Google+

Tanya Jawab Tatwa dan Filsafat Hindu Bali

Tanya Jawab Tatwa dan Filsafat Hindu Bali

Hiruk pikuk dunia modern menuntut kita memberikan waktu lebih banyak untuk mengejar kehidupan duniawi dan kadang-kadang melupakan kehidupan spiritual kita. Dari percakapan Guru dan Murid di Asrama Jagathita, mungkin kita dapat bersantai sejenak dan menyimak pertanyaan-pertanyaan mendasar tentang Agama dan Dharma yang diajukan oleh sang murid kepada gurunya. ini merupakan cara belajar yang sering disebut dengan Upadesa, yakni duduk di dekat guru. 
semoga percakapan ini bermanfaat.

Tersebutlah seorang guru suci yang bernama Rsi Dharmakerti. Beliau tinggal di dalam asrama Jagathita yang telah terkenal karena pengetahuan dan laksananya dalam kebenaran yang tinggi yaitu Dharma atau Dhamma.

Pada suatu hari datanglah sang Suyasa, seorang sisya berkunjung untuk mendapatkan pengetahuan suci dan terjadilah percakapan antara Guru dan sisya. Sang sisya dengan sikap yang amat tertib yaitu menundukkan kepala, dengan kedua tangan tercakup didada, mulai matur dengan panganjali: "Om Swastiastu”. Sang guru yang mendengar ucapan tersebut segera menjawab “Om Santhi Santhi Santhi Om” serta mempersilahkan sang Suyasa duduk bersila dihadapannya. Setelah keduanya duduk dan Rsi Dharmakerti menanyakan kedatanggannya, maka sang Suyasa mulai umatur dengan cakupan tangan tetap di dada.

Umatur sang Suyasa:
"Oh Guru yang suci, yang hamba muliakan, maafkanlah keberanian hamba yang datang kehadapan Guru untuk memohonkan pengajaran-pengajaran suci dan berguna yang dapat memberikan sinar dan tuntunan pada jiwa hamba yang dalam kegelapan ini. Dengan cinta kasih dan kemurahan sang Guru, limpahkanlah ajaran suci yang dapat memberikan kebahagian abadi kepada semua mahluk di alam semesta ini.
Gurunda, selama ini hidup hamba tanpa kekurangan, baik dalam hal harta benda maupun kemasyuran nama, tetapi hati hamba masih kosong dan kadang-kadang diganggu oleh kedukaan. Sehingga sampai pada suatu kesimpulan bahwa harta benda dan kepuasan nafsu bukanlah kebahagian yang abadi adanya.
Hamba mendengar bahwa konon pada zaman dahulu, para Rsi yang hidup sangat sederhana tetapi suci, dapat mencapai jiwa besar dan kedamaian abadi sehingga menghasilkan karya-karya agung dalam bidang kesusastraan seperti Wiracarita Ramayana dan Mahabharata. Dalam pengembaraan hamba juga menemukan banyak bangunan-bangunan yang mengagumkan yang dibangun untuk keagamaan seperti Candi Borobudur, Prambanan, dan lainnya.
Juga ada pemimpin keagamaan dan prajurit agung yang hidupnya tekun melaksanakan tugasnya tanpa pamerih, konon dapat merasakan kedamaian dan kebahagian abadi dalam mengabdi pada masyarakat.
Inilah yang membingungkan hati hamba oh Gurunda. Benarkah ada kebahagian yang kekal demikian? Jika benar demikian adanya, bagaimanakah jalan yang dapat ditempuh untuk mencapainya”?

Dengan tersenyum dan rasa kasih sayang Rsi Dharmakerti menjawab:
“Berbahagialah ia yang sadar akan kehidupan ini dan mau mengetahui serta mendalami ajaran-ajaran Dharma untuk mencapai kebahagian dan kedamaian.
Guru sangat bahagia anaknda datang setelah mengetahui dan mengalami hidup keduniawian itu. ketahuilah bahwa segala yang anaknda katakan itu adalah benar adanya. Kebenaran dan kedamaian abadi itu dapat dicapai setiap orang, tidak ada kecualinya, jika telah mengalami tuntunan agama sesuai dengan ajaran-ajaran kitab suci dengan suci hati dan tulus ikhlas.
Jika anaknda sudah siap untuk mendengarkan uraian-uraian yang akan Guru berikan, maka perbaikilah terlebih dahulu sikap duduk dan pusatkanlah pikiran dan perhatian anaknda, karena ajaran suci akan dapat meresap dengan baik apabila diterima dengan sikap yang baik serta hati yang tenang dan tekun.”

Setelah diterima oleh Sang Guru, Sang Sisya pun bersiap untuk menerima pelajaran dari Sang Guru.
Sang Suyasa kemudian memperbaiki sikap duduknya dan Rsi Darmakertipun mulai memberikan ajarannya:
“Anakku, tadi anakku mengucapkan panganjali “Om Swastiastu”, tahukah anaknda artinya?”

sang suyasa menjawab,
“Oh Guru Suci maafkanlah atas kebodohan hamba ini yang tidak mengetahui akan hal tersebut. hamba mendengarkan seperti itu dan hanya ikut-ikutan saja” ujar sang Suyasa.

Kembali Rsi Dharmakerti tersenyum kemudian berkata,
“Tidak apa-apa anakku, jika memang anakku belum mengetahui maka Guru akan menerangkannya.
Om adalah aksara suci untuk Sang Hyang Widhi, nanti guru akan terangkan lebih lanjut tentang aksara Om ini. Kata Swastiastu terdiri dari kata-kata sansekerta Su + Asti + Astu, Su artinya “baik”, Asti artinya “Adalah” dan Astu artinya “mudah-mudahan”. Jadi arti keseluruhan Om Swastiastu adalah Semoga ada dalam keadaan baik atas karunia Hyang Widhi. Jadi ketika anaknda mengucapkan doa panganjali tersebut anaknda memuja Hyang Widhi dan memohon karunia kebaikan dan keselamatan dari Beliau”.
“Oh Guru Suci, hamba tidak mengira demikian luas arti dari ucapan panganjali tersebut” Ujar sang Suyasa. Sang Suyasa kemudian melanjutkan pertanyaannya. “ Guru suci yang hamba hormati, Gurunda tadi menjawab doa panganjali saya dengan “Om Santhi, Santhi, Santhi, Om” apa pulakah artinya itu oh Guru suci?”
Sang Rsi menjawab,
“Anakku, Om Santhi, Santhi, Santhi Om itu artinya “Semoga damai atas karunia Hyang Widhi”. Santhi artinya damai dan jawaban ini hanya diberikan oleh seorang yang lebih tua kepada yang lebih muda. Sedangkan jawaban atau sambutan terhadap panganjali dari orang yang sebaya atau dari orang yang lebih tua cukuplah dengan Om Swastyastu, yaitu sama-sma mendoakan semoga selamat. Hanya yang lebih tua patut memakai Om Shanti, Shanti, Shanti Om terhadap yang lebih muda. Atau dipakai juga untuk menutup suatu uraian atau tulisan.”

Sang Suyasa dengan rasa kagum dan ketertarikan akan ajaran dari Rsi Dharmakerti kemudian berkata,
“Oh, Gurunda, maafkanlah atas kebodohan diri hamba. Akan sangat banyak yang hamba tanyakan supaya benar-benar sirnalah segala kegelapan yang melekat dalam jiwa hamba.
Gurunda, mungkin pertanyaan hamba berikutnya ini terdengar sangat kekanak-kanakan. Dapatkah kiranya Gurunda menjelaskan makna dari Agama itu sendiri? Mohon maaf apabila hamba terkesan lancang Oh Guru yang mulia.”

Rsi Darmakerti tidak dapat menutupi kegembiraannya setelah mendengar pertanyaan tersebut. Dengan tersenyum Sang Guru berkata,
“Guru sungguh gembira anaknda menanyakan hal tersebut. Tidak ada salahnya bertanya anakku, apalagi hal tersebut bertujuan untuk meningkatkan jiwa dan nanti dapat diamalkan kepada masyarakat. Dan memang agama kita adalah buku terbuka bagi siapa yang berkeinginan untuk mengetahuinya.
Baiklah anakku, istilah agama itu berasal dari bahasa sansekerta “a” dan “gam”, “A” artinya tidak dan “Gam” artinya pergi. Jadi kata agama artinya tidak pergi, tetap ditempat atau langgeng. Namun arti agama secara kerohanian adalah Dharma dan kebenaran abadi yang mencakup seluruh jalan kehidupan manusia.
Agama adalah kepercayaan hidup pada ajaran-ajaran suci yang diwahyukan oleh Sang Hyang Widhi, yang kekal abadi. Anakku, agama yang kita anut bernama Agama Hindu atau Hindu Dharma. Agama Hindu ini diwahyukan oleh Sang Hyang Widhi yang diturunkan kedunia, dan pertama kalinya berkembang disekitar sungai Suci Sindu.
Tujuan Agama Hindu ini adalah untuk mencapai kedamaian rohani dan kesejahteraan hidup jasmani yang disebut sebagai “Moksartham Jagadhitaya Ca Iti Dharma” yang artinya Dharma atau Agama itu adalah untuk mencapai Moksa dan mencapai kesejahteraan mahluk (jagadhita). Moksa juga disebut mukti artinya mencapai kebebasan jiwatman atau kebahagiaan rohani yang langgeng.
Agama itu kalau diibaratkan sebagai rumah, tentunya supaya kokoh maka rumah itu pasti memiliki rangka, demikian juga halnya dengan agama Hindu. Agama Hindu memiliki kerangka dasar yang berjumlah tiga yaitu:
  1. Tatwa atau filsafat;
  2. Susila atau etika;
  3. Upacara atau ritual.
Walaupun terbagi-bagi, tetapi dalam kenyataannya mereka itu terjalin menjadi satu, kerangka itu tidak dapat berdiri sendiri-sendiri tetapi merupakan suatu kesatuan yang harus dimiliki dan dilaksanakan oleh umat Hindu. Jika filsafat saja diketahui tanpa melaksanakan ajaran susila dan upacara, tidaklah sempurna. Demikian juga apabila melaksanakan upacara saja tanpa dasar filsafat dan etika, percuma pulalah upacara-upacara tersebut, walaupun bagaimanapun besarnya upacara tersebut.
Jika diandaikan Agama Hindu itu adalah sebuah telor, maka sari telur atau kuning telur yang mengandung gen-gen mahluk hidup adalah tatwa atau filsafatnya, putih telor, yang berisikan sari pati untuk menukung embrio supaya lahir menjadi individu sempurna adalah susila atau etika, sedangkan kulit telur yang terlihat dari luar dan yang melindungi putih dan kuning telur adalah upacara atau ritual. Telur itu tidaklah sempurna apabila salah satu dari ketiga hal tersebut cacat.”

sang suyasa-pun menyahut:
“Oh Guru yang Agung, sunggung lega hati hamba mendengar penjelasan Gurunda tersebut. Demikian tinggi ajaran Agama Hindu tersebut yang semula membingungkan hamba untuk mempelajarinya, tetapi dengan penjelasan dari Gurunda tentang kerangka ajaran tersebut, sungguh membuat hamba mulai memahami ajaran suci agama kita. Namun demikian Gurunda, semakin banyak yang gurunda jelaskan membuat hamba ingin bertanya lebih lanjut mengenai kerangka agama hindu tersebut”, ujar sang Suyasa.

Tanpa terasa Sang surya sudah mulai tenggelam diufuk barat, dan pasraman Rsi Dharmakerti pun mulai gelap. Para sisya sudah kembali ke asrama masing-masing. Sang Rsi kemudian Berucap,
“Anakku, Guru merasa lega dengan ucapan anaknda dan paham akan banyaknya pertanyaan yang ingin anaknda ajukan, namun demikian hari telah mulai gelap, alangkah baiknya apabila anaknda istirahat dahulu sambil meresapi yang telah Guru sampaikan tadi. Karena sesungguhnya batu yang keras itu bukanlah dilubangi oleh suatu banjir besar akan tetapi oleh tetesan-tetesan air hujan yang terus menerus mengenainya”.
Sang Suyasa kemudian bangkit, menyembah gurunya dengan ucapan terima kasih dan doa selamat lalu mundur dengan tertib, kepala tetap menunduk dan tangan tetap terkatup didada dalam sikap panganjali.

Asrama Jagadhita terletak di daerah dataran tinggi sehingga udaranya sangat sejuk dan jauh dari hingar bingar kehidupan duniawi. Sungai-sungai berair jernih yang penuh dengan ikan-ikan, mengalir dengan tenang menuju ke muara. Pepohonan besar masih berdiri dengan tegak perkasa dan sangat terawat di sekitar asrama, yang menunjukkan adanya suatu hubungan yang harmonis dan saling mengasihi antara manusia dan alam sekitarnya. Pepohonan itu memberikan oksigen yang berlimpah sehingga udara yang segar dapat dinikmati oleh semua orang di asrama Jagadhita.

Di kejauhan tampak sawah-sawah yang tersusun dengan indah dan para petani tengah sibuk dengan tugas mereka seperti menyiangi sawahnya, mencari rumput bagi ternak-ternak mereka, merawat saluran air, dan lainnya. Sementara para burung bangau hinggap di pematang sawah untuk mencari katak-katak sawah sebagai sarapan mereka. Burung pengicau bersuara dengan indah di dahan-dahan pohon, mungkin kicauan itu merupakan doa mereka kepada Ida Sang Hyang Widi Wasa atas karunia yang Beliau berikan.

Sungguh tertarik hari Sang Suyasa untuk mengetahui bagaimanakah Agama Hindu memandang alam semesta ini beserta isinya itu. Sang Suyasa telah selesai melaksanakan Puja Trisandya dan bersiap menghadap Rsi Dharmakerti untuk mendapatkan ajaran – ajaran dari beliau. 
Sang Suyasa mengucapkan Panganjali kepada Sang Rsi:
“Om Swastiastu”

Dengan tersenyum sang Rsi menjawab,
”Om Santhi, Santhi, Santhi, Om, silahkan anakku duduklah dan ceritakanlah tentang ajaran yang telah Guru berikan pada hari kemarin”.

Ujar sang Suyasa:
“Oh Gurunda yang saya hormati.
Hamba mencoba meresapi akan ajaran yang gurunda berikan pada hari kemarin, dan semakin banyak pertanyaan yang terlintas di benak hamba. Pagi ini hamba berjalan-jalan di sekitar asrama dan hamba melihat begitu banyak hal. Hamba melihat sang surya bersinar dari balik bukit-bukit yang gagah perkasa, awan yang beriringan, pepohonan, para petani dan burung-burung yang tengah sibuk dengan aktifitas mereka.
Hamba merenungkan dengan ajaran yang telah gurunda berikan kemarin, namun hamba belum dapat menjawab banyak hal, siapakah yang menciptakan itu semua? Kenapa ada benda yang hidup dan ada pula yang mati? Wujud ciptaan itu demikian beraneka ragam, bagaimanakah penciptaan itu? Mohon penjelasan oh Guru”.

Sang Rsi pun mulai memberikan penjelasannya.
“Guru mengerti akan kebingungan anaknda, baiklah anakku, Guru akan memulai penjelasan dari masing-masing kerangka dasar Agama Hindu yang kemarin telah Guru jelaskan dan nanti silahkan anaknda dapatkan jawaban atas pertanyaan anaknda tersebut.
Secara tatwa Agama Hindu memiliki lima kepercayaan mutlak yang disebut dengan Panca Srada yang terdiri dari:
  1. Brahman, yaitu percaya akan adanya Sang Hyang Widi Wasa atau Tuhan Yang Maha Esa;
  2. Atman, yaitu percaya akan adanya atma atau roh;
  3. Karma phala, yaitu percaya akan adanya hukum mutlak yang disebut dengan karma phala;
  4. Punarbawa, yaitu percaya akan adanya samsara atau kelahiran kembali;
  5. Moksah, yaitu percaya akan adanya pencapaian rohani tertinggi yang disebut dengan moksa atau manusia sudah mampu mencapai Nibbana atau Nirwana.
Guru akan mulai menjelaskan dari kepercayaan yang pertama yaitu percaya akan adanya Brahman atau Sang Hyang Widi Wasa.
Ida Sang Hyang Widi Wasa adalah Ia yang Maha Kuasa sebagai Pencipta, Pemelihara dan Pemrelina segala yang ada di alam semesta ini.
Sang Hyang Widhi adalah Maha Esa. Sebagaimana dikatakan dalam pustaka suci Weda
“Ekam Eva Adwityam Brahman” yang artinya “Hanya ada satu, tidak ada duanya Ida Sang Hyang Widi Itu”;
“Eko Narayanad Na Dwityo’sti Kascit” yang artinya “Hanya satu Tuhan sama sekali tidak ada duanya”;
Didalam lontar sutasoma disebutkan juga bahwa “Bhineka Tunggal Ika, Tan Hana Dharma Mangrwa” yang artinya “Berbeda-beda tetapi satu, tidak ada Dharma yang dua”;
juga dikatakan “Ekam Sat Wiprah Bahuda Wadanti” artinya “Hanya satu Sang Hyang Widi hanya orang bijaksana menyebutkan dengan banyak nama”.
Tentu anaknda heran, mengapa sampai disebut dengan banyak nama? Itu karena sifat-sifat Sang Hyang Widi yang maha Mulia, Maha Kuasa Maha Pengasih dan tiada terbatas sedangkan kekuatan manusia untuk menggambarkan Sang Hyang Widi sangat terbatas adanya. 
Para Maha Rsi kita hanya mampu memberi sebutan dengan banyak nama menurut fungsinya, dan yang paling utama adalah Tri Sakti yaitu Brahma, Wisnu dan Siwa.
  1. Brahma adalah sebutan Sang Hyang Widi dalam fungsinya sebagai pencipta atau Utpatti;
  2. Wisnu adalah sebutan Sang Hyang Widi dalam fungsinya sebagai pelindung, pemelihara dengan segala kasih sayangNya atau disebut dengan Sthiti;
  3. Siwa adalah sebutan Sang Hyang Widi dalam fungsinya melebur/pralina dunia beserta isinya dan mengembalikan dalam peredarannya ke asal”.
Lebih lanjut, silahkan baca "Tri Murti"

sang murid bertanya kembali:
“Maafkan Guruku, mengapa Tri sakti ini dikatakan yang paling Utama?”
Sang Rsi pun kembali menjelaskan
“Anakku, Tri sakti itu adalah kekuatan mencipta, memelihara dan melebur semesta alam.
Adakah yang lebih kuasa dari ketiga kekuatan ini?
Tahukah anaknda siapa yang tidak dikuasai oleh ketiga hukum lahir, hidup dan mati ini?
Siapakah yang hidup tetapi tidak akan mati?
Jadi bukankah amat utama kekuatan Hyang Widi yang tiga ini?
Adakah yang lebih kuasa daripadaNya”?

Sang Suyasa terdiam dengan pertanyaan gurunya. Suasana ruangan sejenak hening. Sang Rsi memberikan kesempatan kepada sang sisya untuk meresapi apa yang telah disampaikannya. Sang Suyasa kemudian mengangguk sebagai tanda mengerti.

Sang Rsi pun melanjutkan penjelasannya,
“Untuk dapat meresapkan kemahakuasaan Hyang Widhi ini anakku, maka Agama Hindu memberikan simbol pada kekuatanNya ini dalam ucapan aksara yaitu aksara suci OM.
Kata OM adalah aksara suci untuk mewujudkan Sang Hyang Widhi dengan ketiga prabawanya yaitu:
  1. Brahma, Hyang Widi dalam prabawanya maha pencipta disimbulkan dengan aksara A;
  2. Wisnu, Hyang Widi dalam prabawanya maha pelindung disimbulkan dengan aksara U;
  3. Siwa, Hyang Widi dalam prabawanya maha pelebur disimbulkan dengan aksara M;
Suara A, U, M ini ditunggalkan menjadi AUM atau OM”.

Sang Suyasa terlihat kurang paham dan bertanya,
“Gurunda, maafkan kalau hamba merasa kurang jelas, apakah Sang Hyang Widhi itu sama dengan Dewa atau Bhatara”?

Sang Rsi menjawab:
“Tidak anakku, Sang Hyang Widhi tidak sama dengan Dewa atau Bhatara.
Dewa adalah perwujudan sinar suci dari Sang Hyang Widhi yang memberikan kekuatan suci guna kesempurnaan hidup mahluk. Dewa itu bukannya Sang Hyang Widhi Wasa, ia hanyalah merupakan sinarNya. Kata Dewa berasal dari bahasa sansekerta DIV yang artinya sinar, jadi Dewa berarti bersinar.
Sedangkan Bhatara yaitu prabawa (manifestasi) dari kekuatan Sang Hyang Widhi untuk memberi perlindungan terhadap ciptaannya. Kata Bhatara berasal dari kata sansekerta “Bhatr” yang berarti pelindung.
Antara kata Dewa dan Bhatara sering pemakaiannya diartikan sama saja. Umpamanya Dewa Wisnu disebutkan juga Bhatara Wisnu karena beliau melindungi mahluk. Demikian juga Raja-Raja besar yang sudah wafat atau leluhur kita beri gelar Bhatara karena beliau itu melindungi kita”.
simak lebih lanjut di "Dewa dan Bhatara"

Sang Sisya bertanya,
“Tetapi Gurunda, bagaimanakah kita bisa meyakinkan bahwa Sang Hyang Widhi itu ada”?

Sang Rsi menjawab:
“Anakku, agama kita mengajarkan adanya tiga cara untuk mengetahui adanya Ida Sang Hyang Widhi (Tri Pramana) yaitu:
  1. Praktyasa Pramana, yang artinya kita mengetahui bahwa Ida Sang Hyang Widhi itu ada berdasarkan pengelihatan secara langsung atas keberadaan beliau. Namun karena sifat manusia yang serba terbatas sedangkan Beliau adalah Maha Sempurna dan tak terbatas sehingga kita tidak mampu dengan mudah melihat Beliau. Sama seperti bintang di siang hari yang tidak mampu kita lihat karena cahaya matahari lebih terang daripada bintang, namun bukan berarti pada siang hari tidak ada bintang. Jika hati dan jiwa kita sudah bersih maka kita mungkin akan dapat Melihat Ida Sang Hyang Widhi. Pembersihan jiwa dan hati ini dapat dilakukan dengan menjalankan ajaran-ajaran suci yang telah dituangkan didalam pustaka-pustaka suci Weda.
  2. Anumana Pramana, yang artinya kita mengetahui bahwa Ida Sang Hyang Widhi ada dengan cara melakukan analisa, misalnya bahwa tentunya tidak akan ada alam semesta beserta isinya ini jika tidak ada yang menciptakannya, memeliharanya, dan melakukan regenerasi atas seluruh mahluk yang ada diatasnya, dan tentunya itu hanya bisa dilakukan oleh Kemahakuasaan Ida Sang Hyang Widhi.
  3. Agama Pramana, artinya mengetahui keberadaan Beliau karena diberitahukan oleh orang-orang suci yang tidak pernah berbohong, atau dengan mempelajari dan mempercayai isi pustaka suci kita.
Tentunya sekarang anaknda dapat menyimpulkan sendiri pertanyaan yang tadi anaknda ajukan mengenai pencipta alam semesta ini”. Kata sang Rsi Kepada Sang Suyasa.

Sang Suyasa meresapi perkataan Gurunya kemudian berkata.
”Oh, Guru yang mulia, hamba sudah dapat menyimpulkan bahwa seluruh alam semesta beserta isinya adalah ciptaan Ida Sang Hyang Widhi Wasa. Akan tetapi bagaimanakan alam semesta itu tercipta, mohon Guru dapat menjelaskan lebih lanjut”.

Sang Rsi kemudian melanjutkan untuk menjawab pertanyaan sang Sisya.
”Pada waktu terjadi ciptaan (srsti), dengan kemaha kuasaanNya (Kryasakti), dunia diciptakan secara berlahan-lahan (evolusi) dari Sang Hyang Widhi dan kembali kepadaNya pada waktu kiamat (Pralaya). Jadi Sang Hyang Widhi menciptakan alam semesta ini dari diriNya sendiri. Tetapi karena kemahakuasaanNya diriNya itu tetap sempurna.
dalam Upanisad dikatakan:
Purnamadah purnamidam, purnat purnam udacyate, purnasya purnamadaya, purnam eva awasisyate.
Yang artinya:
Sang Hyang Widhi adalah sempurna, alam semesta inipun sempurna. dari yang sempurna lahirlah yang sempurna, walaupun dari yang sempurna (Sang Hyang Widhi) diambil oleh yang sempurna (alam semesta) tetapi sisanya (Sang Hyang Widhi) tetap sempurna adanya.
Penciptaan maupun kiamatnya (pralaya) dunia adalah merupakan perputaran lingkaran sehingga tidak dapat diketahui awal dan akhirnya karena umur manusia demikian pendeknya dan ingatan kita demikian terbatas. Tetapi yang jelas adalah bahwa dalam kehidupan ini setiap saat ada penciptaan (srsti) dan setiap saat ada pralina (pralaya) sehingga sebenarnya hidup ini terus mengalami srsti-pralaya.
Dunia diciptakan dengan unsur-unsur Panca Tan Matra yaitu unsur zat Ether, zat Cahaya, zat Hawa, zat Cair, dan zat Padat atau parama anu terdiri dari Akasa, Teja, Bayu, Pertiwi. Parama anu adalah unsur-unsur yang jauh lebih kecil dari atom-atom. Parama artinya “amat sangat” dan anu artinya “atom”.
Sebelum diciptakannya alam semesta ini tidak ada apa-apa, selain Sang Hyang Widi Wasa Beliau yang Maha Esa. Ciptaan terjadi dari pancaran kemahakuasaanNya (Wibhuti) yang terpancar melalui Tapa.
Dalam pustaka Taittriya Upanisad disebutkan:
Sa tapo tasyata, so rapas taptwa,
Idam sarwam asrjata, yad idam kim ca,
Tat srstwa tad ewa anuprawicat,
Tad anuprawiscya sac ca tyao ca abhawat
Yang artinya:
‘Hyang Widhi Wasa Melakukan tapa, setelah mengadakan tapa, terciptalah semuanya yaitu segala apa yang ada di alam ini. setelah menciptakan, kedalam ciptaanNya itu Hyang Widhi menjadi satu’
Demikianlah halnya sehingga dapat dikatakan bahwa Hyang Widhi bukan saja menciptakan alam semesta tetapi meresapkan serta menghidupkan alam semesta itu dan Hyang Widhi tetap sempurna. Didalam kitab Purana planet disebutkan sebagai Brahma anda yang artinya Telur Hyang Widhi, dan sudah jelaslah disebutkan bahwa planet itu berbentuk bulat".
"Dari tapa yang dilakukan oleh Sang Hyang Widhi Wasa tersebut muncullah dua kekuatan asal yaitu kekuatan kejiwaan dan kekuatan kebendaan yang dinamai Purusa dan Prakerti/Pradana. Kedua kekuatan ini bertemu sehingga terciptalah alam semesta ini.
tetapi ketahuilah anaknda, bahwa terjadinya ciptaan itu tidaklah sekaligus, melainkan tahap demi tahap dari yang halus kepada yang kasar. Mula pertama timbullah CITTA (alam pikiran) yang mulai dipengaruhi oleh Triguna yaitu SATWA, RAJAH, dan TAMAH. Kemudian timbullah BUDHI (naluri pengenalan). Kemudian timbul MANAH (akal dan perasaan) lalu timbul AHANGKARA (rasa keakuan). Setelah ini timbul DASA INDRIA (sepuluh sumber indria) yang terbagi menjadi dua yaitu PANCA BUDHI INDRIA dan PANCA KARMA INDRIA.
PANCA BUDHI INDRIA terdiri dari:
  1. SROTA INDRIA yaitu rangsang pendengar;
  2. TWAKINDRIA yaitu rangsang pengecap;
  3. CAKSU INDRIA yaitu rangsang pengeliharan;
  4. JIHWA INDRIA yaitu rangsang perasa;
  5. GHRANA INDRIA yaitu rangsang penciuman.
PANCA KARMA INDRIA terdiri dari:
  1. WAK INDRIA yaitu penggerak mulut;
  2. PANI INDRIA yaitu penggerak tangan;
  3. PADA INDRIA yaitu penggerak kaki;
  4. PAYU INDRIA yaitu penggerak pelepasan;
  5. UPASTHA INDRIA yaitu penggerak kemaluan.
Setelah indria-indria ini munculah PANCA TAN MATRA (lima benih dari zat alam) yaitu
  1. SABDA TANMATRA yaitu benih suara;
  2. SPARSA TANMATRA yaitu benih rasa sentuhan;
  3. RUPA TANMATRA yaitu benih pengelihatan;
  4. RASA TAN MATRA yaitu benih suara;
  5. GANDHA TANMATRA yaitu benih penciuman.
Dari Panca Tan Matra yang hanya merupakan benih dari zat alam terjadilah unsur benda materi yang nyata. Unsur-unsur nyata ini dinamai dengan PANCA MAHA BUTHA (lima unsur zat alam) yaitu: AKASA (ether), BAYU (gas), TEJA (sinar surya/api), APAH (zat cair), PERTIWI (zat padat). Kelima ini berbentuk Parama anu atau atom yang sebelumnya telah Guru jelaskan.
Panca Maha Bhuta inilah yang berevolusi atau mengolah diri sehingga terbentuklah alam semesta ini yang terdiri dari Brahmanda-brahmanda seperti matahari-matahari, bulan, bintang-bintang, dan planet-planet termasuk bumi kita ini.
Keseluruhannya itu terdiri dari tujuh lapisan dunia (sphere) yaitu:
  1. BHUR LOKA;
  2. BHUWAH LOKA;
  3. SWAH LOKA;
  4. MAHA LOKA;
  5. JANA LOKA;
  6. TAPA LOKA;
  7. SATYA LOKA.
Adapun perbedaan satu dunia (loka) dengan yang lainnya ialah ditentukan oleh unsur mana dari Panca Maha Bhuta yang terbanyak menguasainya. Umpamanya Bhur Loka yang juga dinamai dengan Pitra Loka atau dunia roh yang banyak dikuasai oleh unsur Apah (air) dan Teja (cahaya). Sedangkan Swah Loka atau disebut juga sebagai dunia para dewa dikuasai oleh unsur Teja (sinar) dan Bayu (gas/hawa).
Sari-sari dari Panca Maha Bhuta ini kemudian menjadi Sad Darsana (enam rasa) yaitu manis, pahit, asam, asin, pedas dan sepat. Unsur –unsur ini dicampur dengan unsur – unsur lain yaitu Cita, Budhi, Ahamkara, Dasendria, Panca tan matra, dan Panca Maha bhuta, sehingga menghasilkan dua unsur benih kehidupan yaitu Swanita (ovum/sel telur) dan Sukla (Sperma).
Pertemuan antara Sukla dan Swanita tersebut sama dengan pertemuan Purusa dan Pradana seperti yang telah guru jelaskan sebelumnya, sehingga timbulah atau lahirlah mahluk hidup yang memiliki segala unsur alam tersebut diatas."
Cita, Budhi dan Ahamkara membentuk watak budi seseorang. Dasaendria membentuk indrianya. Panca Tan Matra dan Panca Maha Bhuta membentuk badan mahluk hidup. Jika Panca Maha Bhuta dialam besar (makrokosmos) membentuk antara lain Triloka yaitu Bhur, Bwah dan Swah loka, maka dialam kecil atau tubuh mahluk hidup (mikrokosmos) terbentuklah trisarira (tiga lapis badan) yaitu Stula Sarira (badan Kasar), Suksma Sarira (badan Halus) dan Karana Sarira (Badan Penyebab). Jadi Bhuana Agung dan Bhuana Alit atau Macrocosmos dan Microcosmos mempunyai sifat-sifat keadaan yang sama.
Demikianlah anakku, pandangan agama kita terhadap alam semesta dan mahluk isinya. Renungkanlah hal tersebut”.

Sang Suyasa kemudian berkata.
“Oh Guru Suci, sungguh telah terjawab pertanyaan-pertanyaan hamba, namun siapakah manusia pertama yang diciptakan oleh Hyang Widhi Wasa itu Guru”?

Sang Rsi menjelaskan,
“Ketahuilah anakku, sebelum menciptakan manusia, Hyang Widhi telah menciptakan terlebih dahulu sesuai dengan jalannya dari yang halus ke yang kasar, yaitu menciptakan mahluk seperti dewa-dewa, gandarwa, pisaca, raksasa dan sebagainya dan mahluk berbadan kasar seperti binatang dan tumbuhan.
Manusia pertama disebut dengan nama Manu atau lengkapnya Swayambu Manu. Dengan nama ini jangan dikira bahwa Swayambu manu merupakan nama perseorangan karena kalau dilihat dari artinya Swayambu Manu berarti “Mahluk Berpikir Yang Menjadikan Diri Sendiri” atau manusia Pertama.
Demikian anakku, dapat Guru jelaskan, namun sekarang sudah hampir tengah hari sehingga sudah waktunya kita untuk melakukan persembahyangan, jadi Guru tutup sejenak namun renungkanlah ajaran yang telah Guru berikan hari ini”.

Ujar sang Suyasa,
“Terima kasih Gurunda, sungguh tinggi ajaran yang telah diberikan kepada hamba, akan hamba renungkan dan simpan dalam hati ajaran Gurunda tersebut”.

Sang Suyasa kemudian menghaturkan Panganjali dan meninggalkan tempat sang guru dengan tertib untuk bersiap melakukan persembahyangan tri sandya.

Setelah selesai bersembahyang dan beristirahat, Sang Rsi pun mulai melanjutkan wejangannya.
“Anakku, tentunya anaknda bertanya-tanya kenapa mahluk itu bisa hidup, dan apapulakah yang menyebabkan hal itu. Untuk itu, agama kita memiliki penjelasan atas hal tersebut yang dituangkan didalam Atma Tatwa ”.

Sang Suyasa bertanya,
“Bagaimanakah Atma Tatwa itu Oh Gurunda”?

Sang Guru Suci kemudian melanjutkan,
“Baiklah Anakku akan guru terangkan.
Atman merupakan percikan-percikan kecil dari Parama Atman yaitu Sang Hyang Widhi Wasa yang berada didalam mahluk hidup. Atman didalam badan manusia disebut dengan Jiwatman yaitu yang menghidupkan manusia. Atman didalam badan ini adalah seperti kusir kereta dan badan diumpamakan seperti kereta. Demikian atman itu menghidupkan mahluk (sarwa prani) di alam semesta ini. Indria tidak dapat bekerja jika tidak ada atman.
Jadi kiranya sudah jelas bahwa atman itu berasal dari Sang Hyang Widhi Wasa, jika Sang Hyang widhi diumpamakan seperti matahari maka sinarnya itu adalah atman yang terpancar memasuki seluruh mahluk hidup.
Atau dapat diumpamakan Sang hyang Widhi itu seperti listrik yang mampu menghidupkan setiap bola lampu, jika bola lampunya rusak maka lampu tidak akan menyala walaupun aliran listrik masih tetap ada.
Adapun sifat-sifat atman itu menurut Bhagawadgitha adalah sebagai berikut.
  1. ACHODYA artinya tidak terlukai oleh senjata;
  2. ADAHYA artinya tak terbakar oleh api;
  3. AKLEDYA artinya tak terkeringkan oleh angin;
  4. ACESYAH artinya tidak terbasahkan oleh air;
  5. NITYA artinya abadi;
  6. SARWAGATAH artinya ada dimana-mana;
  7. STHANU artinya tak berpindah-pindah;
  8. ACALA artinya tak bergerak;
  9. SANATANA artinya selalu sama;
  10. AWYAKTA artinya tak dilahirkan;
  11. ACINTYA artinya tak terpikirkan;
  12. AWIKARA artinya tak berubah dan sempurna tidak laki-laki maupun perempuan.
Memang atman itu sempura anakku, tetapi manusia itu tidaklah sempurna walaupun yang menghidupkan adalah atman. Tentu anakku ingin mengetahui sebab-sebabnya. Itu tak lain karena persatuan atman dengan badan menimbulkan awidya (kegelapan). Jadi manusia lahir dengan keadaan awidya, yang menyebabkan ketidaksempurnaannya. Atman itu tetap sempurna, tetapi manusia itu tidaklah sempurna. Bukan hanya tidak sempurna tetapi juga bisa mati.
Setiap manusia tidak luput dari hukum kematian. Tetapi walaupun manusianya mati, namun atman itu tidak bisa mati. Hanya badan yang mati dan hancur sedangkan atman kekal. Badan berpisah dengan jiwanya pada waktu manusia mati dan jiwatman yang tidak mati itu mengalami sorga atau neraka, sesuai dengan perbuatan baik atau buruk (suba asuba karma). Tetapi jiwatman itu tidak menetap disana untuk selama-lamanya.
Dia akan punarbhawa atau lahir kembali menjadi wujud baru sesuai dengan karmaphalanya. Dan bukan hanya sekali saja, tetapi lahir berulang-ulang kali sampai dia mampu menuju kepada Sang Hyang Widhi atau menuju ke Nibbana atau Nirwana, sampai jiwatman sadar akan hakekat dirinya sendiri sebagai atman lengkap dengan sifat-sifatnya tersebut diatas dan melepaskan diri dari ikatan keduniawian yaitu Moksa mencapai kebahagian dan kedamaian abadi”.
Penjelasan tentang Atma, silahkan baca "Atma Tatwa"

Sang Suyasa menganggukan kepala pertanda mengerti, kemudian melanjutkan pertanyaannya kepada Sang Rsi.
“Gurunda tadi gurunda menyebutkan Istilah Karma Phala, Punarbhawa, dan sempat juga menyebutkan mengenai istilah Moksah sebagai salah satu tujuan tertinggi umat Hindu, apakah filsafat yang terkandung dibalik hal tersebut”?

Rsi Dharmakerti kemudian menjawab dengan tersenyum, “Bagus anakku, memang itu adalah bagian dari Panca Srada yang akan guru terangkan.
"Karma Phala terdiri dari dua kata yaitu Karma dan Phala. Karma artinya perbuatan dan Phala artinya Buah, hasil atau pahala. Jadi karma phala artinya adalah hasil dari perbuatan seseorang. Kita percaya bahwa perbuatan yang baik (subha karma) membawa hasil yang baik dan perbuatan yang buruk (asubha karma) membawa hasil yang buruk. Jadi, seseorang yang berbuat baik pasti baik yang akan diterimanya demikian juga sebaliknya yang berbuat buruk, buruk pulalah yang akan diterimanya. Dan bahkan karma phala ini dapat memberikan keyakinan kepada kita untuk mengarahkan segala tindak laku kita selalu berdasarkan etika dan cara yang baik mencapai cita-cita yang baik dan selalu menghindari jalan dan tujuan yang buruk”.

Sang Suyasa,
“Maafkan hamba Guru memotong penjelasan Gurunda. Bukan ragu akan keterangan Guru yang telah jelaskan, akan tetapi hamba ragu atas kenyataan dalam kehidupan ini. bukan maksud hamba menentang penjelasan Gurunda, tetapi kenyataanya ada orang yang selalu berbuat baik namun ia tetap menderita. Ada orang yang selalu berlaku curang tetapi nampaknya hidupnya selalu berbahagia. Bagaimanakah hal tersebut dapat dijelaskan dengan hukum karma phala ini Oh Guru Suci’?

Sri Dharmakerti gembira atas pertanyaan kritis muridnya ini, kemudian menjelaskan,
“Anaknda tidak perlu ragu akan hal itu, memang guru akui bahwa apa yang anaknda katakan itu kelihatannya benar. Tetapi hal ini bukan merupakan suatu hal yang membingungkan atau mengherankan bagi kita.
Pada ajaran kita hasil dari perbuatan itu dapat dibagi tiga yaitu:
  1. Sancita karma phala, artinya phala dari perbuatan kita dalam kehidupan yang terdahulu yang belum habis dinikmati dan masih merupakan benih yang menentukan kehidupan kita yang sekarang;
  2. Prarabda Karma phala, artinya phala dari berbuatan kita pada masa kehidupan yang sekarang kita dapatkan pula akibatnya pada kehidupan saat ini;
  3. Kriyamana karma phala, artinya hasil dari perbuatan kita pada masa sekarang yang tidak habis kita dapatkan phalanya pada kehidupan ini sehingga tetap akan kita terima phalanya pada kehidupan kita yang akan datang.
Jadi adanya orang menderita dalam kehidupan ini walaupun ia selalu berbuat baik adalah disebabkan oleh Sancita karma yang buruk dari kehidupan sebelummnya yang belum habis diterimanya. Sebaliknya orang yang berbuat curang dan nampaknya sekarang berbahagia adalah karena sancita karmanya yang dahulu baik tetapi nantinya pasti akan menerima hasil berbuataannya tersebut pada kehidupan yang sekarang sebelum orang tersebut meninggal dan kalau masih belum habis dia nikmati phalanya, maka akan diterimanya pada kehidupan berikutnya.
cepat atau lambat, dalam kehidupan sekarang atau nanti segala pahala dari perbuatan itu pasti akan diterima karena hal itu sudah merupakan suatu hukum”.

Sang Suyasa,
“Maafkan gurunda, kalau demikian tidaklah mungkin hukum ini menimbulkan rasa putus asa dan penyerahan diri jika sancita karmanya jelek dan sebaliknya akan menyebabkan orang takabur kalau sancita karmanya baik”?

Sri Dharmakerti,
“Anakku, suatu penyakit tertentu tentu ada penyebabnya. Demikian pula penderitaan itu. tetapi kita yakin bahwa penyakit atau penderitaan itu pasti dapat diatasi, kalau kita menderita kita biasanya menyesalkan nasib kita. Jika kita beruntung, kita puji nasib kita. Tetapi sebenarnya kita tidak usah menyesalkan atau memuji karena itu sudah menjadi bagian akibat dari karma kita yang terdahulu. Kita tidak dapat menghindari hasil perbuatan kita itu apakah baik atau buruk. Kita sudah melakukannya, maka kita harus menerima tanggung jawabnya. Kita juga tidak punya hak untuk menyesali orang lain karena penderitaa yang kita terima. Tetapi satu hal kita bisa perbuat yaitu kita berhak untuk membuat hidup ini, diri sendirilah membentuk dan menentukan hari depan kita. Nasib kita ada ditangan kita sendiri. Dengan berbuat baik selalu pastilah kita akan menerima kebahagian.
Jadi anakku, hukum karma phala itu tidak menyebabkan putus asa dan menyerah pada nasib (fatalistis) tetapi positif dan dinamis. Ini harus disadari. Kita harus sadar bahwa penderitaan kita disaat ini adalah akibat dari pebuatan yang lampau. Dan kita sadar pula bahwa suatu saat penderitaan itu akan berakhir dan diganti dengan kebahagiaan, asal kita berbuat baik selalu walaupun dalam kita menderita. Perbuatan kita yang baik disaat ini akan mengakibtakan kebahagiaan nanti.
Dengan kesadaran ini anakku, kita tidak perlu sedih atau menyesali orang lain karena mengalami penderitaan dan tidak perlu sombong, karena mengalami kebahagiaan. Itu semua adalah hasil perbuatan kita sendiri. Tetapi anakku, walau hukum karma phala itu seolah-olah berdiri sendiri didalam lingkaran sebab-akibat, tetapi itu tidak terlepas dari kekuasaan Sang Hyang Widhi. Benar bahwa perbuatan seseorang itu yang menentukan phalanya, tetapi mengenai macamnya buah dan waktu pemetikannya itu tergantung kepada keadilan Sang Hyang Widhi. Sang Hyang Widhi yang menentukan phala dari karmanya. Beliau memberikan ganjaran sesuai dengan hukum karmanya.
Jadi anakku, kelahiran kita kedunia walaupun dalam menderita adalah sesungguhnya sangat beruntung karena kita mendapat kesempatan untuk berbuat baik, meningkatkan jiwa kita untuk menentukan hidup kita yang akan datang”.

Percakapan antara Guru dan Murid ini yang begitu menarik hingga tidak menyadari hari telah mulai gelap. Sang Guru pun mempersilahkan Muridnya untuk beristirahat sambil merenungkan ajaran-ajaran yang telah diberikan, sekaligus bersembahyang untuk mengucapkan terima kasih atas karunia kehidupan yang telah diberikan oleh Hyang Widhi Wasa.

Keesokan harinya Rsi Dharmakerti melanjutkan memberikan pelajaran tentang Srada yang keempat dan kelima yaitu Punarbhawa atau samsara dan moksah. Beliau berucap,
“Baiklah anakku, hari sebelumnya guru telah menjabarkan kepercayaan umat Hindu akan Sang Hyang Widi Wasa, Tuhan Yang Maha Esa atau Brahman, Roh atau Atman, dan hasil dari perbuatan atau Karma Phala. Hari ini Guru akan melanjutkan dengan ajaran mengenai Punarbhawa dan Moksa, karena itu dengarkanlah dengan baik anakku”.

Sang Suyasa kemudian mengambil sikap asana dan bersiap menerima pelajaran dari sang Guru.
“Punarbhawa terdiri dari dua kata sansekerta yaitu Punar artinya lagi dan Bhawa yaitu menjelma. Jadi punarbhawa adalah kelahiran yang berulang-ulang yang disebut juga penitisan atau samsara. Kelahiran yang berulang-ulang didunia ini membawa akibat suka dan duka. Punarbhawa atau samsara ini terjadi oleh karena jiwatman masih dipengaruhi oleh kenikmatan dan kematian akan diikuti oleh kelahiran.
Didalam Bhagawadgita Sang Kresna mengatakan ‘Wahai Arjuna, kamu dan aku telah lahir berulang-ulang sebelum ini, hanya aku yang tahu sedangkan kamu tidak, kelahiran sudah tentu akan diikuti oleh kematian dan kematian akan diikuti oleh kelahiran’.
Jadi, anakku, kita telah ketahui bahwa segala perbuatan ini menyebabkan adanya bekas(wasana) dalam jiwatman. Dan bekas-bekas perbuatan (Karmawasana) itu ada bermacam-macam. Jika bekas-bekas itu hanya bekas-bekas duniawi, maka jiwatman akan lebih cenderung dan gampang ditarik oleh hal keduniawian sehingga jiwatman itu lahir kembali. Umpamanya jiwa pada waktu mati ada bekas-bekas hidup mewah pada jiwatman, diakhirat jiwatman itu masih punya hubungan dengan kemewahan hidup, sehingga gampang jiwatman itu ditarik kembali kedunia.
Kalau tidak ada bekas apa-apa lagi pada jiwatman, sehingga tidak ada lagi yang menariknya kedunia ini, ia akan bersatu dengan Sang Hyang Widhi Wasa karena sang atman telah sadar akan hakekatnya sebagai atman yang sama dengan Sang Hyang Widi Wasa dan mencapai tujuan akhir yang dinamai dengan moksah. Tetapi walaupun tujuan mutlak manusia adalah moksa yaitu tidak lahir kembali, namun kelahiran kita kedunia ini sebagai manusia adalah suatu kesempatan untuk meningkatkan kesempurnaan hidup guna mengatasi kesengsaraan ini.
Hal ini diuraikan berkali-kali dalam pustaka Sarasamuscaya. Malah dikatakan Dewapun perlu lahir sebagai manusia dulu untuk dapat mencapai kebebasan abadi (nirwana). Memang kehidupan dalam dunia ini tidak sedikit kesukaran-kesukaran dan penderitaan-penderitaan yang disebabkan oleh perbuatan sendiri ataupun pebuatan dalam kehidupan yang dahulu, namun demikian berbahagialah orang yang dapat menitis kembali menjadi manusia karena dapat kesempatan atas kesadaran yang suci, berbuat yang lebih baik (subakarma) untuk menentukan hasil yang baik yang akan datang. Karena hanya di dunia ini kita dapat kesempatan untuk melakukan perbuatan guna meningkatkan kesempurnaan diri kita itu, sedangkan didalam dunia lain kita hanya menerima pahalanya.
Penitisan atau punarbhawa ini akan berakhir setelah manusia dapat menyadarkan dan mewujudkan sifat atmanya yang sebenarnya yaitu suci, abadi dan sempurna. pada tingkatan inilah orang bebas dari ikatan dunia dan mencapai moksa, tidak menitis kembali ke dunia”.

Ruangan hening sejenak, sang Guru memberikan kesempatan kepada sang murid untuk meresapi ajaran yang telah diberikan.

Dikejauhan terdengar burung-burung bernyanyi menyambut sinar matahari pagi dan suara para sisya yang tengah melaksanakan aktivitas masing-masing.

Sang suyasa kemudian bertanya memecah keheningan.
“Gurunda, Guru telah mengajari hamba tentang konsep ketuhanan kita, atman, hubungan sebab akibat dari suatu perbuatan, dan kelahiran kembali atau punarbawa, namun hamba tidak melihat adanya makna yang harus dituju dari kehidupan tersebut, jika hidup itu ternyata hanyalah suatu lingkaran kehidupan dan kematian dari perbuatan. Apakah bisa sang atman terbebas dari lingkaran tersebut Oh Maha Guru”?

“Tentu bisa Anakku”. Jawab Sang Guru.

“Itulah yang menjadi tujuan dari agama kita anakku, namanya adalah Moksa. Seperti yang sudah Guru jelaskan pada hari sebelumnya bahwa tujuan agama hindu adalah mencapai moksa dan kesejahteraan umat manusia atau Moksartam jagathita ca itu dharmah”.

“Maafkan hamba memotong Gurunda, apakah Moksa itu sama dengan surga”?

“Tidak anakku, seperti yang sudah guru jelaskan mengenai karma phala dan punarbhawa sebelumnya, bahwa sang Jiwatman akan mengalami ikatan karena perbuatannya. Apabila perbuatannya baik, ketika meninggal maka atmanya akan menuju sorga dan akan menikmati hasil perbuatan baiknya disana dan apabila datang waktunya dia untuk lahir kembali, maka dia akan dilahirkan kembali dengan phala perbuatan baik yang belum habis atau menjadi Sancita karma phala pada kehidupan yang berikutnya. Demikian pula sebaliknya, orang yang berbuat jahat maka atmannya akan menerima siksaan di Neraka ketika kematiannya, dan ketika tiba waktunya untuk dilahirkan maka dia akan dilahirkan kembali kedunia ini untuk menerima sisa phala dan memiliki kesempatan untuk memperbaiki karmanya.
Jadi anakku, surga dan neraka itu hanyalah tempat sementara bagi sang atman untuk menerima hasil perbuatannya, kemudian dia tetap akan lahir kembali. Hal ini berbeda dengan moksa anakku, karena orang yang telah mencapai moksa tidak akan dilahirkan kembali”.

Sang suyasa kemudian bertanya,
“Bagaimanakah kita dapat mencapai Moksa itu oh Gurunda”?

“Moksa itu dapat dicapai dengan jalan berbakti kepada Dharma dalam arti yang seluas-luasnya untuk mendapatkan anugerah dari Sang Hyang Widhi, misalnya dengan menjalankan Catur Yoga Dengan teguh”.

”Apa yang disebut dengan Catur Yoga itu, Gurunda”? Tanya sang Suyasa.

“Catur Yoga adalah empat cara mencari kesatuan dengan Sang Hyang Widhi. Keempatnya adalah:
  1. Jnana yoga, yaitu dengan cara mengabdikan pengetahuan;
  2. Bhakti yoga, yaitu dengan melakukan kebaikan dan pengabdian yang tulus secara terus menerus;
  3. Karma yoga, yaitu melakukan perbuatan mulia dan bermanfaat tanpa pamrih;
  4. Raja yoga, yaitu dengan melakukan brata, tapa, yoga, sampai semadhi.
Anaknda, semua cara ini diatur sedemikian rupa setelah disesuaikan dengan kepribadian, watak dan kesanggupan manusia. Jika seseorang itu kesanggupannya terletak pada mencari ilmu pengetahuan dan ilmu kesucian maka ajaran jnana yogalah yang seyogyanya dipakai. Jika seseorang itu mempunyai watak yang halus dan perasa serta mempunyai ketekunan dalam memuja Sang Hyang Widhi, maka cara Bhakti yogalah yang patut dipakainya demikian juga dengan karma yoga dan raja yoga.
Anaknda, walaupun cara-cara ini berjumlah empat, tetapi tidak ada yang lebih tinggi maupun yang lebih rendah. Semuanya baik dan utama tergantung pada bakat masing-masing. Dan jalan yang satu berhubungan erat dengan yang lainnya. Semuanya akan mencapai tujuannya, asal dilakukan dengan tulus ikhlas, ketekunan, kesujudan, keteguhan iman dan tanpa pamrih.
Tanpa pamrih yang guru maksudkan adalah melakukan perbuatan-perbuatan atas dasar kesucian dengan penuh keikhlasan demi kesejahteraan umum dengan tidak mengharapkan hasilnya untuk kepentingan diri sendiri (rame ing gawe sepi ing pamerih).
Ini terutama dipakai dasar oleh orang yang mengikuti cara karma yoga. Contohnya didalam bhagawadgita (II.47) Kresna menasehati Arjuna yang ragu-ragu akan kewajibannya dengan berkata: ‘kewajibanmu hanyalah bekerja dan bukan pada hasil dari karyamu. Janganlah bekerja dengan menikmati hasilnya dan jangan pula tidak mau bekerja sama sekali’.
Artinya adalah kita harus bekerja. Tidak boleh tidak bekerja, tetapi jangan menginginkan keuntungan atau kerugian atas diri sendiri. Kalau itu sudah menjadi kewajiban, lakukanlah. Dan kewajiban kita untuk masyarakat memang banyak sekali, anakku”.

Tidak terasa, matahari telah berada di tangah-tengah perjalanannya pada hari ini, sehingga sudah saatnyalah bagi sang Guru dan Murid untuk melaksanakan persembahyangan. Sambil merenungkan ajaran yang telah diberikan oleh sang Guru, sang Suyasa memuja Ida Sang Hyang Widhi Wasa dengan Khusuk, tanpa terasa air mata terlinang karena perasaan yang begitu bahagia. Dan tidak lupa dalam doanya sang Suyasa mengucapkan terima kasih kepada tuhan karena telah diberikan umur yang panjang sehingga dapat mendengarkan ajaran-ajaran suci ini.

Keesokan harinya, sang Guru melanjutkan memberikan ajarannya kepada Sang Suyasa, kali ini mengenai kerangka ajaran agama hindu yang kedua yaitu Susila.
“Anakku,” Sang Guru memulai pemberian ajarannya, “Ketahuilah bahwa yang guru ajarkan hari sebelumnya adalah mengenai tatwa atau filsafat dari ajaran luhur kita. Namun ajaran filsafat itu tidak akan ada manfaatnya jika tidak kita terapkan didalam kehidupan kita.
Mungkin, anaknda pernah mendengar tentang Tat twam asi”.

“Hamba pernah mendengarnya Guru, akan tetapi apakah artinya Tat Twam Asi itu”? Tanya Sang Suyasa.

“Tat Twam Asi adalah kata-kata didalam filsafat hindu yang mengajarkan tentang kesosialan yang tanpa batas karena artinya adalah ia adalah kamu, saya adalah kamu dan segala mahluk adalah sama sehingga menolong orang lain berarti menolong diri sendiri dan menyakiti orang lain berarti menyakiti diri sendiri.
Jiwa sosial ini juga diresapi oleh sinar-sinar tuntunan kesucian Tuhan dan tidak oleh jiwa kebendaan. Tat artinya itu (ia), Twan artinya Kamu dan Asi artinya adalah.
Disamping merupakan jiwa kesosialan, filsafat hidup tat twam asi ini merupakan juga dasar dari susila Hindu.
Susila adalah tingkah laku yang baik dan mulia yang selaras dengan ketentuan Dharma dan yadnya.
Yang guru maksudkan dengan Dharma dalam susila ini adalah hubungan yang serasi, selaras dan rukun antara sesama manusia dengan semesta alam, hubungan yang harmonis yang berlandaskan yadnya yaitu korban suci yang berdasarkan keikhlasan dan kasih sayang.
Anakku, didalam pustaka suci disebutkan bahwa dunia ini diciptakan oleh Sang Hyang Widhi dan dipelihara dengan pengorbanan Suci. Berarti Sang Hyang Widhi berdasarkan cinta kasihnya mengorbankan dirinya untuk menciptakan alam semesta ini. Sang Hyang Widhi tidak tinggal diluar tetapi berada didalam alam semesta itu sendiri. Dalam hal ini Sang Hyang Widi disebut dengan Sang Hyang Jagatkarana atau Sang Hyang Jagatnatha. Dan sesudah Sang Hyang Widhi menciptakan alam berdasar Yadnya ini barulah beliau menyampaikan Weda dengan perantaraan wahyu yang didengar oleh para Maha Rsi.
Karena Sang Hyang Widhi menciptakan alam semesta ini berdasarkan YadnyaNya yang kekal abadi, yang merupakan Rna (hutang) bagi kita maka patutlah kita membayar hutang itu dengan Yadnya pula. Hutang atau Rna itu ada tiga macam anakku, yaitu:
  1. Dewa Rna yaitu hutang pengetahuan kepada para dewa atau sinar suci tuhan;
  2. Pitra Rna yaitu hutang jasa kepada para leluhur;
  3. Rsi Rna yaitu hutang kepada para Maha rsi kita.
Hutang tersebut patut dibayar dengan cara melakukan panca yadnya yaitu:
  1. Dewa Yadnya yaitu korban suci dengan tulus iklhas kepada Ida Sang Hyang Widhi Wasa dengan jalan cinta bakti, sujud memuja serta mengikuti ajaran-ajaran sucinya;
  2. Pitra yadnya yaitu korban suci yang tulus ikhlas kepada leluhur dengan memujakan keselamatan di akhirat, menghormati orang tua serta memelihara keturunan;
  3. Manusa yadnya yaitu korban suci yang tulus ikhlas untuk keselamatan keturunan serta kesejahteraan umat manusia lain;
  4. Rsi Yadnya yaitu korban suci tulus ikhlas untuk kesejahteraan para Rsi serta mengamalkan segala ajarannya;
  5. Bhuta yadnya yaitu korban suci yang tulus ikhas kepada sekalian mahluk lain, baik yang kelihatan maupun yang tidak demi kesejahteraan semesta alam.
 lebih lengkapnya baca "Panca Yadnya"
Itulah semua yadnya yang patut dilakukan anakku. Yang patut melakukan ini bukanlah satu dua orang saja tetapi seluruh umat, sesuai dengan tingkatan perkembangan kerohanian seseorang yang disebut dengan Catur Asrama serta tugas nya masing-masing (Swa darma) yang diatur oleh bakat kelahirannya masing-masing yaitu yang disebut dengan Catur Warna”.

“Gurunuda, mohon diuraikan apa yang dimaksud dengan Catur Asrama dan Catur Warna itu”. Ujar Sang Suyasa.

Kemudian Sang Guru pun menjelaskan mengenai Catur Asrama dan Catur Warna sebagai berikut.

“Yang disebut Catur Asrama itu anakku, adalah:
  1. Brahmacari, yaitu tingkatan hidup manusia pada waktu mengejar ilmu pengetahuan;
  2. Grehasta, yaitu tingkat kehidupan pada waktu membina rumah tangga yaitu kawin dan melahirkan keturunan;
  3. Wanaprasta, yaitu hidup persiapan untuk lebih meningkatkan hidup kerohanian dan perlahan-lahan membebaskan diri dari ikatan keduniawian.
  4. Bhiksuka (Sanyasin), adalah tingkat kehidupan yang lepas dari ikatan keduniawian dan hanya mengabdikan diri kepada Sang Hyang Widhi Wasa dengan jalan menyebarkan ajaran-ajaran kesucian.
silahkan simak "Catur Asrama"

Dalam Catur Warna, kata warna berarti sifat dan bakat kelahirannya dalam mengabdi pada masyarakat berdasarkan kecintaan yang menimbulkan kegairahan kerja.
Jadi catur warna itu adalah empat golongan karya didalam masyarakat Hindu yaitu:
  1. Brahmana, yaitu golongan karya yang memiliki ilmu pengetahuan suci dan mempunyai bakat kelahiran untuk mensejahterakan masyarakat, negara dan umat manusia dengan jalan mengamalkan ilmu pengerahuannya dan dapat memimpin upacara keagamaan.
  2. Ksatria, yaitu golongan karya yang setiap orangnya memiliki kewibawaan cinta tanah air serta bakat kelahirannya untuk memimpin dan mempertahankan kesejahteraan masyarakat, negara dan umat manusia berdasarkan dharmanya.
  3. Wesya, yaitu golongan karya yang setiap orangnya memiliki watak tekun, terampil, hemat, cermat dan keahlian serta bakat kelahirannya untuk menyelenggarakan kemakmuran masyarakat dan kemanusiaan.
  4. Sudra, yaitu golongan karya yang setiap orangnya memiliki kekuatan jasmaniah, ketaatan, serta bakat kelahiran untuk menjadi pelaku utama dalam tugas-tugas memakmurkan masyarakat negara dan umat manusia atas petunjuk-petunjuk golongan karya lainnya.

Hendaknya keempat warna ini bekerja sama sesuai dengan wataknya (swadarmanya) masing-masing untuk membina kesejahteraan masyarakat negara dan umat manusia. Pengabdian setiap anggota masyarakat yang berdasarkan swadarma itu harus didasari oleh Triwarga yaitu:
  1. Dharma, yaitu kebenaran yang merupakan dasar dan jiwa dari segala usaha, Guru tekankan sekali lagi bahwa Dharma adalah kebenaran bukan kesenangan. Karena kadang-kadang yang benar itu belum tentu menyenangkan dan yang menyenangkan itu belum tentu yang benar, dan selalu pilihlah yang benar.
  2. Artha, adalah hasil usaha yang merupakan harta benda. Tetapi hasil usaha inipun harus didapat dengan cara yang benar. Memiliki harta benda ini malah akan menjerumuskan kita, jika kita tidak berdasar dengan dharma dan jika tidak kita amalkan untuk dharma. Nerakalah manusia jika ia tenggelam dalam lautan harta bendanya. Namun hal ini bukan berarti didalam Hindu dilarang untuk mengumpulkan harta. Harta itu perlu dan harus kita usahakan memilikinya, tetapi dengan jalan yang benar dan untuk memperkokoh Dharma.
  3. Kama, yaitu keinginan untuk mendapatkan kesukaan/kenikmatan. Sama seperti artha, kama inipun harus didasari dengan Dharma. Dharma hendaknya sebagai pendorong dan pengendali kama. Karena kama yang tidak berdasarkan Dharma akan mengakibatkan penderitaan.

Selain itu perlu diketahui juga bahwa segala usaha di dunia ini dipengaruhi oleh Tri Guna yaitu:
  1. Satwam, dalam keseluruhannya sifat ini menguasai Rajah dan Tamah menyebabkan orang cenderung kepada Dharma, kebaikan, menemui sifat-sifat kedewataan.
  2. Rajah, merupakan sifat yang dikuasai oleh nafsu atau kama,
  3. Tamah, merupakan sifat yang cenderung kepada Adharma, bodoh, dan kejahatan.
Karena itu didalam kehidupan ini, diusahakan agar Satwam menguasai yang lainnya. Hal ini dikatakan didalam Bhagawadgita XIV.18 yaitu:
‘mereka yang menetap dalam satwam kearah kebaikan dan menetap didalam rajas tetap ditengah-tengah sedangkan yang menetap dalam tamas akan turun menurun derajat jiwanya’.
Tetapi anakku, semua yang guru sebutkan tadi adalah merupakan ajaran-ajaran yang mendasari setiap laksana kita dalam berlaku susila.
Dasar-dasar ini perlu kita ketahui untuk dapat bertingkah laku yang baik dan menghilangkan segala musuh yang ada dihati kita sendiri. Dan sebenarnya musuh-musuh ini jauh lebih berbahaya daripada musuh yang datang dari luar”.

Sang Suyasa kurang begitu paham mengenai musuh yang dimaksud Sang Guru, kemudian ia menanyakan hal tersebut.
“Baiklah anakku, perlu anaknda ketahui bahwa sesungguhnya jauh lebih berarti jika kita mengetahui dan dapat menaklukkan musuh-musuh yang ada didalam hati kita sendiri dari pada mengetahui serta dapat menaklukkan musuh-musuh yang datangnya dari luar diri kita karena sesungguhnya jauh lebih sukar menaklukkan musuh-musuh didalam diri sendiri.
Musuh didalam diri kita itu bermacam-macam anakku. Ada yang dinamakan Sadripu, Sadatatayi, dan ada yang disebut dengan Sapta Timira.
Sadripu adalah enam jenis musuh (sad=enam, ripu = musuh) yaitu:
  1. Kama atau nafsu;
  2. Lobha atau Kelobaan;
  3. Kroda atau Kemarahan;
  4. Mada atau kemabukan;
  5. Moha atau kebingungan; dan
  6. Matsarya atau iri hati.

Sadatatayi adalah enam pembunuhan kejam (sad = enam; atatayi = tiran atau pembunuh kejam) yaitu:
  1. Agnida artinya membakar milik orang lain;
  2. Wisada artinya meracun;
  3. Atharwa artinya melakukan ilmu hitam (sihir);
  4. Sastraghna artinya mengamuk;
  5. Dratikrama artinya memperkosa;
  6. Rajapisuna artinya memfitnah.

Sapta Timira yaitu tujuh macam kegelapan atau kemabukan (sapta=tujuh, timira = kegelapan) yaitu:
  1. Surupa, artinya mabuk akan kecantikan atau ketampanan;
  2. Dhana, artinya mabuk akan kekayaan,
  3. Guna, artinya mabuk karena kepandaian;
  4. Kulina, artinya mabuk karena keturunan atau kebangsawanan;
  5. Yowana, artinya mabuk karena keremajaan atau masa muda;
  6. Sura, artinya mabuk akan minuman keras;
  7. Kasuran, artinya mabuk akan kemenangan.
Inilah anakku antara lain musuh-musuh yang ada didalam diri kita”.

Setelah mendengar penjelasan gurunya, sang Suyasa ketakutan dan berkata.
“Setelah mengetahui musuh-musuh itu, diri hamba merasa takut Gurunda. Karena demikian sulit tampaknya untuk ditaklukkan dan demikian dekat musuh itu dengan kita. Tuntunlah hamba Gurunda, ajarkanlah pada hamba senjata yang dapat digunakan untuk melawan musuh-musuh itu”.

“Jangan gelisah anakku, tenangkan hati, pusatkan pikiran dan dengarkanlah. Akan Guru terangkan apa yang dapat digunakan untuk memerangi musuh-musuh tersebut, dan ini juga disesuaikan dengan kemampuan masing-masing”.
“Yang tersingkat adalah Trikaya parisudha, Trikaya artinya tiga dasar perilaku manusia. Parisudha berarti yang harus disucikan. Jadi Trikaya parisuda artinya tiga dasar perilaku yang harus disucikan yaitu, Manacika, Wacika, dan Kayika yang masing-masing berarti perilaku pikiran, perkataan dan perbuatan.
Dengan adanya pikiran yang baik akan timbul perkataan yang baik sehingga mewujudkan perbuatan yang baik. Dengan demikian haruslah kita pupuk pikiran, perkataan dan perbuatan yang baik dan suci sebagai dasar perilaku kita.
Dari Trikaya parisudha itu, timbullah pengendalian diri yaitu tiga macam dasar pikiran, empat macam dasar perkataan dan tiga macam lagi berdasar perbuatan sebagai mana diurakan dalam pustaka Sarasamuccaya.
Tiga macam yang berdasarkan pikiran yaitu:
  1. Tidak menginginkan sesuatu yang tidak halal;
  2. Tidak berpikiran buruk terhadap mahluk lain;
  3. Tidak mengingkari akan adanya Karma phala.

Empat macam berdasar pada perkataan yaitu:
  1. Tidak suka mencaci maki;
  2. Tidak berkata kasar pada mahluk hidup;
  3. Tidak memfitnah;
  4. Tidak ingkar pada janji atau ucapan.

Tiga macam pengendalian berdasarkan pebuatan adalah:
  1. Tidak menyiksa atau membunuh mahluk hidup;
  2. Tidak melakukan kecurangan terhadap harta benda;
  3. Tidak berzina.
Disamping mengendalikan atas larangan yang berdasar Trikaya Parisudha itu, ada lagi tuntutan susila yang lebih banyak perinciannya.
Ada Panca Yama Brata dan Panca Nyama Brata dan ada Dasa Yama Brata serta Dasa Niyama Brata.

Yang termasuk didalam Panca Yama Brata adalah:
  1. Ahimsa, artinya tidak menyiksa atau membunuh;
  2. Brahmacari, artinya tidak melakukan hubungan badan selama masa penuntut ilmu pengetahuan atau ilmu ketuhanan;
  3. Satya, artinya setia akan janji yang menyebabkan senangnya orang lain;
  4. Awyawaharika, artinya melakukan usaha-usaha yang selalu bersumber pada ketuhanan yang menciptakan kedamaian;
  5. Asteya artinya tidak mencuri atau tidak curang.

Panca Niyama Brata adalah:
  1. Akroda, artinya tidak dikuasai oleh kemarahan;
  2. Guru susrusa, artinya hormat, taat dan tekun melakukan ajaran-ajaran guru;
  3. Sauca, artinya kesucian lahir dan bathin;
  4. Aharalagawa artinya mengatur macam dan waktu makan dan tidak berfoya-foya;
  5. Apramada artinya taat tanpa ketakaburan dalam mempelajari dan mengamalkan ajaran suci.
Disamping Panca Yama Brata dan Panca Niyama Brata ada perincian yang lebih banyak lagi yaitu yang disebut dengan Dasa Yama Brata dan Dasa Nyiama Brata yang masing-masing berjumlah sepuluh.
Dasa Yama Brata terdiri dari:
  1. Anresangsya atau arimbawa, artinya tidak mementingkan diri sendiri;
  2. Ksama, artinya suka mengampuni dan tahan uji dalam kehidupan;
  3. Satya, artinya setia dengan ucapan sehingga menyenangkan;
  4. Ahimsa, artinya tidak membunuh dan tidak menyiksa, menyakiti;
  5. Dama, artinya jujur mempertahankan kebenaran;
  6. Arjawa, artinya jujur mempertahankan kebenaran;
  7. Priti, artinya cinta kasih sayang terhadap sesama mahluk;
  8. Prasada, artinya berpikir dan berhati suci dan tanpa pamrih;
  9. Madurya, artinya ramah tamah, lemah lembut, sopan santun;
  10. Mardawa, artinya rendah hati.

Dasa Niyama Brata yaitu:
  1. Dana, artinya memberi sedekah;
  2. Ijya, artinya pemujaan tehadap Sang Hyang Widhi dan Leluhur;
  3. Tapa, artinya menggembleng diri untuk menimbulkan daya tahan;
  4. Dyana, artinya tekun memusatkan pikiran terhadap Sang Hyang Widhi;
  5. Swadhyaya, artinya mempelajari dan memahami ajaran-ajaran suci;
  6. Upasthanigraha, artinya mengendalikan hawa nafsu kelamin;
  7. Brata, artinya taat akan sumpah;
  8. Upawasa, artinya berpuasa;
  9. Mona, artinya membatasi perkataan;
  10. Sana, artinya melakukan penyucian diri tiap-tiap hari dengan jalan membersihkan badan dan bersembahyang. 
Inilah semua anakku perincian tuntunan yang perlu anakku ketahui dan laksanakan untuk meningkatkan kesusilaan hidup yang merupakan jaminan akan tercapainya hidup kerohanian yang tinggi.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar