Google+
Tampilkan postingan dengan label Asta Bumi. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Asta Bumi. Tampilkan semua postingan

Satuan Ukur dalam Arsitektur Bali

Satuan Ukur dalam Arsitektur Bali

Satuan ukur dalam arsitektur tradisional Bali disebut dengan "GEGULAK", yang diturunkan dari bagian-bagian fisik pemilik atau pemakai bangunan. Satuan ukur ini ditetapkan dalam sebilah bambu sebagai modul dasar. Melalui gegulak ditentukan ukuran setiap dimensi arsitektur mulai dari ukuran pekarangan, tata letak masa bangunan hingga pada elemen bangunan yang kecil, seperti: 
  • panjang tiang (sesaka), 
  • panjang balok tarik (lambang, pementang, dan tada paksi), 
  • panjang usuk (iga-iga), 
  • hiasan pada tiang (kekupakan). dll
Ukuran pekarangan digunakan satuan DEPA, yakni ukuran panjang tangan terentang dari ujung jari kanan ke ujung jari kiri dengan variasi "depa alit", "depa madia" dan "depa agung". 

Jumlah kelipatan satuan ukur depa yang ditambah "PENGURIP" merupakan panjang sisi-sisi pekarangan yang diukur.

Asta Kosala Kosali dan Astabumi

Asta Kosala Kosali dan Astabumi

Om Swastyastu
Katattwaning Ngawangun Manut Sastra Agama Hindu
Pawangunan Krama Hindune utamine ring Bali dahat mitatasang parindikan tata cara ngawangun madasar antuk daging-daging Sastra Agama Hindu, pamekas dasar utama Sanghyang Aji Weda. Palemahan Ida nenten pateh manggeh sekadi napi sane kaunggahang ring Catur Weda sakewanten sampun nyuti rupa manados sari-sarining “Aksara Aji” pawangunan sakadi Hasta Kosala, Hasta Kosali, Hasta Bumi, Wiswakarma, Asta Patali, Aji Janantaka, Taru Pramana, Bhamakertih, Satkertih, Caturlokapala, Astamandala, miwah Lontar Tattwa lan sastra siosan sane muat indik pawangunan. 

Melacak ''Hong Sui'' dalam Arsitektur Bali

Melacak ''Hong Sui'' dalam Arsitektur Bali

Dalam minggu-minggu ini, umat Hindu kembali memasuki hari-hari suci, seperti Galungan dan Kuningan. Hari Raya ''kemenangan'' dharma melawan adharma, sekaligus hari ''perenungan'', kontemplasi atau refleksi diri. Dalam konteks arsitektur, mungkin ada baiknya melakukan ''instrospeksi'' ke dalam. 

Menyingkap ''tirai'' esensi dan substansi kearifan lokal arsitektur Bali. Di antaranya, bagaimana mengangkat nilai-nilai dan makna tatanan arsitektur Bali yang salah satunya ada memiliki kemiripan dengan hong sui. Semisal yang berhubungan dengan tata letak tanah dan bangunan serta pengaruhnya terhadap penghuninya.


SELINTAS, jika merunut perjalanan popularitas hong sui, mungkin dapat disimak dari fungsi dan manfaatnya dalam kehidupan serta orang-orang yang mempublikasikan tentang keunikan yang ada di dalamnya. Sehingga, hong sui memasyarakat hingga ke negeri Eropa selain ke negara-negara Asia.

Jangan Seragamkan Arsitektur Lokal Bali

Jangan Seragamkan Arsitektur Lokal Bali

Mungkin suatu saat ke depan dibutuhkan sebuah “ensiklopedi” yang merupakan himpunan kesatuan pemahaman atau tafsir mengenai arsitektur Bali. Di dalamnya mungkin bisa dimuat landasan fasafah,pemaknaan, dan perihal yang esensial dalam keanekaragaman-keragaman dan keunikan arsitektur Bali. Jelas hal ini samasekali terlepas jauh dari substansi penyeragaman arsitektur dalam cakupan fisik. Namun, justru lebih terkait dalam konteks wilayah penyamaan pemahaman isi dan makna, atas realitas ketidaksamaan wujud penampakan arsitektur Bali di masing-masing tempat.

Kesatuan tafsir itu tentu perlu dipedomani oleh hasil penggalian atau penelitian terhadap saripati arsitektur Bali klasik, tradisional atau vernakularnya. Selain berharap agar tidak ada persepsi maupun penafsiran yang samar terhadap esensi arsitektur Bali.

ASTA KOSALA dan ASTA BUMI Arsitektur Bangunan Suci Sanggah dan Pura

ASTA KOSALA dan ASTA BUMI Arsitektur Bangunan Suci di Bali


Telah dijelaskan sebelumnya bahwa, Yang dimaksud dengan Asta Kosala adalah aturan tentang bentuk-bentuk niyasa (symbol) pelinggih, yaitu ukuran panjang, lebar, tinggi, pepalih (tingkatan) dan hiasan. Asta Bumi adalah aturan tentang luas halaman Pura, pembagian ruang halaman, dan jarak antar pelinggih.

Asta Bumi menyangkut pembuatan Pura atau Sanggah Pamerajan adalah sebagai berikut:

Tujuan Asta Bumi adalah

  • Memperoleh kesejahteraan dan kedamaian atas lindungan Hyang Widhi
  • Mendapat vibrasi kesucian
  • Menguatkan bhakti kepada Hyang Widhi

ASTA KOSALA dan ASTA BUMI Arsitektur Bali, Fengshui Membangun Bangunan di Bali

ASTA KOSALA dan ASTA BUMI Arsitektur Bali, Fengshui Membangun Bangunan di Bali

angkul - angkul bagian dari asta kosala kosali
Asta Kosala Kosali merupakan Fengshui-nya Bali, adalah sebuah tata cara, tata letak, dan tata bangunan untuk bangunan tempat tinggal serta bangunan tempat suci yang ada di Bali yang sesuai dengan landasan Filosofis, Etis, dan Ritual dengan memperhatikan konsepsi perwujudan, pemilihan lahan, hari baik (dewasa) membangun rumah, serta pelaksanaan yadnya.
  • Yang dimaksud dengan Asta Kosala adalah aturan tentang bentuk-bentuk niyasa (symbol) pelinggih, yaitu ukuran panjang, lebar, tinggi, pepalih (tingkatan) dan hiasan. 
  • Yang dimaksud dengan Asta Bumi adalah aturan tentang luas halaman Pura, pembagian ruang halaman, dan jarak antar pelinggih.
Aturan tentang Asta Kosala dan Asta Bumi ditulis oleh Pendeta: Bhagawan Wiswakarma dan Bhagawan Panyarikan. Uraian mengenai Asta Kosala khusus untuk bangunan Padmasana telah dikemukakan pada bab: Hiasan Padmasana, Bentuk-bentuk Padmasana dan Letak Padmasana. Menurut Ida Pandita Dukuh Samyaga, perkembangan arsitektur bangunan Bali, tak lepas dari peran beberapa tokoh sejarah Bali Aga berikut zaman Majapahit. Tokoh Kebo Iwa dan Mpu Kuturan yang hidup pada abad ke 11, atau zaman pemerintahan Raja Anak Wungsu di Bali banyak mewarisi landasan pembanguna arsitektur Bali.