Google+

sekilas Babad Kubayan utawi kebayan ring jagat Guwang

sekilas Babad Kubayan utawi kebayan (khubayan) ring jagat Guwang

secara umum, wit trah/wangsa kubayan di guwang berasal dari trah khubayan di Lempuyang yang merupakan hasil pernikahan Kyai gusti Agung Gelgel dengan putri Kubayan prabali. sekilas tentang keberaaan wangsa khubayan Prabali tersirat dalam Purana PURA LUHUR BATUKARU, yang berangka tahun tahun Saka 911/999, saat itu raja yang berkuasa di Bali adalah Sri Kesari Warmmadewa.

adapun isi singkat dari purana tersebut adalah:
"Warnnanen ri prapteng aryeng Hindu anakrawerti ring Bali juga agwangun ndan anabdab kahyangan bhuwana titanem makadi sira Abhiseka Sri Wira Dalem Kesari wangunakna kang Pura Sad Kahyangan kwirya: ring Pura Penataran Besakih, ring Pura Bukit Gamongan, ring Pura Watukaru, ring pura Uluwatu, ring Pura Erjeruk, ring Pura Penataran Pejeng. Mwang yanana sawonging Bali tanmeling angabhakti kadi arep, sinapakna buwat hupadrawan mwah asuduk lawan rowangnya. Nimita samwa sidha anunggalaken hyun lawan para hulu, khabayan, paraning wwang ngawiwit kahyangan kalano. Lwir ring Pura Luhur Watukaru samana anabdab kahyangan lawan pada khubayan ing kana. Risampun puput punang pura-pura kabeh, mahyun ta sira angaci, ngwit aci ring; Bu, Ka, Sinta, praya angaci gelar Pagerwesi ngaranya. Wus ta ngaci gelar, kaci sikep ayuddha, ring Sa, Ka, Landep. Tumpek Landep haranya. Ring: Sa, Ka, Wariga, malar kaci maharam Tumpek Uduh, apan sira mahyun angaci Widhi mwang para dewatha kang lina ajurit, ring Bu, Ka, Dungulan, mawasta Galungan. Pamupulan sarin tahun saking duranagara, Makasar, Sumbhawa, Sasak, mwang Blambangan, kang kawawa olih Sri Maha Raja Bali. Wre, Wa, Sungsang, anama Sugyan Jawa, Punang Bali Dwipa, ring Su, Ka, Sungsang anama SugyanBali. Punang aci Galungan ika ngawit, Bu, Ka, Dungulan, sasih ka-catur, tang dina 15, Isaka warsaning bumi 804. Bangun Indrabhawana ikang Bali rajya, atabuhan awanti-wanti siyang latri, makadinya gending laluwangan, salonding, pada ngastiti Widhi lan dewa-dewatha. Gemah ripah punang nagara sawengkoning Bali rajya kang sinengguh murddharning para Bhatara ika AbhisekaSri Kesari Warmmadewa."
terjemahannya:
Diceritakan ketika datangnya arya-arya Hindu yang menguasai bumi Bali juga ikut membangun dan memperbaiki kahyangan jagat seperti yang bernama Sri Wira Dalem Kesari kembali memperbaiki Pura Sad Kahyangan, antara lain: Pura Penataran Besakih, Pura Bukit Gamongan, Pura Batukaru, Pura Uluwatu, Pura Erjeruk, Pura Penataran Pejeng.
Dan lagi kalau ada orang Bali tidak ingat dan bakti seperti tersebut diatas dikutuk kena pastu, dan ribut dengan saudara. Itulah sebabnya semua mampu menyatakan pikiran bersama para pemimpin, kubayan, yang sebagai warga yang mengawali kahyangan tersebut, seperti di Pura Batukaru bersama menata kahyangan dengan para kubayan disana. Setelah selesai perbaikan semua pura, berkeinginan beliau pada bakti pemujaan, dimulai aci pada:
  • Buda/Rabu/Kliwon Sinta dinamakan hari suci Pagewesi, setelah selesai kemudian diupacarai.
  • Para prajurit pada Sabtu Kliwon Landep, dinamakan Tumpek Landep,
  • di hari Sabtu Kliwon Wariga dinamakan Tumpek Uduh,
  • karena beliau ingin memuja Sanghyang Widhi sekalian para dewa yang gugur saat perang, di hari Buda Kliwon Dungulan dinamakan Galungan. Dikumpulkan upeti (sarin tahun) dari berbagai Negara (kerajaan) Makasar, Sumbawa, Sasak dan Blambangan, yang dikuasai oleh Raja Bali. Wrespati Wage Sungsang dinamai Sugian Jawa.
  • Pada hari Sukra Kliwon Sungsang dinamakan Sugian Bali.
  • Saat itulah aci Galungan dimulai, Hari Buda Kliwon Dungulan bulan ke-empat tanggal 15 tahun Isaka 804/882 Masehi Dimulainya pembenahan penataran kerajaan Bali, suara gambelan bersahutan siang malam, seperti gending lahwangan, salonding, semua bersujud kehadapan Sanghyang Widhi dan dewa-dewa.
Berkelebihan, sentosa pulau Bali dan yang menjadi pimpinan raja-raja adalah Sri Kesari Warmadewa.


dilihat dari kutipan purana pura luhur batukaru tersebut, dapat disimpulkan bahwa keberadaan trah kebayan/kubayan sudah dipandang dimasyarakat bali, dan diberikan mandat untuk menjaga khayangan suci yang berada dibali. dimana sentana kubayan ditugaskan dan diberi wilayah disekitar areal pura besar dibali, seperti: Pura Penataran Besakih, Pura Bukit Gamongan, Pura Batukaru, Pura Uluwatu, Pura Erjeruk, Pura Penataran Pejeng.

bila dilihat dari purana tersebut, dimungkinkan bahwa Pura Penataran Kerajaan di Jaman Sri Kesari Warmmadewa berlokasi di daerah pejeng, karena berdekatan dengan pusat kerajaan kuno disana.

kemudian diceritakan bahwa, Putra Sri Gnijaya yaitu Sri Jaya Pangus, membangun kerajaan ke daerah Batur dengan membangun Pura Penataran Balingkang. seperti titah lelangit ida Sri Jaya Pangus, saat itu wangsa kubayan (prabali) juga diberi mandat untuk mengabdi kepada beliau dan mendapat tugas ngemong Pura Puncak Penulisan, Pura Batur dan Pura Penataran Balingkang. didaerah ini, trah kebayan diberi wilayah yang bernama sukawana.

berikut ini kutipan Purana BALI DWIPA,yang berangka tahun Caka 1103
. . . Wus alami Sri Jaya Sakti / Sri Gnijaya, angraksa rajya mantuk sira amor ing acintya, hana sutanya sawiji laki kasumbung wicaksana anama Sri Jaya Pangus, sira gumanti angraksa rajya ring Bali-dwipa, tan pendah kadi sang yayah kang sampun ndewatha. Pinten warsa Sri Jaya Pangus angraksa rajya, tan hana musuh angusak-asik Bali pulina, para pandita Siwa Sogata lan para Rsi mwang Mpu akaryya Dharmma-dharmmamwang tan acengilan...
Terjemahan:
. . . Sesudah lama Sri Jaya Sakti bertahta, Baginda lalu mangkat, berputra seorang pria mashur bijaksana yang bernama Sri Jayapangus. Sri Jayapangus selanjutnya yang bertahta menjadi Raja di pulau Bali, tidak ubahnya seperti ayahnda Baginda yang sudah mangkat. Entah berapa tahun Sri Jayapangus bertahta, tidak ada musuh yang menyerang serta mengganggu Pulau Bali, demikian pula para Pendeta Siwa, Budha, para Rsi, para Ahli (Mpu) masing-masing membangun pura Pedharman dan tidak ada yang bertikai...

sesuai dengan petunjuk dari isi purana milik jro mangku susun di Jimbaran, saat keluarga kami nunas bawos, diceritakan sekilas perjalanan wangsa kubayan hingga sampai di desa guwang, adapun cerita singkatnya:
setelah beberapa lama, Setelah beberapa generasi, jro Kubayan sering berpindah-pindah dan sampailah di jagat Gelgel, dan kemudian pindah ke jagat timbul diperkirakan antara tahun 1686 – 1710 waktu pemerintahan Gusti Agung Maruti karena setia kepada Dalem Gelgel lalu nyineb wangsa dan menetap di Bhumi Timbul (saat ini bernama sukawati), diwilayah abian timbul ini Jro Khabayan (kebayan) membangun Padukuhan yang bernama Kubayan (kebalyan), saat itu Ida Jro Kubayan menjadi pengabih Puri Guwang (desa Guwang) yang bergelar Dalem Cili.
pada tahun saka 1710 M, karena keberhasilannya memadamkan pemberontakan Ki Balian Batur, Dewa Agung Anom Sirikan diberi wilayah dibarat gelgel, dan membangun Puri Grokgak yang kemudian dikenal dengan Puri Sukawati. saat itu, agar tidak "a mada ratu", Jro Kubayan mangingsir meinggalkan Mrajannya ke selatan sungai wos, disebelah selatan Puri Guwang. diceritakan saat perpindahan tersebut Puri Guwang mempunyai sentana istri. karena Ida Istri tidak ingin madeg ratu, maka putunglah Puri Guwang, dan Puri tersebut dimandatkan kepada jro Kubayan. mulai saat itu, Trah Jro Kubayan Guwang memiliki kewajiban untuk nyungsung Mrajan Puri Guwang, stana lelangit Ida Dalem Cili, serta pura-pura pengabih seperti Pura Merthasari ratu tabeng Guwang.
Setelah lanjut usia Dewa Agung Anom wafat, Beliau digantikan oleh puteranya yang ke 3 Dewa Agung Gede Mayun, yang masih menempati istana Grokgak Puri Agung Sukawati dan menjadi Raja II Sukawati 1745 – 1770 M. Putera sulung Dewa Agung Jambe tidak berniat menjadi raja, beliau melakukan diksa menjadi pendeta, dan pindah mendirikan Puri di Guwang (sebelah selatan Puri Agung Guwang), untuk mengenang kawitan beliau, maka wilayah puri beliau diberi nama Grogak. 

kisah ini sejalan dengan Purana yang tersimpan di Pura Khayangan Sakti Budha Umanis, yang merupakan pamerajan Trah kubayan di Desa Guwang, dimana dalam purana tersebut sekilas diceritakan:
trah Kubayan merupakan keturunan Ida Bhatara Mpu Withadharma. Ida bhatara mpu Withadharma menurunkan Mpu Bajra Sandhi Wira Dharma, kemudian menurunkan Mpu lamphita.
Mpu Lamphita menurunkan Mpu Wijaksara, yang kemudian membangun Pura dasar bhuana Gelgelpada tahun saka 1189. Mpu Wijaksara merupakan kakek dari Kyai Gusti Gelgel, yang sempat menjadi adipati bali saat jatuhnya pemerintahan Sri Asta Sura Bhumi Banten setelah ditaklukan oleh Kerajaan majapahit.
Pada saat itu terjadi pemberontakan dari para saudara Pasek Prabali, sehingga Kyai gusti Gelgel berupaya mendamaikan gejolak tersebut. disebutkan bahwa Kyai Gusti Gelgel pergi menuju Tampurhyang (batur) untuk berunding melakukan perdamaian agar para saudara pasek tidak memberontak terhadap pemerintahan yang baru. disebutkan bahwa pada saat beliau menjalankan misi damai tersebut, beliau menetap di Pasraman Dukuh yang merupakan wangsa Kubayan Prabali, disana beliau menikahi putri Dukuh dengan syarat salah satu putra beliau tetap menyandang gelar Kubayan sebagai tanda hubungan keluarga yang tidak bisa dipisahkan. dari pernikahan tersebut lahirlah beberapa putra, dan salah satunya bernama Kyai Gusti Kebayan. sehubungan lahirnya Kyai gusti kubayan bertepatan saat Kyai Gusti Gelgel sedang meyasa di lempuyang luhur, maka putra beliau tersebut dikenal dengan sebutan Kubayan Lempuhyang.
Kyai gusti kubayan merupakan salah satu pengabih raja. pada saat pemberontakan kyai Gusti Agung Maruti, dimana kerajaan Gelgel dapat ditaklukan, maka Kyai gusti kubayan lempuyang mudur kearah barat, menyelusuri hutan dan sampai di alas timbul. untuk menghilangkan jejak beliau nyineb wangsa dengan hanya menggunakan nama kubayan saja.
diceritakan wilayah timbul sering dilalui oleh para pengelana dan pedagang, dan sering menginap di rumah jro kubayan. karena semakin ramai dan terkenal, para pedagang dan pengelana tersebut menamai wilayah timur alas timbul dengan sebutan dukuh kubayan, yang belakangan berubah menjadi  dukuh kebayan dan sekarang dikenal dengan banjar kebalyan sukawati.
Di jagat timbul (sukawati), Jro Kebayan memiliki beberapa putra, yaitu

  • Kebayan ring Sukawati (A)
  • Kebayan ring Sukawati (B)
  • Kebayan ring Kendran (kemudian pindah ke Taro)
  • Kebayan ring Guwang
  • beberapa saudara ninggalin kawitan

saat salah satu Putra Dalem sukawati mendirikan Puri Peliatan, maka diutuslah Putra Jro Khabayan Sukawati yang bernama Gede Kubayan untuk menjadi pengabih disana, dan diberilah Putra Beliau Tersebut wilayah di daerah kendran tegallalang. Perkiraan angka tahun 1823 saat Ida Tjokorda Putu Kandel, treh Dalem Sukawati Raja Ubud, diutus pula putra treh kubayan sukawati untuk mendampingi beliau, maka pindahlah pesraman ida khabayan dari kendra ke daerah taro, melanjutkan tugas lelangit Kubayan menjaga Pura Gunung Raung.

tambahan tentang Kubayan Wongaya Tabanan

diceritakan diwongaya Gde, ida Jro Khabayan memiliki parekan yang sangat setia menemani dan menjaga keluarga kebayan. pada suatu hari, tanpa sepengetahuan Jro Khabayan, pengabih ida tersebut menemukan dua butir telur di ladang duwe jro khabayan. karena merasa lapar, akhirnya telur tersebut dimasak dan dimakannya. entah apa yang terjadi menghilanglah parekan Jro Khabayan tersebut.

tidak terasa hari sudah sore, dimana biasanya parekan sayang ida menghadap untuk diiring kepura untuk puja stawa, tetapi parekan tersebut tidak kunjung datang. akhirnya Jro Gde Khabayan mencari parekan ida di pekaranganna. setelah lama mencari dan memanggil-manggil nama parekannya tersebut, keluarlah dua ekor naga (ular besar), dan menyapa Ida Jro Gde Khabayan. terkejutlah Jro Khabayan mendengar suara Ular Naga tersebut, dimana ular tersebut berbicara laksana seorang manusia dan mengaku sebagai parekan Ida Jro Khabayan.

karena tidak ingin menakut-nakuti keluarga serta masyarakat pengayah Jro Khabayan, akhirnya sang Naga tersebut mohon pamit untuk ngungsi dunia Niskala, dan berjanji akan selalu menjaga trah keturunan Jro Gde Khabayan. mulai saat itu, setiap perjalanan putra-putri Jro Khabayan selalu dilindungi oleh Ular, yang merupakan ancangan parekan Ida Jro Kharingan Khabayan Agung.
sumber:
Purana Bali Dwipa
cerita Babad Khabayan Wongaya Gde
Prasasti Kebayan Guwang

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar