Google+
Tampilkan postingan dengan label Bhujangga Waisnawa. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Bhujangga Waisnawa. Tampilkan semua postingan

Sekte Waisnawa pemuja Wisnu

Sekte Waisnawa pemuja Wisnu

Mengenai wisnuisme di jawa-kuna ternyata pada kita juga tidak ada perbedaan (diferensiasi) tertentu antara dua kelompok yang utama ialah; bhagawata dan pancaratra. Wisnuisme tetap dalam keadaan sama seperti di zaman epik atau beberapa waktu setelah zaman itu (purana-purana yang lebih tua). Unsur-unsur tantris jelas dapat dipersaksikan. Awatara-awatara (tulis-tulisan) belum sampai jumlah sepuluh seperti kemudian hanya enam sebagaimana pada zaman epik diketahui; celeng (waraha), si laki-singa (narasingha), si cebol (wamana), selanjutnya Rama dan Krsna

Di Bali sekarang tidak terdapat lagi wisnuisme yang diakui secara resmi, akan tetapi dapat ditemukan bekas-bekas dalam dua aliran (sepeti pada pasupata) yaitu disini lagi unsur-unsur yang diambil alih ke dalam agama umum dan disamping itu tokoh sengguhu.
Unsur-unsur yang dimaksudkan ke dalam agama umum adalah;  
popularitas besar yang diperoleh Sri (sakti Wisnu).
Dari dewi rejeki dan dewi kebahagiaan.
Ia menjadi Dewi-Padi, Dewi dari makanan utama orang-orang Jawa dan Bali, dalam seluruh kekayaan dongeng-dongeng tentang Dewi Sri terdapat campuran dari unsur-unsur pribumi kuno dengan Hindu.
Akan tetapi masih ada suatu unsur lagi yang dimasukkan di sini, yaitu wisnu menjadi dewa dari perairan di alam bawah. Jadi dengan demikian mempunyai sifat sebagai demonis-chotnis) termasuk benar-benar makhluk alam bawah dan chthonis.

Jejak Perjalanan Maha Rsi Markhandeya

Jejak Perjalanan Maha Rsi Markhandeya

Perjalanan maharsi markhandeya di tanah bali dimulai dari :

Pura Rambut Siwi

Lokasi Pertapaan Beliau ada di tebing depan pura melanting Tempat ida rsi membuat benteng/perlindungan bali terutama dalam Menyeleksi orang-orang yang hendak masuk ke bali (dari jawa).

Pura Tledu Nginyah

Tempat Ida Maha Rsi bertapa dan membuat pesraman yang pertama. Beliau mampir ke tempat ini karena tempat ini mirip sekali dengan pertapaan beliau di Gunung Raung Jawa yaitu Gumuk Kancil. Oleh karena itu tempat ini dikenal dengan Gumuk Kancil Bali. Ditempat ini beliau bertapa untuk memohon petunjuk ke arah mana beliau harus melanjutkan perjalanan supaya bisa menemukan pusat sinar di bali yang beliau lihat dari gunung raung jawa. Slama bertapa disini beliau juga membentuk pesraman untuk melatih dan meningkatkan kemampuan dari pengikut2 beliau yang akan diajak ngatur ayah di bali. Dari hasil bertapa disini kemudian beliau mendapat petunjuk untuk menyusuri aliran sungai sampai ke hulu dan ketemu suatu tempat yang tinggi (bukit). Bukit yang tinggi inilah yang kemudian hari dikenal dengan Gunung Bhujangga ( Puncak Sepang Bujak).

Gunung Bhujangga (Puncak Sepang Bujak)

Di tempat inilah ida Maharsi Markhandeya bertapa supaya bisa menemukan pusat sinar di Bali yang beliu lihat dari Gunung Raung Jawa. Setelah bertapa sekian lama di Gunung Bhujangga barulah beliau mendapatkan petunjuk yang pasti ke arah mana beliau harus berjalan untuk dapat menemukan Pusat Sinar Suci di Bali. Jadi di gunung bhujangga inilah pertama kali beliau bisa melihat gambaran pulau bali seutuhnya melalui penglihatan mata batin. Oleh karena di tempat ini beliau pertama kali melihat bali seutuhnya maka tempat ini pulalah yang beliu pilih untuk melihat bali untuk terakhir kalinya dalam hidup beliau. Dengan kata lain, Puncak Gunung Bhujangga merupakan tempat Ida Maha Rsi Markhandeya Moksa. Beliau Moksa di atas Batu Hitam yang sampai saat sekarang ini masih ada di Puncak Gunung Bhujangga.

Dari Gunung Bhujangga banyak tempat yang beliau singgahi hingga beliau sampai di Gunung Agung. Tempat-tempat tersebut, antara lain :

Jejak Panjang Wangsa Bhujangga Waisnawa di Bali

Jejak Panjang Wangsa Bhujangga Waisnawa di Bali

Sekte Waisnawa dan Tri Sadaka
Menurut Dr. Goris, sekte-sekte yang pernah ada di Bali setelah abad IX meliputi Siwa Sidhanta, Brahmana, Resi, Sora, Pasupata, Ganapatya, Bhairawa, Waisnawa, dan Sogatha (Goris, 1974: 10-12).
Di antara sekte-sekte tersebut, yang paling besar pengaruhnya di Bali sekte Siwa Sidhanta. Ajaran Siwa Sidhanta termuat dalam lontar Bhuanakosa.

Sekte Siwa memiliki cabang yang banyak. Antara lain Pasupata, Kalamukha, Bhairawa, Linggayat, dan Siwa Sidhanta yang paling besar pengikutnya. 
Kata Sidhanta berarti inti atau kesimpulan. 
Jadi Siwa Sidhanta berarti kesimpulan atau inti dari ajaran Siwaisme. 
Siwa Sidhanta ini megutamakan pemujaan ke hadapan Tri Purusha, yaitu Parama Siwa, Sada Siwa dan Siwa. Brahma, Wisnu dan dewa-dewa lainnya tetap dipuja sesuai dengan tempat dan fungsinya, karena semua dewa-dewa itu tidak lain dari manifestasi Siwa sesuai fungsinya yang berbeda-beda. Siwa Sidhanta mula-mula berkembang di India Tengah (Madyapradesh), yang kemudian disebarkan ke India Selatan dipimpin oleh Maharesi Agastya.

Raja Purana Sejarah Desa Adat Semate

Raja Purana Sejarah Desa Adat Semate

Dalam sejarahnya, dahulu kala tersebutlah di pulau Bali dipimpin oleh seorang raja Shri Watu Renggong, yang bertakhta pada tahun saka 1382 atau 1460 masehi dengan kedudukan di Gelgel, beliau ini tiada lain putra dari Kreshna Kapakisan.

Dalam menjalankan roda pemerintahan kerajaan di Bali, beliau Shri Watu Renggong dibantu oleh para punggawa dan tanda mantri. Namun yang paling memegang peran penting tatkala itu adalah keturunan dari Mpu Withadharma, yang lebih dikenal dengan sebutan Pasek.

Kisahnya sebagai berikut :
Sesungguhnya putra-putra dari I Gusti Pasek Gelgel mempunyai tugas dan kewajiban yang berbeda-beda.

  1. Putranya yang menginventarisir kekayaan raja disebut Pasek Gelgel.
  2. Yang mengemban tugas sebagai juru bicara raja bergelar Pasek Bandesa.
  3. Yang bertugas pada Kahyangan Desa seperti Pura Puseh dan Pura Desa termasuk Bale Agung bergelar Pasek Kubayan.
  4. Dan yang bertugas mengurusi di bidang pitra yadnya bergelar Ki Pasek Prateka.

Prasasti Bhujangga Waisnawa ring Sekartaji Nusa Penida

Prasasti Bhujangga Waisnawa ring Sekartaji Nusa Penida

1.a. Ong awighnam mastu namā śidyam. Ong prânamyam sirā sang widyam, bhukti bhukti hitartwatam, prêwaksyā tatwam widayah, wişņu wangsā pādāyā śiwanêm, sirā ghranā sitityam waknyam. Rajastryam mahā bhalam, sāwangsanirā mongjawam, bhupa-lakam, satyamloka. Ong namadewayā, pānamaskaraning hulun, ri bhatarā hyang mami. Ong kara panga bali puspanam. Prajā pasyā.

1.b. nugrah lakam, janowa papā wināsayā, dirghga premanaming sang ngadyut, sembahing ngulun ri sanghyang bhumi patthi, hanugrahaneng hulun, muncar anākna ikang tatwa, prêtthi entananira sang bhujanggā wişņawa, tan katamanan ulun hupadrawa, tan kêneng tulah pāmiddi, wastu pari purņā hanmu rahayu, ratkeng kulā warggā sāntanannirā, mamastu jagatitayā. Ong namasiwaya, ong nama bhuddayā.

2.a. Ong namā bhujanggā bħuddayā. Nyan têgêsing prihagem pañungsungan, krananya hana prigêm (ha) pañungsungan, panugrahan sakêng griya pajaten, titanen mangke ida bagus citrā, hangamet sêtri, listuhayu paripurnna, sutanirā aryyā damar, sakêng kadiri, wus alamā lamā hatmu rabyā, mijil sutanning karwa laki-

Bhujangga Waisnawa Perjalanan Ida Rsi Madura di Bali

Bhujangga Waisnawa Perjalanan Ida Rsi Madura di Bali

Perjalanan Ida Rsi Madura ( abad 12 M - 13 M )

Ida Rsi Madura merupakan seorang rsi maha sakti yang berasal dari Madura, tepatnya ida berasal dari suatu daerah di Madura yang seluruh tanah disekitarnya berwarna merah yang sekarang dikenal dengan daerah Tanah Merah. Lokasi griya beliau disana berupa rumah panggung yang berada di suatu tanah lapang luas yang dekat dengan sumber air seperti danau kecil yang sampai sekarang keberadaannya tetap dikeramatkan dan disucikan di sana. Ida Rsi Madura merupakan guru suci dan guru silat dari Arya Wiraraja, semua ide diBalik kebangkitan Majapahit, termasuk kenapa Arya Wiraraja dari tanah Madura mau membantu Raden Wijaya berasal dari beliau. Akan tetapi keberadaan beliau sebagai pendeta alam yang lebih senang dekat dengan alam terutama alam laut dibandingkan duniawi menyebabkan jarang orang yang mengenal beliau. Dan mungkin tidak ada yang menyangka bahwa beliau adalah aktor utama diBalik kebangkitan Majapahit. Setelah majapahit berdiri beliau ditawarkan kedudukan sebagai pendeta utama penasihat raja, akan tetapi beliau memilih merantau ke tanah Bali untuk menapak tilas dan melanjutkan perjalanan leluhur beliau Ida Rsi Markhandeya untuk menata pulau Bali.

Bhujangga waisnawa Ida Maharsi Madura di danau beratan

Bhujangga waisnawa Ida Maharsi Madura di danau beratan

Menurut Raja Purana Pura Puncak Pengungangan, Bedugul. 

Menyebutkan tentang perjalanan Ida Rsi Madura dengan diiring sekitar 400-800 orang pengikut beliau datang dari jawa ke daerah seputaran Danau Beratan untuk melakukan pertapaan dan untuk membangun tempat-tempat suci. 

Begitu juga seperti tersebut dalam Bhuana Tattwa Rsi Markandeya, dimana dinyatakan bahwa Ida Rsi Madura memperistri anak dari Ida Dalem Tamblingan yang bernama Ida Dewa Ayu Sapuh Jagat. 

Dari dua sumber tertulis ini dapat ditelusuri bahwa Ida Rsi Madura pernah lama bertempat tinggal di daerah seputaran Bedugul. Di seputaran tempat ini, beliau banyak membangun tempat suci atau pura yang banyak mengadopsi arsitektur Jawa disesuaikan dengan tempat kelahiran dan asal Ida Rsi Madura yaitu dari daerah Madura. Pura-pura ini kalau kita telusuri dari daerah selatan adalah:

  • Pura Puncak Sari, 
  • Pura Puncak Kayu Sugih, 
  • Pura Puncak Pengungangan, 
  • Pura Batu Meringgit, 
  • Pura Puncak Terate Bang (Pura Puncak Bukit Tapak), 
  • Pura Penataran Beratan, 
  • Pura Candi Mas, 
  • Pura Puncak Rsi, 
  • Pura Puncak Taman Sebatu (Pura Ulun Danu Beratan yang asli). 

Jejak Bhujangga Waisnawa Perjalanan Ida Rsi Markandeya

Jejak Bhujangga Waisnawa Perjalanan Ida Rsi Markandeya dan Ida Rsi Madura Di Tanah Lombok Dan Sekitarnya.

Setelah memastikan pulau Bali merupakan titik sinar yang beliau lihat pada waktu bersemedi di Gunung Raung Jawa. Maka untuk memastikan suatu saat nanti di masa depan pulau Bali akan tetap menjadi pulau yang suci, maka Ida Maharsi Markandeya berusaha melindungi pulau Bali dengan cara memagari pulau Bali dengan sinar-sinar suci. 

Proses pemagaran pulau Bali ini terkait dengan penanaman panca datu di beberapa pulau yang mengelilingi pulau Bali. Tujuan dari penanaman panca datu di pulau-pulau yang mengelilingi pulau Bali ini adalah dengan tujuan jikalau suatu saat sinar kesucian pulau Bali mulai meredup akibat pola prilaku sekala-niskala dari penduduk Bali yang mulai tidak sesuai dengan kaidah Tri Kaya Parisudha dan Tri Hita Karana maka sinar-sinar suci dari pulau-pulau yang mengelilingi pulau Bali inilah yang akan memberikan sokongan energi supaya energi kesucian pulau Bali tetap terjaga. 

Pura Luhur Bhujangga Waisnawa

Pura Luhur Bhujangga Waisnawa

Berkaitan dengan Perjalanan Rsi Markendheya

Pura luhur Bhujangga Waisnawa terletak di Dusun Gunung Sari, Jati Luwih, Penebel. Pura ini disungsung oleh pertisentana Bhujangga Waisnawa atau lebih dikenal dengan Maha Warga Bhujangga Waisnawa yang berdomisili baik di Bali maupun luar Bali. Keberadaan pura yang kini berstatus pura kawitan ini, erat kaitannya dengan perjalanan Rsi Markandheya ke Bali sekitar abad VIII. Setelah kedatangannya yang kedua ke Bali yang diawali dengan upacara mendem Panca Datu di sekitar Pura Besakih sekarang, beliau meneruskan perjalanannya untuk mengajarkan penduduk tata cara upacara agama, ilmu pertanian dan keahlian lainnya pada berbagai tempat di Bali.

Selain pura di Jati Luwih, masih ada beberapa pura lainnya yang erat kaitannya dengan perjalanan beliau, di antaranya:

  • Pura Luhur Sebang Dahat di Desa Puakan, 
  • Pura Gunung Raung di Desa Taro, 
  • Pura Dalem Murwa di Desa Payangan, 
  • Pura Segara Kidul Batu Bolong, 
  • Pura Pedharman di Gunung Agung dan beberapa pura lainnya. 

Jika ditilik dari perjalanan Rsi Markandheya yang pada mulanya berpesraman di Gunung Raung Jawa Timur itu, beliau membangun tempat pemujaan di sekitar danau, laut, desa dan hutan atau gunung yang merupakan titik-titik strategis di daerah Bali.

Bhujangga Waisnawa dan Senggu

Bhujangga Waisnawa dan Senggu

Kata senggu berasal dari kata sengguh yang berarti dikira. 

perkataan ini menjadi rancu dengan kata sangguhu yang berarti sang guru atau sang guhung (sebutan ini tidak terlepas dari peranan leluhur bhujangga waisnawa yang menjadi pembimbing atau guru spiritual). demikan juga halnya dengan kata sengguan/sengguhan yang dapat berarti tempatnya i senggu/ i sengguh, dan kata sangguhuan yang artinya karang setra/suci. hal ini tidak terlepas dari tempat tinggal Ida Bhujangga Waisnawa yang selalu berdekatan dengan karang tenget atau karang setra karena sang Bhujangga mempunyai kemampuan sebagai pamahayu jagat, pangalebur lan panglukat sahananing leteh (melebur dang menyucikan segala kekotoran.

Penyebutan kata senggu atau sengguh berasal dari kisah pada jaman Dalem Waturenggong di klungkung. Pada zaman pemerintahan dalem Waturenggong, salah satu purohita beliau dari Bhujangga Waisnawa adalah Ida Bhujangga Guru. Selain sebagai purohita, Ida bhujangga juga berperan sebagai Guru bagi putra-putri sang raja.

Salah Kaprah tentang Senggu Bhujangga Waisnawa

Salah Kaprah tentang Senggu Bhujangga Waisnawa

Judul : Bhujangga Waisnawa dan Sang Trini

Penyusun : Drs. Gde Sara Sastra, M.Si.
Tebal : xv + 272 halaman
Penerbit : Pustaka Bali Post

BUKU ini boleh jadi sebuah pelurusan terhadap salah tafsir akibat informasi yang kurang lengkap. Sampai saat ini, masih banyak umat yang belum tahu secara jelas tentang status kepanditaan umat Hindu di Bali. Sejumlah contoh bisa dikemukakan, yakni masih banyak umat yang mengira bahwa pandita yang beraliran "Siwa" hanyalah pedanda (peranda). Demikian pula I Senggu sering disamakan dengan gelar Ida Bhujangga yang memiliki sebutan Sangguhu Bhujangga.

Yang menjadi biang keladi salah kaprah itu adalah perbuatan I Kelik, yang mau muput upacara besar yang digelar raja, padahal ia bukan pandita. Pada zaman pemerintahan Dalem Waturenggong, memang ada kisah yang menarik. Pada suatu hari, Dalem menggelar upacara yang cukup besar. Untuk me-muput upacara tersebut, Dalem mengundang Danghyang Nirartha yang juga bergelar Ida Pedanda Sakti Wawu Rawuh.