Perjalanan Puri Karangenjung
Sri Nararya Kresna Kepakisan adalah Arya ing Kediri (Aryeng Kediri) anak dari Sri Sastra Jaya, raja Kediri yang memerintah tahun 1258 – 1271 M. Sebagai Kerajaan taklukan Majapahit, maka gelar-gelar seperti yang dipakai oleh para leluhurnya (Erlangga dan raja berikutnya) sudah barang tentu tidak boleh digunakan lagi.
Gelar Sri Nararya yang disandangnya adalah juga pencerminan kalau beliau adalah keturunan Raja Kediri.
- Sri adalah merupakan cerminan gelar para Raja Kediri sebagai leluhur beliau.
- Nararya berarti yang mulia diantara orang-orang atau keturunan raja.
- Arya berarti terhormat, terpandang, mulia atau ningrat. (Suhardana, 2005 : 34).
Pada waktu Dalem memegang tampuk pemerintahan di Bali bangsawan yang paling penting adalah patih, yakni tangan kanan dan sekaligus penasehat Dalem. Semua patih berasal dari keturunan Klan Arya Kepakisan dan di dalam hirarki mereka menduduki posisi kedua ; hanya Dalem dari Gelgel saja yang menjadi atasan mereka. Raja-raja Mengwi selanjutnya menelusuri garis keturunannya kedalam klan Arya Kepakisan ini (Henk Schulte Nordholt, 2006 : 24 – 25).
Sri Nararya Kresna Kepakisan mempunyai dua orang putra, masing-masing bernama:
- Pangeran Nyuhaya (Kiayi Agung Nyuh Aya) dan
- Pangeran Made Asak.
Pangeran Nyuhaya mempunyai dua orang istri
dari istri pertama lahir :
- Kiyai Petandakan,
- Kiyai Satra,
- Kiyai Pelangan,
- Kiyai Akah,
- Kiyai Keloping,
- Kiyai Cacaran,
- Kiayi Anggan dan
- Kiayi Ayu Adi (wanita).
Sedangkan dari istri kedua lahir :
- I Gusti Wayahan Nyuhaya,
- I Gusti Nengah Nyuhaya dan
- I Gusti Ketut Nyuhaya.