Google+
Tampilkan postingan dengan label karma phala. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label karma phala. Tampilkan semua postingan

Dewa Yama dalam Teologi Hindu

Dewa Yama dalam Teologi Hindu

Dewa Yama (Dewa Kematian/Neraka)
Dewa Yama merupakan manifestasi dari Brahman yang bergelar sebagai Dewa akhirat, Hakim Agung yang mengadili roh orang mati, untuk mempertimbangkan apakah suatu roh layak mendapat surga atau sebaliknya, mendapat neraka.

Dewa Yama dilukiskan sebagai seorang tua yang berkuasa di singasana neraka, memiliki dua wajah yang tidak terlihat sekaligus. Wajah yang sangar dan menyeramkan terlihat oleh roh orang-orang yang hidupnya penuh dengan perbuatan salah, sedangkan wajah yang lembut dan berwibawa terlihat oleh roh-roh yang hidupnya penuh dengan perbuatan baik.

Yama (Sanskerta: यम; Yama) adalah dewa akhirat juga sering disebut Dewa Kematian dalam agama Hindu. beliau bersenjata Danda, mengendarai Kerbau dengan sakti Dewi Yami atau Syamala.

Karma Phala dan Punarbhawa / reinkarnasi

Karma Phala dan Punarbhawa / reinkarnasi

PROSES PERPINDAHAN AMAT HALUS

Veda menyatakan bahwa proses perpindahan sang makhluk hidup (jiva) dari badan jasmani kasar lama yang telah usang dan rusak ke badan jasmani kasar baru dengan berkendaraan badan halus, adalah proses amat halus dan berada diluar pengamatan indriya-indriya jasmani kasar.

Perpindahan tersebut, kata Veda, adalah bagaikan perpindahan si ulat dari satu lembar daun ke lembar daun lainnya. Sebelum melepaskan daun yang ditempatinya, si ulat sudah berpegangan pada daun lain yang hendak di tempati.

Begitu pula, sebelum meninggalkan badan jasmani kasar lama, sang jiva sudah masuk (=berpegangan) ke badan jasmani halus tertentu yaitu pikiran (manah) yang telah dimuati mentalitas tertentu sesuai dengan karma (kegiatan) yang paling disenangi dan paling sering dilakukan dengan badan jasmaninya sekarang.

Keadaan mentalitas pikiran atau macam kesadaran pada saat ajal menentukan jenis badan jasmani kasar berikutnya yang akan dihuni oleh sang jiva.

Karma Phala dan Punarbhawa

Karma Phala dan Punarbhawa 

Kenapa ada orang-orang yang tidak pernah berbuat curang, dusta, korup, amoral atau jahat selama hidupnya, ternyata mengalami nasib sial, hidup sengsara dan ditimpa bermacam-macam  kesusahan, sedangkan banyak orang yang nyanyata-nyata hidup berdosa  malahan hidup makmur, enak, nyaman dan senang?
Inilah yang sering disebut problem of evil.
Ada 2 (dua) teori yang dikemukakan untuk menjawab fakta paradok atau problem of evil ini yaitu:
1. Teori dosa turunan
  • Manusia menderita karena mewarisi dosa dari leluhur pertama.
  • Hidup susah atau senang karena kebijakan Tuhan yang punya wewenang mutlak dalam mengatur segala kehidupan di dunia fana.
2. Teori ujian Tuhan
  • Manusia lahir tanpa dosa, jadi baik atau jahat karena lingkungan.
  • Dualitas kehidupan (sehat-sakit, senang-susah, pujian-hinaan, dsb) adalah ujian/cobaan yang diberikan oleh Tuhan.
  • Hidup susah atau senang karena kebijakan Tuhan yang punya wewenang mutlak dalam mengatur segala kehidupan di dunia fana.

Punarbhawa itu kesempatan melunasi hutang karma

Punarbhawa itu kesempatan melunasi hutang karma

Kelahiran kembali ke dunia fana atau alam material akibat hutang karma yang belum lunas, oleh Veda disebut punarbhava (punar = lagi, dan bhava =lahir, menitis atau menjelma).

Secara umum, punarbhava disebut reinkarnasi (reincarnation) yang berarti penjelmaan kembali atau tumimbal lahir. Artinya, sang makhluk hidup (jiva) yang di-belenggu oleh hutang karma dari penjelmaan sebelumnya, harus menjelma (lahir) lagi ke dunia fana dengan badan jasmani baru tertentu (manusia, deva, hewan, reptil atau badan jenis lain) untuk menikmati atau menderita akibat (phala) dari perbuatan (karma) yang telah dilakukannya itu.

Dengan ber-punarbhava sebagai manusia, sang makhluk hidup (jiva) dapat kesempatan untuk :
  1. Mengurangi hutang karma buruk (asubha-karma).
  2. Menambah hutang karma bajik (subha-karma), dan
  3. Berangsur- angsur melunasi segala hutang karma bajik dengan tekun melakukan pelayanan bhakti (cinta-kasih) kepada Sri Krishna.
Jika seseorang sudah tidak memiliki (=bebas dari segala ) hutang karma buruk dan bajik, itu berarti dia telah tersucikan, berada pada tingkat spiritual, dan memenuhi syarat untuk kembali tinggal di alam rohani.

Karma Phala merupakan Hukum Universal

Karma Phala merupakan Hukum Universal

Dalam melangsungkan kehidupan, maka kita senantiasa melakukan bermacam-macam gerak dan aktivitas. Gerak dan aktivitas yang kita laksanakan itu pada umumnya untuk memenuhi segala kepuasan dan kenikmatan hidupnya secara lahir dan bhatin, yang disesuaikan dengan pandangan dan kebutuhan hidup masing-masing. Segala gerak atau aktivitas yang dilakukan, disengaja atau tidak, baik atau buruk, benar atau salah, disadari atau diluar kesadaran, kesemuanya itu disebut dengan karma. Menurut hukum sebab akibat, maka segala sebab pasti akan membuat akibat. Demikian pulalah sebab dari suatu gerak atau perbuatan akan menimbulkan akibat, buah, hasil atau phala seperti buah yang jatuh tidak jauh dari pohonnya.

Karma phala ini sangat besar sekali pengaruhnya terhadap keadaan hidup seseorang. Karena karma phala itulah yang menentukan bahagia atau menderitanya hidup seseorang, baik dalam masa hidup didunia ini, diakhirat maupun dalam penjelmaan yang akan datang. Nasib seseorang tergantung pada karmanya sendiri. Barang siapa yang berbuat baik akan mengalami kebahagiaan, yang berbuat jahat akan mendapat hukuman. Apa saja yang dibuatnya, begitulah hasilnya. Apa yang ditanam begitulah tumbuhnya. Menanam padi tentu tumbuhnya padi.