Mahabharata 6.6
Bhisma Parwa 6
Suatu ketika, Dhṛtarāṣṭra bertanya dengan suara yang lembut namun sarat keingintahuan. Ia ingin tahu nama-nama sungai dan gunung, negeri-negeri dan hutan, segala sesuatu yang membentang di atas bumi. Ia bertanya bukan seperti raja yang hendak menaklukkan, melainkan seperti orang tua yang ingin memahami rumah tempat ia hidup. “Ceritakan semuanya kepadaku, Sañjaya,” katanya, “ukurannya, batas-batasnya, dan apa saja yang dipeluk oleh bumi ini.”
Sañjaya pun menjawab perlahan, seperti guru yang menata benang-benang pengetahuan agar mudah dipahami. Ia berkata bahwa segala yang ada tersusun dari lima unsur besar. Dari kelimanya, bumi memegang tempat utama, sebab di sanalah semua berdiri dan bertahan. Bumi membawa bunyi, sentuhan, rupa, rasa, dan bau; sementara unsur lain membawa lebih sedikit sifat, hingga ruang yang hanya menyimpan bunyi semata. Selama kelima unsur itu seimbang, dunia berjalan tenang. Tetapi bila keseimbangan terganggu, makhluk-makhluk pun saling berbenturan, dan kehancuran tak bisa dihindari.
Ia melanjutkan, bahwa segala sesuatu lahir dan lenyap mengikuti urutan yang tak terukur oleh manusia. Di mana-mana unsur-unsur itu tampak, dan manusia mencoba memahaminya dengan akal. Namun ada batas bagi nalar; yang melampaui alam tak bisa dijangkau oleh pikiran. Di situlah rahasia besar berdiam, seperti senyum seorang kakek yang tahu lebih banyak daripada yang diucapkannya.
Lalu Sañjaya mulai menggambar peta dunia dalam kata-kata. Ia bercerita tentang sebuah pulau bernama Sudarśana, bundar sempurna seperti cakra, dikelilingi air sungai dan gunung yang menjulang bagai awan. Di sana berdiri kota-kota indah dan negeri-negeri yang makmur, pohon-pohonnya sarat bunga dan buah, tanahnya kaya dan berlimpah, dan di sekelilingnya terbentang samudra asin yang memeluknya dari segala arah.
Ia berkata bahwa pulau itu tampak di cakram bulan, sebagaimana seseorang melihat wajahnya sendiri di cermin. Di sana tumbuh pohon pippala dan tampak bayangan kelinci raksasa, dikelilingi ladang obat-obatan dan tumbuhan penyembuh. Begitulah, kata Sañjaya, dunia terpantul di langit, dan langit kembali berdiam di dalam dunia.
Begitulah kisahnya, cucuku. Dunia ini bukan sekadar tanah di bawah kaki, tetapi anyaman unsur, pantulan cahaya, dan keseimbangan halus yang harus dijaga. Dan siapa yang memahami keseimbangan itu, akan melihat bumi bukan sebagai benda untuk direbut, melainkan sebagai rumah yang harus dirawat.
Bhisma Parva 6
MB 6.6.1 dhṛtarāṣṭra uvāca: nadīnāṃ parvatānāṃ ca nāmadheyāni saṃjaya, tathā janapadānāṃ ca ye cānye bhūmim āśritāḥ
MB 6.6.2 pramāṇaṃ ca pramāṇajña pṛthivyā api sarvaśaḥ, nikhilena samācakṣva kānanāni ca saṃjaya
“Jelaskan pula ukurannya, wahai yang memahami ukuran, tentang bumi secara menyeluruh; terangkan semuanya tanpa tersisa, termasuk hutan-hutannya, Sañjaya.”
MB 6.6.3 saṃjaya uvāca: pañcemāni mahārāja mahābhūtāni saṃgrahāt, jagat sthitāni sarvāṇi samāny āhur manīṣiṇaḥ
MB 6.6.4 bhūmir āpas tathā vāyur agnir ākāśam eva ca, guṇottarāṇi sarvāṇi teṣāṃ bhūmiḥ pradhānataḥ
“Bumi, air, angin, api, dan ruang; masing-masing memiliki keutamaannya, namun bumi menempati kedudukan utama di antara semuanya.”
MB 6.6.5 śabdaḥ sparśaś ca rūpaṃ ca raso gandhaś ca pañcamaḥ, bhūmer ete guṇāḥ proktā ṛṣibhis tattvavedibhiḥ
“Bunyi, sentuhan, rupa, rasa, dan bau—lima inilah sifat-sifat bumi, demikian diajarkan para resi yang memahami hakikat.”
MB 6.6.5* śabdaḥ sparśaś ca rūpaṃ ca rasaś cāpi prakīrtitāḥ
“Bunyi, sentuhan, rupa, dan rasa juga disebutkan sebagai sifatnya.”
MB 6.6.6 catvāro 'psu guṇā rājan gandhas tatra na vidyate, śabdaḥ sparśaś ca rūpaṃ ca tejaso 'tha guṇās trayaḥ, śabdaḥ sparśaś ca vāyos tu ākāśe śabda eva ca
“Pada air terdapat empat sifat, wahai raja—bau tidak ada di sana. Pada api ada tiga: bunyi, sentuhan, dan rupa; pada angin ada dua: bunyi dan sentuhan; dan pada ruang hanya bunyi semata.”
MB 6.6.7 ete pañca guṇā rājan mahābhūteṣu pañcasu, vartante sarvalokeṣu yeṣu lokāḥ pratiṣṭhitāḥ
“Kelima sifat ini, wahai raja, berdiam dalam lima unsur besar; di atasnyalah seluruh dunia berdiri dan bertumpu.”
MB 6.6.8 anyonyaṃ nābhivartante sāmyaṃ bhavati vai yadā, yadā tu viṣamībhāvam āviśanti parasparam, tadā dehair dehavanto vyatirohanti nānyathā
“Selama unsur-unsur itu berada dalam keseimbangan, tak saling melampaui, keselarasan pun terjaga. Namun ketika mereka saling timpang dan bertabrakan, makhluk berjasad pun saling bertubrukan—tak ada jalan lain.”
MB 6.6.8* bhāvaṃ na ca bhajantas te nāśaṃ gacchanti nānyathā
“Tanpa kembali pada keseimbangan, mereka menuju kehancuran—tak terelakkan.”
MB 6.6.9 ānupūrvyād vinaśyanti jāyante cānupūrvaśaḥ, sarvāṇy aparimeyāni tad eṣāṃ rūpam aiśvaram
“Mereka lahir dan binasa menurut urutan, juga lenyap dengan urutan yang sama; segala yang tak terukur itu adalah rupa kekuasaan mereka.”
MB 6.6.10 tatra tatra hi dṛśyante dhātavaḥ pāñcabhautikāḥ, teṣāṃ manuṣyās tarkeṇa pramāṇāni pracakṣate
“Di sana-sini tampak unsur-unsur lima ini dalam berbagai bentuk; manusia mencoba mengukurnya dengan akal dan nalar.”
MB 6.6.11 acintyāḥ khalu ye bhāvā na tāṃs tarkeṇa sādhayet, prakṛtibhyaḥ paraṃ yat tu tad acintyasya lakṣaṇam
“Namun yang tak terpikirkan tak dapat dijangkau oleh nalar; apa yang melampaui alam itulah tanda dari yang tak terbayangkan.”
MB 6.6.12 sudarśanaṃ pravakṣyāmi dvīpaṃ te kurunandana, parimaṇḍalo mahārāja dvīpo 'sau cakrasaṃsthitaḥ
“Akan kuceritakan kepadamu Pulau Sudarśana, wahai kebanggaan Kuru; berbentuk bundar sempurna, wahai raja, tersusun laksana cakra.”
MB 6.6.13 nadījalapraticchannaḥ parvataiś cābhrasaṃnibhaiḥ, puraiś ca vividhākārai ramyair janapadais tathā
“Pulau itu diselimuti air sungai, dikelilingi gunung-gunung laksana awan; dipenuhi kota-kota beraneka rupa dan negeri-negeri yang elok.”
MB 6.6.14 vṛkṣaiḥ puṣpaphalopetaiḥ saṃpannadhanadhānyavān, lāvaṇena samudreṇa samantāt parivāritaḥ
“Pohonnya sarat bunga dan buah, berlimpah harta dan hasil bumi; ia dilingkari samudra asin di segala penjuru.”
MB 6.6.15 yathā ca puruṣaḥ paśyed ādarśe mukham ātmanaḥ, evaṃ sudarśanadvīpo dṛśyate candramaṇḍale
“Seperti seseorang melihat wajahnya sendiri di dalam cermin, demikianlah Pulau Sudarśana terpantul di cakram bulan.”
MB 6.6.16 dvir aṃśe pippalas tatra dvir aṃśe ca śaśo mahān, sarvauṣadhisamāvāpaiḥ sarvataḥ paribṛṃhitaḥ, āpas tato 'nyā vijñeyā eṣa saṃkṣepa ucyate
“Di sana, dua bagian dipenuhi pohon pippala, dua bagian lainnya oleh kelinci raksasa; diperluas ke segala arah oleh ladang segala obat dan tumbuhan. Adapun perairannya yang lain, demikianlah ringkasnya.”
MB 6.6.16* tato 'nya ucyate cāyam enaṃ saṃkṣepataḥ śṛṇu
“Masih ada bagian lain; dengarkanlah penjelasan singkatnya.”
Tidak ada komentar:
Posting Komentar