Google+
Tampilkan postingan dengan label Panca Datu. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Panca Datu. Tampilkan semua postingan

Tembok Panyengker

Tembok Panyengker

Rumah adat Bali yang lengkap merupakan suatu komplek perumahan yang harus dapat menunjang sebagian besar aspek kehidupan penghuninya. Merupakan suatu syarat juga bahwa perumahan adat Bali itu dilingkari dengan tembok, yang dikenal dengan istilah "Tembok Panyengker". 
Tembok panyengker, agaknya, memiliki makna lebih, ketimbang sekadar pagar pembatas. Lantaran panyengker mengandung pengertian "mengurung" (kurung = sengker), melindungi atau menjaga isi yang ada di dalam, memberikan kesentosaan, ketentraman, dan kedamaian.
Pelapisan makna apa yang bisa disimak dari tembok panyengker?
tembok panyengker dengan Padurasa
Tembok penyengker merupakan batas wilayah (rumah atau pura) yang satu dengan yang lainnya. Baik Pra, rumah atau banjar semuanya dikelilingi pagar tembok, Pagar masif (penyengker) yang dipadu candi bentar, kori atau kori agung adalah bagian yang tidak terpisahkan, sebagai ekspresi citra tata ruang yang tinngi nilai budayanya. Penyengker dipercaya sebagai wujub perlindungan empat kekuatan alam (air,api, tanah, udara) yang menempati sudut-sudut pekarangan. Dalam hal ragam hias sebagai cirri khas arsitektur Bali mengambil tiga bentuk kehidupan makhluk bumi (manusia, flora dan fauna). Unsur-unsur estetika, etika dan logika mendasarai pengolahan dan penempatan ragam hias, denagn mengingat nilai–nilai ritual yang disandangnya.

Makna Panca Datu

Makna Panca Datu

Bila kita membaca kisah perjalanan Maharsi Markandeya tampak jelas dimana keberhasilannya untuk merabas Pulau Bali adalah dengan membawa Panca Datu dan menanamnya di Pura Basukian atau Besakih sekarang. Kok bisa hanya membawa lima jenis logam dapat selamat merabas Pulau Bali yang dulunya terkenal angker dengan roh-roh jahatnya ?

Ini merupakan petunjuk/wahyu yang didapat oleh beliau di lereng Gunung Raung (Jatim) atas petunjuk Dewa Brahma dalam manifestasi beliau sebagai Sang Hyang Pasupati. 
Ada apa dengan Panca Datu? 
Seperti yang anda ketahui panca Datu adalah lima jenis logam mulia yang dipakai biasanya ditanam di tanam sebelum membangun suatu pura. Upacaranya dinamakan "mendem pedagingan (mengisi inti). 
Logam-logam itu antara lain adalah Emas, Perak, Besi,Perunggu dan timah atau beberapa sumber menjelaskan logam-logam tersebut adalah: mirah permata, emas, perak, perunggu dan baja. Dalam postingan ini kami coba mengupas arti panca datu yang dikomparasi dari kajian kitab Weda, Lontar, ilmiah (sebagai sumber tertulis) dan wedangga (sumber lisan wahyu/tutur). Tujuannya bukan mencari kelemahan atau mengkritik satu sama yang lain, melainkan belajar untuk mengupas nilai-nilai Agama yang dapat digunakan dasar/isnspirasi untuk mengarungi samudera kehidupan yang luas ini.