Mahabharata 6.2
Bhisma Parwa 2
Pada suatu senja, ketika cahaya timur dan barat saling menyentuh, Vyāsa—resi tua yang tahu rahasia waktu—berdiam sejenak. Ia memandang dunia bukan dengan mata biasa, melainkan dengan penglihatan yang menembus masa lalu dan masa depan. Putra Satyavatī itu, penguasa segala Veda, melihat apa yang akan terjadi, dan hatinya menjadi berat. Ia tahu: perang besar akan datang, dan di dalamnya Bhīṣma, kakek para Bhārata, akan rebah. Takdir telah menulisnya dengan tinta yang tak bisa dihapus.
Rahasia itu ia sampaikan kepada raja yang sedang larut dalam kesedihan, seorang ayah yang memikirkan nasib putra-putranya. Vyāsa berbicara lembut namun tegas, seperti orang tua yang tahu bahwa kebenaran pahit tak bisa terus disembunyikan. Ia berkata bahwa waktu setiap orang telah tiba—para pangeran, para raja, semuanya. Mereka akan saling bertemu di medan perang, dan di sanalah riwayat mereka berakhir. Bukan karena kebencian semata, melainkan karena roda waktu memang sudah sampai pada putarannya.
“Jangan tenggelam dalam duka,” kata Vyāsa, seolah menenangkan anak kecil yang ketakutan. “Ketahuilah bahwa inilah jalan waktu. Tak ada yang bisa menghentikannya.” Lalu ia menawarkan sesuatu yang ganjil: bila sang raja ingin melihat perang itu, ia akan diberi penglihatan. Namun Dhṛtarāṣṭra menggeleng. Hatinya tak sanggup melihat darah keluarganya sendiri tertumpah. Ia hanya ingin mendengar—mendengar segalanya, tanpa harus menyaksikannya.
Maka Vyāsa pun memberi anugerah lain. Ia menunjuk Sañjaya, kusir setia yang kelak menjadi mata dan telinga sang raja. Sañjaya akan melihat segalanya dengan mata ilahi: terang maupun rahasia, siang atau malam, bahkan bisikan yang hanya terlintas di hati para prajurit. Tak satu senjata pun akan melukainya, tak satu kelelahan pun akan menekannya. Ia akan kembali hidup dari perang yang menelan begitu banyak nyawa.
Setelah itu, Vyāsa menegaskan sesuatu yang lebih dalam lagi: semua ini telah ditetapkan sejak dahulu. Tak ada gunanya meratap berlebihan. Di mana dharma berdiri, di sanalah kemenangan akhirnya berlabuh—meski jalannya penuh air mata.
Namun kisah itu belum selesai. Sang resi kembali berbicara, dan kali ini suaranya seperti angin dingin sebelum badai. Ia berkata bahwa kehancuran besar akan datang, dan alam sendiri telah memberi tanda. Burung-burung pemakan bangkai berkumpul di hutan. Para brahmana melihat mimpi-mimpi yang mengerikan. Daging gajah dan kuda akan menjadi santapan makhluk liar. Suara-suara ganjil menggema di malam hari, dan kawanan burung bergerak ke selatan, seolah mengikuti bayang kematian.
Setiap fajar dan senja, matahari tampak aneh—seakan dikelilingi tubuh-tubuh tanpa kepala. Udara penuh debu, pertanda buruk bertebaran. Awan berwarna ganjil menutup cahaya, siang dan malam kehilangan batas, dan bulan purnama pun pucat seperti api yang hampir padam. Para pahlawan, raja dan putra raja, akan terbaring di bumi, tidur panjang tanpa mimpi.
Di langit terdengar raungan makhluk-makhluk gaib yang saling bertempur. Arca-arca dewa bergetar, tertawa, memuntahkan darah, lalu roboh. Genderang bergemuruh tanpa dipukul, kereta-kereta bergerak sendiri, dan burung-burung mengeluarkan suara yang membuat bulu kuduk meremang. Belalang berhamburan seperti pasukan bersenjata di bawah cahaya fajar merah. Bahkan hujan pun berubah menjadi hujan darah dan tulang.
