Jenis dan Makna Tirta Pengabenan
Ngaben dengan Banyak Tirta Saban upacara ngaben saya sering memperhatikan pemakaian sejumlah tirta. Di antaranya:
- tirta panembak,
- tirta pangentas,
- tirta balu,
- tirta pamanah, dan lain sebagainya.
Dilihat dari nama-nama tirta bersangkutan, rasanya nama tirta tersebut berasal dari bahasa lokal, yakni bahasa Bali, bukan dari bahasa Sansekerta.
Pertama, saya ingin tanyakan makna kata panembak, pangentas, pamanah, termasuk kata balu.
Dilihat dari bentuk, fungsi, dan maknanya apa sesungguhnya hakikat yang dimaksud tirta-tirta tersebut?
Misalnya, kenapa disebut tirta balu, tirta panembak, tirta pangentas, dan tirta pamanah ?
Kedua, bagaimana urutan yang benar pemakaian bersangkutan dalam upacara ngaben?
Ketiga, baru-baru ini seorang teman yang sempat bertirtayatra ke Sungai Gangga, India, menawari saya semangkok tirta dari Sungai Gangga. Menurut penuturan teman saya, konon tirta ini bagus untuk memerciki jenazah yang segera dibakar, karena menghapus segala dosa dan kepapaan, melengkapi tirta-tirta lain yang lumrah dipakai di Bali. Karena dia teman baik, saya terima saja tirta bersangkutan, namun karena ragu tirta itu saya simpan di mrajan. Saya belum berani memakai tirta dari Sungai Gangga itu sembarangan.
Pertanyaan saya, patutkah tirta Gangga itu dipakai dalam upacara ngaben?