Google+

Dewa Siwa - Mahadewa dengan Lingga dan Bulan Sabit

Dewa Siwa - Mahadewa dengan Lingga dan Bulan Sabit

Siwa (Dewanagari: शिव; Śiva) adalah salah satu dari tiga dewa utama (Trimurti) dalam agama Hindu. Kedua dewa lainnya adalah Brahma dan Wisnu. Dalam ajaran agama Hindu, Dewa Siwa adalah dewa pelebur, bertugas melebur segala sesuatu yang sudah usang dan tidak layak berada di dunia fana lagi sehingga harus dikembalikan kepada asalnya.
lebih lanjut tentang tri murti, silahkan baca: "Tri Murthi: Brahma Wisnu Siwa"
Oleh umat Hindu Bali, Dewa Siwa dipuja di Pura Dalem, sebagai dewa yang mengembalikan manusia dan makhluk hidup lainnya ke unsurnya, menjadi Panca Maha Bhuta. Dalam pengider Dewata Nawa Sanga (Nawa Dewata), Dewa Siwa menempati arah tengah dengan warna panca warna. Ia bersenjata padma dan mengendarai lembu Nandini. Aksara sucinya I dan Ya. Ia dipuja di Pura Besakih. Dalam tradisi Indonesia lainnya, kadangkala Dewa Siwa disebut dengan nama Batara Guru. Adya / Siwa / Pusat / Segala Warna (Cahaya) = peleburan kemanunggalan.

Dewa Siwa memiliki nama lain, diantaranya: Jagatpati, Nilakantha, Paramêśwara, Rudra, Trinetra serta nama lainnya yang dikenal dengan 108 Nama Dewa Siwa. Dalam tradisi Indonesia, kadangkala Siwa disebut Batara Guru atau Hyang Guru.
untuk lebih lengkap tentang ke-108 sebutan Dewa Siwa bisa dibaca di "mantra dewa siwa-108 nama gelar hyang Siwa"
Dewa Siwa memiliki sakti yang bernama Dewi Parwati, dikenal juga dengan sebutan Dewi Sati, Dewi Durga, Dewi Kali. dan dengan wahana (kendaraan) Lembu Nandini.


Dalam ajaran agama Hindu, Dewa Siwa (Çiwa / Shiva) adalah manifestasi dari Tuhan Yang Maha Esa sebagai pelebur, melebur segala sesuatu yang sudah usang dan tidak layak berada di dunia fana lagi sehingga segala ciptaan Tuhan tersebut harus dikembalikan kepada asalnya (Tuhan).
Dalam keyakinan umat Hindu, Dewa Siwa memiliki ciri-ciri yang sesuai dengan karakternya, yakni:

  1. bersenjata Trisula ( Sattwam, Rajas,Tamas ), yang berisikan Cemara, Tasbih/Genitri, Kendi bermata tiga (tri netra) serta genderang.
  2. pada hiasan kepalanya terdapat ardha chandra (bulan sabit)
  3. ikat pinggang dari kulit harimau
  4. hiasan di leher dari ular kobra

Sang Hyang Siva di dalam menggerakkan shukum skemahakuasaan-Nya didukung oleh sakti-Nya Durga atau Parvati. Hyang Siva adalah Tuhan Yang Maha Esa sebagai pelebur kembali (aspekpralaya atau pralina dari alam semesta dan segala isinya). Siva yang sangat ditakuti disebut Rudra (yang suaranya menggelegar dan menakutkan). Siva yang belum kena pengaruh Maya (berbagai sifat seperti Guna, Sakti dan Svabhava) disebut Parama Siva, dalam keadaan ini disebut juga Acintyarupa atau Niskala dan Tidak berwujud (Impersonal God).

Siva dinyatakan memiliki 3 mata (Trinetra), yaitu Phalanetra, Agnilocana, Trilocana, karena fakta-fakta tersebut di atas Śiva disebut yang dapat menghancurkan segala sesuatu yang berkaitan dengan Agni. Dewa Siva memiliki tiga mata; Dua matanya pada bagian kiri dan kanan melambangkan pengetahuan (jnana), dan ini disebut dengan mata kebijaksanaan atau pengetahuan. Kekuatan pandangan mata ketiga Siva menghancurkan kejahatan, dan ini adalah alasan mangapa orang berbuat kejahatan sangat takut dengan mata ketigaNya

Siva menghancurkan segalanya, membawa Trisula. Senjatanya yang lain disebut Pinaka, oleh karena itu Siva disebut juga dengan nama Pinakapani (yang memegang Pinaka ditangannya) Beliau digambarkan memiliki 2, 2, 8 dsan 10 tangan. Beliau juga membawa tongkat yang dinamakan Khatvanga, busur bernama Ajagava, seekor menjangan, tasbih, tengkorak, damaru (gendang kecil) dan bendas-benda suci lainnya

Di dalam Santiparwa dijelaskan asals-usul senjata pedang Sang Hyang Siva, yang selalu dipegang dengan tangannya untuk menghancurkan para raksasa. Dalam kitab ini diceritakan bahwa Brahma ketika menciptakan alam semesta, juga menegakkan hukum untuk menegakkan jalan kebajikan, namun para raksasa tidak setuju dengan hukum tersebut. Oleh karenanya para Rsi memutuskan aturan khusus bagi para raksasa.Mereka melaksanakan Brahmayajna di lereng gunung Himalaya. Dari api suci muncul raksasa berupa Jin yang sangat mengerikan. Ketika jin itu muncul bumi menjadi goncang, gelombang laut pasang yang tinggi. Cahaya dan meteor beterbangan, cabang-cabang kayu patah-patah bergelimpangan hancur remuk. Angin puting beliung yang mengerikan berhamburan di segala penjuru. Semua mahkluk gemetar menyaksikan jin tersebut. Brahma muncul dihadapan para rsi yang ketakutan dan menyatakan bahwa makhluk itu bukanlah Jin, tetapi hanyalah sebuah pedang yang akan membunuh para raksasa. Siva mengambil pedang itu, seketika itu juga Siva memiliki 4 tangan. “Siva yang kepalanya menyentuh langit, yang memiliki mata yang ketiga, dari mulutnya muncul kobaran api, yang warna tubuhnya berubah-ubah menjadi biru, putih dan merah, yang mengenakan kulit menjangan dengan titik-titik keemasan, yang diantara kedua keningnya memiliki mata yang bercahaya seperti matahari, demikian Siva mengambil dengan tangannya pedang yang sangat tajam dan mengangkat perisai serta memutar-mutarkan pedangnya ke segala arah. Siva saat itu benar-benar mengerikan, berjalan dengan pedangnya menuju ke tengah-tengah pasukan raksasa, semua kekuatan raksasa dimusnahkan dan Para Dewa memperoleh kejayaan

Kepala Dewa Siva dihiasi oleh bulan sabit dan bukan menjadi bagian dari tubuhNya. Pembahasan dan pengecilan bulan melambangkan siklus waktu dimana penciptaan ada didalamnya dari awal sampai akhir dan kembali ke awal lagi. Bulan juga melambangkan sifat hati seperti cinta, kebaikan, dan kasih. Bulan sabit yang dekat dengan kepala dewa memiliki makna bahwa seorang pemuja harus menggambarkan sifat-sifat ini agar dapat lebih dekat dengan dewa. Bulan sabit melambangkan ukuran waktu bulan sesuai dengan phase bulan. Ardhacandra (bulan sabit) bertengger pada kepalanya, oleh karena itu disebut juga Gangadhara dan Candracuda

Siva memakai kalungan bung yang terbuat dari untaian tengkorak manusia yang melingkar di lehernya. Siva mengenakan busana (kain) dari kulit macan dan kulit gajah untuk selimut (blanket) Nya. Di lengannya bergelayutan beberapa ekor ular sebagai hiasan. Ular yang melilit di leher melambangkan perputaran waktu yang tiada habisnya dan kekuatan penghancur Siva. Kalung tengkorak yang melingkar itu melambangkan peleburan segala sesuatu yang tiada habisnya dan regenerasi yang tidak pernah berhenti pada manusia. Dalam kitab-kitab Purana diceritakan bagaimana Siva memperoleh hiasan-hiasan tersebut. Istri para rsi terpikat kepada Siva yang sekali waktu tampil dengan mengenakan pakaian seperti peminta-minta. Para rsi sangat marah terhadap Siva atas penampilannya itu dan ingin membunuhnya, dari lobang yang digali, muncul seekor harimau. Siva membunuh harimau itu dan mengambil kulitnya. Seekor menjangan mengikuti harimau muncul di lubang itu. Siva memegang binatang itu dengan tangan kirinya. Selanjutnya smsuncul dari lobang itu tongkat besi panas berwarna merah. Siva mengambil tongkat itu dan menjadikannya senjata. Terakhir dari lubang muncul beberapa ekor ular kobra dan Siva mengambl ular dan mengenakannya sebagai hiasannya. Suatu hari raksasa bernamaGaya menyamar daam wujud seekor gajah dsan menangkap seorang pandita yang melarikan diri dan memohon perlindungan di sebuah pura Siva. Siva muncul dsan membunuh gajah tersebut, kemudian mengambil kulitnya dikenakan di badannya. Suatu hari Siva mengenakan beberapa ekor ular sebagai anting-antingNya, oleh karena itu ia dikenal dengan nama Nagakundala.

Rambut Siva diikat kemudian dililitkan di puncak kepalanya yang berwarna merah sehingga Siva dikenal dengan nama Kapardi, hingga membentuk sebuah tanduk. Di atas rambut, Siva membawa sebuah personifikasi sungai Gangga yang alirannya diterima dari kaki Visnu di surga. Hingga muncullah sebutan Ganggadhara, karena Siva membawa sungai Gangga. Tubuhnya yang telanjang melambangkan bahwa beliau terbebas dari keterikatan dari material di dunia. Tubuhnya yang bertabur abu melambangkan bahwa semua material yang ada di dunia ini akan menjadi abu ketika dibakar. Abu juga melambangkan inti sari dari semua benda dan mahkluk yang ada didunia ini. Abu pada tubuh dewa siva melambangkan bahwa ia adalah sumber dari seluruh penciptaan yang berasal adari dalam dirinya. Tasbih melambangkan sifatnya yang anadi ananta yakni tidak berawal dan tidak berakhir. Harimau melambangkan kekuatan, menjadi tempat duduk melambangkan bahwa ia sumber dari segala kekuatan yang pasti ia kendalikan sesuaikan dengan keinginannya. Siva di gambarkan duduk dikuburan yang melambangkan kemutlakan untuk mengendalaikan kelahiran dan kematian.

Tenggorokan Siva yang berwarna biru, hal ini disebabkan karena racun kalakuta. Karena kutukan Durvasa, para Dewa khawatir menghadapi umur tua. Untuk mengatasi kejadian itu, maka jalan satu-satunya adalah memperoleh Amrta dengan jalan mengaduk lautan susu (Ksiradhi/Ksirarnava). Vasuki, raja naga dijadikan tali untuk memutar gunung Mandara, yang dijadikan sebagai poros pengaduk lautan itu. Ketika pengadukan berlangsung secara intensip, racun Kalakuta muncul dari mulut naga Vasuki (versi lainnya menyebutkan racun tersebut muncul dari lautan susu yang diaduk). Ketika muncul racun yang mematikan itu, para raksasa lari tunggal langgang dengan ketakuta, demikian pula Para Dewa kebingunan. Bali dan Sugriva juga ketakuta, Visnu dengan tidak memperlihatkan kekhawatirannya, menutup wajahnya sendiri, dan secara keseluruhan, nampaknya duniaakan hancur menjadi abu. Pada situasi yang kiritis ini, Siva mengambil langkah yang sigap, meminum seluruh racun Kalakuta dengna mulutnya. Sangat khawatir terhadap hal itu, Parvati segera memegang leher dewa Siva, dengan harapan racun tersebut jangan sampai keperutnya. Pada saat itu pula Visnu segera menutup mulut dewa Siva dengan harapan jangan ada racun yang menyembur ke luar. Dengan demikian kalakuta tidak sampai masuk ke dalam lambung dewa Siva, juga tidak ada yang dimuntahkan dari lehernya, oleh karenanya racun tersebut tidak sampai membunuh dewa Siva, tetapi membekas menjadi warna biru. Lalu beliau memperoleh namaNilakantha. Visnu dan Parvati yang juga mendapat pengaruh dari kobaran racun tersebut, karenanya masing-masing disebut Nilavarna dan Kali.

Sapi Nandini merupakan kendaraan Deva Siva. Sapi-sapi yang ada dibumi ini merupakan keturunan Surabhi. Buih susu yang mengalir seperti buih gelombang samudra jatuh di Sivabhumi. Siva tidak senang terhadap hal itu. Ia membuka matanya yang ketiga dan memperhatikan sapi-sapi tersebut. Kobaran api dari mata yang ketiga itu menjadikan sapi kulitnya beraneka warna. Sapi-sapi itu memohon perlindungan kepada Candra.Namun kobaran api mata ketiga Siva mengikutinya sampai kesana. Akhirnya Prajapati memohon kepada Siva untuk menghentikan hal itu. Prajapati mempersembahkan seekor sapi jantan untuk tunggangannya. Sejak saat itu, kendaraan dewa Siva berupa seekor sapi (Nandini). Sapi melambanagkan kekutan dan ketidak pedulian. Sapi dalam bahasa sansekerta berate vrsa yang berati dharma. Sehingga sapi disamping siva melambangkan persahabatan abadi dengan kebenaran.

Dalam mitologi hindu dinyatakan Siva Natharaja yang menggambarkan deva Siva yang menari ketika menciptakan dan menghancurkan alam semesta. Siva digambarkan berdiri diatas padmasana segi empat. Iadigambarkan bertangan empat, masing-masing dalam sikap abhaya hasta, membawa damaru atau dhaka, memegang agni, sebuah tangan direntangkan melintasi dada dalam sikap gajahasta atau danda hasta. Siva digambarkan mengenakan jatamakuta yang diikat seekor ular kobra dengan hiasan candrakapala pada jatamakutanya. Mata kegita Siva terlihat menghiasi dahinya. Dalam perwujudannya ini umumnya Siva digambarkan mengenakan kain dari kulit harimau, mengenakan yadnopavita, usnisa bhusana, nakra kuniala pada telinga kanan dan makara kuniala di telinga kiri, hara menghiasi lehernya, dan keyura pada pangkal lengannya, sertakankana dan sarpavalaya menghiasi pergelangan tangannya dengan cincin pada jarinya. Kaki Siva juga terlihat mengenakan kankana. Hiasan lain yang dipakai Siva adalah udara bandha, katibandha, nupusa (gelang kaki). Dalam perwujudannya ini kaki Siva digambarkan berdiri dalam sikap menari diatas seorang cebol yang digambarkan terbaring sambil memegang seekor ular di tangan kirinya dalam ketinggian kunci pada (satu kaki).Prabhamandala berbentuk lingkaran api (jvalaprabhamandala) digambarkan melingkari Siva. Penggambaran Sivanaharaja mengingatkan kita dengan gambar atau wujud Achintya yang ditempatkan pada Ulon bangunan suci Padmasana dan simbol ini sangat umum menunjukkan tentang proses penciptaan alam semesta oleh Sang Hyang Siva.

Kisah Adanya Bulan Sabit di Rambut Dewa Siwa

Mengapa ada bulan sabit dikepala dewa Siva?
Berikut adalah jawabannya, Dalam Bab VI skanda VI Srimad Bhagavatam disebutkan bahwa Prajapati Daksa menikahkan dua puluh jujuh putrinya dengan Dewa Chandra, penguasa Bulan, kemudian Daksa mengutuk Chandra dengan penyakit parah sehingga membuat Chandra tidak mampu memperoleh anak-anak dari semua istrinya.

Cerita berikut diambil dari Brahma-Vaivarta Purana Brahma-khanda 9.49-53;

Chandra, mempunyai dua puluh tujuh istri , dari semua istrinya ini, Rohini yang paling cantik dan bergairah sangat disayangi oleh Dewa Chandra. Karena cintanya kepada Rohini, Dewa Chandra melalaikan kewajibannya kepada istri-istrinya yang lain, kemudian para istri-istri Dewa Chandra yang lain tersebut yang juga putri-putri Daksa, mengeluh kepada sang ayah. Karena merasa ditelantarkan putri-putrinya, Daksa menjadi murka, dan mengutuk Chandra. Karena dikutuk, Dewa Chandra menderita penyakit paru-paru. Dari hari ke hari kekuatan dan cahaya Dewa Chandra berkurang. Akhirnya Dewa Chandra minta perlindungan kepada Dewa Siva. Dewa Siva yang penuh kasih melegakan hati Chandra yang menderita sakit paru-paru dan menaruh Bulan di kepala Nya.

Dengan menumpang di kepala Dewa Siva, Chandra/Bulan menjadi kekal dan bebas dari segala bahaya.

Tam sivah sekhare krtva cabhavac chandrasekharah,

Nasti devesu lakesu sivac caharana-pancarah
Kemudian Dewa Siva dikenal dengan nama Chandrasekhara, sebab beliau menaruh Bulan di kepalanya. Oh para Dewa, tidak ada seorangpun yang lebih berkasih sayang selain Dewa Siva (sloka 59)

Mengetahui sang suami telah meninggalkan dirinya, putri-putri Daksa itu sedih dan menangis, lalu mereka datang menghadap sang ayah Daksa, putra Dewa Brahma. Putri-putri Daksa berkata,
Oh Ayah, dahulu kami mohon kepadamu agar kami mendapat berkah dari suami, tetapi kini bukan mendapat berkah darinya, melainkan dia telah meninggalkan kami. Oh Ayah, meskipun kami memiliki mata, kami hanya menemukan kegelapan di mana-mana. Sekarang kami sadar bahwa suami adalah mata satu-satunya bagi wanita"
Bagi wanita, suami itu sendiri adalah Narayana, ikrar dan agama purba. Wanita yang membenci atau mendengki suami malang dan bajik dan meninggalkannya, akan menderita di neraka jahanam selama matahari dan bulan bersinar di Bumi. Di sana (neraka) serangga-serangga yang bagaikan anjing menggigit dia siang malam. Bila lapar, dia terpaksa makan daging mayat. Dan untuk meniadakan rasa haus dan dahaga, dia terpaksa minum air kencing.Selanjutnya dia harus lahir berkali-kali sebagai burung nazar (yang memakan bangkai), terus lahir sebagai babi betina selama seratus tahun, kemudian sebagai binatang buas selama seratus kali kelahiran. Ketika pada akhirnya dia lahir lagi sebagai manusia, dia jadi Janda, pengemis dan terus sakit-sakitan.Mohon kembalikan suami kami, Anda adalah putra Dewa Brahma, dan anda cukup perkasa untuk menciptakan sendiri satu alam semesta

Mendengar kata-kata dari semua putrinya itu, Daksa lalu pergi menghadap Dewa Siva, Dewa Siva bangkit dari tempat duduknya, dan sujud menghormati Daksa. Daksa lalu memberkati Dewa Siva, melihat perilaku Dewa Siva yang rendah hati, kemarahan Daksa menjadi hilang;
Kemudian Daksa berkata;
"Oh Dewa Siva, mohon kembalikan menantuku yang dicintai oleh putri-putriku yang melebihi nyawanya sendiri. Anda juga adalah menantuku. Jika anda tidak mengembalikan Chandra kepadaku, saya akan ucapkan kutukan keras atas dirimu“.

Setelah mendengar Daksa bicara, Dewa Siva mengucapkan kata-kata yang terdengar lebih manis dari amrita. Dewa Siva berkata;
Anda boleh bakar saya jadi abu, atau ucapkan satu kutukan atas diriku sesuai kehendakmu, tetapi saya tidak bisa mengembalikan Chandra (Bulan) yang telah berlindung kepadaku.”

Mendengar kata-kata Dewa Siva demikian, Daksa hendak mengucapkan kutukan atas Dewa Siva, Dewa Siva ingat Govinda, pada saat itu pula Dewa Wisnu muncul disana dalam wujud seorang Brahmana tua. Baik Dewa Siva maupun Daksa sujud kepada Brahmana tersebut dengan penuh hormat. Beliau memberkati mereka berdua dan berkata kepada Dewa Siva.
Dewa Wisnu berkata;
Oh Siva, tidak ada apapun yang lebih disayangi oleh semua mahluk hidup selain dirinya sendiri. Dengan merenungi hal ini, Oh penguasa para Dewa, anda hendaknya selamatkan dirimu dengan memberikan Chandra kepada Daksa. Anda adalah tempat berlindung terbaik, anda tenang, anda adalah Vaisnava yang paling terkemuka dan anda memperlakukan segala makhluk dengan cara yang sama. Anda bebas dari tindak kekerasan dan kemarahan. Daksa adalah putra perkasa Dewa Brahma dan dia berwatak pemarah. Dewa yang mulia mengalah dihadapan yang sedang marah”.

Dewa Siva tersenyum dan berkata:
"saya bisa mengorbankan pertapaan saya, kemuliaan saya, semua keberhasilan saya, kekayaan dan bahkan nyawa saya sendiri. Tetapi saya tidak bisa meninggalkan orang yang telah berlindung kepada saya. Dia yang telah mencampakkan seseorang yang telah berlindung kepadanya, akan ditinggalkan oleh Dharma. Oh Tuhanku, anda tahu betul tentang Dharma. Mengapa anda mengucapkan kata-kata yang dipengaruhi khayalan? Anda adalah pencipta dan pelebur segala sesuatu. Orang yang berbhakti kepada Mu tidak takut kepada siapapun".

Dewa Wisnu yang mengetahui betul perasaan setiap orang, mendengar kata-kata Dewa Siva dengan seksama. Kemudian beliau mengambil setengah bagian Chandra (Bulan) yang sakit dan memberikannya kepada Daksa. Selanjutnya Beliau mengambil setengah bagian Bulan yang sehat dan menaruhnya di kepala Dewa Siva.

Melihat Bulan tergerogoti oleh penyakit paru-paru, Daksa kemudian berdoa kepada Dewa Wisnu. Beliau lalu mengatur bahwa Bulan akan bercahaya penuh selama dua minggu, dan tidak akan bercahaya selama dua minggu berikutnya. Demikianlah, setelah memberkati Dewa Siva dan Daksa, Dewa Wisnu kembali ketempat tinggal-Nya.

Kitab Kamikagama mengungkapkan mengapa dalam pengarcaannya, Siwa mengenakan hiasan bulan sabit pada Jatamakuta-Nya (mahkota). Datohan, salah seorang putra Brahma, menikahkan keduapuluh tujuh (konstelasi bintang) anak perempuannya pada Santiran, Dewa Bulan. Dia minta agar menantunya memperlakukan semua istrinya sama dan mencintainya tanpa membeda-bedakan. Selama beberapa waktu, Santiran hidup bahagia bersama istri-istrinya, tanpa membeda-bedakan mereka. Dua di antara seluruh istrinya, Kartikai dan Rogini adalah yang tercantik. Lama-kelamaan, tanpa disadarinya, Santiran lebih memperhatikan keduanya dan mengabaikan istri-istrinya yang lain. Merasa tidak diperhatikan, mereka mengadu pada ayah mereka. Datohan mencoba menasihati menantunya agar mengubah sikap, tapi tidak berhasil. Setelah berunlangkali Santiran diingatkan dan tidak mengindahkan, Datohan menjadi marah dan mengutuh menantunya; keenam belas bagian tubuhnya akan hilang satu per satu sampai akhirnya dia akan hilang, mati. Ketika bagian tubuhnya tinggal seperenam belas bagian, Santiran menjadi panik dan pergi minta tolong dan perlindungan Intiran. Intiran tidak dapat menolong. Dalam keadaan putus asa, dia menghadap dewa Brahma yang menasihatinya agar pergi menghadap Siwa. Santiran langsung menuju Gunung Kailasa dan mengadakan pemujaan untuk Siwa. Siwa yang berbelas kasihan kemudian mengambil bagian tubuh Santiran itu dan diletakkan di dalam rambutnya sambil berkata, “Jangan khawatir, Anda akan mendapatkan kembali bagian-bagian tubuh Anda. Namun, itu akan kembali hilang satu per satu. Perubahan itu akan berlangsung terus.” Demikianlah dalam pengarcaannya rambut Siwa dihiasi bagian tubuh Santiran yang berbentuk bulan sabit di samping tengkorak(ardhacanrakapala).

Dewi Gangga dan Ardhacandra (bulan sabit) bertengkar pada kepalanya, oleh karena itu disebut Gangadhana dan Candracuda. Bulan sabit yang terlihat pada kepala Dewa Siwa tersebut sebagai hiasan, dan bukan menjadi bagian dari tubuh-Nya. Pembahasan dan pengecilan bulan melambangkan siklus waktu dimana penciptaan ada didalamnya dari awal sampai akhir dan kembali ke awal lagi. Karena Tuhan adalah Kenyataan yang Abadi, bulan sabit hanyalah hiasan dan bukan bagian penting diri-Nya. Bulan juga melambangkan sifat hati seperti cinta, kebaikan, dan kasih. Bulan sabit yang dekat dengan kepala Dewa memilki makna bahwa seorang pemuja harus mengembangkan sifat-sifat ini agar dapat lebih dekat dengan Dewa.

Kitab Mahabharata menguraikan asal mula sapi jantan atau banteng menjadi kendaraan Siwa dalam dua versi. Versi pertama, Bhisma menjelaskan kepada Yudistira mengenai asal mula sapi jantan menjadi wahana Siwa. Daksa, atas perintah ayahnya, yakni Brahma, menciptakan sapi. Siwa yang sedang bertapa di dunia terkena susu yang tumpah dari mulut anak sapi yang sedang menyusu pada induknya. Untuk menjaga agar Siwa tidak marah, Dakasa menghadiahkan seekor sapi jantan pada Siwa. Siwa sangat senang menerima pemberian itu dan dijadikannya kendaraan. Versi kedua, mirip cerita di atas, hanya peran Daksa dipegang oleh Brahma. Di sini Siwa menjawab pertanyaan Uma mengapa kendaraan Siwa itu adalah banteng dan bukan binatang lain. Dikisahkan pada waktu penciptaan pertama, semua sapi berwarna putih dan sangat kuat. Mereka berjalan-jalan penuh kesombongan. Tersebutlah Siwa sedang bertapa di Pegunungan Himalaya dengan cara berdiri di atas satu kaki dengan lengan diangkat. Sapi-sapi yang sombong itu berjalan bergerombol di sekeliling Siwa, sehingga ia kehilangan keseimbangan. Atas kejadian itu, Siwa sangat marah dan dengan mata ketiganya ia membakar sapi-sapi yang sombong itu, sehingga warna mereka berubah hitam. Itulah sebabnya ada sapi berwarna hitam. Banteng yang melihat kejadian itu mencoba melerai dan meredakan amarah Siwa. Sejak itu banteng menjadi kendaraan Siwa. Sapi-sapi yang melihat dan mengakui kehebatan dan kesaktian Siwa sangat kagum dan mengangkatnya sebagai pemimpin, serat memberi julukanGopari pada Siwa.

Seekor sapi, yang dikenal dengan nama Nandi, yang dihubungkan dengan Siwa dan dikatakan sebagai kendaraannya. Sapi jantan ini melambangkan kekuatan dan ketidakpedulian. Siwa mengendarai sapi menandakan bahwa Śiwa menghilangkan ketidakpedulian dan menganugerahkan kekuatan kebijaksanaan pada pemujanya. Sapi dalam Sanskertanya Vṛṣa. Dalam bahasa Sanskṛta Vṛṣa juga berarti Dharma (kebenaran). Sehingga sapi disamping Siwa melambangkan persahabatan abadi dan kebenaran. Nandi juga melambangkan kesadaran seseorang (sṛṣṭa puruṣa) atau manusia yang sempurna, yang terserap secara permanen dalam pandangan Kenyataan.

Dari cerita tersebut, dapat diambil kesimpulan bahwa apabila seseorang telah melakukan perbuatan dosa segeralah bertobat dan berlindung kepada Tuhan, maka tuhan akan memberkahi keselamatan. Namun dosa-dosa yang telah diperbuat tetap menjadi jalan hidup dikehidupan selanjutnya kelak (karma phala terus berlanjut). Jadi makna bulan sabit adalah bahwa bulan sabit menyiratkan bahaya bagi seseorang dan harus segera berlindung kepada Tuhan.

Perlu digarisbawahi, dalam konsep Siwaisme (salah satu aliran terbesar dalam agama Hindu) Siwa merupakan Tuhan yang berpribadi. Dalam konsep Siwaisme ( Siwa Paksa) dikenal tiga konsep tentang Tuhan yang disebut Tri Purusa yaitu Siwa Tattwa, Sada Siwa Tattwa dan Parama Siwa Tattwa.
Siwa Tatwa ngarania, sukha tanpa balik duhkha, Sada Siwa Tattwa ngarania tanpa wit tanpa tuntungikang sukha. Parama Siwa Tattwa ngarania niskala tan wenang winastwan ikang sukha, salah linaksanan. (Wrehaspati Tattwa.50).
Maksudnya:
Siwa Tattwa namanya kebahagiaan yang tidak kembali pada kesedihan. Sada Siwa Tattwa namanya kebahagiaan yang tidak berpangkal dan tidak berujung. Parama Siwa Tattwa namanya kebahagiaan yang bersifat niskala. Tidak dapat dibayangkan dalam wujud nyata dan tidak benar bila diberi ciri-ciri.

  • Siwa Tattwa, merupakan manifestasi Tuhan yang berpribadi atau berwujud dan dipengaruhi oleh Maya (Ilusi) dan Triguna (tiga sifat alam semesta) sehingga seolah-olah Siwa seperti malaikat. Dewa Siwa akan lenyap kelak ketika terjadi kiamat besar (Mahapralaya) bersamaan dengan lenyapnya Brahma dan Wisnu kedalam Sadasiwa. Siwa Tattwa inilah yang ada pada cerita diatas.
  • Sada Siwa Tattwa, merupakan perwujudan Tuhan yang Maha gaib, kekal abadi, suci nirmala yang menjadi jiwa dari segala yang bernyawa. Dijunjung dan dimuliakan serta dipikirkan oleh para Wiku (orang suci). Tetapi Tuhan masih berwujud pribadi yang berkedudukan di dunia Rohani (Surga).
  • Parama Siwa Tattwa, merupakan perwujudan Tuhan yang berada dimana-mana, tak terpikirkan, memenuhi segalanya, sumber dari segala sumber, tidak ada yang menyamai-Nya, dan lain sebagainya. Dialah kesadaran yang tertinggi.

Sumber Penjelasan bulan sabit tidak hanya pada cerita semata. Didalam ajaran Hindu symbol yang berbentuk Bulan Sabit merupakan simbol yang sakral dan religius. Symbol ini sebagai pengurip (pemberi hidup) pada huruf-huruf suci yang disebut Ardhachandra (Bulan sabit), Baik di Bali maupun di India dan beberapa Negara lainnya. Huruf atau aksara suci tanpa adanya Ardhachandra, Windu dan Nada maka tidak akan memiliki kekuatan gaib, sebab hal tersebut melambangkan permohonan kepada kekuatan Tuhan.
Om-kara Bali dan Sansekerta, sama-sama berisi Ardhacandra (bulan sabit)
Aksara-aksara keramat biasanya digunakan dalam bentuk rerajahan (mirip seperti kaligrafi), tulisan yang berbentuk simbol ini biasanya digunakan sebagai penangkal dari marabahaya dan juga sebagai pengobatan tradisional dalam bentuk tulisan atau aksara magic. agar memiliki kekuatan magis harus disertai simbol Ardhachandra (Bulan Sabit).

Rerajahan yang pada pada umumnya digunakan sebagai pengobatan dan penangkal bahaya namun tidak dipungkiri juga adakalanya digunakan sebagai ilmu hitam. Perbedaannya biasanya rerajahan dengan aksara suci dengan bentuk yang terbalik.

Selain itu pula bulan sabit dilukiskan pada Archa - Archa (patung yang telah disucikan) sebagai pemujaan oleh penganut paham siwaisme, khususnya Archa Siwa dan Ganesha.

Demikianlah bahwa symbol Bulan Sabit juga sangat berarti dan bermakna bagi umat Hindu, bukan sekedar symbol tanpa makna tetapi symbol religius dan disucikan sebagai bagian dari sarana ritual maupun pemujaan. Perhatikan huruf suci di beberapa daerah dibawah ini yang terdapat Bulan Sabit (Ardhacandra) pada bagian atasnya

Sekte Saiwa


Bhakta Siwa
Saiwa atau Saiwa Pamta (Dewanagari: शैवपंथ; IAST: śaivapaṁtha; artinya "bersekutu dengan Siwa") adalah salah satu dari empat aliran utama dalam agama Hindu, yang mengagungkan Dewa Siwa sebagai manifestasi Tuhan Yang Mahakuasa dan Maha Esa. Pengikut Saiwa meyakini-Nya sebagai sang pencipta, sang pemelihara, sang pelebur, sang pemberi wahyu, dan yang teratas dari yang atas. Aliran Saiwa menyebar luas di seluruh India, Nepal, dan Sri Lanka. Kawasan dengan umat Hindu yang umumnya melaksanakan praktik Saiwa meliputi sebagian Asia Tenggara, khususnya Malaysia, Singapura, dan Indonesia.

Saiwa adalah aliran Hindu yang menyembah Siwa. Kadangkala Siwa digambarkan sebagai dewa Bhairawa yang menyeramkan. Pengikut Saiwa lebih tertarik untuk melakukan tapa brata daripada pengikut aliran Hinduisme lainnya, dan dapat ditemukan berkelana di penjuru India dengan wajah yang dilumuri abu dan melakukan ritual penyucian diri. Mereka bersembahyang dalam kuil serta melakukan yoga, berharap dapat bersatu dengan Siwa

baca juga artikel yang terkait Dewa Siwa;
Demikian sekilas tentang Dewa Siwa atau Mahadewa dengan Lingga dan Bulan Sabit-Nya. semoga informasi ini bermanfaat.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar