Google+
Tampilkan postingan dengan label Bhatara Kawitan. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Bhatara Kawitan. Tampilkan semua postingan

benarkah memuja leluhur itu salah?

Benarkah memuja leluhur itu salah?


Belakangan ini semeton Hindu Bali agak sedikit terganggu dengan penafsiran yang mungkin kurang pas tentang bhakti marga, dimana dikatakan bahwa umat hindu bali yang menjalani tradisi gama bali atau gama tirta kurang mengikuti ajaran sesuai weda sesuai aslinya. ini diakibatkan oleh penafsiran atas sloka Bhagawad Gita oleh sekelompok umat hindu yang mengikuti ajaran sampradaya. bagi mereka memuja leluhur itu kurang tepat, karena yang lebih tepat adalah memuja tuhan, dimana tuhan yang dimaksud dalam penafsiran mereka terhadap kitab bhagawad gita adalah sosok tokoh sri krisna.

dalam anggapan mereka, krama bali yang meneruskan tradisi gamabali sebagai "terbelakang" atau "kurang paham ajar­an agama" atau sebutan lainnya, yang mengesankan seolah-olah mereka lebih tahu masalah agama dibandingkan kita orang bali?

Kawitan Leluhur Bali

Kawitan Leluhur Bali

Orang Bali tidak akan merasa lengkap jati dirinya bila dia belum mengetahui siapa dan dimana "Kawitan” dan sejarah perjalanana Leluhurnya. Mereka tertuntut menelusuri silsilah mereka ke atas, atau yang sudah merasa ‘mempunyai’ berlomba mempertegas “sejarah” (ingat dalam tanda kutip) mereka dengan babad atau unsur-unsur yang mempertegas keberadaan “kepalingbalian” mereka, kemudian diikuti dengan pembentukan organisasi soroh (komunitas yang mendasarkan diri pada persamaan kawitan, pura leluhur), membuat terbitan ekslusif untuk anggota, bahkan terkesan anggota sidang redaksinya “tertutup”, dan seterusnya.

“Kawitan saya dimana dan Siapa ?”
barangkali itulah kalimat yang sering kita dengar di masyarakat.

Apa yang dimaksud sebenarnya dengan Kawitan?

Secara umum masyarakat mengenal kata Kawitan dengan arti asal mula atau leluhur seseorang yang menjadi cikal bakal keberadaan keluarganya di masa kini. Atau bisa dikatakan bahwa Kawitan adalah Asal mula sebuah soroh atau clan yang ada di Bali.

Bhisama Pande 1

Tentang Pura Besakih dan Pura Penataran Pande di Besakih



Bhisama pertama, berupa bhisama agar Warga Pande tidak lupa menyungsung Pura Besakih dan Pura Penataran Pande di Besakih. Bhisama ini dipesankan dengan tegas oleh Mpu Siwa Saguna kepada Brahmana Dwala di Pura Bukit Indrakila sebagai berikut : ”Mangke hiyun ira turun ing Besaki. Didine ane Penataran Pande. Kita aywa lupa bakti ring kawitan ring Besakih”. (Sekarang kupesankan kepadamu, pergilah engkau ke Besakih. Disana ada Penataran Pande. Jangan lupa sujud bakti kepada kawitanmu di Besakih).

Apa akibatnya kalau Warga pande lupa nyungsung Ida Betara Kawitan yang berstana di Pura Ida Ratu Bagus Pande di Besakih ? marilah kita resapkan dan camkan Bhisama Mpu Siwa Saguna kepada Brahmana Dwala berikut : ”Warahakena katekeng mahagotranta, ri wekas inget-inget aja lali. Yan kita lipya ngaturanga panganjali ring Bhatara Kawitan, tan wun kita kabajrawisa de paduka Bhatara, sugih gawe kurang pangan”. (sebarluaskanlah kepada keluarga besarmu, sampai keturunanmu dikemudian hari kelak. Ingatlah selalu, jangan sampai lupa. Kalau engkau sampai lupa menyembah (nyungsung) Bhatara Kawitan, engkau akan disalahkan oleh Ida Bhatara. Kedati usahamu sukses engkau akan selalu kekurangan pangan).

Warga pande harus menyadari bahwa Pura Penataran Ida Ratu Bagus Pande di Besakih memang mempunyai kaitan yang sangat erat dengan Pura Besakih. Gelar abhiseka Ida Bhatara di Penataran Pande di Besakih justru diketemukan dalam Raja Purana Pura Besakih dan di dalam Babad Dalem Tarukan.

BISAMA IDA BHATARA KAWITAN PASEK


Terjemahan dalam Bahasa Indonesia, berdasarkan buku Bisama Ida Bhatara Kawitan Pasek

Semoga tidak terlarang!

Kamu Pasek dan bendesa, jangan lupa akan kahyangan sesembahanmu, seperti yang berada di Gunung Lempuyang, di Besakih, di Silayukti (Padang Bai) beserta di Gelgel Dasar Buana. bila kamu sampai lupa akan kahyangan sesembahanmu, semoha kamu tidak rukun bersaudara, tidak henti-hentinya tertimpa kesulitan, tak putus-putusnya bertikai sesama saudara, bayak memiliki keterampilan kerja, namun kurang penghasilan.

Demikianlah pesanku, kepada kamu sekalian keturunanku (generasiku), yang sudah dicantumkan pada prasasti, yang kamu anut bersama. kamu tidak boleh menentang sabdaku, amat berbahaya, jangan sekali-kali kamu melupakannya.

apabila kamu menerima dan taat akan sabdaku, semoga kamu panjang umur, menikmati martabat mulia, memiliki keterampilan yang berarti, setiap yang diucapkan akan menjadi kenyataan, dihormati di dunia ini, dikasihi para dewata, karena kamu orang bijaksana, memiliki keterampilan utama, bertingkah laku yang sopan, lihai di dalam hal pemecahan masalah.

demikianlah yang tercantum dalam prasasti