Google+
Tampilkan postingan dengan label Panca Maha bhuta. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Panca Maha bhuta. Tampilkan semua postingan

Penerapan Tri Hita Karana pada Rumah Adat Bali

Penerapan Tri Hita Karana pada Rumah Adat Bali

Rumah dan perumahan yang layak merupakan kebutuhan dasar bagi manusia dan merupakan faktor penting untuk meningkatkan harkat, martabat dan kesejahteraan. Selain itu rumah dan perumahan merupakan cerminan dari jati diri manusia baik perorangan maupun kelompok dan kebersamaan dalam masyarakat.

Bali pada masa lalu mempunyai bentuk rumah dan perumahan yang didasari oleh konsep Tri Hita Karana, dalam pengaturan ruang, tata letak, bentuk, serta penggunaan bahan, berpedoman pada pemikiran, hubungan manusia dengan Tuhan, hubungan manusia dengan manusia lainnya, dan hubungan manusia dengan lingkungannya.

Bertambahnya jumlah penduduk, berkembangnya ilmu pengetahuan dan teknologi, dibarengi pengaruh pariwisata pada masa ini memberi perubahan cara pandang dalam pengaturan perencanaan perumahan yang akan menimbulkan baik dampak positif maupun negatif.

Makna Panca Datu

Makna Panca Datu

Bila kita membaca kisah perjalanan Maharsi Markandeya tampak jelas dimana keberhasilannya untuk merabas Pulau Bali adalah dengan membawa Panca Datu dan menanamnya di Pura Basukian atau Besakih sekarang. Kok bisa hanya membawa lima jenis logam dapat selamat merabas Pulau Bali yang dulunya terkenal angker dengan roh-roh jahatnya ?

Ini merupakan petunjuk/wahyu yang didapat oleh beliau di lereng Gunung Raung (Jatim) atas petunjuk Dewa Brahma dalam manifestasi beliau sebagai Sang Hyang Pasupati. 
Ada apa dengan Panca Datu? 
Seperti yang anda ketahui panca Datu adalah lima jenis logam mulia yang dipakai biasanya ditanam di tanam sebelum membangun suatu pura. Upacaranya dinamakan "mendem pedagingan (mengisi inti). 
Logam-logam itu antara lain adalah Emas, Perak, Besi,Perunggu dan timah atau beberapa sumber menjelaskan logam-logam tersebut adalah: mirah permata, emas, perak, perunggu dan baja. Dalam postingan ini kami coba mengupas arti panca datu yang dikomparasi dari kajian kitab Weda, Lontar, ilmiah (sebagai sumber tertulis) dan wedangga (sumber lisan wahyu/tutur). Tujuannya bukan mencari kelemahan atau mengkritik satu sama yang lain, melainkan belajar untuk mengupas nilai-nilai Agama yang dapat digunakan dasar/isnspirasi untuk mengarungi samudera kehidupan yang luas ini.

Ramuan Obat Menurut Ayurveda

Ramuan Obat  Menurut Ayurveda

Ayurveda membagi makhluk hidup yang ada di dunia ini berdasarkan atas yoni atau sumber asalnya dalam 4 tipe, yaitu

  1. jarayuja, makhluk hidup yang dibungkus oleh selaput tipis amnion ketika berada dalam kandungan,
  2. andaja, makhluk yang lahir atau hasil penetasan dan telur,
  3. svedaja, makhluk hidup yang mengeluarkan keringat,
  4. audbhija, makhluk yang muncul ke luar menembus tanah, 
Tiga tipe pertama ini terdiri atas makhluk hidup yang berupa binatang sedangkan tipe yang keempat, yakni audbhidja berupa makhluk hidup berwujud tumbuh-tumbuhan.

Pengobatan terhadap suatu vyadhi, abadha, roga atau penyakit pada umumnya mempergunakan ramuan obat yang terdiri dan bahan makhluk hidup, baik yang berasal dan binat ang jarayuja, andaja, svedaya maupun yang berasal dan audbhidja atau tumbuh-tumbuhan.

Samkhya Darsana

Samkhya Darsana


Pendiri dari sistem filsafat ini adalah Sri Kapila Muni, yang dikatakan sebagai putra Brahma dan Avatara Visnu Kata “Samkhya” itu sendiri artinya “jumlah” dan sistem ini memberikan sejumlah prinsip-prinsip alam semesta yang sebanyak 25 buah, sehingga nama Samkhya tersebut sangatlah tepat. Istilah Samkhya juga dipergunakan dalam pengertian “Vicara” atau “Perenungan filosofis”.

Pada sistem Samkhya tak ada penyelidikan secara analitik kedalam alam semesta, seperti keberadaan yang sesungguhnya, yang merupakan susunan menurut topik-topik atau katagori-katagori, namun terdapat suatu sistem tiruan yang diawali dari satu tattwa atau prinsip mula-mula yang disebut Prakrti, yang berkembang atau mengasilkan (prokaroti) sesuatu yang lain.

Seperti telah disinggung didepan, Samkhya menggunakan 3 sistem atau cara mencari pengetahuan kebenaran, yaitu:
  1. Pratyaksa (pengamatan langsung), 
  2. Anumana (penyimpulan) dan 
  3. Apta Vakya (penegasan yang benar). Kata “Apta” artinya “pantas” atau “benar” yang ditujukan kepada wahyu-wahyu Veda atau guru-guru yang mendapatkan wahyu.