Google+
Tampilkan postingan dengan label Pasek dan bendesa. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Pasek dan bendesa. Tampilkan semua postingan

Babad Pasek 3

Mulai dari jaman Bahari di mana di Bali masih keadaan guncang maka Bhatara Pasupati memerintahkan putranya 3 orang untuk mengukuhkan Bali. Ketiga putra ini yang nantinya menurunkan para Brahmana dan para Mpu di Jawa dan Bali.

Diceriterakan di Majapahit diperintah oleh Sri Aji Majalangu dengan Maha patih Yang terkenal Kryan Gajah Mada. Pada suatu ketika Sang Prabu Majapahit didatangi oleh para Mpu untuk memohon Raja di Bali. Hal ini diterima dan dipikirkan agar kelak Bali menjadi kerajaan yang kuat dan berwibawa. Setelah itu Kryan Gajah Mada mengusulkan kepada Sri Aji Majalangu untuk diangkatnya putra-putra dari Mpu Kepakisan karena dipandang cocok dan penuh bijaksana. Hal ini diterima, lalu diangkatnya yang tertua di Blangbangan, yang kedua di Pasuruhan dan yang wanita di Sumbawa serta yang bungsu di Gelgel. Putra yang bungsu bernama Sri Aji Kresna Kepakisan pergi ke Gelgel/ Samprangan dengan diiringkan oleh para Arya yang nantinya menurunkan para Ksatria di Bali seperti:
  • Arya Kanuruhan,
  • Arya Wang Bang,
  • Arya Kenceng,
  • Arya Dalancang,
  • Arya Tan Wikan,
  • Arya Kuta Waringin

Babad Pasek 1

Pada Sukra, Kliwon Tolu Sasih ke-5 Isaka 70 di bumi terjadi hujan yang amat deras, angin besar, lalu menurunkan putra dari Gunung Tolangkir, dan juga pada Sasih ke-6 Isaka 113 meletus lah Gunung Tolangkir dan lahirlah Bhatara Putrajaya, Bhatari Dhanuh, Bhatara Gnijaya. Adik dari Dewi Danuh bernama Bhatara Mahadewa. Dewi Danuh berparhyangan di Batur, Bhatara Gnijaya berparhyangan di Gunung Lempuyang.

Kemudian pada Anggara Kliwon Julungwangi sasih ke-2, Isaka 118, Bhatara Mahadewa bersama saudaranya beryoga menciptakan Brahmana pandita yang bernama Mpu Mahameru, Mpu Ghana dan Mpu Kuturan. Dan Mpu Pradah datang ke Gunung Semeru serta memuja Bhatara Pasupati. Juga Bhatara Mahadewa berputra Bhatara Ghana dan Bhatari Manik Geni diperistri oleh Mpu Gnijaya. Kemudian para putra Bhatara Pasupati datang ke Bali.

Diceriterakan Sri Aji Herlangga di Daha, didatangi oleh Bhatara Gnijaya serta diikuti oleh Mpu Mahameru, Mpu Ghana, Mpu Kuturan, Mpu Pradah, untuk menyampaikan keadaan di Bali.
Ketika Mpu Pradah turun ke Bali menuju Silayukti dilihat oleh Mpu Kuturan lalu disambutnya. Pada Radite Paing Dungulan Mpu Bradah pindah ke Gelgel.

BISAMA IDA BHATARA KAWITAN PASEK


Terjemahan dalam Bahasa Indonesia, berdasarkan buku Bisama Ida Bhatara Kawitan Pasek

Semoga tidak terlarang!

Kamu Pasek dan bendesa, jangan lupa akan kahyangan sesembahanmu, seperti yang berada di Gunung Lempuyang, di Besakih, di Silayukti (Padang Bai) beserta di Gelgel Dasar Buana. bila kamu sampai lupa akan kahyangan sesembahanmu, semoha kamu tidak rukun bersaudara, tidak henti-hentinya tertimpa kesulitan, tak putus-putusnya bertikai sesama saudara, bayak memiliki keterampilan kerja, namun kurang penghasilan.

Demikianlah pesanku, kepada kamu sekalian keturunanku (generasiku), yang sudah dicantumkan pada prasasti, yang kamu anut bersama. kamu tidak boleh menentang sabdaku, amat berbahaya, jangan sekali-kali kamu melupakannya.

apabila kamu menerima dan taat akan sabdaku, semoga kamu panjang umur, menikmati martabat mulia, memiliki keterampilan yang berarti, setiap yang diucapkan akan menjadi kenyataan, dihormati di dunia ini, dikasihi para dewata, karena kamu orang bijaksana, memiliki keterampilan utama, bertingkah laku yang sopan, lihai di dalam hal pemecahan masalah.

demikianlah yang tercantum dalam prasasti