Google+

Orang Bali Tidak Percaya dengan Wariga Dewasa Ayu

Orang Bali Tidak Percaya dengan Wariga Dewasa Ayu

Wariga dan Dewasa Ayu adalah salah satu lokal jenius yang berdasarkan weda khususnya jyotisa. Orang Bali terutama Umat Hindu mengenal tradisi Padewasan atau Wariga yakni baik-buruk suatu hari. Meskipun zaman sudah mengalami perkembangan yang sudah pesat dan modern, namun terkait mencari hari baik-buruk sebelum melakukan suatu kegiatan atau pekerjaan tetap dilakoni oleh orang Bali.

Tidak hanya berkaitan dengan upacara adat dan agama, juga mengenai dengan kegiatan-kegiatan zaman kini seperti membeli komputer, meresmikan sebuah supermarket dan sebagainya. Karena itu, banyak yang berkeyakinan dewasa atau wariga di Bali akan senantiasa ajeg kendati pun zaman sudah modern.

namun, belakangan ini ada beberapa kalangan warga bali yang melakukan kegiatan yang agak menyimpang, dimana mereka mencari padewasan (deasa ayu) tetapi sengaja melanggarnya. yang menjadi pertanyaan:

  • apa akibat dari kesengajaan melanggar hukum wariga ini?
  • apa sebab dari pelanggaran tersebut?

Dewasa ayu merupakan kepercayaan orang Bali berkenaan dengan penentuan baik-buruk hari setiap kali memulai suatu pekerjaan atau kegiatan. Orang Bali masih percaya, kesuksesan atau kelancaran suatu kegiatan atau pekerjaan tidak semata ditentukan oleh manusia itu sendiri tetapi juga pengaruh hari. Memang benar, dalam lontar wariga tidak disebutkan tentang membeli mobil atau membuka supermarket. Akan tetapi, ada wariga yang sifatnya umum. Apa yang menjadi tujuan dari dibelinya barang tersebut, itulah yang dicarikan dewasa. Kalau mobil atau sepeda motor yang dibeli bakal digunakan untuk usaha, maka dewasa berkaitan dengan kegiatan usaha yang dicari. tradisi wariga atau padewasan di Bali bisa mengikuti perkembangan zaman. Inti terpenting dari wariga atau padewasan itu yakni agar kita disiplin menggunakan waktu.

Wariga memiliki makna warah ring raga atau weruh ring raga yang artinya 'tahu atau sadar akan diri'. Karena itulah, dasar terpenting wariga adalah sang Diri.

Tradisi wariga diciptakan oleh para pendahulu di masa lalu didasari oleh kecerdasan menyikapi keberadaan alam berikut segala benda-benda di angkasa yang berkaitan dengan bumi seperti matahari, bulan serta bintang. Keberadaan matahari, bulan dan bintang itu memberikan pengaruh terhadap kehidupan di bumi termasuk keberadaan manusia.

Kendati begitu, tradisi wariga atau padewasan itu sebetulnya tidaklah saklek sekali. Salah satu hari mungkin dianggap baik untuk suatu kegiatan atau pekerjaan, tetapi berkenaan dengan pekerjaan atau kegiatan lain diangap buruk. contohnya:
Semut Sedulur, Hari ini dikatakan tidak baik untuk pelaksanaan upacara atiwa-tiwa atau mengubur mayat. Jika dilaksanakan upacara atiwa-tiwa atau penguburan mayat pada hari ini konon akan menyebabkan ada orang meninggal lagi, sehingga seisi desa akan mengusung mayat ke kuburan terus-menerus seperti iring-iringan semut. Namun, hari Semut Sedulur dinyatakan baik untuk mendirikan sebuah sekaa, perkumpulan atau memulai sebuah usaha.
Geni Rowana, pada hari ini tidak baik melakukan pekerjaan yang berhubungan dengan atap bangunan, karena akan berakibat nantinya kebakaran pada bangunan bersangkutan, tetapi hari ini sangat baik untuk melakukan pembakaran batu bata, serta produksi lainnya yang dihasilkan dari pembakaran dengan suhu panas yang tinggi.

Oleh karena itu, sebuah padewasan sangat bergantung kepada kepentingan atau tujuan pekerjaan atau kegiatan yang akan dilaksanakan. Sebuah hari baik akan dipilih berdasarkan kepentingan atau tujuan dari pekerjaan yang akan dilaksanakan.

tetapi bagaimana dengan semeton Bali yang tidak mempercayai Wariga atau Dewasa Ayu?

mohon diingat, Wariga merupakan dasar dari penentuan yadnya. setiap odalan serta kegiatan yadnya pasti berdasarkan wariga. apabila ada semeton Bali yang tidak percaya dengan wariga, secara otomatis dia juga tidak percaya dengan konsep yadnya yang ada dibali, dimana konsep dasar dari yadnya adalah Bhakti Marga Yoga, sehingga dapat disimpulkan oknum yang tidak percaya tersebut secara tidak langsung menentang ajaran Bhakti yang juga dapat diartikan bertentangan dengan ajaran Dharma. jadi kita bisa menganggap bahwa:
pertama, orang bali yang tidak percaya wariga dan padewasan adalah orang yang tidak menghormati leluhurnya, mengesampingkan tutur leluhur yang sejalan dengan ajaran dharma, bisa dikatakan sudah melenceng dari ajaran dharma.
kedua, semeton bali yang tidak percaya wariga dan dewasa ayu tersebut sudah bukan beragama hindu. pendapat ini didasarkan bahwa, wariga berakar dari ilmu jyotisa yang dituangkan kedalam beberapa lontar. dengan tidak meyakini wariga, berarti sama dengan tidak meyakini jyotisa yang merupakan bagian dari weda.
kira-kita apa penyebab dari ketidak-percayaan tersebut?
  • pertama, kurangnya minat membaca serta memahami ajaran dharma yang menyusup di budaya bali.
  • kedua, pengaruh globalisasi, yang menganggap semua keyakinan itu sama
  • ketiga, kurangnya pengawasan orang tetua terdahulu, sehingga pemahaman tentang wariga terlupakan untuk disampaikan kepada generasi penerusnya.

mungkin akan ada pertanyaan,
bukankah yang "nibak dewasa" atau memutuskan dewasa ayu tersebut adalah sulinggih pemuput? 
berarti sulinggih pemuput ikut andil dalam kesalahan ini?
jawabannya, TIDAK!

kenapa?
karena satu hal yang harus semeton bali ketahui, sulingih sangat jarang mau berdebat, dan sulinggih tidak boleh kikir atau harus memenuhi setiap permintaan sisya-nya, sepanjang beliau mampu memenuhi.
kembali ke pokok permasalahan, bahwa orang bali tidak menjalankan wariga karena "tidak tau" dan padewasan yang dialankan adalah putusan ida sang sulingih, maka kita harus mempertimbangkan 2 hal diatas tentang kewajiban sulinggih, dimana salahsatunya, sulinggih harus "miceyang" (memberikan) apa dari keinginan sisyanya. sehingga dalam hal ini, sisya-lah yang salah karena memohon hal yang kurang patut.
contohnya:
seorang sisya menghadap sulinggih, dimana sisya mendapatkan permasalahan bahwa pacar dari anaknya sudah hamil besar. kemudian sisya tersebut memohon dewasa ayu untuk melangsungkan upacara perkawinan.
apabila sisya tersebut memberikan kelonggaran kepada sulingih untuk memilih sendiri dewasa ayu yang paling tepat, maka sang sulingih pasti memberikan jalan keluar yang terbaik yang tidak bertentangan dengan ajaran dharma.
tetapi, realitanya.. sulinggih biasanya di intervensi oleh sisyanya, dengan berbagai alasan, misalnya: mohon dewasa ayu kawin dalam bulan ini. maka sang sulinggih akan memberikan dewasa ayu terbaik direntan waktu yang ditentukan oleh sisya.
yang jadi permasalahan, bagaimana bila sisya memohon pada saat umanis galungan yang sudah notabene dalam wariga dilarang karena masih dalam masa "uncal balung". maka dengan berat hati, sang sulinggih akan memberikan jalan padewasan terbaik diantara yang jelek, walau sejatinya dalam bulan tersebut tidak diperbolehkan, tetapi kewajiban sulinggih harus memberikan jalan yang terbaik.
dari contoh diatas, sebagian besar kesalahan ada dipihak oknum sisya yang memohon sesuatu yang tidakpatut diminta. tapi bagi sulinggih yang bijak, beliau akan memberikan penjelasan wariga bahkan adajuga sulinggih yang menolak muput karena hal tersebut sudah diluar batas kemampuan dari sulinggih tersebut.
untuk menambah refrensi silahkan baca artikel berikut ini:
jadi, hukum Orang Bali Tidak Percaya dengan Wariga Dewasa Ayu adalah fatal, karena disamping akan membahayakan pelaksananya juga akan berdampak pada kemerosotan keyakinan akan ajaran dharma. demikian artikel ini, semoga bermanfaat.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar