Google+
Tampilkan postingan dengan label Mencari Tuhan. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Mencari Tuhan. Tampilkan semua postingan

Mencari Tuhan Sebelum Mencari Agama

Mencari Tuhan Sebelum Mencari Agama

Mencari Tuhan Sebelum Mencari Agama

Mungkin selama ini saya terlalu sibuk mencari agama yang benar, tetapi lupa bertanya: apakah saya sudah mencari Tuhan yang benar?

Saya mulai menyadari bahwa hampir semua perdebatan agama berpusat pada epistemologi: kitab mana yang paling otoritatif, nabi siapa yang paling benar, tradisi mana yang paling tua, atau siapa yang memiliki wahyu yang paling sah. Semua itu penting, tetapi semuanya masih berbicara tentang bagaimana manusia mengetahui Tuhan, bukan apa hakikat Tuhan itu sendiri.

Padahal, jika Tuhan benar-benar ada, hakikat-Nya tidak mungkin berubah hanya karena manusia menulis kitab, membuat tafsir, mendirikan institusi, atau menyebarkan suatu narasi. Yang berubah hanyalah cara manusia memahami Tuhan, bukan Tuhan itu sendiri. Karena itu, saya ingin menggeser titik awal pencarian: bukan lagi dimulai dari agama, tetapi dari ontologi—mencari Realitas Fundamental yang menjadi dasar dari seluruh keberadaan.

mencari tuhan

Untuk sementara, saya memilih menanggalkan semua nama. Bukan karena menolak agama, tetapi agar tidak terjebak oleh prasangka yang dibawa oleh bahasa. Sebelum menyebut Allah, Yahweh, Yesus, Krishna, Tao, atau nama lainnya, saya ingin bertanya terlebih dahulu: seperti apakah Realitas yang layak disebut Tuhan? Jika hakikat itu berhasil ditemukan melalui penyelidikan filosofis, barulah saya akan kembali membaca kitab-kitab suci untuk melihat sejauh mana masing-masing tradisi menggambarkan Realitas tersebut.

Sebagai pengingat bagi diri sendiri, saya menetapkan sebelas syarat minimum yang menurut saya layak diuji terhadap setiap konsep ketuhanan.

  1. Apakah Realitas itu ada dengan sendirinya, tanpa bergantung pada apa pun?

  2. Apakah Ia tidak mempunyai penyebab, sehingga tidak memerlukan penjelasan dari sesuatu yang lebih tinggi?

  3. Apakah Ia benar-benar menjadi dasar seluruh keberadaan, bukan sekadar bagian dari alam semesta?

  4. Apakah Ia harus tunggal, sehingga tidak ada dua realitas absolut yang saling membatasi?

  5. Apakah Ia tak terbatas, tidak dibatasi oleh ruang, ukuran, atau kondisi apa pun?

  6. Apakah Ia melampaui ruang dan waktu, sehingga ruang dan waktu justru bergantung pada-Nya?

  7. Apakah Ia tidak bergantung pada materi, sehingga materi bukanlah syarat keberadaan-Nya?

  8. Apakah konsep tentang-Nya koheren secara logis, bebas dari kontradiksi internal?

  9. Apakah Ia mampu menjelaskan realitas secara menyeluruh, bukan hanya sebagian kecil dari kenyataan?

  10. Apakah keberadaan-Nya tidak bergantung pada bahasa, budaya, sejarah, atau satu tradisi tertentu, sehingga tetap menjadi Realitas yang sama bagi seluruh umat manusia?

  11. Yang terpenting, apakah saya mampu membedakan antara Tuhan sebagai Realitas Ontologis dengan konsep, narasi, simbol, atau representasi manusia tentang Tuhan?

Pertanyaan terakhir inilah yang menurut saya paling sering terlupakan. Mungkin selama ini saya lebih banyak berdebat tentang representasi daripada hakikatnya. Saya membela nama, simbol, kitab, atau tafsir tertentu, padahal semuanya mungkin hanyalah jendela yang mengarah kepada sesuatu yang jauh lebih besar daripada bahasa manusia.

Karena itu, saya tidak ingin lagi memulai pencarian dengan pertanyaan, "Agama mana yang paling benar?" Saya ingin memulai dengan pertanyaan yang lebih mendasar, yang tidak berpihak kepada siapa pun.

Penjelasan singkatnya, pertanyaan-pertanyaan ini mencoba menggali seperti apa sifat dasar dari Realitas yang paling fundamental.

Apa syarat Realitas Fundamental?

soal syarat Realitas Fundamental: biasanya dipahami sebagai sesuatu yang ada dengan sendirinya, tidak bergantung pada apa pun, dan menjadi dasar bagi semua yang ada.

Haruskah Ia tunggal?

apakah harus tunggal: banyak filsuf berpendapat bahwa Realitas fundamental harus satu, karena jika ada lebih dari satu, masing-masing akan saling membatasi dan tidak lagi benar-benar absolut.

Haruskah Ia berkesadaran?

apakah harus berkesadaran: ini masih diperdebatkan. Ada yang melihat kesadaran sebagai sifat dasar realitas, sementara yang lain menganggap kesadaran muncul dari sesuatu yang lebih fundamental.

Haruskah Ia personal, atau justru melampaui kategori personal dan impersonal?

apakah personal atau melampaui kategori itu: sebagian tradisi melihat Tuhan sebagai pribadi (punya kehendak dan relasi), sementara yang lain menganggap Realitas tertinggi melampaui konsep personal maupun impersonal.

Bagaimana hubungan Realitas Fundamental dengan alam semesta, kehidupan, dan kesadaran?

hubungan dengan alam semesta, kehidupan, dan kesadaran: pertanyaannya adalah apakah semua itu berasal dari Realitas tersebut, bergantung padanya, atau bahkan merupakan manifestasi langsung darinya.

Saya belum mengklaim telah menemukan jawabannya. Justru saya ingin menjaga pertanyaan-pertanyaan ini tetap hidup. Sebab mungkin, perjalanan menuju kebenaran tidak dimulai ketika kita merasa telah menemukan Tuhan, melainkan ketika kita berani mempertanyakan kembali setiap konsep tentang Tuhan yang selama ini kita warisi.

Barangkali, di balik seluruh kitab suci, tradisi, dan peradaban manusia, terdapat satu Realitas yang sama—Realitas yang tidak membutuhkan pembelaan, tidak bergantung pada nama, dan tidak berubah oleh sejarah. Jika demikian, maka tugas filsafat bukan menciptakan Tuhan, melainkan menyingkap sejauh mungkin tabir-tabir yang menutupi-Nya.

Menurutku artikel ini bisa menjadi "kompas filosofis" yang selalu mengingatkanmu agar setiap kali membaca kitab suci atau mendengar suatu ajaran, pertanyaan pertamamu bukan lagi "siapa Tuhan menurut kitab ini?", melainkan "apakah konsep ini memenuhi syarat-syarat Realitas Fundamental?" Dengan begitu, penyelidikanmu tetap berpusat pada ontologi, bukan semata pada narasi.

Siapakah Tuhan Orang Hindu Bali?

Siapakah Tuhan Orang Hindu Bali?

banyaknya gunjingan dari orang non-Bali, membuat gerah telinga yang selalu menanyakan tentang ketuhanan orang Hindu Bali. banyak yang bertanya kepada kita:
Siapa sih sebenarnya Tuhan Orang Bali?
Kenapa orang bali memiliki banyak tuhan?
nah, untuk menjawab pertanyaan umum Siapakah Tuhan Orang Hindu Bali, saya menjoba memberikan gambaran tentang sosok TUHAN, yang oleh orang hindu sering disebut dengan "Brahman".

Pertanyaan awal yang sering muncul jika kita menyatakan keberadaan tuhan yakni: Siapakah tuhan itu?
di dalam kitab Brahmasutra I.I.2 disebutkan bahwa "Tuhan ialah merupakan darimana asal mula semua ini". Jadi Tuhan Yang Maha Esa merupakan asal atau sumber dan sekaligus kembalinya seluruh alam semesta beserta isimnya ini. Di dalam keyakinan agama Hindu, Brahman atau Tuhan hanyalah satu, esa, tidak ada duanya, namun karena kebesaran dan kemuliaan-Nya, para Rsi dan orang-orang yang bijak menyebutnya dengan beragam nama.

Apakah Tuhan Semua Agama Sama?

Apakah Tuhan Semua Agama Sama?

apakah tuhan semua agama sama? jawabanya IYA, memang benar adanya tuhan semua agama adalah tuhan yang sama adanya karena tuhan dihadirkan oleh manusia dengan rasa karena rasa adalah sama terbebas dari bahasa manusia dan rasa ketuhanan hadir dalam jiwa manusia sejak dulu kala ketika manusia belum mengenal peradaban perkumpulan dalam satu wilayah (desa/kota/negara) bahkan ketika manusia tinggal di hutan dalam gua manusia telah merasakan kehadiran tuhan esa mereka memuja tuhan dalam kebesaran dewa dan upaya pendekatan tuhan dipersonifikasikan.

Gambaran Tuhan dari "rasa" diejawantahkan dalam kata hingga tuhan pun menjadi terwujud dengan berbagai personifikasi berdasarkan pandangan mulia pemujanya. dalam esensi tuhan yang hakiki dirasa berubah menjadi logika ketika logika tak mampu mencerna dan dipaksa bekerja maka lahirlah fanatisme. ini akibat tak mampu merasa dan mencerna tuhan akhirnya dikapling dikuasai oleh agama-agama masing-masing memegang dan menamai tuhan mereka mereka klaim dan anggap hanya tuhan mereka benar adanya.

itulah esensi keyakinan dan keimanan terhadap tuhan pula namun ketika masing-masing agama saling menyoal sesamanya pada saat itu tuhan telah dibonsai dipenjara oleh agama karena sesungguhnya dari asal agama adalah rasa yang berkembang akibat budaya ratusan tahun melembaga dan lembaga agama menentukan tuhan dalam aneka nama yang semua nama tuhan adalah pendekatan saja dan esensinya tuhan semua agama adalah sama tuhan semua agama adalah benar dan tuhan esa yang hanya bisa dirasa dalam hati dan jiwa
artikel ini tyang kutip dari artikel mediahindu.net dengan judul yang sama, yaitu Apakah Tuhan Semua Agama Sama. semoga dengan artikel ini dapat menambah wawasan dari para pembaca semuanya, khususnya semeton hindu bali. 

Persamaan Pendapat

Pada dasarnya semua agama mengajarkan keyakinan seperti dibawah ini : Tuhan adalah yang menciptakan semesta alam dan seisinya. Tuhan adalah yang menghidupi semua mahluk hidup. Tuhan adalah yang berkuasa atas semesta alam dan semua mahluk hidup. Tuhan adalah yang menjadi penyembahan dan pemujaan umat manusia. Tuhan adalah yang Maha Esa. Khusus di Indonesia semua agama sepakat dengan butir kelima yang menjadi sila pertama dari Pancasila yaitu KeTuhanan Yang Maha Esa.Akan tetapi apakah masing masing umat beragama memahami bahwa Tuhannya berbeda dengan Tuhan umat beragama lain? Jawabannya perlu pembahasan dibawah ini.

Perbedaan Pendapat

Perbedaan bahasa. Masing masing bangsa (umat) menyebut Tuhan sesuai dengan bahasanya, seperti : Yahudi menyebut dengan nama Yahweh, Arab dengan nama Allah, Hindia – Brahman, Inggris – God, Yunani – Deo, Bali – Sang Hyang Widhi, Sunda ada yang menyebut Gusti, Jawa dengan berbagai sebutan seperti Pangeran, Hyang Manon, Hyang Widhi, Suksma Kawekas, dll. Termasuk bangsa bangsa lain diseluruh dunia ini menyebut sesuai dengan bahasanya.

Pertanyaannya adalah apakah kalau sebutannya berbeda, dapat dikatakan Tuhannya juga berbeda? Jawabannya perlu uraian dibawah ini.

siapa Tuhan mu? apakah dewa itu Tuhan-mu?

siapa Tuhan mu?
apakah dewa itu Tuhan-mu?

banyak sekali ada pertanyaan seperti itu kepada saya sebagai penganut gama tirtha hindu.
banyak yang menghina, melecehkan dan mulai menyamakan Tuhan ku bagai setan di pandangan mereka para penanya yang mungkin terlalu "kuper" yang hanya tau 1 buku dan 1 sumber saja... bagai Mahasiswa yang membuat Skripsi hanya mengandalkan 1 buku sumber, yang dia percaya sudah lengkap dan valid.

baiklah.. untuk menjawab hal diatas, tentang siapakah Tuhan saya...? 
silahkan simak tanya jawab singkat berikut ini. ini hanya sekilas info tentang keyakinan, semoga dengan tulisan ini bisa membuka pandangan para pembaca yang budiman.

Teman (T) : Orang Hindu menyembah banyak Dewa, ya ? Hindu Politeis.
Anak Hindu (AH) : Di dalam Weda ada kalimat terkenal yang menyatakan sbb: “Ekam Sat Vipra Bahuda Vadanti, “ artinya “ Tuhan itu satu, tetapi orang bijaksana (para maharsi) menyebutkan dengan berbagai nama. Pernyataan di dalam Weda ini sudah ada jauh sebelum lahirnya agama Kristen dan Islam.

Falsafah Hindu: Delapan Mutiara Weda

Falsafah Hindu: Delapan Mutiara Weda

Oleh
Mpu Sri Rastra Jaya Bhuwana

1. Grahastha:

Rumah Tangga Rukun, Sejahtera dan Bahagia

Kunci dari kerurunan adalah ikatan lahir bathin. antara suami istri diwujudkan dengan sikap saling asah, saling asih dan saling asuh.

  1. Saling asah dimaksudkan dengan saling memberikan pembelajaran, saling memberikan koreksi, saran dan masukan.
  2. Saling asih dimaksudkan dengan saling mengasihi, menyayangi, mencintai, menghargai, menghormati.
  3. Saling asuh dimaksudkan dengan saling memelihara, saling memperhatikan, saling menjaga, saling bantu-membantu.


Kunci Kesejahteraan adalah caranya berusaha memeperoleh sesuatu, hendaknya berdasarkan dharma, kemudian dibagi tiga, yang satu bagian sarana mencapai dharma, bagian yang kedua, sarana untuk memenuhi kama, bagian yang ketiga sarana melakukan kegiatan usaha dalam bidang artha agar berkembang kembali, atau ditabung. (Sarasamuccata, Sloka 20.261-262).