Google+
Tampilkan postingan dengan label Belajar Agama Hindu. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Belajar Agama Hindu. Tampilkan semua postingan

Dewa Tertinggi Orang Hindu Bali

Dewa Tertinggi Orang Hindu Bali

Konsep Ketuhanan dibali adalah Memuja Tuhan berdasarkan FungsiNya, yang lebih dikenal dengan manifestasi Brahman, sering disebut Dewa (Div: sinar suci Brahman bersifat positif). karena fungsi Tuhan yang meresap dalam hukum Karma ciptaanNya sangat banyak, maka semakin banyak pula sebutan tuhan yang terrefeksi dengan penamaan Dewa.
semakin banyaknya film Itihasa dan purana dipertontonkan di indonesia, menyebabkan kebingungan beberapa umat hindu bali yang sedang "mencari jati diri" dan mencari pembenaran atas keyakinannya. kejadian ini menjadi semakin goyangnya keyakinan gama tirtha dibali, karena beberapa umat tersebut mulai mengesampingkan ajaran dari mpu kuturan, yang telah berjuang mempersatukan sekte/sampradaya yang dulunya banyak berkembang di Bali.
bila dipikir kembali, mungkinkah umat hindu bali kembali mundur pemahaman agama hindunya?
dari mendalami ajaran universal hindu melompat mundur mempelajari sekte-sekte yang diidolakan. bukankah sekte tersebut bagian dari hindu? inilah yang aneh bin ajaib yang terjadi dibali.
orang-orang beramai-ramai memuja dewa-dewanya, dan mengesampingkan local-genius yang sudah mengakar sebagai konsep hindu yang universal.
dengan memuja satu dewa tertinggi dan menggapnya sebagai tuhan, bukankah itu sudah menyalahi dasar keimanan hindu sendiri?
mohon diingat, bahwa pokok-pokok keimanan hindu adalah percaya dengan adanya Tuhan, Atma, Karmaphala, Punarbhawa, dan Moksa.

Bumi Pernah Kiamat Enam Kali

Bumi Pernah Kiamat Enam Kali

ini artikel baru saya dapatkan dari Saint Kompas, yang merupakan salah bukti pendukung kebenaran ajaran hindu. dimana dalam keyakinan agama hindu, kiamat terjadi berulang-ulang hingga pada saatnya akan ada kiamat maha besar di penghujung jaman kali yuga, tetapi itu bukanlah akhir jaman melainkan awal dari peradaban baru. lebih lanjut silahkan baca: Kiamat dan Pralaya

berikut ini kutipan dari artikel Saint Kompas yang dipublikasikan pada hari Rabu, 22 April 2015 | 09:52 WIB dengan judul "Terungkap, Bumi Pernah "Kiamat" Enam Kali".

Terungkap, Bumi Pernah "Kiamat" Enam Kali

Selama 450 juta tahun, Bumi pernah mengalami "kiamat" atau kematian massal 5 kali. Itulah yang dipahami selama ini.

Benarkah Ka'bah bekas kuil hindu?

Benarkah Ka'bah bekas kuil hindu?

Islam sebagai Penganut Paham Bakti Marga yang dikenal akan fanatisme dan pemusatan arah pemujaan (kiblat), sudah tentu Judul artikel  Benarkah Ka'bah adalah bekas kuil hindu ini akan menjadi momok yang sangat sensitif. kenapa? karena memang begitulah ciri umat yang berjalan dengan paham Bhakti Yoga, dan Mungkin hal ini terdengar terlalu kontroversial dan kadang kala dikaitkan dengan hoax oleh sebagian orang yang merasa kedudukannya/harga dirinya terancam. Namun, penyajian artikel ini tidak bertujuan untuk merendahkan kredibelitas saudara-saudara muslim, melainkah hanya untuk membuka wawasan akan apa yang sebenarnya terjadi.

Kontroversi seputar ka’bah sudah menjadi perbincangan yang sangat hot di dunia maya. Hal ini pertama kali diungkapkan oleh seorang pakar sejarah P.N. Oak. Beliau juga telah melempar isu yang tidak kalah menggegerkannya, yaitu tentang pengungkapan bukti sejarah yang menyatakan bahwa Taj’mahal pada dasarnya adalah sebuah kuil Hindu untuk dewa Siva (Tejo Himalaya) yang direbut oleh Mogul.

Tanda Kehidupan di Planet Mars

Tanda Kehidupan di Planet Mars

dengan adanya penelitian tersebut, semakin bertambah bukti kebenaran Kitab Suci Veda. yang menerangkan tidak hanya tentang kehidupan di bumi, bahkan dilangitpun sudah tertulis dalam Weda. jadi apa yang mesti kita ragukan tentang kebenaran Weda? apakah layak kita menyandingkan kitab suci kita dengan "kitab suci Agama Lain" yang hanya membicarakan kenikmatan di bumi saja, tanpa memberikan pandangan kedepan tentang "Semesta" ini, yang oleh beberapa peneliti, baru ditemukan secuil pengungkapan fakta dari ayat-ayat suci Weda.
masih layakkah berdebat Agama Langit dan Agama Bumi?
bila tiada pembuktian tentang isi langit dan bumi?
Kitab Suci yang hanya sekilas menjelaskan isi bumi, apakah benar wahyu Tuhan Maha Penguasa?

untuk Agama yang mengamalkan sistim Bakti Marga dengan 1 Kiblat, masih relefankah Agama tersebut? yang menjadi pertanyaan, dimana kiblat sembahyang saat kita berada diluar angkasa?
mari kita pikirkan, mana yang lebih teruji kebesarannya dengan penelitian di bumi dan diluar bumi ini.
berikut ini bukti kebenaran dan kehebatan WEDA yang tidak hanya meramalkan masa depan, tetapi memberikan sumbangsih pengetahuan Semesta, yang kitab lain belum bisa mengungkapkannya.
sebelum kita membaca hasil temuan para Ahli Astronomi hebat di jaman sekarang, baiknya kita baca dahulu ayat Weda yang diuji kebenarannya oleh para ahli astronomi dunia, yang notabene beragama Non-Hindu.

Cara belajar Weda Hindu

Cara belajar Weda Hindu

Ada orang yang berpendapat bahwa memahami ajaran Weda adalah sangat susah karena ada hal-hal yang memang sulit untuk dimengerti. pendapat ini memang sebagian ada benarnya kan ketika para tetua menyampaikan gagasan untuk mulai memaparkan ajaran weda dengan lebih ringan agar lebih mudah dipelajari, ada salah seorang teman yang nyeletuk;

  • siapa yang (boleh) membaca kitab suci weda?
  • bukankah kitab suci Weda sangat sulit dipahami?
  • ah... janganlah kita terpengaruh pola pikir agama lain!
  • bukankah setiap orang tidak boleh membaca weda?
  • mengapa sedikit-sedikit harus kembali merujuk ke kitab suci?
  • bukankah lontar-lontar warisan leluhur sudah cukup untuk menjadi pedoman?

terhadap pernyataan teman itu, kami benar-benar terkesima, apakah saya dan teman-teman lainnya telah salah langkah? bukankah Weda harus dipahami oleh semua orang, setiap umat manusia. Kitab Suci Weda jelas-jelas mengamalkan hal tersebut;
yethemam vacam kalyanim avadani janebyhah,

brahma rajanyabhyam sudraya caryaya,
ca svaya caranaya ca (Yayurweda XXVI.2)
artinya:
hendaknya disampaikan sabdha suci ini ke seluruh umat manusia, cendikiawan-rohaniawan, raja/pemerintahan, masyarakat, para pedagang, petani dan para buruh, kepada orang-orangku dan orang asing sekalipun.