Google+
Tampilkan postingan dengan label Danghyang Nirartha. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Danghyang Nirartha. Tampilkan semua postingan

ASTA KOSALA dan ASTA BUMI Arsitektur Bali, Fengshui Membangun Bangunan di Bali

ASTA KOSALA dan ASTA BUMI Arsitektur Bali, Fengshui Membangun Bangunan di Bali

angkul - angkul bagian dari asta kosala kosali
Asta Kosala Kosali merupakan Fengshui-nya Bali, adalah sebuah tata cara, tata letak, dan tata bangunan untuk bangunan tempat tinggal serta bangunan tempat suci yang ada di Bali yang sesuai dengan landasan Filosofis, Etis, dan Ritual dengan memperhatikan konsepsi perwujudan, pemilihan lahan, hari baik (dewasa) membangun rumah, serta pelaksanaan yadnya.
  • Yang dimaksud dengan Asta Kosala adalah aturan tentang bentuk-bentuk niyasa (symbol) pelinggih, yaitu ukuran panjang, lebar, tinggi, pepalih (tingkatan) dan hiasan. 
  • Yang dimaksud dengan Asta Bumi adalah aturan tentang luas halaman Pura, pembagian ruang halaman, dan jarak antar pelinggih.
Aturan tentang Asta Kosala dan Asta Bumi ditulis oleh Pendeta: Bhagawan Wiswakarma dan Bhagawan Panyarikan. Uraian mengenai Asta Kosala khusus untuk bangunan Padmasana telah dikemukakan pada bab: Hiasan Padmasana, Bentuk-bentuk Padmasana dan Letak Padmasana. Menurut Ida Pandita Dukuh Samyaga, perkembangan arsitektur bangunan Bali, tak lepas dari peran beberapa tokoh sejarah Bali Aga berikut zaman Majapahit. Tokoh Kebo Iwa dan Mpu Kuturan yang hidup pada abad ke 11, atau zaman pemerintahan Raja Anak Wungsu di Bali banyak mewarisi landasan pembanguna arsitektur Bali.

Mpu ( Danghyang ) Nirartha, di masa pemerintaran Dalem Waturenggong

Kitab perpustakaan kuna di Bali yang berjudul “Babad Brahana Kemenuh” dan kitab “Brahmana Purana” menceritakan kisah perjalanan Pendeta tersebut selengkapnya. Antara lain kitab tersebut menceritakan sebagai berikut :

Tersebutlah seorang Pendeta yang bernama “Mpu Nirartha, semasa mudanya beliau adalah memeluk Agama Buddha, akan tetapi kemudian beliau mengalih keagama Siwa. Pergantian Agamanya itu disebabkan karena perkawinannya dengan Diah Komala di negeri Daha, yang memeluk Agama Siwa. Dari perkawinannya dengan Diah Komala, beliau mempunyai 2 orang anak, seorang perempuan dan seorang laki-laki yang kemudian megnadakan keturunan “Brahmana Watek Kemenuh” di Bali. Berkembangnya Agama Islam sampai ke Daha, memaksa Mpu Nirartha bersama keluarganya meninggalkan Negeri Daha untuk pergi kerajaan pasuruhan. Disitu beliau mendapatkan keluarganya yang bernama : Mpu Panawasikan, dan kemudian anak Mpu tersebut lalu dikawinya. Dari perkawinan tersebut, lahirlah 4 orqng anak laki-laki yang kemudian mengadakan keturuan “Brahmana Watek Manuhaba”.

Sekilas Babad Arya Gajah Para

Adapun beliau Arya Wayahan Dalem Manyeneng putra tertua dari Sri Jayakatha keturunan arya kediri, memiliki putra dua orang laki-laki, yang sulung bernama 
  1. Arya Gajah Para
  2. Arya Getas
Permulaan cerita disusun dalam silsilah, berkat jasa beliau seorang brahmana pendeta sakti, beliau bergelar Wayahan Tianyar, yang berasrama di Griya Punia, atas dorongan Kyayi I Gusti Ngurah Tianyar, pemimpin di utara gunung, keturunan beliau Jaya Katong dari Kediri, itulah sebabnya sang pendeta sakti, menulis tentang silsilah , telah dimuat dalam tulisan sesuai dengan bahasa dalam babad Jawa.