Google+

Weisya Warna - Pengusaha Investor pelaku ekonomi bisnis

Weisya Warna - Pengusaha Investor pelaku ekonomi bisnis

bila bertemu orang yang baru di kenal, ada satu pertanyaan yang sering kita jumpai, yaitu:
sugra, antuk linggih'e jro napi? yang artinya; permisi, profesi anda saat ini apa?
menanyakan "linggih" dalam bahasa bali ada beberapa pemahaman:

  • pertama adalah profesi
  • kedua adaah kendaraan
  • ketiga adalah tempat duduk
  • tapi bagi orang gila hormat maka linggih diartikan sebagai kasta/wangsa.

bila orang terpelajar, bila ditanya "antuk linggih" maka dia akan menjawab "profesinya" tetapi anak bali belog akan menjawab dengan "kasta atau wangsanya". 
kenapa jawaban kasta/wangsa disebut "anak belog?
karena mereka itu mengaku orang bali (hindu) tetapi tidak mengetahui ajaran hindu. 

mungkinkah orang yang tidak belajar kita sebut "wikan (pintar)..??"


dan... jawaban yang mungkin paling sering kita dengan adalah "linggih tyang wesya/satria pre gusti"atau tyang cokorda, brahmana, tyang satria dalem, tyang pre dewa.. tetapi orangnya pengangguran atau buruh di sebuah tempat usaha. inilah yang jawaban yang sangat bikin malu dan menjatuhkan agama kita sebenarnya.


berbicara tentang wesya atau weisya, kita harus merujuk ajaran hindu karena hanya agama hindu yang mengenal konsep siapa yang boleh dimasukan kedalam golongan wesya.

Waisya (Dewanagari: वैश्य, IAST: vaiśya) adalah golongan karya atau warna dalam tata masyarakat menurut agama Hindu. Bersama-sama dengan Brahmana dan Ksatria, mereka disebut Tri Warna, tiga kelompok golongan keraya atau profesi yang menjadi pilar penciptaan kemakmuran masyarakat. Bakat dasar golongan Waisya adalah penuh perhitungan, tekun, trampil, hemat, cermat, kemampuan pengelolaan aset (kepemilikan) sehingga kaum Wasya hampir identik dengan kaum pedagang atau pebisnis. Kaum Waisya adalah kelompok yang mendapat tanggungjawab untuk menyelenggarakan kegiatan ekonomi dan bisnis agar terjadi proses distribusi dan redistribusi pendapatan dan penghasilan, sehingga kemakmuran masyarakat, negara dan kemanusiaan tercapai.
contoh dari golongan wesya adalah pemilik usaha, investor dan orang-orang bisnis yang memiliki tenaga kerja yang siap mengabdi padanya.
lalu apakah semua pedagang bisa dikatakan wesya?
jawabannya:
TIDAK, kenapa? karena yang dikatakan wesya adalah yang berdiri sendiri dan mampu mengajak tenaga kerja (sudra).
demikian halnya para petani, manejer dan lainnya. selama yang dijaankan adalah usaha mereka sendiri, yang menggaji adalah dirinya sendiri, pemiliknya adalah dirinya sendiri dan mampu menghidupi keluarganya, mampu mengajak, menggaji dan menghidupi karyawannya... maka mereka pantas disebut wesya, bila belum mampu, mereka hanyalah seorang sudra. 


inti wesya adalah mampu menghidupi dan mengajak rang lain untuk mengabdi/bekerja pada dirinya. sedangkan sudra adalah orang yang dihidupi, diayomi dan digaji oleh kaum wesya.

bagaimana dengan semeton bali yang mengaku menjadi kaum wesya?ada beberapa kemungkinan:
  1. mereka bukan orang terpelajar, jadi hanya mengaku sebagai wesya saja
  2. orang tua/keluarga mereka wesya, jadi sebagai anaknya ingin dihormati seperti golongan wesya.
  3. leluhurnya wesya, kemudian ingin mempertahankan dengan memperkuat sistim kasta, walau ada juga beberapa mereka dengan terpaksa "nyineb wangsa".
  4. memang seorang wesya sejati, yang memiliki usaha sendiri dan memiliki karyawan yang setiap periode digajinya.

sebenarnya masih ada atau tidak kaum wesya di daerah bali?
tentu ada... ada banyak pengusaha yang mampu memberikan lapangan kerja bagi para sudra, baik pengusaha kecil setingkat toko kelontong hingga pengusaha pariwisata (contohnya: pemilik hotel dan restaurant)

Weisya Warna dalam Sloka Weda

bila masih ada yang belum memahami tugas dan fungsi seorang weisya warna, berikut ini ada beberapa sloka weda yang mengulas tetang weisya, diantranya:

Kitab suci Yayur Weda 30.5 dan 37.14, serta Rgweda 7.35.18, yang intinya memberikan gambaran tentang peran dari catur warna:
Brahmane brahmanam, ksatraya rajanyam,
marudbhyo waisyam, tapase sudram [Yayurweda XXX.5]
artinya:
Tuhan menciptakan brahmana untuk pengetahuan, para ksatria untuk perlindungan, para weisya untuk perdagangan dan para sudra untuk pekerjaan jasmaniah.
ise pinvasva, urje pinvasva, brahmane pinvasva,
brahma dharaya, ksatram dharaya, visam dharaya [Yayurweda XXXVII.14]
artinya
ya tuhan, perkuatlah para brahmana, ksatria dan weisya, supaya mereka bisa menyediakan pengetahuan, kekuatan dan keberlimpahan makanan
Dhenur jinvatam uta jinvatam visah [Rgweda VIII.35.18]
artinya:
oh dewa aswin, semoga engkau memperkuat sapi-sapi betina dan para weisya untuk kemakmuran bangsa.
tugas dari weisya warna juga tersurat dalam sarasamuccaya sloka 59 yang menyebutkan bahwa:
Waisyo' dhitya brahmanat ksatriyadwa dhanaih kale sambiwhajyasritamsca
tretapurwan dhumamaghraya punyam pretya swarge dewasukha bhinukte [Sarasamuccaya, 59]
tafsir dalam bahasa jawa kunonya:
nihan ulaha sang waisya, mangajya sira ri sang brahmana, ri sang skatria kuneng, mwang maweha dana ri tekaning danakala, ring subhadiwasa, dumdumana nira ta sakwehning mamarasraya ri sira, mangelema amuja ring sang hyang tryasgni ngaranira sang hyang apuy tiga, pratyekanira, ahawaniya, garhaspatya, citagni, ahawanidha ngaranira, apuy ning asuruhan, rumateng i pinangan, garhaspatya ngaraning apuy ning winarang, apan agni saksika kramaning winarang i kalaning wiwaha, citagni ngaranira apuy ning manunu sawa, nahan ta sang hyang tryagni ngarania, sira ta pujan de sang wisya, ulah nira ika mangkana, tumekaken sing ring swarga dlaha.
artinya
demikian tingkah laku yang patut bagi seorang waisya, hendaknya ia belajar dari seorang brahmana, dari seorang ksatria serta mapunia (memberi zakat) pada saat persedekahan, pada saat yang baik, hendaknya ia membagi-bagikan derma kepada yang meminta bantuan, taat memuliakan sang hyang agni yang tiga. nama untuk tiga agni itu diataranya: ahawania, garhaspati dan cita gni. ahawania artinya api untuk memasak (membuat sumber) makanan, garhaspati artinya api saat menjadi saksi upacara perkawinan, cita gni artinya api pada saat pembakaran termasuk pada saat pembakatan mayat. demikian nama-nama sang hyang tryagni supaya dimuiakan  oleh para weisya, perbuatan yang demikian itu akan mengantarkan dia sampai ke sorga.

dalam slokantara lebih ditegaskan tentang kewajiban seorang waisya:
waisyah krsiwalah karyo gopah sasyabhrtiwratah,
wartayukto grhopetah ksetrapale'tha waisyajah [Slokantara 62 (27)]
tafsir dalam bahasa jawa kunonya:
kalinganya, karyaning sang waisya, masawah, rumaksa ring lembu, dhumarana ngpari, makasahaya wuluku, kahananya umungguh ring grha kathanyan, ksetrapala ngarannya rumaksa ngsawah, yeka waisya sasana, ling sang hyang aji.
artinya
weisya merupakan petani pemilik lahan, yang menjaga lembu, bekerja dalam perdagangan, memiliki penginapan, orang yang terlahir sebagai weisya adalah pelindung tanah dan ladang perekonomian.

weisya dalam Kitab Manawadharmasastra:
Na ca waisyasya kamah syanna rakseyan pasuniti,
waisye cecchati nanyena raksitawyah kathamcasa [Manawadharmasastra IX. 328]
artinya
seorang weisya tidak boleh berpikir untuk tidak memelihara perekonomian, weisya harusah memeliharanya dan tidak menyerahkannya kepada golongan lainnya.
Brityanam ca bhritim widyad bhasasca wiwidha nrinam,
drawyanam sthanayogamsca krayawikrayamewa ca [Manawadharmasastra IX. 332]
Artinya:
Weisya harus mengetahui tentang gaji yang layak untuk karyawannya dari berbagai bahasa (bangsa) dan cara menyimpan barang dagangan  serta peraturan jual-beli.
dharmenaca drawya wriddha watisthedyatnamuttaman,
dadyasca sarwabhutanam annamewa prajatnatah [Manawadharmasastra IX. 333]
artinya
hendaknya weisya benar-benar berusaha untuk menambah harta kekayaannya dengan jaan yang benar dan hendaknya ia dengan penuh iman memberikan makan kepada semua mahluk (membuka lapangan kerja)

dari sloka diatas, dapat kita tarik kesimpulan bahwa yang disebut profesi:

  1. brahmana adalah orang-orang yang berpengetahuan dan mau membegikan pengetahuannya untuk kesejahtraan umat manusia
  2. ksatria adalah orang-orang yang menjamin keamanan (perlindungan) dari umat manusia, baik perlindungan ekonomi, keamanan, politik dan lainnya. adapun cara melindungi wajib dipelajari dari para brahmana.
  3. weisya adalah orang yang berdagang, yang menjadi penggerak perekonomian, yang memberikan lapangan kerja bagi umat manusia untuk kelangsungan hidup manusia, dengan berpedoman pada kebijakan para ksatria dan tetap belajar pada brahmana.
  4. sudra adalah orang-orang yang tidak termasuk dalam ketiga profesi brahmana, ksatria dan weisya. sudra merupakan stiap orang yang mengabdikan dirinya pada brahmana, taat pada kebijakan para ksatria dan menggantungkan hidupnya pada para weisya, sudra adalah para pekerja, yang bekerja pada 3 warna tersebut terutama bekerja pada para weisya, apapun kedudukannya sudra tetaplah orang yang harus taat dan selalu mengabdi pada 3 warna lainnya.

baca juga untuk refrensi:


bagaimana?
sudahkan dimengerti, siapa kah sang weisya tersebut?
patutkah seorang manejer atau bahkan karyawan mengaku sebagai weisya?
demikian tentang Weisya Warna yang merupakan Pengusaha Investor pelaku ekonomi bisnis, semoga bermanfaat.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar