Google+

Jalani Aktifitas Bali Sehari-hari, tingkatkan Spiritual Anda plus bonus Ilmu Kawisesan

Jalani Aktifitas Bali Sehari-hari, tingkatkan Spiritual Anda plus bonus Ilmu Kawisesan

itulah hebatnya bali,
hanya dengan menjalankan aktifitas sesuai dengan acara upacara budaya bali, tingkat spiritual anda akan menjadi lebih baik dan anda mendapatkan bonus ilmu kawisesan yang bisa dipergunakan untuk percepatan pencapain hidup anda yang jagadhita.
secara tidak langsung, para tetua krama bali jaman dahulu sudah mendesain agar turunanya menjadi lebih baik, dengan mempelajari ilmu spiritual yang disisipi ilmu kawisesan. bila menghayatinya, orang bali tidak akan merasakan bahwa dirinya sedang belajar spiritual kawisesan bali, dimana secara nyata dengan pandangan kasatmata yang dilakukan hanyalah ritual-ritual kecil yang sudah lumbrah dilaksanakan oleh setiap keluarga hindu bali.

contoh kecilnya; menjalankan bhuta yadnya dan manusa yadnya itu sebenarnya memperkuat ajaran kawisesan kanda pat, dengan menjalankan dewa yadnya dan bhuta yadnya secara tidak langsung kita telah mempelajari dasa aksara, genta pinarah pitu serta ilmu kawisesan lainnya yang disisipi oleh para tetua pencetus pembentukan budaya bali ini.

baiklah, mari kita perhatikan acara upacara budaya bali berikut ini;

Tahap Grahasta - Perkawinan

Sesungguhnya, terbentuknya suatu keluarga dimulai sejak adanya upacara perkawinan. Karena upacara perkawinan merupakan titik awal dari kedua mempelai mengikat secara lahir dan batin, membentuk keluarga baru dan hidup bersama. Perkawinan adalah suatu pesaksian secara sekalah-niskala dari seorang pria dan seorang wanita, bahwa keduanya telah mengikat diri menjadi suami istri, dan segala resiko dari segala perbuatannya itu menjadi tanggung jawab bersama.

Jadi, perkawinan ialah hubungan antara seorang pria dan wanita, untuk bersama-sama mencukupi kebutuhan suami-istri, berkeluarga dan berkawan. Berkeluarga adalah hubungan suami istri, berkeluarga, dan berkawan. Berkeluarga adalah hubungan suami istri untuk bersama-sama mencukupi kebutuhan rasa hait. Maka, perkawinan merupakan hubungan pria dan wanita yang rumit.

Perkawinan menjadi pangkal peristiwa hidup lainnya. Bayi atau rare lahir berasal dari perkawinan. Kelahiran adalah awal peristiwa hidup seseorang. Setiap barang yang berawal, pastilah berakhir. Manusia berasal dari kelahiran, dan berakhir pada kematian. Jadi, tidak ada barang yang lahir tanpa mati.

Rare atau bayi yang lahir, makin lama makin besar, lalu dewasa, dan kemudian kawin. Maka perkawinan menjadi pangkal dan tujuan peristiwa hidup lainnya. 

Setiap kelahiran, pasti didahului dengan perkawinan. Perkawinan berasal dari hasrat hidup, yang pada pokoknya ialah ingin melestarikan raga dan jenis keturunannya. Maka kedua macam kebutuhan itu meresap dalam rasa manusia. Hasrat hidup untuk melestarikan raga, menyebabkan manusia memerlukan makan, pakaian, dan pemukiman, itulah yang disebut pangupajiwa.

Sedangkan hasrat hidup untuk melestarikan keturunan, mendorong manusia untuk bersenggama, yakni kebutuhan perkawinan. Jadi nafkah dan perkawinan adalah kebutuhan hidup. 

Jadi, perkawinan harus melahirkan anak sejenis? Anak-anak itu menyambung jenis orang tuanya. Dan mereka kelak akan kawin, melahirkan anak lagi. Begitu seterusnya. Kebalikannya, jika perkawinan tidak untuk melahirkan bayi atau rare, maka jenis keturunan manusia akan punah. Oleh karena itu, bila dalam perkawinan tanpa alasan yang pantas, menolak keturunan misalnya, keliru sekali.

