Google+
Tampilkan postingan dengan label Dang Hyang Dwijendra. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Dang Hyang Dwijendra. Tampilkan semua postingan

Mpu ( Danghyang ) Nirartha, di masa pemerintaran Dalem Waturenggong

Kitab perpustakaan kuna di Bali yang berjudul “Babad Brahana Kemenuh” dan kitab “Brahmana Purana” menceritakan kisah perjalanan Pendeta tersebut selengkapnya. Antara lain kitab tersebut menceritakan sebagai berikut :

Tersebutlah seorang Pendeta yang bernama “Mpu Nirartha, semasa mudanya beliau adalah memeluk Agama Buddha, akan tetapi kemudian beliau mengalih keagama Siwa. Pergantian Agamanya itu disebabkan karena perkawinannya dengan Diah Komala di negeri Daha, yang memeluk Agama Siwa. Dari perkawinannya dengan Diah Komala, beliau mempunyai 2 orang anak, seorang perempuan dan seorang laki-laki yang kemudian megnadakan keturunan “Brahmana Watek Kemenuh” di Bali. Berkembangnya Agama Islam sampai ke Daha, memaksa Mpu Nirartha bersama keluarganya meninggalkan Negeri Daha untuk pergi kerajaan pasuruhan. Disitu beliau mendapatkan keluarganya yang bernama : Mpu Panawasikan, dan kemudian anak Mpu tersebut lalu dikawinya. Dari perkawinan tersebut, lahirlah 4 orqng anak laki-laki yang kemudian mengadakan keturuan “Brahmana Watek Manuhaba”.

Dalem Waturenggong (Caka 1382 – 1472 atau 1460 – 1550 M)

Dalem Shri Aji Batur Enggong

Kemangkatan Gajah Mada pada tahun 1364, yang disusul pula kemudian dengan kemangkatannya Sri Hayam Wuruk pada tahun 1389, ternyatalah kedua peristiwa itu membuka jalan bagi runtuhnya kerajaan Majapahit dikemudian hari. 

Sejak itu sebenarnya kerajaan Majapahit sudahmulai mengalami kemunduran, karena tanpa adanya lagi muncul pemimpin-pemimpin baru yang cakap dan bijaksana untuk menggantikan Gajah Mada sebagai patih Mangkubumi.   Adanya usaha Baginda raja Sri Haya Wuruk ketika itu untuk mengadakan musyawah besar di istana Majapahit, ternyata tiada memberi hasil yang diharapkan. Malah sebaliknya, kemunduran yang dialami oleh kerajaan Majapahit ketika itu, dipergunakan oleh para Adipati di Daerah-daerah untuk memperkuat kedudukannya, terbukti dengan tindakan Sri Smara Kepakisan yang menjadi Adipati di Bali. Beliau menobatkan dirinya sebagai raja Rsi, dengan suatu upacara besar yang disebut Abhiseka. Walaupun demikian suatu perubahan yang terjadi, namun kerajaan Majapahit pernah menguasai Bali yang lamanya tiada kurang kira-kira dari 60 tahun.