Selanjutnya I Gusti Ngurah Gede, putera sulung Cokorda
Ngurah Ketut menjadi Cokorda Tabanan, bergelar Cokorda Ngurah Gede, Raja
Tabanan XXIII Maret 1947 s/d 1986 dan beliau menjabat Bupati Tabanan Pertama
tahun 1950, tempat tinggal Beliau disebut Puri Gede / Puri Agung Tabanan / Puri
Pemecutan Tabanan.
Om Swastiastu, Om Awighnamastu Namo Siddham. Om Hrang Hring Sah Parama Siwaditya ya Namah. Terlebih dahulu, kami haturkan pangaksama mohon maaf ke hadapan Ida Hyang Parama Kawi serta Batara - Batari junjungan dan leluhur semuanya. Agar supaya, tatkala menceriterakan keberadaan para leluhur yang telah pulang ke Nirwana, kami terlepas dari kutuk dan neraka karena diambil dari berbagai sumber informasi, yang mungkin kurang tepat. Om Tat Pramadat Kesama Swamam. Om Santih
Tampilkan postingan dengan label raja tabanan. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label raja tabanan. Tampilkan semua postingan
Cokorda Ngurah Ketut (1929-1939) - Babad Tabanan
Pada Tahun 1906, Terjadi Perang Puputan Badung dimana
Raja Denpasar I Gusti Ngurah Made Denpasar dan Raja Pemecutan beserta pembesar
pembesar kerajaan tewas dalam perang Puputan Badung, Menyusul kemudian Ida Ratu
Singasana Tabanan I Gusti Ngurah Rai Perang (yang juga bergelar I Gusti Ngurah
Agung Tabanan) yang Nuek Raga di puri Denpasar Badung disertai Putra Mahkota
Tabanan I Gusti Ngurah Gede Pegeg yang Tewas dengan jalan meminum Sari. Puri
Singasana Tabanan kemudian dijarah dan dihancurkan oleh serdadu Belanda. Putri
putri Raja di Puri Singasana, Sagung ayu Oka dan Sagung ayu Putu, kemudian
berpindah ke Puri anom , dimana tahun 1910 Sagung Ayu Putu menikah dengan I
Gusti Ngurah Anom, bertempat di Puri Anom saren Taman (sekarang disebut Puri
Anom saren Kawuh) dan Sagung Ayu Oka menikah dengan Arthur Maurits Cramer,
seorang klerk kontrolir berkebangsaan Belanda pada tahun 1912.
Putra Putra Raja di Puri Dangin dan Kerabat-kerabat dekat Raja di Puri mecutan dan Puri Denpasar
kemudian di buang ke Lombok. Puri Dangin, Puri denpasar dan Puri Mecutan karena
tidak berpenghuni kemudian di ratakan dengan Tanah.
Ida Cokorda Sekar (1734) - Babad Tabanan
Ida Cokorda Sekar
Sesuai sabda beliau, maka yang menggantikan kedudukan
beliau adalah I Gusti Ngurah Sekar, bergelar Ida Cokorda Sekar, Raja
Singhasana. Beliau sempat memecat dan menjadikan sebagai rakyat biasa
Ki Ngakan Ngurah dari Kekeran yang durhaka, menyamai busana raja. Pusakanya
disita dibawa ke istana.
I Gusti Ngurah Gede, putera dari permaisuri merasa kecewa
karena tidak medapatkan kekuasaan. Oleh karena itu pergi ke arah Utara gunung
tinggal di rumah keluarga Brahmana Kemenuh, di desa Banjar. Cokorda Sekar
merasa risau atas kepergian adiknya. Beliau kemudian mengutus, I Gusti Subamia
untuk menjemput agar I Gusti Ngurah Gede bersedia kembali pulang ke Tabanan.
I Gusti Ngurah Gede bersedia pulang diikuti oleh seorang brahmana,
dari Gria Banjar, setelah segala keinginannya dijanjikan oleh I Gusti Subamia.
I Gusti Ngurah Gede kemudian memperoleh setengah wilayah dan rakyat, serta
mendirikan istana, Puri Kurambitan, meniru arsitektur istana Singhasana
Tabanan. Sumber penghasilannya Puri Kurambitan adalah sarang burung. Setelah
dinobatkan beliau bergelar Ida Cokorda Gede Banjar. Beliau banyak punya isteri
serta menurunkan para Arya di Kurambitan.
Ida Cokorda Tabanan - Babad Tabanan
Ratu Lepas Pemade / Ida Cokorda Mur Pamade
Sri Maghada Sakti kemudian wafat digantikan oleh Putera
Mahkota (pemayun), memimpin negara bergelar Ida Cokorda Tabanan, Raja
Singhasana. Isteri beliau adalah puteri dari I Gusti Ngurah Bija dari Bun,
adalah sepupu dari ibunya I Gusti Ayu Bun. Beliau tidak melakukan hubungan
kelamin dengan isterinya karena merasa dekat bersaudara.
Setelah lama beliau memerintah, belum juga beliau
berputera, sehingga beliau memutuskan dan berjanji “siapapun putera pertama lahir, walau dari
istri Sudra (penawing), maka dialah kelak akan menggantikannya sebagai raja
“.Selanjutnya yang pertama hamil adalah istri beliau yang bernamaNi Mekel
Sekar, diberi nama I Gusti Ngurah Sekar. Selanjutnya yang kedua hamil pada
istri beliau yang permasurinya dan lahir juga seorang putera diberi nama Ki
Gusti Ngurah Gede.
I Gusti Alit Dawuh - Babad Tabanan
Sri Magada Sakti (1700)
I Gusti Alit Dawuh kemudian mejadi raja Tabanan bergelar
Sri Maghada Sakti Raja Singhasana. Adapun yang menjabat Bahudanda I Gusti
Nyoman Kukuh. Semasa pemerintahannya negara aman dan tertib, rakyat sejahtera.
Pada suatu hari yang sudah ditentukan, Raja I Gusti Alit
Dawuh mengadakan pertemuan dihadap oleh para punggawa, manteri, bahudanda,
pendeta, pejabat-pejabat, serta tokoh-tokoh terkemuka di masyarakat. Dalam
pertemuan itu Raja I Gusti Alit Dawuh bersabda, bahwa tidak akan mengabdi lagi
kepada Ksatrya Dalem, karena merestui pembunuhan terhadap Maharaja Dewata
Bhatara Nisweng Panida. Dalem sudah ingkar terhadap hubungan baik antara
leluhur dulu. Semenjak itu putus hubungan kerajaan Tabanan dengan Dalem di
Suweca-pura.
Setelah Sri Megada Sakti mantap kekuasaannya, maka ingin
membalaskan dendam terhadap wilayah Penida, lalu diserang dan dapat ditaklukan,
sehingga semua kekuasaan daerah Penida masuk Kerajaan Tabanan, seperti :
Pandak, Kekeran, Nyitdah, Kediri dan lainnya.
Di Kabakaba lalu memerintah Prabu Alit, oleh karena masih muda, timbul pembangkangan dari pengikutnya. Prabu Alit melapor kepada Sri Megada Sakti, lalu beliau menertibkan dan menaklukan desa-desa yang membrontak. Itulah sebabnya daerah negara Tabanan semakin meluas dari lembah Sungai Sungi hingga ke Timur Sungai Pulukan dan sepanjang pantai Selatan.
Di Kabakaba lalu memerintah Prabu Alit, oleh karena masih muda, timbul pembangkangan dari pengikutnya. Prabu Alit melapor kepada Sri Megada Sakti, lalu beliau menertibkan dan menaklukan desa-desa yang membrontak. Itulah sebabnya daerah negara Tabanan semakin meluas dari lembah Sungai Sungi hingga ke Timur Sungai Pulukan dan sepanjang pantai Selatan.
Diceritakan I Gusti Agung Putu yang kemudian mendirikan
kerajaan Mengwi sempat ditawan di Tabanan. I Gusti Agung Putu kalah berperang
dengan I Gusti Ngurah Batu Tumpeng dari Kekeran Nyuh Gading. Namun diperlakukan
sebagai saudara oleh Sri Maghada Sakti. Kemudian atas permohonan I Gusti Putu
Bebalang dari desa Wratmara (Marga), I Gusti Agung Putu diperkenankan diajak ke
desanya, dan bersahabat dengan adiknya yang bernama I Gusti Celuk.
Ki Gusti Made Dalang - Babad Tabanan
Ki Gusti Made Dalang ( putra Ki Gusti Made Pamedekan )
berkedudukan di Puri Agung Tabanan sebagai Raja Singasana dengan wilayah
kekuasaannya di Sebelah Barat Sungai Dikis.
Ki Gusti Nengah Malkangin ( putra Ki Gusti Wayahan
Pamedekan ) berkedudukan di Puri Malkangin dengan wilayah kekuasaan di Sebelah
Timur Sungai Dikis.
Ki Gusti Made Dalang meninggal tanpa keturunan, sehingga
seluruh wilayah Tabanan dapat dipersatukan oleh Ki Gusti Nengah Malkangin
menjadi kekuasaannya. Ki Gusti Nengah Malkangin setelah menjadi Raja Singasana,
beliau selalu ingin membinasakan putra mahkota yang bernama Ki Gusti Alit Dawuh
( putra Sirarya Ngurah Tabanan / Betara Nisweng Penida ).
Sirarya Ngurah Tabanan I – Babad Arya Tabanan
Sri Magada Nata / Arya Yasan - Raja Tabanan II
Arya Pucangan I, Putera sulung Arya Keceng tidak tertarik
memegang pemerintahan. Maka kerajaan Pucangan (Buwahan) diperintah oleh adiknya
Arya Pucangan II bergelar Arya Ngurah Tabanan.
Adapun Kyai Tegeh Kori pindah ke Badung, di sebelah
selatan Setra Badung. Beliau memerintah wilayah Badung, membuat bendungan di
Pegat. Selanjutnya menurunkan warga besar yang disebut Para Gusti Tegeh.
Sedangkan yang paling bungsu seorang perempuan tetap tinggal di istana
Pucangan.
Sri Megada Nata mempunyai putera :
- Arya Ngurah Langwang
- Ki Gusti Made Kaler / Utara ( menurunkan Keluarga Besar Jero Subamya )
- Ki Gusti Nyoman Dawuh / Pascima (Menurunkan Keluarga Besar Jero Pameregan)
- Ki Gusti Ketut Dangin / Wetaning Pangkung ( Menurunkan Pragusti Lod Rurung, Kesimpar & Srampingan )
- Ki Gusti Samping Boni ( Menurunkan Pragusti Ersania, Kyayi Nengah & Kyayi Titih )
- Ki Gusti Nyoman Batan Ancak ( Menurunkan Pragusti Ancak & Angligan )
- Ki Gusti Ketut Lebah
Arya Kenceng - babad arya kenceng
Arya Kenceng Pendiri Kerajaan Pucangan/Buwahan
adalah seorang kesatria dari Majapahit yang
turut serta dalam ekspedisi penaklukan Bali bersama Mahapatih Gajah Mada.
Banyak versi mengenai keberadaan Arya Kenceng, dalam beberapa babad, misalnya Babad
Arya Tabanan, dinyatakan bahwa Arya Kenceng adalah adik dari Arya Damar, yang
lain mencatat Arya Kenceng identik dengan Arya Damar, dan beberapa naskah
lontar menyatakan beliau adalah anak dari Arya Damar.
Adwaya Brahman Shri Tinuheng Pura ( Beliau yang di
hormati di Singasari & Majapahit ) beristrikan Dar Jingga ( Sira Alaki Dewa
/ beliau yang bersuami seorang Dewa ), berputra :
- Raden Cakradara (suami Tribhuwana Tungga Dewi)
- Arya Damar / Adityawarman Raja Palembang
- Arya Kenceng
- Arya Kuta Wandira
- Arya Sentong
- Arya Belog (arya tan wikan)
Langganan:
Postingan (Atom)