Untuk mewujudkan keluarga bahagia selamat sekala-niskala, perkawinan paling tidak memiliki lima syarat. 
  1. Perkawinan harus lelaki dan perempuan. Karena perkawinan lelaki dengan lelaki, atau perempuan dengan perempuan, tidak akan dapat melahirkan anak atau rare. Tentu bisa mengangkat anak, tetapi anak siapa jika bukan anak dari perkawinan yang benar? 
  2. orang dengan orang. Karena kalau orang dengan hewan, tidak dapat melangsungkan keturunan sejenis. Baik jenis hewan maupun jenis manusia. 
  3. harus sudah sesame dewasa. Karena jika salah satunya belum dewasa, perkawinan tersebut tidak dapat melahirkan keturunan. 
  4. perkawinan harus dilakukan oleh orang yang masih hidup. Karena jika salah satu mati, perkawinan itu tidak bisa berlangsung dan menurunkan anak atau rare. 
  5. perkawinan harus karena rasa suka sama suka. Sebab jika salah satunya tidak suka, atau kedua-duanya tidak suka. Kawin paksa misalnya, tentulah hanya menimbulkan bencana.

Soal suka dan tidak suka ini, akan berkaitan erat dengan pergaulan. Pergaulan, mempengaruhi perkawinan. Namun dalam pergaulan birahi, orang terpikat oleh orang yang sering ditatapnya, atau cocok dengan gambar idamannya. Jika seseorang gadis hanya bergaul dengan gadis, birahinya akan hinggap pada gadis itu. Jika pria dengan pria, birahi kasinya akan melekat pada lelaki pula. Ini birahi yang salah tempat.

Birahi yang salah tempat ini menimbulkan perasaan yang aneh-aneh. Pria merindukan pria. Perempuan merindukan perempuan. Hingga bila birahi ini larut, bisa jadi manusia merindukan hewan, atau lukisan, atau mayat, patung dan sebagainya. Birahi seperti ini, semata-mata hanya berdasarkan kepuasannya sendiri. Ini tidak nalar, karena orang yang seperti ini akan menggunakan apa saja untuk memuaskan yang disenanginya.
Nafsu ingin puas sendiri. Merusak hukum alam. 
Menurut ajaran Kanda Pat Rare, perkawinan bukanlah dari birahi yang salah, apalagi birahi yang buta?

Dengan demikian, dapatlah dimengerti bahwasanya untuk menjalin hubungan yang baik, hidup selaras, harmonis antara suami dan istri, perlu dipertimbangkan beberapa hal : 
  1. Hubungan itu dibangun atas dasar cinta sama cinta. 
  2. agar diusahakan mencari pasangan yang selaras, artinya perbedaan fisik maupun kejiwaannya tidak terlalu mencolok. Misalnya, wajah tidak terlalu berbeda, pendidikan tidak jauh berbeda. Karena kalau yang satu cerdas dan yang satunya bego, tentu sulit menjalin komunikasi yang harmonis.
  3. punya sikap tenggang rasa dan toleransi yang tinggi, memiliki kesabaran dan ketabahan dalam menghadapi masalah kehidupan. 

Dalam mewujudkan keluarga yang bahagia serta selamat sekala-niskala. Ternyat lima syarat yang telah diajukan di muka, belum cukup. Masih ada hal lain yang perlu diperhatikan, yaitu menghitung hari (Dewasa Ayu), dengan dasar perhitungan Wariga. Wariga merupakan ilmu astronomi (jyotisa) versi orang bali, yang dipegang teguh hingga saat ini.

Menentukan hari baik untuk melaksanakan upacara perkawinan tersebut. Seperti halnya seorang bayi atau rare, sifat-sifatnya, karakternya, nasibnya serta masa depannya. Akan turut dipengaruhi oleh hari kelahirannya. Itulah sebabnya, kalau ada seorang bayi atau rare, yang lahir pada hitungan jelek, Tumpek kandang atau Tumpek wayang misalnya. Maka orang tua si bayi atau raretersebut, merasa perlu untuk membuat upacara bayuh oton, agar anaknya bisa terhindar dari mara bahaya.

Begitupun halnya dengan hari perkawinan anda, baik buruknya akan dipengaruhi juga oleh hari tersebut. Bila salah menghitung hari, maka keburukanlah yang akan anda dapatkan. Dan bentuk keburukan itupun bermacam-macam, tergantung tingkat keburukan hari yang anda gunakan. 
  1. hal yang paling buruk adalah salah satu dari anda bisa mati muda, atau mati sebelum usia renta. Cara matinyapun aneka rupa. Ada karena kecelakaan, ada karena sakit yang tak terobati, ada pula karena mengakhiri hidupnya sendiri, alias bunuh diri.
  2. yang agak ringan, dianggap ringan karena tidak ada matinya. Namun tetap saja buruk. Karena tidak ada matinya. Namun tetap saja buruk. Kalau bisa, ya di hindari. Yaitu rumah tangga anda rawan konflik. Dari masalah yang sangat sepele, sampai kepada masalah yang ruwet, bisa menjadi sumber konflik. Pokoknya tiada hari tanpa konflik. Bila tidak tahan, maka rumah tangga anda bisa bubar, alias cerai berai. 
  3. lebih ringan lagi. Keluarga anda sering sakit-sakitan, boros, sering kena sial dan sebagainya.
Semua keburukan akibat salah menghitung hari itu, tidak ada obatnya, disamping juga sulit dideteksi. Balian sakti sekalipun, tidak akan dapat mengatasi masalah ini, apalagi bebantenan. Upacara apapun yang anda buat tidak akan menyelesaikan maslah. Selain pipis telah, masalah tileh. Kecuali;
  1. orang itu memang harus sakti. 
  2. tau sumber masalah anda. 
  3. pintar menghitung hari. 
  4. tentu saja bisa menjawab permasalahan anda. 
Kalau upacara perkawinan anda jatuh pada hitungan buruk seperti itu, tentu saja tidak akan mungkin dapat mewujudkan keluarga bahagia, selamat sekala-niskala. 

perhitungan baik-buruk hari perkawinan dapat dibaca di artikel


Pada kenyataannya, akan sulit mendapatkan pedewasaan yang benar-benar baik. Apalagi perkawinan anda akan sulit mendapatkan pedewasaan yang benar-benar baik. 
Apalagi perkawinan yang terjadi karena kecelakaan misalnya, artinya sudah terlanjur hamil.

Maka pilihlah yang terbaik, diantara yang terburuk
Maksudnya pilihan hari yang lebih banyak baik, ketimbang buruknya. Bila tidak ketemu, maka lakukanlah upacara perkawinan itu, dan nikmatilah hasilnya. Bila hasilnya memang baik ya sudahlah. Tapi bila hasilnya betul-betul jelek, maka segeralah diperbaiki.


Tujuan Perkawinan untuk mendapatkan Anak yang Suputra.

Sebab, kelak diharapkan anak menjadi penyelamat keluarga, membebaskan leluhur dari api neraka? Karena itulah seoran anak disebut putra, artinya dapat membebaskan orang tua, atau leluhur dari pendritaan alias neraka. Itulah sebabnya kehadiran seorang anak begitu penting bagi keluarga Hindu, khususnya Bali. Anak atau rare yang dapat membebaskan penderitaan keluarga, menjadi tempat berlindung orang tuanya, dan akhirnya kemudian menjadi penerus keturunan, haruslah anak yang baik, rare yang utama yang di dalam sastra Kanda Pat Rare disebut sebagai suputra.

Hal ini juga terungkap dalam beberapa sastra Hindu sebagai berikut : membuat sebuah telaga untuk umum, itu lebih baik daripada menggali seratus sumur. Melakukan yadnya, itu lebih tinggi mutunya, daripada membuat seratus telaga. Mempunyai seorang putra, itu lebih berguna daripada melakukan seratus yadnya, asalkan putra utama alias suputra.

Untuk menciptakan atau mendapatkan anak atau rare yang suputra, amat tergantung kepada upaya-upaya yang anda lakukan. Dan, salah satu caranya adalah lewat ajaran Kanda Pat Rare ini. Menurut ajaran Kanda Pat Rare, proses itu dimulai sejak anda melakukan senggama atau persetubuhan, tidak boleh asal joss, tidak boleh sembarangan. Ada tata karma senggama yang harus anda jalani.seperti yang telah tertuang dalam artikel "Hari Baik Berhubungan Intim"

Untuk mewujudkan keluarga bahagia selamat sekala-niskala, sebaiknya kita memahami tata karma senggama. Disamping yang sudah disebutkan diatas, yaitu menyangkut pikiran dan perasaan, dan dalam merawat bayi (rare) lebih lanjut diulas dalam artikel "Kanda Pat Rare dan Pembentukan Bayi Manusia" yang didalamnya menjelaskan pentingnya upacara manusa yadnya dalam perkembangan bayi.


2). Kanda Empat Bhuta

3). Kanda Empat Dewa

4). Kanda Empat Sari

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar