Google+
Tampilkan postingan dengan label Puri Karangenjung. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Puri Karangenjung. Tampilkan semua postingan

Puri Karangenjung - Babad Mengwi

Puri Karangenjung - Babad Mengwi

I Gusti Agung Nyoman Sengguan yang berstana di Puri Karangenjung, mempunyai istri dua orang, yaitu 
dari I Gusti Ayu Raka memiliki dua orang anak, masing-masing bernama:

  • I Gusti Agung Putu Karang
  • I Gusti Agung Gede Rai. 

dari Siluh Made Rai berasal dari Desa Sobangan dan memiliki seorang putra bernama 

  • I Gusti Agung Nyoman Tanjal.

Sekarang tersebutlah pula I Gusti Ketut Adi yang bersemayam di Desa Sembung; beliau menurunkan

  1. I Gusti Agung Putu Gde Kengetan, 
  2. I Gusti Agung Ayu Raka dan 
  3. I Gusti Agung Ayu Nyoman Rai.

Adapun I Gusti Agung Putu Gde Kengetan, setelah dewasa diangkat menjadi Manca Sembung-Kerangjung oleh Sri Baginda Raja Menguraja dengan pembantu-pembantunya I Gusti Agung Putu Karang dan I Gusti Agung Gde Rai di Karangenjung.

Sekarang disebutkan isteri-isterinya I Gusti Agung Putu Gde Kengetan yang sama-sama sudah mengadakan putera-putera mereka masing-masing adalah :
dari Sayu Putu Mugelik dari Jero Tambangan Sibang Shrijati berputera:

  1. I Gusti Agung Putu Gde Kengetan Berata, 
  2. I Gusti Agung Ngurah Gde Geriya, 
  3. I Gusti Agung Rai Anom dan 
  4. I Gusti Agung Ayu Ketut Rai. 

Ni Jero Siulan dari Banjar Belangpande Sembung melahirkan:

  • I Gusti Agung Putu Oka.

Ni Jero Jasa dari Banjar Pasekan Sembung, melahirkan:

  • I Gusti Agung Nyoman Kuta, dan 
  • sebelumnya sudah mengangkat seorang putera bernama I Gusti Agung Made Gerya, Putera dari I Gusti Agung Gde Rai di Karangenjung.

Adapun I Gusti Agung Ngurah Gde Griya diangkat anak oleh I Gusti Agung Ayu Rai bibi beliau yang sampai tua tidak mau bersuami; karena dikecewakan oleh pacar beliau dari Banjar Semu.

Babad Mengwi Puri Karangenjung

Perjalanan Puri Karangenjung

Sri Nararya Kresna Kepakisan adalah Arya ing Kediri (Aryeng Kediri) anak dari Sri Sastra Jaya, raja Kediri yang memerintah tahun 1258 – 1271 M. Sebagai Kerajaan taklukan Majapahit, maka gelar-gelar seperti yang dipakai oleh para leluhurnya (Erlangga dan raja berikutnya) sudah barang tentu tidak boleh digunakan lagi. 

Gelar Sri Nararya yang disandangnya adalah juga pencerminan kalau beliau adalah keturunan Raja Kediri. 

  • Sri adalah merupakan cerminan gelar para Raja Kediri sebagai leluhur beliau. 
  • Nararya berarti yang mulia diantara orang-orang atau keturunan raja. 
  • Arya berarti terhormat, terpandang, mulia atau ningrat. (Suhardana, 2005 : 34).

Pada waktu Dalem memegang tampuk pemerintahan di Bali bangsawan yang paling penting adalah patih, yakni tangan kanan dan sekaligus penasehat Dalem. Semua patih berasal dari keturunan Klan Arya Kepakisan dan di dalam hirarki mereka menduduki posisi kedua ; hanya Dalem dari Gelgel saja yang menjadi atasan mereka. Raja-raja Mengwi selanjutnya menelusuri garis keturunannya kedalam klan Arya Kepakisan ini (Henk Schulte Nordholt, 2006 : 24 – 25).

Sri Nararya Kresna Kepakisan mempunyai dua orang putra, masing-masing bernama:

  1. Pangeran Nyuhaya (Kiayi Agung Nyuh Aya) dan 
  2. Pangeran Made Asak.


Pangeran Nyuhaya mempunyai dua orang istri 
dari istri pertama lahir : 

  1. Kiyai Petandakan, 
  2. Kiyai Satra, 
  3. Kiyai Pelangan, 
  4. Kiyai Akah, 
  5. Kiyai Keloping, 
  6. Kiyai Cacaran, 
  7. Kiayi Anggan dan 
  8. Kiayi Ayu Adi (wanita). 

Sedangkan dari istri kedua lahir : 

  1. I Gusti Wayahan Nyuhaya, 
  2. I Gusti Nengah Nyuhaya dan 
  3. I Gusti Ketut Nyuhaya.