Google+

Rabu, 19 Mei 2010

Hari Baik Berhubungan Intim (Senggama)

Hari Baik Berhubungan Intim (senggama - Seks)

Dalam ajaran agama Hindu, ada empat tujuan hidup manusia yang disebut ‘Catur Purusa Artha’ yaitu:

  • dharma (kebenaran; dalam kontek lebih luas dapat diartikan sebagai pengetahuan),
  • artha (kekayaan),
  • kama (keinginan, nafsu, seksual), dan
  • moksa (pelepasan dari ikatan lahir-hidup-mati, kebebasan).

Seks merupakan salah satu kebutuhan biologis bagi mahkluk hidup, khususnya oleh mahkluk yang berkaki dua, memiliki hidung, bertangan dua, berjalan dengan berdiri, memiliki pikiran, yang disebut manusia.

Hubungan seks dianggap surganya bagi pasangan suami-istri, tak jarang membuat seseorang tenggelam dalam kesenangan dunia material. Hubungan seks (kama) merupakan salah satu tujuan hidup manusia setelah kekayaan (artha), akan tetapi untuk mencapai tujuan tersebut harus berlandaskan pada dharma (kebenaran, aturan, hukum). Demikian halnya melakukan hubungan badan (bersanggama, hubungan intim) memiliki tata kramanya sendiri.

Adapun untuk “Asanggama (berhubungan badan)” haruslah dipilh juga hari baiknya, ini bertujuan untuk menurunkan putra yang “Suputra Mahotama” , penurut, pintar, berbakti pada orang tua, murah rejeki dan berwibawa. bila tidak maka keturunan yang akan terlahir akan menyebabkan kesusahan bagi keluarga dan lingkungannya.

adapun hari yang paling baik untuk berhubungan badan adalah

  1. Soma Umanis,
  2. Budha Pon
  3. Sukra Pon

Hari - hari yang mesti dihindari adalah

  • Anggara Paing,
  • Redite Wage,
  • Anggara Wage,
  • Budha Kliwon,
  • Wrespati Paing,
  • Saniscara Kliwon (tumpek)
  • Purnama dan Tilem
  • Saat weton ( hari Otonan / Petemuan Otonan) suami / istri.
  • Luang (Urip Saptawara + Urip Pancawara = Ganjil )


Selain itu adapun Hari – hari yang mesti dihindari adalah;

Purwanin dina” tidak baik melakukan pekerjaan / membuat dewasa, yaitu ;
  • Anggara Klion / anggarkasih,
  • Budha Klion, Sukra Wage,
  • Saniscara Klion / Tumpek.
“Purwanin Sasih” tidak baik melakukan pekerjaan / membuat dewasa, yaitu ; 
  • tanggal dan panglong ping 6, 8, 14.

“Pati Pata” sangat tidak baik memulai sesuatu pekerjaan / memulai dewasa, yaitu;
  • Juli / Kasa tanggal 10,
  • Agustus / Karo tanggal 7,
  • September / Katiga tanggal 3,
  • Oktober / Kapat tanggal 4,
  • November / Kalima tanggal 8 panglong 10,
  • Desember / Kanem tanggal 6 panglong 8,
  • Januari / Kapitu tanggal 11 panglong 11,
  • Februari / Kaulu tanggal 13 panglong 13,
  • Maret / Kasanga tanggal 7 panglong 6,
  • April / Kadasa tanggal 6 panglong 6,
  • Mei / Jyesta tanggal 1,
  • Juni / Sadha tanggal 4

“Dagdig Karana” Tidak baik membangun Karya, yaitu;
  • Redite tanggal 2,
  • Soma tanggal 1,
  • Anggara tanggal 10,
  • Budha tanggal 7,
  • Wrespati tanggal 6,
  • Sukra tanggal 2
  • Saniscara tanggal 7

“Pati Paten” Semua Karya dan Asanggama teramat dilarang, yaitu;
  • Eka Sungsang nuju Indra,
  • Dwi Tambir nuju Sri,
  • Tri Kaulu nuju Uma,
  • Catur Wariga nuju Kala,
  • Panca Pahang nuju Yama,
  • Sad Bala nuju Brahma,
  • Sapta Kulantir nuju Rudra,
  • Asta Langkir nuju Uma,
  • Nawa Uye nuju Guru,
  • Dasa Sinta nuju Rudra

“Kala Mertyu” sangatlah buruk, karena sangat berbahaya. dilarang untuk bersenggama juga, yaitu;
  • Redite Medangkungan,
  • Anggara Wayang, 
  • Budha Sinta /Pagerwesi,
  • Wrespati Taulu,
  • Sukra Pujut,
  • Saniscara Medangsia

“Kala Ngruda” tidak baik untuk memulai suatu pekerjaan
  • Soma Umanis Sungsang,
  • Soma Paing Menail,
  • Redite Pon Dukut
"Sampar Wangke"
  • Soma Aryang

Pengaruh Hari Senggama menurut hari Menstruasi

bila persetubuhan dilakukan setelah masa mentruasi, antara lain:
  • senggama pada hari ke 4-5, lahir anak yang pendek,
  • pada hari ke 6, lahir anak yang bodoh,
  • pada hari ke 7, lahir anak yang kelak bodoh dan mandul,
  • pada hari ke 8, lahir anak yang sifatnya ingin selalu berkuasa,
  • pada hari ke 9, 10, 12, 14 dan 16, lahir anak yang tabiat dan sifatnya bijaksana serta suci,
  • pada hari ke 11 dan 13, lahir anak yang sifatnya jelek dan bahkan malas sembahyang serta anti agama,
  • pada hari ke 15 dan 17, lahir anak yang kelak banyak keturunan.

Sifat Anak berdasarkan senggama menurut penanggal/pangelong

hubungan suami istri bila dilakukan pada penanggal antara lain:
penanggal yang baik melakukan senggama, hubungan suami istri:
  • penanggal ping 3, baik dilakukan, karena pertemuan manusia.
  • penanggal ping 5, baik sekali, akan menjadi orang yang berprilaku suci.
  • penanggal ping 7, pertemuan hadiah, baik dilakukan senggama, anak yang lahir akan jadi dermawan.
  • penanggal ping 9, baik kesedana, namanya naga maya.
  • penanggal ping 10, baik, namanya sri molek, murah sandang pangan.
  • penanggal ping 11, baik, sri molek, anak dicintai dan berlaku cinta kasih.
  • penanggal ping 13, baik, anak akan selalu berbahagia.
  • Pangelong ping 5 dan 11, sangat baik, namanya sri maulekan.
penanggal yang dilarang dan dihindari untuk melakukan senggama, hubungan suami istri:
  • penanggal ping 1, pertemuan dewa, baik dilakukan senggama, akan tetapi anak pertama akan meninggal,
  • penanggal ping 2, jelek dilakukan, akan menemukan suatu pertentangan, anak akan suka menentang orang tua,
  • penanggal ping 4, tidak baik, anak yang lahir akan menjadi cacat.
  • penanggal ping 6, baik dilakukan, anak yang dilahirkan menjadi pintar tetapi akan menjadi licik dan jahat
  • penanggal ping 8, mantu mesatru, anak yang dilahirkan akan selalu bermusuhan dan banyak penderitaan.
  • penanggal ping 12, tidak baik, anak akan menderita dan kesakitan.
  • penanggal ping 14, sangat tidak baik, selalu kesusahan, serba buruk
  • penanggal ping 15, tidak boleh melakukan hubungan suami-istri.
  • semua pangelong, hindari.

Hubungan intim (senggama) Suami Istri dalam Weda

disamping hal-hal diatas, didalam weda juga dijelaskan mengenai larangan waktu untuk melakukan hubungan suami-istri. adapun beberapa penjelasan tentang waktu yang dilarang muntuk melakukan hubungan senggama adalah:

Didalam Veda ada dinyatakan
…O suami yang bodoh, yang penuh kejantanan, saya melarang engkau melakukan senggama pada waktu subuh dan waktu matahari memancarkan sinarnya”. 
Bersenggama hanya dibenarkan pada malam hari.
Mengacu pada Bhagavata Purana 3.14.23 yang mengisahkan kehamilan Dhiti, hubungan badan yang paling ideal dapat dilakukan 3 jam setelah matahari tenggelam atau 3 jam sebelum matahari terbit dan hindari waktu-waktu saat tengah malam.
Karena dikatakan waktu-waktu yang tidak tepat seperti sandya dan tengah malam adalah waktu dimana mahluk-mahluk dan roh-roh jahat sedang berkeliaran dan saling berebut untuk mendapatkan kesempatan terlahir kembali.

Veda menegaskan bahwa proses masuknya atman (jiva) kedalam kandungan terjadi pada saat pembuahan sel telur oleh sperma, sehingga jika terjadi pada saat yang tidak tepat seperti ini dikhawatirkan yang akan menjelma adalah jiva-jiva yang berasal dari mahluk-mahluk yang bertabiat jahat.

Disamping faktor waktu, faktor lokasi berhubungan badan juga sangatlah menentukan, sehingga dianjurkan untuk melakukan hubungan badan di tempat yang bersih, menyenangkan dan nyaman di rumah. Hubungan badan sama sekali tidak boleh dilakukan di tempat-tempat suci seperti tempat ziarah suci (tirthas), pura, kuil atau mandir. Juga tidak dibenarkan melakukan hubungan badan di tempat-tempat angker, seperti tempat pembakaran mayat/kuburan, ashrama seorang guru, di rumah seorang Vaisnava, dibawah pohon suci seperti beringin, mangga, nim, bodi dan lain-lainnya, di Gosala (kandang sapi), di hutan dan juga di dalam air (Subudhi, narayanasmrti, 2010).

