Google+
Tampilkan postingan dengan label Dewa Siwa. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Dewa Siwa. Tampilkan semua postingan

Siwa Lingga dalam Siwa Sidhanta

Siwa Lingga dalam Siwa Sidhanta

Membuat Siwa Lingga sebenarnya merupakan penerapan sekte Pasupata, yang kemudian melebur menjadi satu dalam konsep Siwa Sidhanta atau Saiva siddhanta. Dalam susastra Hindu di Bali banyak dijumpai ajaran Siwa Sidhanta. 
peninggalan Lingga Yoni
Ajaran Saiwa Siddhanta di Bali merupakan kelanjutan dari ajaran Sekte Saiva Gama yang masuk ke Indonesia sekitar abad ke 4. Namun dengan perpaduan antara konsep-konsep Saiva, Tantra, Buddha Mahayana, Trimurthi dan juga paham Waisnawa maka lahirlah konsep Saiva Siddhanta Indonesia. Adapun konsep ajaran Saiva Siddhanta Indonesia lebih banyak berpedoman pada konsep ajaran lokal serta ajaran yang telah berkembang sebelumnya seperti konsep Saiva, konsep Waisnawa, konsep Tantra, konsep Tri Murthi, bahkan konsep Buddha Mahayana yang kesemuanya dipadukan sehingga menghasilkan konsep-konsep yang dituangkan ke dalam lontar-lontar yang kemudian menjadi dasar konsep Saiva Siddhanta Indonesia, konsep-konsep yang dimaksud adalah Bhuwana kosa, Wrhaspati tattwa, Tattwa Jnana, Ganapati tattwa, bhuwana Sang Ksepa, Siwa Tattwa Purana, Sang Hyang Maha Jnana, dan sebagainya. Dari sekian banyak  susastra Hindu di Bali, sesuai dengan sumbernya; maka sangat kaya dengan nilai-nilai filsafat Hindu, terlebih lagi dengan ajaran Saiva Siddhanta.

Sekte Siwa Sidhanta pemuja Siwa

Sekte Siwa Sidhanta

Agama Hindu di India maupun agama Hindu di lain tempat misalnya di Jawa maupun di Bali tidak mempunyai perbedaan dalam inti keagamaannya yang berbeda hanyalah pada kulit luarnya saja yaitu tentang pelaksanaan upacaranya,sedangkan isinya dan intinya tetap sama. Ajaran Wedanya tetap abadi,intinya tidak berubah hanya bagian luarnya yang bervariasi, menyesuaikan dengan budaya setempat di mana agama itu berkembang. Ajaran ini berkembang di India Selatan dan  Indonesia terutama pada abab VII. Ajaran Siwa Sidhanta ini menekankan pada pemujaan Lingga dengan tokoh Tri Murti (Brahma,Wisnu dan Siwa) dan Tri Purusa (Prama Siwa,Sada Siwa dan Siwa).

Ajaran Siwa Sidhanta tentang konsepsi Tri Purusa atau Lingga ini diwujudkan juga dengan bangunan Padmasana di Bali. Perlu diketahui bahwa pengertian Tri Purusa dengan Tri Murti adalah berbeda. Karena Tri Purusa adalah lukisan Tuhan dalam arti posisi vertical (atas ke bawah) dimana Tuhan dilambangkan sebagai penguasa alam atas,alam tengah dan alam bawah (Prama Siwa, Sada Siwa dan Siwa). Sedangkan Tri Murti adalah lukisan Tuhan dalam posisi horizontal (mendatar) atau sebagai penguasa arah, yaitu arah laut ialah Brahma, arah gunung ialah Wisnu dan di tengah-tengah ialah Siwa.

Sekte Aghori makan mayat

Sekte Aghori makan mayat

Aghoris percaya bahwa Shiva diinduksi terbaik dan terburuk di dunia dan tidak ada yang profan, semuanya sakral bagi mereka. Oleh karena itu, apa sekte Hindu lainnya menganggap tidak dapat diterima atau tabu, yang Aghoris menerimanya – yang 'kekuatan gelap' atau 'kotoran' - membawa mereka ke tingkat kesadaran yang lebih tinggi. dibali sekte Aghori hampir mirip dengan Sekte Bhairawa hitam, yang didentikan dengan Panca MA-nya. Mari kita melihat sekilas kehidupan di India mengenai Sekte Aghori.
Sekte Aghori Memakan Mayat Dan Menjadikan Tulang Manusia Sebagai Hiasan
kehidupan Sekte Aghori di India
Sepanjang sejarah kehidupan manusia telah ada segudang praktek kultus dan sekte agama yang aneh, membuat teror, unik bahkan menjijikkan. Mereka melakukan ritual aneh, ritual yang mengganggu, atau keyakinan ekstrim, sebagian kelompok ini telah lama melakukan sesuatu yang misterius dan mengancam keselamatan orang di luar kelompoknya. Sebuah kelompok misterius yang yang mempunyai kebiasaan yang menakutkan, menebarkan kebencian, dan horor, adalah suku mistik aneh dan kanibal yang ada di India dan dikenal sebagai sekte Aghori, atau Sadhu Aghori.
Mereka mendandani diri dengan kain kafan dari mayat atau baju yang ditinggalkan oleh keluarga orang mati, mengolesi diri dengan abu mayat sebagai pelindung dari penyakit, merenungkan mayat dan mengkonsumsi segala sesuatu dari manusia atau hewan daging untuk ekskreta, urine, alkohol – semua bagian dari ritual Aghora, yang secara harfiah berarti non-menakutkan, dan Aghoris adalah praktisi.
Para Sadhu Aghori adalah bagian dari sekte pertapa Hindu, khususnya mereka yang beraliran Shaivites,dimana mereka mengabdikan diri untuk Dewa Siwa, Dewa kematian dan kehancuran yang sering digambarkan sebagai Dewa yang paling menakutkan, di dunia barat disebut sebagai "The Destroyer" dan "The Transformer"

Dewa Siwa menghancurkan Tripurasura

Dewa Siwa menghancurkan Tripurasura

OM Swastiastu,
Dengan memuja nama Tuhan Yang Maha Esa, semoga terwujudkan kedamaian dan kesejahteraan.

Melanjutkan bagian pembahasan tentang Sri Kalki Awatara dan Mahamadha dalam artikel  "Benarkah Nabi Muhammad SAW adalah Kalki Awatara?"
Mari kita menyimak kejadian sebelum Mahamadha hadir dari reinkarnasi Tripurasura dan berhasil bertemu dengan Raja Bhojaraja seperti yang disampaikan dalam Bhawisya Purana, berikut adalah apa yang terjadi sebelumnya seperti apa yang dijelaskan dalam Bhagawata Purana.

Tripusura adalah nama gabungan yang diberikan kepada tiga Asura dalam Purana atau sejarah Agama Hindu yaitu Widyunmali, Tarakaksha dan Wirayawana, yang ketiganya merupakan anak dari Asura Tarakasura. Tarakasura adalah seorang Asura yang berkeinginan menguasai Triloka dan dia meminta ketiga anaknya untuk memohon kekuatan kepada Dewa Brahma untuk mampu mengalahkan Siwa Mahadewa dan kemudian menguasai Triloka. Ketiga Asura tersebut mulai melakukan Tapa Bratha. Selama ratusan tahun mereka melakukan Tapa Bratha dengan berdiri pada satu kaki. Selama ribuan tahun berikutnya mereka hidup di langit dan melakukan Tapa Bratha. Untuk ribuan tahun selanjutnya mereka melakukan Tapa Bratha dengan berdiri menggunakan kepala mereka sebagai tumpuan.

Dewa Siwa - Mahadewa dengan Lingga dan Bulan Sabit

Dewa Siwa - Mahadewa dengan Lingga dan Bulan Sabit

Siwa (Dewanagari: शिव; Śiva) adalah salah satu dari tiga dewa utama (Trimurti) dalam agama Hindu. Kedua dewa lainnya adalah Brahma dan Wisnu. Dalam ajaran agama Hindu, Dewa Siwa adalah dewa pelebur, bertugas melebur segala sesuatu yang sudah usang dan tidak layak berada di dunia fana lagi sehingga harus dikembalikan kepada asalnya.
lebih lanjut tentang tri murti, silahkan baca: "Tri Murthi: Brahma Wisnu Siwa"
Oleh umat Hindu Bali, Dewa Siwa dipuja di Pura Dalem, sebagai dewa yang mengembalikan manusia dan makhluk hidup lainnya ke unsurnya, menjadi Panca Maha Bhuta. Dalam pengider Dewata Nawa Sanga (Nawa Dewata), Dewa Siwa menempati arah tengah dengan warna panca warna. Ia bersenjata padma dan mengendarai lembu Nandini. Aksara sucinya I dan Ya. Ia dipuja di Pura Besakih. Dalam tradisi Indonesia lainnya, kadangkala Dewa Siwa disebut dengan nama Batara Guru. Adya / Siwa / Pusat / Segala Warna (Cahaya) = peleburan kemanunggalan.

Dewa Siwa memiliki nama lain, diantaranya: Jagatpati, Nilakantha, Paramêśwara, Rudra, Trinetra serta nama lainnya yang dikenal dengan 108 Nama Dewa Siwa. Dalam tradisi Indonesia, kadangkala Siwa disebut Batara Guru atau Hyang Guru.
untuk lebih lengkap tentang ke-108 sebutan Dewa Siwa bisa dibaca di "mantra dewa siwa-108 nama gelar hyang Siwa"
Dewa Siwa memiliki sakti yang bernama Dewi Parwati, dikenal juga dengan sebutan Dewi Sati, Dewi Durga, Dewi Kali. dan dengan wahana (kendaraan) Lembu Nandini.

Mantra Dewa Siwa - 108 Nama Gelar Hyang Siwa

Mantra Dewa Siwa - 108 Nama Gelar Hyang Siwa

Hindu mengajarkan banyak cara dan jalan untuk mewujudkan kebahagiaan dalam hidup. Salah satu cara dan jalan tersebut adalah melalui pengucapan Japa Mantra. 

Menurut Agni Purana sebagaimana dikutif oleh Sadguru Sant Keshavadas memberikan batasan pengertian Japa yaitu berasal dari suku kata “ja” artinya menghancurkan kelahiran dan kematian dan suku kata “pa “artinya menghancurkan semua dosa.  Jadi japa adalah menghancurkan semua dosa dan meniadakan lingkaran kelahiran kematian serta membebaskan jiwa dari keterikatan duniawi. 
Japa juga berarti pengulangan mantra yang bersifat pikiran/mental. Jadi Japa Mantra adalah pengulangan nama –nama Tuhan atau aksara-aksara Suci.

Sedangkan mantra yang sering dilantunkan dalam “Japa Mantra” merupakan mantra-mantra untuk memuja kebesaran-NYA, antara lain : Mantra Siwa dengan melantunkan nama-nama/sebutan Siwa, Hare Krisna (Hare Krisna Hare Krisna Krisna Krisna Hare Hare, Hare Rama Hare Rama Rama Rama Hare Hare), ataupun Gayatri Mantam. 

Biasanya dalam melaksanakan Japa Mantra digunakan Genitri sebagai medianya, ataupun bisa menggunakan tangan apabila tidak tersedia Genitri. Tangan kanan digunakan untuk menghitung satuan, sedangkan tangan kanan digunakan untuk menghitung puluhan. Satu putaran sebanyak 108 kali.

108 Japa Mantra yang ditujukan untuk Dewa Siwa yang bergelar Sang Hyang Mahadewa

Lontar Kala tatwa terjemahan

Lontar Kala tatwa terjemahan

om awighnamastu Semoga tiada ada rintangan dari berhasil.

Inilah Kala Tattwa yaitu riwayat Bhatara Kala dari sejak beliau lahir. Diceritakan Bhatara Siwa bersama permaisuri-Nya yaitu Bhatarì Girìputri pergi melihat-lihat laut, samudra. Tak berapa lama sampailah beliau di atas samudra. Tiba-tiba bangkitlah birahi Bhatara Siwa, ingin bersenggama dengan permaisurinya, Sang Hyang Girìputri. Tidak mulah beliau (Bhatarì Girìputri) karena sadar sebagai perwujudan dewata. Kemudian marahlah Bhatara Siwa. Berkatalah Bhatarì Girìputri: Duhai junjungan, janganlah demikian, (perilaku seperti itu) bukanlah perilaku dewata.

Berkatalah Bhatara (Siwa):
Ya Bhatarì janganlah demikian, karena tidak terkendalikan keinginanku, jika tidak diberikan tidak senanglah aku”.

Akhirnya (keduanya) sama-sama marah. Namun belum terpenuhi keiginan Bhatara (Siwa), sperma beliau sudah keluar dan jatuh ke laut. Selanjutnya Bhatara Siwa kembali ke sorga bersama dengan permaisuri-Nya.

Tidak diceritakan Bhatara dengan permaisuri-Nya.

tri murti brahma wisnu siwa

tri murti brahma wisnu siwa


Menurut arti katanya, Trimūrti adalah “Tiga Badan”, dan maksudnya adalah tiga kekuatan Brahman (Sang Hyang Widhi, sebutan Tuhan dalam agama Hindu) dalam menciptakan, memelihara, melebur alam beserta isinya.

Trimurti terdiri dari 3 yaitu: 

Dewa Brahma
  • Fungsi: Pencipta / Utpathi 
  • Sakti: Dewi Saraswati yang merupakan dewi ilmu pengetahuan 
  •  Senjata: Busur 
  • Simbol: A (ang)
  • Warna: Merah

Dewa Wisnu
  • Fungsi: Pemelihara / Sthiti 
  • Sakti: Dewi Laksmi atau Sri 
  • Senjata: Cakram 
  • Simbol: U (ung)
  • Warna: Hitam

Dewa Siwa
  • Fungsi: Penghancur / Pralina 
  • Sakti: Dewi Durga, Uma, dan Parwati 
  • Senjata: Trisula 
  • Simbol: M (mang)
  • Warna: Manca Warna
tapi akan berbeda posisinya saat kita membicarakan Dewata Nawa Sanga. Apabila simbol dari ketiga dewa tesebut digabungkan, maka akan menjadi AUM yang dibaca "OM" ( ॐ ) yang merupakan simbol suci agama Hindu.