Google+
Tampilkan postingan dengan label Sarasamuccaya. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Sarasamuccaya. Tampilkan semua postingan

Kitab Sarasamuscaya

Kitab Sarasamuscaya (sarasamuccaya)

Om A No Bhadrah Kratawo Yantu Wiswatah (Reg Weda I.89.1)
Semoga semua pikiran yang baik datang dari semua penjuru.
Sarasamuscaya pertamakali diterjemahkan kedalam bahasa jawa kuno dan kemudian diterjemahkan pula ke dalam bahasa indonesia, merupakan salah satu kitab suci. pentingnya sarasamuscaya dalam tata kehidupan umat hindu di indonesia karena dalam menilai tata kehidupan umat itu ternyata sejak jaman dahulu dianggap sebagai salah satu sumber dharma atau hukum yang kaedah-kaedahnya masih diperhatikan sebagai panutan oleh masyarakat umumnya.

didalam buku "history of sanskrit literature" terdapat keterangan yang menyatakan bahwa sarasamuscaya ditulis sebagai pujian oleh ratnakara, sedangkan menurut rontal, sarasamuscaya itu sendiri menyebut-nyebut nama Wararuci sebagai penulisnya. bila benar bahwa Wararuci adalah Ratnakara, yang dalam sejarah sastra juga dikenal dengan sebutan Katyayana, salah satu permata kerajaan yang dianggap setara dengan sastrawan besar lainnya. Wararuci, nama lain untuk Katyayana adalah salah satu pujangga, yang hidup sekitar abad ke-5 SM. banyak yang menyebut-nyebut namanya, salahsatunya oleh patanjali, sastrawan raja Wikramaditya.

Karma Phala merupakan Hukum Universal

Karma Phala merupakan Hukum Universal

Dalam melangsungkan kehidupan, maka kita senantiasa melakukan bermacam-macam gerak dan aktivitas. Gerak dan aktivitas yang kita laksanakan itu pada umumnya untuk memenuhi segala kepuasan dan kenikmatan hidupnya secara lahir dan bhatin, yang disesuaikan dengan pandangan dan kebutuhan hidup masing-masing. Segala gerak atau aktivitas yang dilakukan, disengaja atau tidak, baik atau buruk, benar atau salah, disadari atau diluar kesadaran, kesemuanya itu disebut dengan karma. Menurut hukum sebab akibat, maka segala sebab pasti akan membuat akibat. Demikian pulalah sebab dari suatu gerak atau perbuatan akan menimbulkan akibat, buah, hasil atau phala seperti buah yang jatuh tidak jauh dari pohonnya.

Karma phala ini sangat besar sekali pengaruhnya terhadap keadaan hidup seseorang. Karena karma phala itulah yang menentukan bahagia atau menderitanya hidup seseorang, baik dalam masa hidup didunia ini, diakhirat maupun dalam penjelmaan yang akan datang. Nasib seseorang tergantung pada karmanya sendiri. Barang siapa yang berbuat baik akan mengalami kebahagiaan, yang berbuat jahat akan mendapat hukuman. Apa saja yang dibuatnya, begitulah hasilnya. Apa yang ditanam begitulah tumbuhnya. Menanam padi tentu tumbuhnya padi.

Tugas, Peranan dan Fungsi Warna, bukan kasta wangsa

Tugas, Peranan dan Fungsi Warna, bukan kasta wangsa

Peranan dan Fungsi Brahmana

Brahmana (brh artinya tumbuh), berfungsi untuk menumbuhkan daya cipta rohani umat manusia untuk mencapai katentrama hidup lahir batin. Brahmana juga berate Pendeta, yang merupakan pemimpin agama yang menuntun umat Hindu mencapai ketenangan dan memimpin umat dalam melakukan upacara agamanya. Oleh karena tugasnya itu seorang Brahmana wajib untuk mepelajari dan memelihara Weda, dan tidak melakukan pekerjaan duniawi.

Penjelasan tentang Brahmana ada pada Slokantara sloka I yang berbunyi 
“…..tidak ada manusia yang melebihi Brahmana, Brahmana arti (tepatnya) ialah orang yang telah menguasai segala ajaran-ajaran Brahmacari ……….. Brahmana ialah beliau yang mempunyai kebijaksanaan yang lebih tinggi melebihi (pengetahuan) manusia umumnya……” 
selanjutnya Mahabharata III. CLXXX, 21, 25 dan 26 menguraikan sifat-sifat dan tanda-tanda Brahmana dan hal itu tidak turun menurun. Bunyinya 
“…….jujur, dermawan, suka mengampuni, bersifat baik, sopan, suka melakukan pantangan agama dan pemurah dialah yang hendaknya dipandang Brahmana…..”
“……bila sifat-sifat ini ada pada Sudra dan tidak ada pada Brahmana, Sudra itu bukan Sudra dan Brahmana itu bukan Brahmana”
“Pada siapa tanda ini terdapat, hai ular, dialah yang harus dipandang Brahmana, pada siapa tanda ini tidak terdapat, hai ular, dia harus dipandang sebagai Sudra”.