Waktu-waktu sakral yang wajib dihindari bersenggama adalah purnama, bulan mati, prawani/sehari sebelum purnama dan bulan mati, hari-hari besar keagamaan atau hari suci, hari paruh gelap ke delapan. Kitab Sarasamuccaya menegaskan,
Hendaknya seorang suami dan istri yang menghendaki hidup langgeng dalam berumah tangga, menghindari untuk melakukan senggama pada bulan mati (tilem), paruh terang dan paruh gelap ke delapan (8), paruh terang dan paruh gelap ke empat belas/14 (prawani) serta pada bulan purnama” (Sarasamuccaya 255).

Keterangan lontar Sarasamuccaya dipertegas dalam kita Siva Purana, bahwa:
"seseorang tidak dibenarkan melakukan hubungan seksual pada saat hari Sivaratri (sehari sebelum bulan mati), dan juga dilarang melakukan pemujaan atau sembahyang kepada Tuhan usai melakukan hubungan seks sebelum mandi, dengan kata lain suami istri wajib hukumnya untuk menyucikan diri (mandi) jika hendak melakukan pemujaan kepada Tuhan setelah melakukan hubungan seksual".

Dalam kitab Siva Purana terdapat kisah sebagai berikut (hanya ditulis poinnya saja): Rsi Suta berkata:
… ada sebuah peristiwa pada saat Sivaratri ketika semua sedang melakukan puasa, Sudarsana melakukan hubungan seksual dengan istrinya dan kemudian melakukan pemujaan. Tapi sebelum ia melakukan ibadah, ia tidak mandi. Untuk perbuatan ini Deva Siva marah dan berkata. (Siva Purana, Kotirudra Samhita XIII. 26)

Dewa Siva bersabda:
Wahai orang yang tidak memiliki tata krama, kamu melakukan hubungan seksual dengan istri pada saat Sivaratri. Tanpa mandi engkau melakukan pemujaan. Engkau sebenarnya dekat dengan ketikdakbijaksanaan. Karena engkau telah melakukan ini secara sadar, jadilah orang yang lamban dan tidak sadar. Anda adalah orang yang tak tersentuh bagi-Ku. Hindari menyentuh-Ku. (Siva Purana, Kotirudra Samhita XIII. 29-30)

Selain itu, dalam berbagai literatur Veda (seperti Siva Purana), demikian juga dalam tradisi, bersanggama juga dilarang pada saat istri sedang menstruasi (kotor kain), seorang istri yang sedang menstruasi tidak dibenarkan untuk diajak seranjang, bahkan tidak dibenarkan diajak berbicara (hal ini terutama dilakukan oleh orang yang mempelajari spiritual). Hal ini dijelaskan didalam lontar Agastya Parwa.

Tempat brahmahatya yang terpenting pada siang hari adalah pada wanita juga. Sesungguhnya ia berkurang setiap bulan, brahmahatya pada wanita keluar berbentuk darah itulah yang disebut kotor kain di masyarakat. Oleh karena itu, orang yang hendak mencapai surga tidak boleh memegang perhiasannya dan makanan apalagi satu tempat tidur dengan wanita yang sedang kotor kain, karena sebenarnya ke luar brahmahatyanya turut pula mendapat dosa yang diajak berbicara lebih-lebih pula kalau sampai disentuh. Sungguh-sungguh itu larangan menurut Sang Hyang Agama.
Wanita yang tidak keluar brahmahatyanya disebut kuming di masyarakat. 
Tidak diajak serta dalam pergaulan, tidak dibenarkan ikut dalam upacara kematian (tileman) pada Hyang Siwamandala, dan sebagainya, Yajna Sradha. Dia harus berhenti sebagai pelayan pekerjaan-pekerjaan itu meskipun ikut menyentuh saji. Maka itu anak yang belum kotor kain dan wanita tua yang tidak kotor kain lagi memegang saji Bhatara sampai saat ini (Agastya Parwa halaman 58).

Artikel yang berkaitan dengan Hari Baik Berhubungan Intim (Senggama):
Note: Sudarsana putra brahmana Dadhici (sloka 20), istri Sudarsana bernama Dukula (sloka 21). Sudarsana melakukan penebusan dosa dengan metode pemujaan Candi dan syair agung kepada dewi Parvati dengan ketaatan yang luar biasa (sloka 37). Dewi Parvati berkenan, Sudarsana dijadikan anak angkat (sloka 39), Sudarsana diupacarai ritual penyucian dengan Ghee, diberikan tiga senar suci dengan simpul tunggal dan isntruksi tentang Sivagayatri terdiri dari enam belas suku kata (sloka 42-43). Kemudian, Sudarsana melakukan pemujaan Samkalpapuja (sloka 44). Ini membuat dewa Siva berkenan (45).

demikian dulu info mengenai hari baik dan buruk dalam melaksanakan “Asenggama / berhubungan intim” hendaknya di patuhi karena ini merupakan berdasarkan perhitungan Wariga – Dewasa. semoga bermanfaat.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar