Google+
Tampilkan postingan dengan label Pitra Yadnya. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Pitra Yadnya. Tampilkan semua postingan

Terjemahan dari Lontar Yama Tattwa

Terjemahan dari Lontar Yama Tattwa

ini sastra pitra yadnya yang merupakan Terjemahan dari Lontar Yama Tattwa

1b.
Semoga tidak mendapat rintangan. Tutur Yama Tatwa, yang memuat tentang pelaksanaan upacara kematian, dan bangunannya (bade) yang dipakai untuk orang mati. Mantra yang dipakai untuk pamlaspas bade (penyucian tempat pengusungan mayat): “Ya Tuhan dalam manifestasiMu sebagai Sang Hyang Ibu Pretiwi, Sang Hyang Yamadipati, Sang Hyang Rekatanah, Bagawan Sastra Walikilya, Bhagawan Wiswakarma, hamba mohon restu, ada hambaMu yang mengetahui bacaan mengenai berbagai bangunan, sebagai anugrah dari Sang Hyang Rekatanah, Bagawan Sastra Walikilya, Bagawan Wiswakarma. Ih Sang Hyang Taru Agung turunlah ke dunia, dijaga oleh Sang Hyang Ibu Pretiwi, mencari Sang Hyang Akasa, di atas melanjutkan beryoga, ditebang oleh manusiaMu, yang mendapat anugrah dari Sang Hyang Rekatanah, Bagawan

Lontar Yama Tattwa

Lontar Yama Tattwa

ini merupakan lontar Pitra Yadnya.

1b
Om awighnamastu nama sidham. Puniki tutur yamma tattwa, ne munggah wwang atatiwan, wwang pejah mawawangunan. puniki pemlaspas bade, ma pukulun sang hyang ibi perthiwi, sang hyang yamma dipathi , sang hyang rekatanah, bhagawan sastra walikilya, bagawan woswakarma, ulun aminta lugraha, hana manusa nira manusa wruh angawacana salwiring wewangunan, panugrahan nira sang hyang rekatanah, bhagawan sastra walikilya, bhagawan wiswakarma, ih sang hyang taru agung metu sira ing lemah, kemban de nira sang hyang ibu pretiwi, angulati sang hyang akasa, luwur nutugang yusa, karebah dening manusa nira, panugraha nira sang hyang rekatanah , bhagawan.

Lontar Yama Tattwa sebagai pakem mendirikan bangunan wadah

Lontar Yama Tattwa sebagai pakem mendirikan bangunan wadah

dalam upacara Pitra Yadnya, kadang kala sentana menunjukan rasa bhaktinya kepada leluhur (orang tua/keluarganya) dengan membuatkan wadah/bade. berikut ini Pakem Lontar Yama Tattwa yang menceritakan tentang pakem mendirikan bangunan wadah/bade.

Dari pakem-pakem yang dijelaskan dalam lontar yama tatwa dapat dijabarkan oleh I Wayan Wirya dalam tiga bagian, yaitu bagian kaki, bagian badan dan bagian kepala, dengan bentuk pepalihan dan ragam hias yang melekat pada wadah, yaitu:
  1. pada bagian kaki terdiri atas pepalihan bacem, pepalihan bedawang,  pepalihan gunung tajak dan  pepalihan gunung gelut;
  2. bagian badan terdiri atas pepalihan padma negara, pepalihan sancak dan pepalihan taman;
  3. bagian kepala terdiri atas pepalihan padma sari,  pepalihan badadara, pepalihan rongan, dan  pepalihan tumpang/atap.

Upacara Ngaben - Pitra Yadnya

Upacara Ngaben - Pitra Yadnya

ini merupakan ringkasan dari buku: "Mengapa Mayat Dibakar" karangan I Gusti Ketut Kaler, Yayasan Dharma Naradha, 1993
Ngaben berasal dari kata abu > abuan > abon > ngabon > ngaben
Meninggal sebelum kepus pusar
belum terhitung mahluk buana agung (dunia ) ini, dinilai sejajar dengan dewa. Upacara yang dibuat di rumah saat meninggal ditujukan untuk menyucikan ibu dan sang catur sanak juga pihak lain yang membantu atau ikut ambil bagian  saat bayi dilahirkan.

Sesudah kepus pungsed
upakara yang dibuat saat bayi meninggal untuk ngeluhurang Bhatara Kumara, juga mengembalika sang catur sanak dan juga upakara pemarida kecuntakan.
Usia 105 hari s/d sebelum gigi tanggal, hanya sawa anak telah berusia lebih dari 5 bulan boleh atau sebaiknya dibakar. Abunya dimasukkan dalam klungah nyuh gading. Yang berumur dibawahnya, diberi tirta pengentas baru dikubur. Abu di klungah nyuh gading disuguhkan sesaji sederhana, kemudian dihanyut ke sungai atau ke laut. Sebelum tirta pengentas tadi perlu juga dimohonkan tirta dari pemerajan, Kahyangan Tiga, Prajapati dan beberapa pura lainnya. Pada umur ini tidak perlu dilanjutkan  pada upacara atma wedana (memukur)

Jenis dan Makna Tirta Pengabenan

Jenis dan Makna Tirta Pengabenan

Ngaben dengan Banyak Tirta Saban upacara ngaben saya sering memperhatikan pemakaian sejumlah tirta. Di antaranya:

  • tirta panembak, 
  • tirta pangentas, 
  • tirta balu, 
  • tirta pamanah, dan lain sebagainya. 

Dilihat dari nama-nama tirta bersangkutan, rasanya nama tirta tersebut berasal dari bahasa lokal, yakni bahasa Bali, bukan dari bahasa Sansekerta.

Pertama, saya ingin tanyakan makna kata panembak, pangentas, pamanah, termasuk kata balu. 
Dilihat dari bentuk, fungsi, dan maknanya apa sesungguhnya hakikat yang dimaksud tirta-tirta tersebut? 
Misalnya, kenapa disebut tirta balu, tirta panembak, tirta pangentas, dan tirta pamanah ?
Kedua, bagaimana urutan yang benar pemakaian bersangkutan dalam upacara ngaben?
Ketiga, baru-baru ini seorang teman yang sempat bertirtayatra ke Sungai Gangga, India, menawari saya semangkok tirta dari Sungai Gangga. Menurut penuturan teman saya, konon tirta ini bagus untuk memerciki jenazah yang segera dibakar, karena menghapus segala dosa dan kepapaan, melengkapi tirta-tirta lain yang lumrah dipakai di Bali. Karena dia teman baik, saya terima saja tirta bersangkutan, namun karena ragu tirta itu saya simpan di mrajan. Saya belum berani memakai tirta dari Sungai Gangga itu sembarangan. 
Pertanyaan saya, patutkah tirta Gangga itu dipakai dalam upacara ngaben? 

Upakara dan Upacara Pitra Yadnya

Upakara dan Upacara Pitra Yadnya

Pitra yadnya adalah suatu upacara pemujaan dengan hati yang tulus ikhlas dan suci yang di tujukan kepada para Pitara dan roh-roh leluhur yang telah meninggal dunia.

Pitra yadnya juga berarti penghormatan dan pemeliharaan atau pemberian sesuatu yang baik dan layak kepada ayah-bunda dan kepada orang-orang tua yang telah meninggal yang ada di lingkungan keluarga sebagai suatu kelanjutan rasa bakti seorang anak ( sentana ) terhadap leluhurnya. Pelaksanaan upacara Pitra Yadnya di pandang sangat penting, karena seorang anak ( sentana ) mempunyai hutang budi, bahkan dapat di katakana berhutang jiwa kepada leluhurnya.
Carirakrt pranadata yasya
Cannami bhunjate,

Kramenaite trayo’pyuktah

Pitaro dharmasadhane
.
( Sarasamuccaya 242 )
Artinya:
Tiga perinciannya (yang disebut) Bapa menurut tingkah lakunya, carirakrta, pranadata (dan) annadata; carirakrta artinya yang menjadikan tubuh, pranadata yaitu yang memberi hidup (dan) annadata artinya yang memberi makan serta mengasuhnya. 

"Yam matapitaram klesam
seheta sambhawenrnam

na tasya niskrtih cakya 
kartum warsa catairapi” (Manawa Dharmasastra II.227)
Artinya:
Penderitaan yang diabaikan oleh Bapak dan Ibu pada waktu lahir anak (bayi) tidak dapat dibayar walaupun dalam waktu seratus tahun.

Panca Yadnya

Panca Yadnya

Yadnya adalah berarti kurban suci yang dilaksanakan dengan tulus ikhlas dalam ajaran Agama Hindu. Kata ini berasal dari Bahasa Sanskerta: यज्ञ (yajña) yang merupakan akar kata Yaj, yang berarti memuja, mempersembahkan atau korban suci. Dalam praktik agama Hindu di Bali, terdapat lima jenis Yadnya yang disebut dengan Panca Yadnya.

Panca yadnya berasal dari bahasa sansekerta, Panca berarti 5 dan yadnya berarti korban suci. Jadi panca Yadnya berarti lima korban suci yang tulus ikhlas tanpa mengarapkan imbalan. Orang yang melakukan Yadnya disebut Yajamana.

Dasar melakukan Yadnya

Semua yang ada di dunia ini merupakan ciptaan Tuhan Yang Maha Esa atau Hyang Widhi. Diantara ciptaan Tuhan maka manusia merupakan  ciptaanNya yang paling sempurna, karena manusia dapat berbuat, berkata-kata dan memiliki pikiran atau dengan  kata lain manusia memiliki unsur Tri Pramana yakni  bayu, sabda dan idep. Dengan  kesempurnaannya inilah  manusia wajib  menghormati dan menghargai semua ciptaan Tuhan, sebagai mana ada yang ditegaskan dalam sloka berikut ini:
Sarwa idam khalu Brahman” (Chandogya Upanisad 3.14.1)
yang maksudnya:
segala yang ada ini tidak lain  berasal dari pada Brahman.
Manusah sarvabhutesu varttate vai subhasubhe, 
asubhesu sama vistam subheve va va karayet” (Sarasamuccaya, 2).
artinya :
Diantara semua makhluk hidup, hanya yang dilahirkan menjadi manusia sajalah yang dapat melaksanakan perbuatan baik ataupun yang buruk, leburlah kedalam perbuatan baik, segala perbuatan yang buruk itu ; demikianlah  gunanya atau phalanya menjadi manusia.

Mantra upacara Pitra Yadnya

Mantra upacara Pitra Yadnya


Tirta Puwa Pangentas Wong Preteka.

Ong idam toyam wimalan dewam sarwa kali kalusa prasame namah swaha.
Ye toyamciwon ce yah, ye toyem prameng srayem, brahma, wisnu, swaroma yem, tat to sima murti dewam.
Ciwa angga Siwa samahen, Siwa Murti suka wahem, pawitram mangghalam, dwam sarwa manggalanne sanem, sarwa tirthem siyemsawem.
Antaranta maye cubhem, nugrahanem bagawan dewi maye datem.
Maheswaram, tirtha jatah pawitrakah, jale dewam rsi sangke, twe meweh sapwe mi yadi ye na sakti bhawisiyate.
Om ganerem maha tirthem, sarwa papa winasanem nama, ste bhagawan Gangga nama ‘stuti nala muwapuh.
Salilem winalem toyem-toyem tirtha swibbhawa wanem subiksa ye sama toye, dewanemlila nasanem. Gangga tirtha ye maha bhuta, maha nadhi tre priyem tatha sarwa dewati, deweye nameste ye namo namah.
Hung hur suma gangga idem toyem.