Google+
Tampilkan postingan dengan label Brahmana Manuaba. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Brahmana Manuaba. Tampilkan semua postingan

Keturunan Wangsa Brahmana Di Puri Agung Pemecutan

Jalinan pertalian kekeluargaan antara Puri Agung Pemecutan dengan Gria Bindu Kesiman dimana seorang putri dari Ida Bhatara Sakti Pemecutan dikawinkan dengan brahmana Geriya Bindu Kesiman dikuatkan oleh pemancanggah geriya cutan Pemedilan Denpasar yang masih tersimpan di Geriya cutan Pemedilan menguraikan bahwa Ida Bhatara Sakti memberikan putrinya yaitu A.A. Ayu Anom kepada Ida Wayahan Karang seorang brahmana yang beribu dari Wangaya dari keluarga wangsa Pasek Mendesa istri dari Ida Pedanda Made Mendesa yang tinggal di Griya Bindu Kesiman.

Hubungan kekeluargaan yang sangat akrab dan saling hormat menghormati terjalin dalam ikatan kekeluargaan dan kekrabatan diperkuat dengan bisama yang berbunyi " Tunggal Saka Wangsa Nira Sang Arya Nambangan, Nambangan Badung"

Mpu ( Danghyang ) Nirartha, di masa pemerintaran Dalem Waturenggong

Kitab perpustakaan kuna di Bali yang berjudul “Babad Brahana Kemenuh” dan kitab “Brahmana Purana” menceritakan kisah perjalanan Pendeta tersebut selengkapnya. Antara lain kitab tersebut menceritakan sebagai berikut :

Tersebutlah seorang Pendeta yang bernama “Mpu Nirartha, semasa mudanya beliau adalah memeluk Agama Buddha, akan tetapi kemudian beliau mengalih keagama Siwa. Pergantian Agamanya itu disebabkan karena perkawinannya dengan Diah Komala di negeri Daha, yang memeluk Agama Siwa. Dari perkawinannya dengan Diah Komala, beliau mempunyai 2 orang anak, seorang perempuan dan seorang laki-laki yang kemudian megnadakan keturunan “Brahmana Watek Kemenuh” di Bali. Berkembangnya Agama Islam sampai ke Daha, memaksa Mpu Nirartha bersama keluarganya meninggalkan Negeri Daha untuk pergi kerajaan pasuruhan. Disitu beliau mendapatkan keluarganya yang bernama : Mpu Panawasikan, dan kemudian anak Mpu tersebut lalu dikawinya. Dari perkawinan tersebut, lahirlah 4 orqng anak laki-laki yang kemudian mengadakan keturuan “Brahmana Watek Manuhaba”.