Google+

Hukum Hindu bagi Orang Bali Pindah Agama

Hukum Hindu bagi Orang Bali Pindah Agama

Prinsip predana ikut purusa disalah artikan.
Jika anak perempuan harus ikut suami walau suami beragama bukan Hindu.
Padahal yang dimaksud adat bahwa istri ikut suami adalah bukan agamanya melainkan mengikuti adat yang masih berdasarkan Hindu.
Untuk itu kita akan membahas di dalam blog ini akibat berpindah agama, yang mungkin dapat bisa memberikan pencerahan dalam hati kalian wahai 'generasi Muda Hindu Nusantara' . 
Banyak sekali kejadian kejadian saya temukan setelah berpindah agama malah menjelek-jelekkan agamanya yang terdahulu dengan mengganggap keyakinannya yang sekarang "Lebih Benar" tanpa tau akibat dari perpindahannya itu.

Seseorang pindah agama umumnya disebabkan suatu perkawinan. Mereka memandang bahwa perkawinan itu terjadi karena jodoh. Cara pandang mereka ini sangat keliru dan sangat berbahaya bagi generasi Hindu. Mereka seolah olah berlindung di bawah keagungan brahman padahal mereka itu tidak mempercayai Brahman. kalau memang setiap perkawinan itu karena jodoh, mengapa tidak ada orang eskimo dari kutub kawin dengan orang bali. mengapa tidak ada gadis uganda yang berkulit hitam pekat kawin dengan bujang ganteng dari bali.

Tidak ada mantra mata seloka dalam kitab suci weda yang mencantumkan tentang perkawinan karena jodoh. Brahman hanya mewahyukan hukum untuk dijadikan pegangan hidup umatnya. mana yang boleh dan mana yang tidak boleh dilakukan tinggal kita yang melakoninya. Segala sesuatu yang kita lakukan dalam hidup di dunia maya ini tergantung dari kita. jadi nasi itu kita lah yang menentukannya. mau bernasib baik atau bernasib buruk tergantung dari diri kita.


Perkawinan biasanya diawali dengan adanya interaksi di antara mereka dengan cara saling mengenal nya satu sama lain dilanjutkan dengan berteman kemudian diteruskan ke masalah cinta. Dibenak mereka tidak pernah terpikir bahwa di antara mereka terjadi perbedaan agama pokoknya cinta dulu mengenai urusan agama belakangan.orang hindu yang melakukan cara seperti ini biasanya berasal dari keluarga yang tidak menempatkan agama adalah segalanya “way of life” dalam hidup ini.

Dalam keadaan sudah terlanjur cinta ditambah lagi adanya desakan dari keluarganya maka orang yang mempunyai lemah mental dan lemah keyakinan akhirnya meninggalkan agamanya. ditambah lagi dengan alasan lain yaitu adanya undang undang perkawinan menyatakan pasangan pengantin tidak boleh berlainan agama. dari sinilah pangkalnya orang orang itu pindah agama hindu yang disebabkan lemahnya pemahaman agama hindu sehingga karena cinta saja mereka berani meninggalkan agamanya.

Biasanya jika ada salah satu anggota keluarga pindah agama orang ini berusaha mengajak saudara saudaranya untuk pindah agama. tentu hal ini sangat membahayakan keutuhan keluarga itu pada akhirnya akan mengancam kelangsungan hindu. Ibaratkan naik kapal bila ada salah satu melakukan sabotase mengebor kapal itu, maka lama kelamaan kapal itu akan tenggelam juga. begitu juga mengenai agama sehingga banyak ditemukan dalam suatu keluarga agama yang dianut yang berbeda beda bahkan ada hanya tinggal orang tuanya saja beragama hindu. orang tua seperti ini meninggal dunia atman yang sangat sengsara. kasihan jadinya.

Pindah agama juga sering menimpa para gadis Hindu, hal ini disebabkan oleh:

Pertama, Gadis Hindu terlalu mudah terpikat oleh rayuan laki laki yang berkeyakinan lain. 
mereka tidak memperdulikan perbedaan agama sehingga sering terkena jerat yaitu diajak melakukan perbuatan zina yang sangat dilarang agama hindu. Mereka yang telah berbuat terlalu jauh ini sulit sekali untuk dipisahkan walaupun orang tua mereka berusaha keras untuk memisahkannya. perlu kita ketahui bahwa ada agama tertentu memberikan keyakinan atau dohma kepada pemeluknya bila mampu memindahkan orang lain masuk agama tersebut maka surgalah imbalannya. Oleh karena itu para gadis Hindu harus waspada, bentengilah diri anda dengan melakukan yoga dan meditasi. 
Dalam kitab suci Manawa Dharmasastra VII.357 dan 358 tersurat ;

Upacarakriya kelih sparco
Bhusana wasasan
Saha khatwasanam caiwa
Sarwam samgrahanam smrtam
Arti;
memberi pemberian kepada seorang wanita, bergurau dengannya, memegang pakaiannya dan perhiasannya, duduk di tempat tidur dengannya, semua perbuatan ini dianggap perbuatan zina.

strityam sprceda dece yah
Sprsto wa marsayettaya
Parasparasyanumate
Sarwam samgrahanamsmrtam
Arti:
bila seorang orang menyentuh wanita di bagian yang tidak harus disentuh atau membiarkan seseorang menyentuhnya bagian itu, semua perbuatan itu di lakukan dengan persetujuan bersama dinyatakan sebagai perbuatan zina.

Hukuman bagi yang berjinah tercantum dalam kitab bhagawata purana tentang neraka:

Yas tv iha va agamyah striyam
Agamyam va purusam yosid
Abhigacchati tav amutra kasaya
Tanayantas tigmaya surmya lohamayya
Purusam aliigayanti striyam ca purusa-rupaya surmya
Arti:
lelaki atau perempuan yang melakukan hubungan kelamin tidak sah dengan lawan jenisnya, setelah mati di hukum oleh para pembantu dewa yama dineraka taptasurmi. Disana para lelaki atau perempuan dicambuk dengan cemeti, yang laki dipaksa memeluk bentuk perempuan terbuat dari besi panas membara, perempuan dipaksa memeluk bentuk serupa berupa orang laki. begitulah hukuman untuk hubungan kelamin tidak syah.

Kedua, Orang tua kurang perduli terhadap anak gadisnya
tidak pernah memberi doktrin bahwa pindah agama itu dosanya tidak terampuni. dalam kitab suci manawa dharmasastra orang tua laki lah yang seharusnya lebih banyak menaruh perhatian dan melindungi anak gadisnya.

Ketiga, Dikalangan umat Hindu asal Bali, sangatlah berdosa kalau sampai membedakan antara anak laki dan anak perempuannya, hanya karena urusan purusa yang diatur oleh adat
di hadapan brahman anak laki dan perempuan harus diperlakukan sama . Sangatlah tidak benar bila ada orang tua maupun saudaranya mengijinkan si gadis itu melakukan perkawinan dengan mengikuti agama sang suami yang bukan agama Hindu. Nanti setelah meninggal, Dewa yama akan meminta bertanggung jawab atas kepindahan anak gadisnya.

Pindah Agama Sering Terjadi karena Pemahaman Keliru atau SENGAJA dikelirukan oleh kaum Adharma


Mereka yang dikendalikan oleh nafsu karena pengetahuannya yang salah/keliru, pergi ketempat pemujaan dewa-dewa lain (selain dewa-dewa Hindu=pergi ke agama lain mencari tuhan lain dan meninggalkan agama Hindu. Red.), mereka berpengang pada aturan menurut cara-cara mereka sendiri (BG. VII.20).

Dengan harapan yang sia-sia, perbuatan yang sia-sia, pengetahuan yang sia-sia dan tanpa kesadaran, mereka mengikuti jalan keliru oleh pengaruh jahat Raksasa dan Setan (Asura) yang menyesatkannya (BG.IX.12)

Orang yang pindah agama atau meninggalkan Agama Hindu, sama artinya membenci Hyang Widdhi dan mencari Tuhan lain. Dalam agamanya yang baru sering diajarkan atau mungkin ditemukan ayat-ayat yang menghujat Weda dan Agama Hindu sebagai agama penyembah berhala, agama politheis, agama kasta dan agamanya kaum pagan dan lain sebagainya sebagai ekpresi kebencian terhadap kitab Weda dan Hyang Widdhi. Sehingga menurut Hyang Widdhi/Brahman kelak Atmanya pantas dicampakkan ke Neraka. ini tersirat jelas dalam bhagawad gita, XVI.19.

Karena meninggalkan Agama Hindu berarti tidak bisa lagi membayar 3 macam hutang (tri Rna), karena tidak lagi mengakui adanya Tri Rna. Sering kita melihat orang yang sudah pindah agama disaat orang tuanya meninggal dia datang memakai pakaian adat, dia kelihatan berdoa seperti orang Hindu, padahal dia sudah tidak lagi beragama Hindu (mungkin doanya sudah pake bahasa agama lain). Keluarga mereka menerima seolah-olah biasa-biasa saja tanpa beban, demikian juga masyarakat tidak peduli. itu tanda mereka akan masuk dalam neraka tanpa mereka sadari, seperti yang dijelaskan dalam Manawa Dharmasastra VI.35 dan Bhagawad Gita III.35

dan ingatlah, Sejak dalam kandungan kita telah beragama Hindu. Nenek moyang kita juga beragama Hindu. Bahkan seluruh umat manusia pada awalnya beragama Hindu seperti disebut dalam bhagawad Gita berikut :

Sribhagawan uwaca
Imam wiwaswaite yogam, 
proktawan aham awyayam, 
wiwaswan manawe praha, 
manur ikswakawe’ brawit.

Ewam paramparapraptam, 
imam rajarsayo widuh, 
sa kalena ‘ha mahata, 
yogo nastah parantapa. 

Sa ewa ‘yam maya te’dya, 
yogah proktah puratanah, 
bhakto ‘si me sakha cati, 
rahasyam hy etad uttamam (BG.1-3)

Artinya;
Sri Bhagawan bersabda
Ajaran abadi ini (weda) Aku turunkan kepada WIWASWAN, wiwaswan mengajarkan kepada MANU dan Manu menerangkan kepada IKSWAKU. Demikian diteruskan turun temurun, para Raja resi mengetahuinya, ajaran ini lenyap di dunia bersamaan dengan berlalunya masa yang amat panjang. Yoga yang tua itu pulalah (weda) yang kuajarkan kepadamu sekarang sebab engkau adalah pengikut dan kawan-Ku, sesungguhnya ini sangat rahasia.

MANU (yang menerima ajaran kitab Weda pertama kali) adalah leluhur umat manusia sehingga seluruh keturunannya disebut MANUSIA. Kitab Weda yang diajarkan kepada beliau-beliau inilah yang kembali diajarkan kepada Umat manusia saat ini.


Hukuman bagi orang yang meninggalkan agama Hindu adalah :

A. Setelah ajalnya tiba, atman nya tidak akan bertemu jalan menuju swargaloka.

Dalam kitab bhagawadgita, III.35 tersurat :

sreyan swadharmo wigunah
paradharmat swanusthitat
swadharme nidhanam sreyah
paradharmo bhayawahah.
Arti:
lebih baik mengerjakan kewajiban sendiri walaupun tiada sempurna dari pada dharmanya orang lain yang dilakukan dengan baik, lebih baik mati dalam tugas sendiri daripada dalam tugas orang lain yang sangat berbahaya.

Kita sebenarnya telah beragama hindu sejak atman diciptakan Brahman. jangan sampai mengatakan, bahwa kita beragama hindu sejak kita lahir ke dunia maya ini. Kecuali moksa, kita tidak hidup sekali ini saja, karena dulu kita pernah lahir. jadi kita lahir ke dunia ini secara berulang ulang yang disebut reinkarnasi. lahir secara berulang ulang dalam wujud manusia, karena sifat satwam, rajas, tamas yang kita lakoni dalam hidup ini terjadi secara seimbang.

Bila sifat satwam dapat mengendalikan sifat rajas dan tamas, maka kita akan masuk moksa. untuk dapat masuk moksa sangat sulit sekali, sebagai contoh maharsi saja baru masuk moksa setelah lahir ke dunia 2 sampai 3 kali. tetapi kita masih bersyukur dapat lahir kembali dalam wujud manusia. tetapi bila menyia-nyiakan hidup ini tidak menutup kemungkinan bahwa kita akan lahir menjadi binatang. Lahir menjadi binatang terjadi karena sifat rajas dan tamas mengalahkan sifat satwam. Oleh karena itu dalam menjalani hidup ini diusahakan agar sifat satwam selalu mengalahkan sifat rajas dan tamas.

Berarti sejak brahman menciptakan atman kita, selama itu pulalah umur kita telah beragama hindu. Bila atman seseorang telah diciptakan brahman telah berumur 1000 tahun, berarti orang itu telah beragama hindu 1000 tahun. jadi umur seseorang yang hidup di dunia ini tidak sama dengan umur atmannya. Bisa jadi umur kita sudah puluhan ribu tahun, bahkan ratusan ribu tahun. berarti karma wasana berdasarkan agama hindu sudah puluhan ribu atau ratusan ribu tahun. karena kita lahir secara berulang ulang berarti atman kita juga secara berulang-ulang menuju alam pitraloka maupun swargaloka. Bila kelak kita meninggal dunia, maka atman sudah mengetahui jalannya menuju alam pitra loka dan swargaloka. Bila karma wasana kita selama hidup di dunia ini baik maka atman kita dengan penuh kebahagiaan dapat hidup di alam swarga sampai ber juta-juta tahun lamanya.

Kalau seseorang sudah beragama Hindu, sudah sejak atman diciptakan Brahman, lalu pindah ke agama lain, maka karma wasana nya di agama lain tidak ada artinya karena dikumpulkan dalam waktu yang sangat singkat. walaupun dilakukan dengan penuh disiplin dan ketat sehingga atman dia nantinya karena tidak tau jalan.

B. Tidak akan pernah mencapai kebahagiaan, kesempurnaan, dan tujuan tertinggi (moksa)

Kata-kata ini tersurat dalam kitab suci weda “Bhagawadgita, XVI.23” :

Yah sartrawidhim utsrijjya
Wartate kamakaratah
Na sa siddhim awapnoti
Na sukham na param gatim
Arti :
Ia yang meninggalkan ajaran-ajaran kitab suci weda, ada di bawah pengaruh kama atau nafsu, tidak akan mencapai kesempurnaan (moksa) ataupun kebahagiaan (sorga), tujuan tertinggi/moksa.

Mantram ini memberi tuntunan, agar kita jangan meninggalkan kitab suci weda, hanya karena ingin menuruti kama(nafsu). Kalau hal ini terjadi, maka orang itu tidak akan pernah selamat

bisa jadi orang yang meninggalkan agama Hindu, di dunia maya ini ia bahagia, tetapi dapat dipastikan kelak atmannya tidak akan pernah damai

Kebahagiaan itu sifatnya sementara hanya bisa di nikmati semasih hidup di dunia ini. Kebahagiaan ini akan lenyap dengan sendirinya seiring orang itu meninggalkan dunia. Tetapi, yang kekal abadi adalah kedamaian yang hanya dapat di raih melalui agama(sraddha dan bhakti, serta spritual), maka dari itu janganlah menunda waktu untuk berbuat baik sedini mungkin. Menentukan kebahagiaan dan kedamaian seseorang (yang disebut nasib) adalah karmawasana yang dibawa sejak lahir ditambah karma sekarang semasih hidup.

Pada bagian lain dalam kitab suci weda “bhagawad gita, XVI.19” juga tersurat:

Tan aham dwisatah kruran
Samsaresu naradhanan
Ksipamy ajasram asubham
Asurisw ewa yonisu
Arti :
mereka yang kejam membenci Aku, adalah manusia yang paling hina didunia ini, yang Aku campakkan tak henti-hentinya penjahat itu kedalam kandungan raksasa.

Sloka ini menekankan bahwa orang yang pindah agama hindu sama saja artinya orang itu membenci Brahman, sehingga kelak atmannya patut dicampakkan kelembah neraka. Brahman tidak pernah menolong orang yang berbuat dosa. Akibat ulahnya sendiri yang menyebabkan kehidupannya menjadi tersiksa. 
Kata-kata ini tersurat dalam kitab suci weda “Atharwa veda, II.12.6” :

Tapumsi tasmai vrjinani santu
Arti :
perbuatan jahat orang yang berdosa membuat kehidupannya menjadi tersiksa.

C. Atmannya akan tenggelam ke lembah neraka.

Karena ia sudah meninggalkan agama Hindu, berarti tidak bisa lagi membayar tia macam hutang (tri Rna). Dalam kitab suci “Manawa Dharmasastra, VI.35” tersurat:

Rinani trinyapakritya
Manomokse niwecayet
Anapakritya moksam tu
Sewamano wrajatyadhah
Arti:
kalau ia telah membayar tiga macam hutangnya (kepada Brahman, kepada leluhur, dan kepada orang tua), hendaknya ia menunjukkan pikirannya untuk mencapai kebebasan terahir. Ia yang mengejar kebebasan terahir ini tanpa menyelesaikan tiga macam hutangnya akan tenggelam kebawah (lembah neraka).

Sering kita lihat orang sudah berpindah agama itu, saat orang meninggal dunia, dia memakai pakaian adat/pakaian sembahyang. Dia melakukan seperti sembahyang Hindu saat orang tuanya di aben. Intinya dia melakukan seperti apa yang dilakukan saudaranya. Keluarga mereka menerima seolah-olah tidak ada beban, demikian juga masyarakat tidak pernah peduli dengan hal seperti itu. Kalau ada keluarganya mengerti agam Hindu, maka saudara yang pindah agama itu tidak akan diperbolehkan menyembah orang tuanya lagi karena akan menghambat jalannya atman orang tua menuju alam leluhur dan alam para Dewa

Yakinlah, Bahwa WEDA berasal dari Sang Hyang Widhi. Perintah-perintahnya adalah petunjuk jalan bagi umat manusia untuk mencapai Kebahagiaan (sorga) dan keabadian (moksa).


Kitab suci agama Hindu berasal dari Hyang Widdhi/Tuhan Yang Maha Esa, Seperti dikatakan sendiri oleh beliau dalam Bhagawad Gita. XV.15 berikut :”
Weda ntakrid wedawid ewa ca ‘ham
Akulah pencipta weda dan Aku yang mengetahui isi weda. Kitab Weda disebut juga sastrawiddhi atau sastra brahman karena berasal dari Hyang Widdhi/Brahman/Tuhan YME.

Mereka yang mencela dan menyimpangkan kitab Weda, dan tidak mengikuti ajaran Weda adalah orang-orang bodoh yang tidak tahu jalan kebenaran dan kehilangan kesempatan untuk mengetahui kebenaran abadi (BG.III.32)

Sedangkan mereka yang selalu mengikuti ajaran Weda dan selalu melaksanakan perintah-perintah kitab Weda dengan penuh keyakinan dan bebas dari kepentingan duniawi akan dibebaskan dari perputaran karma (dibebaskan dari Hukum Karma dan Reinkarnasi) seperti sabda Sri Krisna dalam Bhagawad Gita.III.31 berikut :
Ye me matam idam nityam anustisthanti manawah, 
sraddhawanto ‘nasuyanto mucyante te’pi karmabhih.
Mereka yang selalu mengikuti ajaran-Ku dengan penuh keyakinan dan bebas dari keterikatan duniawi, mereka juga akan dibebaskan dari belengu karma. (bebas dari kelahiran kembali/Reinkarnasi).

Ananyas cintayanto mam, 
ye janah paryupasate, 
tesam nityabhiyuktanam, 
yogaksemam wahamy aham (BG.IX.22)
Mereka yang selalu menuja-Ku, merenungkan Aku selalu, kepada mereka Ku bawakan segala apa yang mereka tidak punya dan akan Ku lindungi segala apa yang mereka telah miliki.
Artikel yang terkait dengan Hukum Hindu bagi Orang Bali Pindah Agama

Yathemam vacam kalyanim avadani janebhyah, 
Brahma rajanyabhyam sudraya caryaya ca svaya caranaya ca (Yayurveda XXVI.2)
Artinya :
Hendaknya wartakan sabda suci ini kepada seluruh umat manusia, baik kepada para Brahmana, para raja-raja maupun kepada masyarakat pedagang, petani dan nelayan serta para buruh, kepada orang-orangku maupun orang asing sekalipun

Hyang Widdhi memerintahkan umat Hindu untuk menyebarkan ajaran Hindu kepada seluruh umat manusia. Seandainya ada Wanita Hindu menikah dengan laki-laki bukan beragama Hindu, maka kewajiban si Wanita untuk mengajak atau mengajari laki-lakinya (suaminya) agama Hindu seperti sabda Hyang Widdhi tersebut diatas.

Kita sebenarnya telah beragama hindu sejak Atman, Roh dan Jiwa diciptakan Brahman, bukan saat kita dilahirkan, karena kita percaya dengan reinkarnasi / samsara punarbhawa. Berarti sejak Brahman menciptakan kita selama itu pulalah kita telah beragama Hindu. Bisa jadi kita atman telah berusia ribuan tahun, berarti karma wasana sudah melekat juga sejak ribuan tahun.

Kalau seseorang beragama Hindu sejak Atman diciptakan Brahman, lalu pindah ke agama lain, maka karma wasana di agama lain tidak ada artinya, karena dikumpulkan dalam waktu singkat kendati pun dilakukan dengan disiplin dan ketat.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar