Google+
Tampilkan postingan dengan label Sekte Pasupata. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Sekte Pasupata. Tampilkan semua postingan

dvaita dari lakulisa pasupata

Dvaita dari lakulisa pasupata

Sistem filsafat Lakulisa Pasupata berbeda dengan Pasupata yang bersifat Dualis, walaupun keduanya mengakui adanya 5 kategori utama, yaitu:
  1. Karana,
  2. Karya,
  3. Yoga,
  4. Viddhi, dan
  5. Duhkhanta. 
Perbedaan system ini dengan Pasupata dualis tempaknya telah di tunjukkan dalam ulasannya yang disebut Ratna Tika pada Gana Karika dari Bhasarvajna, ketika ia membahas tentang perbedaan Lakulisa Pasupata dengan sistem filsafat lainnya (Sastrantare).Pernyataan tentang gambaran yang berbeda itu kelihatannya menjadi sangat perlu, karena hal itu di kutip oleh Madhava dalam Sarva Darsana Samgraha-nya. Hal ini dapat di nyatakan sebagai berikut:
  1. Pada sistem filsafat lain, masalah pembebasan tiada lain merupakan akhir dari segala kesengsaraan, tetapi menurut filsafat Lakulisa Pasupata, pembebasan merupakan pencapaian keunggulan atau kesempurnaaan ILahi.
  2. Di sini perbedaan Lakulisa Pasupata dengan Pasupata dualis dinyatakan; karena Lakulisa tampaknya mengawali Pasupata Sutra-nya dengan objek tentang pernyataan perbedaan dari sistem filsafatnya dengan Pasupata yang lebih awal, karena tujuan karya tersebut, seperti yang di nyatakan dalam sutra pertamanya, adalah untuk menghadirkan disiplin spiritual yang berguna dalam penyatuan dengan Tuhan, seperti yang di kemukakan oleh Tuhan sendiri (athatah pasupateh pasupatam yogavidhim vyakhyasyamah).
    Kita mengetahui bahwa konsepsi pasupata tentang pembebasan di pakai oleh Nyaya dan Vaisesika, karena Nyaya sutra dari rsi Gautama secara jelas menunjukkannya dalam sutra yang ke dua dan rsi Vatsyayana dalam ulasannya memperjelas hal itu ketika ia mengatakan :
    katham buddhiman sarva duhkhocchedam sarvaduhkha samvidam apavargam na rocayet
    yang artinya
    Bagaimana seorang bijak dapat tidak menyukai pembebasan (apavarga) ini, yang di cirikan dengan penghentian total dari segala kesengsaraan”.

Saiwa Wisistadwaita

Saiwa Wisistadwaita

Pada abad ke-11 Masehi terdapat usaha-usaha yang dikonsentrasikan dalam menjembatani jurang yang memisahkan Saivisme dan Vaisnavaisme dengan Brahmanisme. Srikantha dan Ramanuja, adalah 2 orang sarjana besar yang mengusahakan tugas ini seperti yang ditunjukkan dalam 2 ulasan mengenai Vedanta Sutra, yaitu;
  1. Brahma-mimamsa bhasya dan
  2. Sribhasya. 
Dalam rangkaian penafsirannya tentang Pasupatadikarana, yang menurut Sankara, menyalahkan filsafat Saiwa Pasupata. Srikantha mengemukakan bahwa tak ada pertentangan antara Veda dengan Saiwagama dan keduanya sama-sama berwewenang. Keduanya telah bertindak dari sumber terakhir dari segala sesuatu, yaitu Brahman atau Para Siva, dan oleh karena itu layak untuk membicarakan Veda juga sebagai “Saiwagama”.

Siwa Lingga dalam Siwa Sidhanta

Siwa Lingga dalam Siwa Sidhanta

Membuat Siwa Lingga sebenarnya merupakan penerapan sekte Pasupata, yang kemudian melebur menjadi satu dalam konsep Siwa Sidhanta atau Saiva siddhanta. Dalam susastra Hindu di Bali banyak dijumpai ajaran Siwa Sidhanta. 
peninggalan Lingga Yoni
Ajaran Saiwa Siddhanta di Bali merupakan kelanjutan dari ajaran Sekte Saiva Gama yang masuk ke Indonesia sekitar abad ke 4. Namun dengan perpaduan antara konsep-konsep Saiva, Tantra, Buddha Mahayana, Trimurthi dan juga paham Waisnawa maka lahirlah konsep Saiva Siddhanta Indonesia. Adapun konsep ajaran Saiva Siddhanta Indonesia lebih banyak berpedoman pada konsep ajaran lokal serta ajaran yang telah berkembang sebelumnya seperti konsep Saiva, konsep Waisnawa, konsep Tantra, konsep Tri Murthi, bahkan konsep Buddha Mahayana yang kesemuanya dipadukan sehingga menghasilkan konsep-konsep yang dituangkan ke dalam lontar-lontar yang kemudian menjadi dasar konsep Saiva Siddhanta Indonesia, konsep-konsep yang dimaksud adalah Bhuwana kosa, Wrhaspati tattwa, Tattwa Jnana, Ganapati tattwa, bhuwana Sang Ksepa, Siwa Tattwa Purana, Sang Hyang Maha Jnana, dan sebagainya. Dari sekian banyak  susastra Hindu di Bali, sesuai dengan sumbernya; maka sangat kaya dengan nilai-nilai filsafat Hindu, terlebih lagi dengan ajaran Saiva Siddhanta.

Sekte Saiwa - Pemuja Siwa

Sekte Saiwa - Pemuja Siwa

seperti yang telah dibahas sebelumnya dalam "Sejarah Sekte di Bali", berikutnya akan dicoba untuk memberikan informasi yang lebih mendalam tentang sekte saiwa.

kenyataan dibali, sekte saiwa memang tidak ada, yang tersisa hanyalah sekte siwa sidhanta, sedangkan cabang sekte pemuja dewa siwa lainnya, telah melebur kesemuanya dalam sekte siwa sidhanta tersebut. 

Penganut Hindu dari sekte Siwa meyakini Tuhan adalah Siwa. Salah satu bentuk pemujaan Siwa yang dilakukan oleh pada Pendeta Siwa adalah dengan mengucapkan mantra yang disebut sebagai Mantra Catur Dasa Siwa, yakni empat belas wujud Siwa.

Sekte Waisnawa dan Tri Sadaka

Sekte Waisnawa dan Tri Sadaka

Menurut Dr. Goris, sekte-sekte yang pernah ada di Bali setelah abad IX meliputi Siwa Sidhanta, Brahmana, Resi, Sora, Pasupata, Ganapatya, Bhairawa, Waisnawa, dan Sogatha (Goris, 1974: 10-12).

Di antara sekte-sekte tersebut, yang paling besar pengaruhnya di Bali sekte Siwa Sidhanta.Ajaran Siwa Sidhanta termuat dalam lontar Bhuanakosa.

Sekte Siwa 

memiliki cabang yang banyak. Antara lain:
  • Pasupata, 
  • Kalamukha, 
  • Bhairawa, 
  • Linggayat, dan 
  • Siwa Sidhanta yang paling besar pengikutnya.

Kata Sidhanta berarti inti atau kesimpulan.Jadi Siwa Sidhanta berarti kesimpulan atau inti dari ajaran Siwaisme.Siwa Sidhanta ini megutamakan pemujaan ke hadapan Tri Purusha, yaitu 

Sejarah Sekte-Sekte di Bali

Sejarah Sekte-Sekte di Bali

Sumber ajaran Agama Hindu adalah kitab suci catur veda. Syair-Syair kitab suci Weda Sruti disebut Mantra. Sedangkan syair-syair kitab Sastra weda disebut Sloka. Kitab suci Catur Weda itu terdiri dari 20389 Mantra. Empat kitab suci weda itu dipelajari oleh 1180 Sakha atau kelompok spiritual. 
  • Rg Weda dengan jumlah Mantra sebanyak 10552 dipelajari oleh 21 Sakha. 
  • Sama Weda dengan jumlah Mantra 1.875 dipelajari oleh 1000 Sakha.
  • Yajur Weda dengan jumlah Mantra 1975 Mantra dipelajari oleh 109 Sakha ,dan 
  • Atharwa Weda dengan jumlah Mantra 5.967 dipelajari oleh 50 Sakha.

SAMPRADAYA (sekta) lahir dari Upanisad

Setiap Sakha dibahas atas bimbingan Resi yang benar-benar menghayati Weda baik teori maupun praktek. Resi itu disebut Sadaka karena telah mampu melakukan Sadana atau mewujudkan ajaran suci Weda dalam kehidupannya sehari-hari. Orang yang mampu melakukan Sadana itulah yang disebut Sadaka. Sakha itu ibarat sekolah. Sedangkan kitab suci Weda itu ibarat “kurikulum” yang harus diterapkan oleh sekolah tersebut. Meskipun kurikulum yang diterapkan oleh setiap sekolah itu sama, pasti setiap sekolah itu memiliki ciri khas tersendiri yang membedakan satu sekolah dengan sekolah yang lainnya. Demikian jugalah halnya dengan proses mendalami kitab suci Weda sumber ajaran Hindu. Disamping itu Weda adalah kitab suci yang sangat memberikan kemerdekaan pada setiap orang yang meyakininya menyerap ajaran Weda sesuai dengan kebutuhan dan kemampuan masing-masing umat.
Dari system Sakha itulah melahirkan kitab-kitab Upanisad.