Bintang-bintang di langit tak lagi setia pada tempatnya. Arundhatī meninggalkan Vasiṣṭha. Planet-planet saling menekan. Guruh menggelegar tanpa awan, dan kendaraan-kendaraan seakan menangis, menjatuhkan air mata.
Begitulah, cucuku, tanda-tanda itu bermunculan satu per satu, bukan untuk menakuti, tetapi untuk mengingatkan: ketika dunia besar hendak berubah, alam pun ikut berbicara. Dan manusia—sekaya apa pun, setinggi apa pun—tetap harus berjalan di jalan takdirnya.
Bhisma Parva 2
MB 6.2.1 vaiśaṃpāyana uvāca: tataḥ pūrvāpare saṃdhye samīkṣya bhagavān ṛṣiḥ, sarvavedavidāṃ śreṣṭho vyāsaḥ satyavatīsutaḥ
MB 6.2.2 bhaviṣyati raṇe ghore bharatānāṃ pitāmahaḥ, pratyakṣadarśī bhagavān bhūtabhavyabhaviṣyavit
Ia melihat jelas apa yang akan terjadi: dalam perang yang mengerikan, Bhīṣma, kakek para Bhārata, akan gugur—sebab sang Bhagavān melihat masa lalu, kini, dan yang akan datang.
MB 6.2.3 vaicitravīryaṃ rājānaṃ sa rahasyaṃ bravīd idam, śocantam ārtaṃ dhyāyantaṃ putrāṇām anayaṃ tadā
Kepada raja Vicitravīrya ia menyampaikan rahasia ini, saat sang raja diliputi duka, merenungi nasib buruk putra-putranya.
MB 6.2.4 vyāsa uvāca: rājan parītakālās te putrāś cānye ca bhūmipāḥ, te haniṣyanti saṃgrāme samāsādyetaretaram
MB 6.2.5 teṣu kālaparīteṣu vinaśyatsu ca bhārata, kālaparyāyam ājñāya mā sma śoke manaḥ kṛthāḥ
“Ketika mereka telah disentuh oleh waktu dan menuju kehancuran, ketahuilah putaran takdir itu, wahai Bhārata, dan jangan biarkan hatimu tenggelam dalam duka.”
MB 6.2.6 yadi tv icchasi saṃgrāme draṣṭum enaṃ viśāṃ pate, cakṣur dadāni te hanta yuddham etan niśāmaya
“Namun bila engkau ingin melihat perang itu, wahai penguasa rakyat, akan kuberi engkau penglihatan; lihatlah sendiri pertempuran ini.”
MB 6.2.7 dhṛtarāṣṭra uvāca: na rocaye jñātivadhaṃ draṣṭuṃ brahmarṣisattama, yuddham etat tv aśeṣeṇa śṛṇuyāṃ tava tejasā
MB 6.2.8 vaiśaṃpāyana uvāca: tasminn anicchati draṣṭuṃ saṃgrāmaṃ śrotum icchati, varāṇām īśvaro dātā saṃjayāya varaṃ dadau
MB 6.2.9 vyāsa uvāca: eṣa te saṃjayo rājan yuddham etad vadiṣyati, etasya sarvaṃ saṃgrāme naparokṣaṃ bhaviṣyati
MB 6.2.10 cakṣuṣā saṃjayo rājan divyenaiṣa samanvitaḥ, kathayiṣyati te yuddhaṃ sarvajñaś ca bhaviṣyati
“Dengan mata ilahi, Sañjaya akan melihat segalanya dan menuturkan perang itu kepadamu; ia akan mengetahui semuanya.”
MB 6.2.11 prakāśaṃ vā rahasyaṃ vā rātrau vā yadi vā divā, manasā cintitam api sarvaṃ vetsyati saṃjayaḥ
“Terang atau rahasia, malam atau siang, bahkan yang hanya terlintas di pikiran, semuanya akan diketahui Sañjaya.”
MB 6.2.12 nainaṃ śastrāṇi bhetsyanti nainaṃ bādhiṣyate śramaḥ, gāvalgaṇir ayaṃ jīvan yuddhād asmād vimokṣyate
“Tak satu pun senjata akan melukainya, tak pula keletihan menyentuhnya; Gāvalgaṇi ini akan selamat dari perang besar ini.”
MB 6.2.13 ahaṃ ca kīrtim eteṣāṃ kurūṇāṃ bharatarṣabha, pāṇḍavānāṃ ca sarveṣāṃ prathayiṣyāmi mā śucaḥ
“Aku pun akan menyebarkan kemasyhuran para Kuru dan seluruh Pāṇḍava; janganlah engkau berduka.”
MB 6.2.14 diṣṭam etat purā caiva nātra śocitum arhasi, na caiva śakyaṃ saṃyantuṃ yato dharmas tato jayaḥ
“Semua ini telah ditetapkan sejak dahulu; tak patut engkau meratapinya. Tak mungkin ditahan apa yang telah berjalan—di mana ada dharma, di sanalah kemenangan.”
MB 6.2.15 vaiśaṃpāyana uvāca: evam uktvā sa bhagavān kurūṇāṃ prapitāmahaḥ, punar eva mahābāhuṃ dhṛtarāṣṭram uvāca ha
MB 6.2.16 iha yuddhe mahārāja bhaviṣyati mahān kṣayaḥ, yathemāni nimittāni bhayāyādyopalakṣaye
“Dalam perang ini, wahai raja, akan terjadi kehancuran besar; tanda-tanda ini tampak jelas sebagai alamat bencana.”
MB 6.2.17 śyenā gṛdhrāś ca kākāś ca kaṅkāś ca sahitā balaiḥ, saṃpatanti vanānteṣu samavāyāṃś ca kurvate
Elang, bangkai pemakan daging, gagak, dan burung kaṅka datang berkelompok, berkumpul di hutan-hutan.
MB 6.2.18 atyugraṃ ca prapaśyanti yuddham ānandino dvijāḥ, kravyādā bhakṣayiṣyanti māṃsāni gajavājinām
Para dvija melihat perang yang amat dahsyat, sementara para pemakan bangkai akan melahap daging gajah dan kuda.
MB 6.2.19 khaṭākhaṭeti vāśanto bhairavaṃ bhayavedinaḥ, kahvāḥ prayānti madhyena dakṣiṇām abhito diśam
Dengan suara mengerikan mereka berteriak “khaṭākhaṭa,” dan kawanan kahvā bergerak menuju arah selatan.
MB 6.2.20 ubhe pūrvāpare saṃdhye nityaṃ paśyāmi bhārata, udayāstamane sūryaṃ kabandhaiḥ parivāritam
Pada tiap senja dan fajar, wahai Bhārata, kulihat matahari terbit dan terbenam dikelilingi sosok-sosok tanpa kepala.
MB 6.2.20* . . . . . . . . rajoyukte ca bhārata, durnimittāni sarvāṇi . . . . . . . .
Dalam udara penuh debu itu, wahai Bhārata, segala pertanda buruk tampak nyata.
MB 6.2.21 śvetalohitaparyantāḥ kṛṣṇagrīvāḥ savidyutaḥ, trivarṇāḥ parighāḥ saṃdhau bhānum āvārayanty uta
Awan bertepi putih dan merah, berleher hitam, berkilat oleh petir, berwarna tiga, menghalangi matahari di kala senja.
MB 6.2.22 jvalitārkendunakṣatraṃ nirviśeṣadinakṣapam, ahorātraṃ mayā dṛṣṭaṃ tatkṣayāya bhaviṣyati
Kulihat siang dan malam tanpa beda, matahari, bulan, dan bintang seolah menyala bersamaan—tanda kehancuran yang mendekat.
MB 6.2.23 alakṣyaḥ prabhayā hīnaḥ paurṇamāsīṃ ca kārttikīm, candro 'bhūd agnivarṇaś ca samavarṇe nabhastale
Bulan purnama Kārttika tampak pucat tanpa cahaya, berwarna seperti api, tak berbeda dengan langit di sekitarnya.
MB 6.2.24 svapsyanti nihatā vīrā bhūmim āvṛtya pārthivāḥ, rājāno rājaputrāś ca śūrāḥ parighabāhavaḥ
Para pahlawan akan tidur terbujur di bumi, raja-raja dan putra raja, para kesatria bertangan gada.
MB 6.2.25 antarikṣe varāhasya vṛṣadaṃśasya cobhayoḥ, praṇādaṃ yudhyato rātrau raudraṃ nityaṃ pralakṣaye
Di angkasa, raungan Varāha dan Vṛṣadaṃśa yang bertempur terdengar ngeri setiap malam.
MB 6.2.26 devatāpratimāś cāpi kampanti ca hasanti ca, vamanti rudhiraṃ cāsyaiḥ svidyanti prapatanti ca
Arca para dewa bergetar dan tertawa, memuntahkan darah, berkeringat, lalu jatuh ke tanah.
MB 6.2.27 anāhatā dundubhayaḥ praṇadanti viśāṃ pate, ayuktāś ca pravartante kṣatriyāṇāṃ mahārathāḥ
Genderang yang tak dipukul bergemuruh sendiri, wahai raja; kereta-kereta perang para kesatria bergerak tanpa kendali.
MB 6.2.28 kokilāḥ śatapatrāś ca cāṣā bhāsāḥ śukās tathā, sārasāś ca mayūrāś ca vāco muñcanti dāruṇāḥ
Burung kukila, śatapatra, cāṣa, gagak, betet, bangau dan merak mengeluarkan suara-suara mengerikan.
MB 6.2.29 gṛhītaśastrābharaṇā varmiṇo vājipṛṣṭhagāḥ, aruṇodayeṣu dṛśyante śataśaḥ śalabhavrajāḥ
Gerombolan belalang tampak berhamburan, seperti prajurit bersenjata dan berzirah di punggung kuda, muncul ratusan pada cahaya fajar merah.
MB 6.2.30 ubhe saṃdhye prakāśete diśāṃ dāhasamanvite, āsīd rudhiravarṣaṃ ca asthivarṣaṃ ca bhārata
Pada dua waktu senja, segala penjuru tampak menyala seperti terbakar; turun hujan darah dan hujan tulang, wahai Bhārata.
MB 6.2.31 yā caiṣā viśrutā rājaṃs trailokye sādhusaṃmatā, arundhatī tayāpy eṣa vasiṣṭhaḥ pṛṣṭhataḥ kṛtaḥ
Bintang Arundhatī yang termasyhur, dihormati di tiga dunia, tampak meninggalkan Vasiṣṭha di belakangnya—alamat yang ganjil.
MB 6.2.32 rohiṇīṃ pīḍayann eṣa sthito rājañ śanaiścaraḥ, vyāvṛttaṃ lakṣma somasya bhaviṣyati mahad bhayam
Śanaiścara menekan Rohiṇī, wahai raja; tanda-tanda Soma pun terbalik—ketakutan besar akan terjadi.
MB 6.2.33 anabhre ca mahāghoraṃ stanitaṃ śrūyate 'niśam, vāhanānāṃ ca rudatāṃ prapatanty aśrubindavaḥ
Bahkan tanpa awan, guruh mengerikan terus terdengar; kendaraan-kendaraan seolah menangis, menjatuhkan butir-butir air mata.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar