Google+
Tampilkan postingan dengan label Bhagavata Purana. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Bhagavata Purana. Tampilkan semua postingan

Apakah PURANA menyesatkan?

 Purana Menyesatkan?

Apakah Purāṇa Menyesatkan Jika Dipahami Secara Literal?


Antara Kisah Sakral dan Kesalahan Fatal

Purāṇa itu kaya dengan cerita: dewa-dewa yang bertarung, Tuhan lahir sebagai bayi, reinkarnasi demi menumpas kejahatan, hingga prediksi kedatangan avatāra masa depan. Tapi... pertanyaannya:

Apakah semua itu harus dipercayai secara harfiah?
Apakah kita harus menyembah tokoh yang disebut dalam Purāṇa sebagai Tuhan yang mutlak?

Banyak pengikut Hare Krishna dan Sai Baba terjebak dalam pemahaman literal terhadap Purāṇa. Mereka jadikan kisah sebagai doktrin absolut, padahal kisah itu bertujuan simbolik, bukan ontologis.


Purāṇa Adalah Smṛti, Bukan Śruti

"śrutistu vedo vijñeyaḥ dharmāśāstraṃ tu smṛtiḥ smṛtā"Manusmṛti 2.10
“Yang disebut Śruti adalah Veda; sedangkan Dharma dan kisah-kisah adalah Smṛti.”

Artinya: Purāṇa bukan wahyu ilahi, melainkan narasi yang dikonstruksi oleh ṛṣi dan penyair. Ia punya nilai etis dan simbolis, bukan nilai teologis absolut.

Jadi kalau kamu menemukan kisah di Purāṇa bahwa Krishna adalah Tuhan yang turun jadi manusia, kamu tidak bisa menjadikan itu dasar keimanan, apalagi menyembah sosok manusianya.


Banyak Cerita Purāṇa Bertentangan dengan Śruti

Śruti bilang:

"na tasya pratimā asti"Yajur Veda 32.3
“Tuhan tidak memiliki rupa atau bentuk tertentu.”

Tapi Purāṇa justru menggambarkan Tuhan berbentuk pria tampan, lahir dari rahim, punya istri, naik kereta, bahkan kadang marah dan membunuh.

Nah, kalau kamu ambil semua ini secara literal, maka kamu sedang mengkhianati Sruti dan menghujat sifat asli Brahman yang:

  • Tak lahir (ajaḥ)

  • Tak berubah (nirvikāra)

  • Tak berbentuk (nirākāra)

  • Tak terbagi (advaya)


Purāṇa Ditulis untuk Masyarakat Umum, Bukan Pencari Mokṣa

Tujuan utama Purāṇa adalah edukasi moral dan pembangunan keimanan awam, bukan pencerahan tingkat tinggi.

Bhagavata Purāṇa misalnya, menyuguhkan kisah heroik dan romantik Krishna, lengkap dengan keajaiban, kelahiran, bahkan percintaan.

Tapi kamu tidak akan menemukan mahāvākya seperti “tat tvam asi” atau “aham brahmāsmi” di sana. Karena Purāṇa bukan jalan jñāna, tapi dongeng religius untuk membangun bhakti tahap awal.

Masalahnya: ketika dongeng dijadikan dogma, muncullah kesesatan rohani.


Kultus Sai Baba dan Hare Krishna Lahir dari Pembacaan Purāṇa yang Literal

  • Hare Krishna mengutip Bhagavata Purāṇa dan menyatakan Krishna = Tuhan mutlak, lalu menyebarkan japa sebagai “satu-satunya penyelamat.”

  • Pengikut Sai Baba menyebut gurunya adalah avatāra dari Viṣṇu, berdasarkan prediksi dari Purāṇa bahwa Tuhan akan lahir lagi di masa Kali Yuga.

Tapi mereka lupa:

Purāṇa adalah produk budaya, bukan peta langsung menuju Brahman.

Dan lebih parah lagi: mereka menolak logika, Sruti, dan jñāna… lalu menggantinya dengan fanatisme mitologis.


Upaniṣad Tidak Butuh Cerita. Ia Langsung ke Inti.

"neti neti"Bṛhadāraṇyaka Upaniṣad 2.3.6
“Bukan ini, bukan itu.”

Artinya: Tuhan bukan tokoh dalam cerita. Bukan bayi lahir di penjara. Bukan lelaki dengan seruling. Bukan kakek yang bisa mengeluarkan abu suci dari tangan.

Tuhan adalah kesadaran murni, bukan karakter dalam mitologi.


Purāṇa Itu Seperti Komik Rohani. Kalau Dianggap Nyata, Kamu Tersesat.

Purāṇa itu penting sebagai alat bantu, bukan sebagai kebenaran mutlak. Jika kamu terlalu serius membaca cerita sebagai fakta, kamu bisa tersesat ke dalam penyembahan tokoh dan bentuk, alih-alih menyatu dalam keheningan Ātman.

Gunakan Purāṇa sebagai alat untuk membuka hati,
Tapi gunakan Śruti untuk membebaskan dirimu.

Perbandingan Surga antara versi Hindu dengan Agama Abrahamic

Perbandingan Surga antara versi Hindu dengan Agama Abrahamic

setelah melewati banyak diskusi tentang pandangan umum kita tentang tujuan agama, ternyata umat beragama diindonesia masih lebih condong dengan promosi agama yang meng-agung-agungkan SURGA, sebuah capaian setelah manusia meninggal. dan yang cukup mengkejutkan, ternyata ada juga umat hindu yang sangat fanatik dengan pengetahuan surganya, dan berupaya mengkonversi lawan bicaranya agar meyakini surga-surga dambaan setelah meninggal tersebut.

salah satu umat hindu yang sangat dengat dengan bahasan keindahan surgawi adalah umat hindu yang memeluk aliran Hare Krisna (HK) dengan salah satu kitab rujukannya adalah Bhagavata Purana. 
memang belakangan terjadi perselisihan dikalangan umat hindu terutama hindu dibali dengan keyakinan yang dianut oleh Umat HK ini, karena ada beberapa prinsif agama yang telah membudaya dibali secara perlahan-lahan di "tabukan" untuk dijalani, sehingga ada beberapa pendapat yang mengacu pada pesan singkat mahagurunya bahwa HK bukanlah hindu. ini kembali manambah parah situasi, tatapi umat HK dibali masih menyatakan dirinya sebagai umat Hindu walau ada sedikit gesekan. salahsatunya adanya keyakinan yang mirip surga yang diberi sebutan Vaikunta.

baik, mari kita bandingkan vaikunta surga menurut versi Bhagawad purana dengan Al-jannah alias surga versi Islam dalam kitab Al-Qurnan.



bersambung..........

Punarbhawa itu kesempatan melunasi hutang karma

Punarbhawa itu kesempatan melunasi hutang karma

Kelahiran kembali ke dunia fana atau alam material akibat hutang karma yang belum lunas, oleh Veda disebut punarbhava (punar = lagi, dan bhava =lahir, menitis atau menjelma).

Secara umum, punarbhava disebut reinkarnasi (reincarnation) yang berarti penjelmaan kembali atau tumimbal lahir. Artinya, sang makhluk hidup (jiva) yang di-belenggu oleh hutang karma dari penjelmaan sebelumnya, harus menjelma (lahir) lagi ke dunia fana dengan badan jasmani baru tertentu (manusia, deva, hewan, reptil atau badan jenis lain) untuk menikmati atau menderita akibat (phala) dari perbuatan (karma) yang telah dilakukannya itu.

Dengan ber-punarbhava sebagai manusia, sang makhluk hidup (jiva) dapat kesempatan untuk :
  1. Mengurangi hutang karma buruk (asubha-karma).
  2. Menambah hutang karma bajik (subha-karma), dan
  3. Berangsur- angsur melunasi segala hutang karma bajik dengan tekun melakukan pelayanan bhakti (cinta-kasih) kepada Sri Krishna.
Jika seseorang sudah tidak memiliki (=bebas dari segala ) hutang karma buruk dan bajik, itu berarti dia telah tersucikan, berada pada tingkat spiritual, dan memenuhi syarat untuk kembali tinggal di alam rohani.

Tugas, Peranan dan Fungsi Warna, bukan kasta wangsa

Tugas, Peranan dan Fungsi Warna, bukan kasta wangsa

Peranan dan Fungsi Brahmana

Brahmana (brh artinya tumbuh), berfungsi untuk menumbuhkan daya cipta rohani umat manusia untuk mencapai katentrama hidup lahir batin. Brahmana juga berate Pendeta, yang merupakan pemimpin agama yang menuntun umat Hindu mencapai ketenangan dan memimpin umat dalam melakukan upacara agamanya. Oleh karena tugasnya itu seorang Brahmana wajib untuk mepelajari dan memelihara Weda, dan tidak melakukan pekerjaan duniawi.

Penjelasan tentang Brahmana ada pada Slokantara sloka I yang berbunyi 
“…..tidak ada manusia yang melebihi Brahmana, Brahmana arti (tepatnya) ialah orang yang telah menguasai segala ajaran-ajaran Brahmacari ……….. Brahmana ialah beliau yang mempunyai kebijaksanaan yang lebih tinggi melebihi (pengetahuan) manusia umumnya……” 
selanjutnya Mahabharata III. CLXXX, 21, 25 dan 26 menguraikan sifat-sifat dan tanda-tanda Brahmana dan hal itu tidak turun menurun. Bunyinya 
“…….jujur, dermawan, suka mengampuni, bersifat baik, sopan, suka melakukan pantangan agama dan pemurah dialah yang hendaknya dipandang Brahmana…..”
“……bila sifat-sifat ini ada pada Sudra dan tidak ada pada Brahmana, Sudra itu bukan Sudra dan Brahmana itu bukan Brahmana”
“Pada siapa tanda ini terdapat, hai ular, dialah yang harus dipandang Brahmana, pada siapa tanda ini tidak terdapat, hai ular, dia harus dipandang sebagai Sudra”.

Pustaka Suci Weda

Pustaka Suci Weda

Photobucket

Secara harfiah Veda berarti pengetahuan. Veda berasal dari dan disabdakan oleh Tuhan Yang Maha Esa sendiri. Sebagaimana disampaikan dalam Brhad-Aranyaka Upanisad 2.4.10
“ Rg. Yajur, Sama dan Atharva Veda dan Itihasa semuanya keluar dari nafas kebenaran mutlak, Tuhan Yang Maha Esa”. 
Hal serupa juga disampaikan dalam Bhagavad Gita 3.15
“Brahmaksara-samudbhavam, pengetahuan Veda langsung diwejangkan oleh Tuhan Yang Maha Esa”. 
Karena itu, Veda bersifat mutlak (absolut), benar dengan sendirinya (self-authoritative), apauruseya (bukan buatan manusia) dan berhakekat mengatasi hal-hal duniawi (transendental). 
Veda disabdakan oleh Tuhan, Sri Krishna kepada Brahma sebelum alam mateterial tercipta (Yo brahmanam vidadhati purvam yo vai vedam ca gapayati sma krsnah – Atharva-veda. Tene brahma hrdaya adi kavaye – Bhagavata Purana 1.1.1).
Kemudian Brahma mengajarkan Veda tersebut kepada putra-putranya yakni para Rishi. Selanjutnya melalui proses menurun (deduktip) yang disebut parampara dalam garis perguruan (sampradaya) resmi, para Rsi itu mengajarkan Veda kepada murid-muridnya (perhatikan Bhagavad Gita 4.2). Demikianlah melalui proses deduktip (parampara) pengetahuan Veda akhirnya menyebar di masyarakat manusia.