalam arsitektur tradisional Bali, adalah satu kompleks rumah yang terdiri dari beberapa bangunan, dikelilingi oleh tembok yang disebut tembok penyengker.

Perumahan adalah kumpulan beberapa rumah di dalam kesatuan wilayah yang disebut banjar adat atau desa adat, juga merupakan kesatuan keagamaan dengan pura kayangan tiga yakni; pura desa, pura puseh, pura dalem.

Terwujudnya bentuk rumah dan perumahan ini, tidak terlepas dari dasar pemikiran yang dilandasi oleh tata kehidupan masyarakat yang bersumber dari agama Hindu. Dalam falsafah agama Hindu, manusia dan alam ini diyakini terbentuk oleh lima unsur yang sama yang disebut “Panca Maha Bhuta”, yakni : apah (zat cair), bayu (angin), teja (sinar), akasa (ether), pertiwi (zat padat).

Manusia sebagai mikro cosmos dan alam sebagai makro cosmos yang tidak bisa lepas keterkaitannya, dimana manusia dilahirkan oleh alam ini, dan selalu akan tergantung dengan alam. Di dalam tatwa seperti Tutur Suksema, Tutur Diatmika, Tatwa Jenana, Tatwa Pelepasan, Komoksan, senantiasa mengajarkan agar kita selalu mengharmoniskan diri dengan alam. Unsur-unsur bhuana alit dan bhuana agung adalah sama, hanya dalam skala berbeda. Bhuana agung sebagai wadah dan bhuana alit sebagai isi. Hubungan harmonis antara bhuana agung dan bhuana alit, memberikan perlambang manik ring cecupu, atau janin didalam rahim, merupakan hal yang mutlak dan harus dipertahankan untuk ketenangan dan kesetabilan alam. Hasil hubungan yang harmonis antara wadah dan jiwa, akan menimbulkan tenaga (kaya). Gabungan dari unsur jasmani, jiwa dan tenaga merupakan sumber kehidupan yang baik dan sempurna yang disebut ‘Tri Hita Karana” (tiga unsur sumber kebaikan).

Jiwa dan jasmani yang digerakkan oleh tenaga dapat diwujudkan pada suatu tempat. Dalam hubungannya dengan desa adat maka:
  1. Kayangan tiga merupakan jiwa pada karang desa, yang tidak dipisahkan dari seluruh kehidupan desa.
  2. Krama desa merupakan warga desa atau aparatur desa, merupakan penggerak atau tenaga yang menghidupi desa.
  3. Karang desa adalah teritorial tempat krama desa melakukan aktivitas untuk menjaga hubungan harmonis ketiga unsur di atas.

Hubungan hamonis di atas juga bisa diidentikkan dengan ;
  1. Hubungan manusia dengan Tuhan
  2. Hubungan manusia dengan sesama manusia
  3. Hubungan manusia dengan lingkungannya.

Pengertian Tri Hita Karana ini tidak hanya berlaku pada desa adat saja, tercermin juga pada badan lainnya, misalnya pada satu unit rumah tradisional yang pada umumnya terdiri dari sanggah, natah dan lebuh.
  1. Areal sanggah atau merajan adalah areal persembahyangan untuk memuja Sang Yang Widhi, dan leluhur setiap keluarga.
  2. Areal natah atau halaman tengah adalah untuk mendirikan rumah untuk tidur dan melakukan upacara adat dan aktivitas sosial lainnya.
  3. Areal lebuh adalah untuk meletakkan bahan-bahan yang tidak terpakai lagi dan lahan peternakan, pertanian.


Penerapan Tri Hita Karana diPerumahan Tradisional Bali

Dibukanya Pulau Bali sebagai daerah pariwisata memerlukan fasilitas pendukung lainnya, termasuk perumahan yang memerlukan lahan yang luas, sedangkan perumahan telah ada, terutama di kota-kota sudah sangat padat, dan lahan yang masih tersisa sangat terbatas.

Untuk mengatasi keterbatasan lahan, perlu ada strategi di dalam perencanaan sehingga memenuhi persyaratan perumahan yang sehat dimana dicapai dengan terpenuhinya unsur-unsur fisik, psikologi, dan sosial oleh penghuni dalam menggunakan perumahan tersebut.

Dalam perencanaan perumahan dapat dicapai dari dua segi, menyesuaikan dengan lingkungan dan memanfaatkan teknologi. Teknologi diciptakan karena ada kekurangan dalam proses biologis, atau membutuhkan waktu yang terlalu lama. Tetapi menggunakan teknologi berlebihan, mengakibatkan keadaan kritis pada lingkungannya. Faktor utama penyebab pecemaran lingkungan adalah manusia. Oleh karena itu, untuk mengatasi lingkungan di Bali diperlukan pendekatan kultural dengan kearifan lokal yang telah dimiliki, salah satunya “Tri Hita Karana” yaitu hubungan manusia dengan Tuhan, hubungan manusia dengan manusia, hubungan manusia dengan lingkungannya.

1. Hubungan Manusia dengan Tuhan

Untuk mencapai kedamaian dan keharmonisan dalam jiwa, setiap pemeluk agama Hindu diajarkan lima prisip kepercayaan yang disebut Panca Srada yaitu:
  1. Brahman percaya adanya Tuhan Yang Maha Esa,
  2. Atman percaya adanya roh,
  3. Karma Pala percaya kepada segala perbuatan pasti ada hasilnya,
  4. Reinkarnasi percaya adanya penitisan kembali,
  5. Moksah tujuan akhir pemeluk Hindu, yaitu ketenangan abadi atau bebas dari ikatan duniawi.


Dalam upaya untuk mengharmoniskan hidup ini dengan Tuhan dengan sesama manusia dan lingkungan, pemeluk agama Hindu perlu melaksanakan panca yadnya yakni dewa yadnya, pitra yadnya, resi yadnya, manusa yadnya, dan buta yadnya. Agar bisa melakukan hubungan antara atma dengan paratma atma untuk bisa mencapai kesucian jiwa.

Lebih lanjut, jika lahan yang tersedia memungkinkan perlu dibangun fasilitas persembahyangan pada setiap rumah dan perumahan yang memadai sesuai dengan desa kala patra dengan mempertimbangkan lahan yang tersedia.

2. Hubungan Manusia dengan Manusia

Manusia tidak akan sempurna bila hidup sendiri. Manusia akan menata hubungan dengan yang lainnya dengan bermasyarakat. Menurut Pudjiwati Sajogyo dalam Sosiologi Pembangunan, masyarakat pada umumnya dapat diklasifikasikan atas:
  1. Kesatuan budaya dan keagamaan
  2. Kesatuan pekerjaan/ekonomi.
  3. Kesatuan politik.

Dalam budaya Bali yang penduduknya kebanyakan agama Hindu memperhatikan pembinaan keluarga mulai dari terbentuknya janin sampai meninggal penuh dengan upacara adat dan agama.

Sedangkan hubungan yang lebih besar dibidang budaya, politik, ekonomi dilaksanakan di atas kesatuan kelompok seperti banjar, sekeha, subak. Dari kegiatan-kegiatan yang dilakukan dengan periode, sehari-hari, mingguan maupun tahunan, dalam perencanaan agar dipertimbangkan dengan sebaik-baiknya. Sebagai contoh dalam perencanaan kurang dipikirkan adanya ruang terbuka untuk menerima tamu pada saat pelaksanaan upacara pernikahan atau upacara besar lainya, maka upacara tersebut harus dilakukan di luar lingkungan perumahan yang biasanya membutuhkan dana yang lebih banyak.

3. Hubungan Manusia dengan Lingkungan

Yang dimaksud dengan lingkungan mencakup sangat luas. Menurut Emil Salim dalam Lingkungan Hidup dan Pembangunan mengungkapkan bahwa lingkungan hidup dan pembangunan diartikan sebagai segala benda, kondisi dan pengaruh yang terdapat dalam ruang yang kita tempati dan mempengaruhi hal yang hidup termasuk kehidupan manusia.
Secara umum, lingkungan sering di klasifikasikan dalam:
  1. Lingkungan Abiotik; yaitu lingkungan benda-benda mati seperti air, tanah, gas, api, dan gas energi yang terkandung didalamnya.
  2. Lingkungan Biotik; yakni, flora, fauna, dan segala sesuatu yang memiliki zat hidup baik yang hidup di darat maupun di air.
  3. Lingkungan cultural/kebudayaan yakni mencakup seluruh aktivitas manusia yang menempati dimensi ruang yang tidak terbatas.


Bangunan rumah dalam perumahan tradisional Bali perencanaanya memperhatikan lingkungan abiotik dengan menutup bangunan dengan tembok penyengker (tembok keliling), sedangkan tiap bangunan yang ada di dalamnya dibiarkan terbuka agar bisa memanfaatkan cahaya, udara, dengan leluasa dengan membuka ruang seluas mungkin yang bisa berorietasi ketengah (natah). 

Satu areal pekarangan pada rumah tradisional Bali pada umumnya dibagi atas tiga bagian yaitu:
  • bagian luan (atas) digunakan untuk tempat persembahyangan, 
  • bagian tengah untuk tempat tinggal, 
  • bagian teben (rendah) untuk menyimpan bahan-bahan yang tidak berguna lagi dan memelihara hewan. 

Pada setiap areal ini juga direncanakan tempat-tempat untuk tumbuh-tumbuhan yang bermanfaat untuk sarana upacara, kebutuhan rumah tangga maupun untuk obat-obatan. Dari segi kekuatan juga diperhatikan pemilihan bahan bangunan, juga disesuaikan dengan lingkungannya sebagai akibat dari posisi pulau Bali yang merupakan jalur gempa, maka bahan struktur lebih banyak dipertimbangkan menggunakan bahan-bahan yang lebih fleksibel, seperti kayu maupun bambu.

Dari segi keindahan bahan-bahan yang dipakai, bahan alamiah dengan warna aslinya, penempatannya juga diatur sesuai dengan logika seperti bahan yang memberi kesan yang ringan ditempatkan pada bagian atas sedangkan bahan yang kesannya berat ditempatkan pada bagian bawah dengan proporsi yang telah terencana. Hal-hal tersebut dapat memberi gambaran dan inspirasi untuk membantu perencanaan rumah dan perumahan untuk masa kini dan yang akan datang.

silahkan baca juga artikel berikut ini untuk refrensi:


Perumahan adalah bangunan yang berfungsi sebagai lingkungan tempat tinggal atau lingkungan hunian yang dilengkapi dengan prasarana dan sarana lingkungan. Perumahan layak merupakan kebutuhan dasar manusia dan merupakan faktor penting untuk meningkatkan harkat dan kesejahteraan. Selain itu rumah dan perumahan merupakan cerminan dari jati diri manusia baik perorangan maupun kelompok dan kebersamaan dalam masyarakat.

Konsep Tri Hita Karana tentu masih relefan diterapkan di Bali pada kini maupun untuk masa yang akan datang dengan tidak mengabaikan perkembangan teknologi dan budaya yang akan berlangsung. Tri Hita Karana merupahkan konsep universal yang bisa berlaku secara regional, nasional maupun internasional. sumber: JURNAL PERMUKIMAN NATAH VOL. 3 NO. 2 Agustus 2005 : 62 - 105

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar