Google+

Hari - Hari Terakhir Kerajaan Tabanan - Babad Tabanan

Pada tanggal 25 Mei 1904  Bumi Badung mengalami krisis dengan Pemerintah Hindia-Belanda yang dipicu oleh karamnya perahu wangkang Sri Komala di pantai Sanur. Belanda menuduh rakyat Sanur melakukan perampasan terhadap isi kapal tersebut dan menuntut ganti rugi. Cokorda Made Agung, Raja Badung yang beristana di Puri Denpasar pada waktu itu masih berusia muda, baru 26 tahun. Beliau sangat emosional dan bersikukuh tidak memenuhi tuntutan tersebut, karena tidak ada penduduk Sanur yang melakukan perampasan sebagaimana yang dituduhkan pihak Belanda. 

Sirarya Ngurah Rai Perang (Raja Tabanan Terakhir) - Babad Tabanan

Beliau dari Puri Dangin Tabanan, kembali masuk ke Puri Singasana setelah semua Putra mahkota wafat, merupakan Raja Tabanan ke XXI berkuasa dari tahun 1903 s/d 1906. Setelah wafat Bhatara Angluhur, digantikan oleh putera beliau yang bernama I Gusti Ngurah Rai Perang, bergelar Ida Cokorda Rai Tabanan Raja Singhasana. Oleh masyarakat disebut I Ratu Puri Dangin.

Sirarya Ngurah Agung Tabanan (1844-1903) - Babad Tabanan

Setelah upacara pelebon selesai dilaksanakan, putera mahkota dilantik bergelar Arya Ngurah Agung Tabanan Raja Singhasana. Sementara adik-adik baginda:
  • I Gusti Ngurah Made Kaleran menjadi raja pemade di Puri Kaleran.
  • I Gusti Ngurah Made Penarukan berkediaman di Puri Anyar,
  • I Gusti Gede Banjar berkediaman di Puri Anom Saren Kangin,
  • I Gusti Ngurah Nyoman berkedudukan di Puri Anom Saren Kawuh.
  • I Gusti Ngurah Rai menjadi raja pemade dan pemucuk di Puri Kaleran.
Arya Ngurah Agung masih muda, rajin mempelajari filsafat-filsafat, bahasa Melayu, Arab, dan latin. Beliau membuat karya patra (karya sastra) berupa Kidung Nderet dan Bagus Ewer. Mempunyai seorang sahabat Mads Johhann Lange, orang Denmark yang memperoleh kewarganegaraan Belanda. Tuan Lange membuat pesanggrahan di sebelah Utara Jro Beng.

Ki Gusti Ngurah Agung (1820-1844) - Babad Tabanan

I Gusti Ngurah Agung akhirnya dinobatkan sebagai raja Tabanan bergelar Ida Cokorda Tabanan Raja Singhasana. Setelah penobatan, beliau menjatuhkan hukuman kepada Kyai Lod Rurung, disurutkan kewibawaannya karena tidak mendukung perjuangan beliau.

Ketegangan antara Penebel dan Tabanan masih berlangsung. Rakyat Penebel merusak bendungan memutuskan aliran air yang menuju ke Tabanan. Akibatnya rakyat negara Tabanan menderita krisis air untuk irigasi. Untuk mengatasi krisis tersebut Raja Ida Cokorda Tabanan meminta bantuan pasukan kepada Raja Mengwi I Gusti Agung Putu Agung. 

Ki Gusti Ngurah Ubung (1820) - Babad Tabanan

Beliau adalah putra Ki Gusti Ngurah Rai / Cokorda Penebel. I Gusti Ngurah Ubung mengambil alih kekuasaan memerintah di negara Tabanan bertahta sebagai raja Singhasana berkedudukan di Puri Agung Tabanan,, bersama adik-adiknya, yang tinggal di Puri Penebel dan di Puri Kediri.

I Gusti Ngurah Agung (Putera Mahkota) yang berkediaman di Pesaren Kangin mendengar suara gaib (pawisik) dari Ida Bhatara Cokorda Ngurah Made Rai (Raja XII) yang memberi tahu agar I Gusti Ngurah Agung segera merebut kekuasaan karena masa kemenangannya akan tiba.

Kiyayi Buruan - Babad Tabanan

Putra dari Ki Gusti Ngurah Made Rai. Dalam pemerintahannya yang didampingi oleh Kiyayi Beng selalu memendam iri hati dan kekwatiran akan kebesaran dan pengaruh Cokorda Rai Penebel beserta putranya Ki Gusti Ngurah Ubung di Penebel, Dengan fitnah dari Kyai Wirya Wala, Kyai Burwan sebagai penguasa Tabanan menyerang Penebel. Ida Cokorda Rai Penebel minta bantuan kepada Dalem sehingga Kiyayi Buruan dan Kiyayi Beng beserta laskarnya dikalahkan oleh laskar Penebel. 

I Gusti Ngurah Made Rai - Babad Tabanan

Ki Gusti Ngurah Made Rai/Cokorda Made Rai, Raja Tabanan ke XV

Setelah Ida Cokorda Gede wafat, digantikan oleh adik beliau yang bernama I Gusti Ngurah Made Rai, oleh karena putera mahkota juga ikut meninggal. Sedangkan puteranya yang lain telah tinggal di luar istana.

I Gusti Ngurah Made Rai setelah dilantik bergelar Ida Cokorda Made Rai Raja Singhasana. Beliau berkedudukan di Puri Agung, dan membagi kerajaan dipimpin oleh 2 Puri, yaitu Puri Agung dan Puri Kaleran. Adapun adiknya I Gusti Ngurah Anom yang berkedudukan di Puri Mas selanjutnya dilantik menjadi Raja ke dua (Pemade). Kyai Made Kukuh diangkat sebagai Patih Singhasana. Ida Cokorda Made Rai berputra :

Dari Permaisuri bernama Ni Sagung Alit Tegal, putri dari Cokorda Ki Gusti Ngurah Gede Banjar Puri Gede Kerambitan melahirkan putra:

  1. Ki Gusti Agung Gede
  2. Ki Gusti Ngurah Nyoman Panji 

Dari Istri Penawing

  1. Ni Sagung Ayu Made
  2. Ni Sagung Ayu Ketut
  3. Kiayi Nengah Perean, 
  4. Kiayi Buruan Raja Tabanan ke XVI
  5. Kiayi Banjar
  6. Kiayi Tegeh
  7. Kiayi Beng 

Ki Gusti Ngurah Nyoman Panji berputra:
  1. Ki Gusti Ngurah Agung, Beribuk dari Puri Gede Kerambitan, putri dari Cokorda Gede Selingsing
  2. Ki Gusti Ngurah Demung (Ida Betara Madewa di Puri Kaleran) Beribuk dari Demung
  3. Ki Gusti Ngurah Celuk, Beribuk dari Celuk dan Membangun Puri Kediri Tabanan

Kiayi Nengah Perean, berputra:

  • Kiayi Pangkung,

Kiayi Pangkung, berputra:
  • Ki Gusti Wayahan Kompyang -> Menurunkan Jero Kompyang
  • Ki Gusti Made Oka, Menurunkan Jero Oka

Kiayi Beng berputra
  • Ki Gusti Wayahan Beng, 
  • Jero Beng, 
  • Jero Beng Kawan dan 
  • Jero Putu


Beliau ditimpa kemalangan, Putera Mahkota I Gusti Ngurah Gede wafat bersama adiknya I Gusti Nengah Perean. Tinggal putera bungsu bernama I Gusti Ngurah Nyoman Panji, yang beribu dari Puri Kurambitan, tinggal di Puri Kaleran. I Gusti Ngurah Nyoman Panji juga wafat meninggalkan  putera-putera yang masih belia, yaitu: I Gusti Agung, I Gusti Ngurah Demung, dan I Gusti Ngurah Celuk.

Di Puri Mas, I Gusti Ngurah Anom setelah wafat digantikan oleh puteranya I Gusti Mas. I Gusti Mas tidak menunjukkan prilaku seorang pemimpin. Dia membenarkan hal-hal yang terlarang. Untuk mengelabui sifast-sifat buruknya, dia melakukan upacara diksa bergelar I Gusti Wirya Wala.

Baginda Raja mengkuatirkan masa kehancuran kerajaan akan tiba. Sebelum ajal tiba, beliau memberi pesan agar I Gusti Celuk diangkat menjadi raja. Setelah beliau wafat, ternyata pesan beliau tidak dilaksanakan. Kyai Burwan dengan didampingi Kyai Banjar dan Kyai Beng menguasai Singhasana Tabanan.

Ida Cokorda Gede - Babad Tabanan

i Gusti Ngurah Gede (Cokorda Gede Ratu), Raja Tabanan ke XIV

Putera sulung I Gusti Ngurah Gede menggantikan kedudukan ayahnya. Setelah dilantik bergelar Ida Cokorda Gede Raja Singhasana. Beliau berkuasa penuh di Tabanan. Permasuri Sagung Ayu Marga adalah puteri dari Ida Cokorda Gede Banjar, tetapi tidak berputera.

Sedangkan Arya yang dituakan (maka penenggek) adalah I Gusti Ngurah Made Rai yang membangun istana di sebelah Utara Pasar, bernama Puri Kaleran. Beliau diangkat sebagai Raja ke dua (Pemade). Beliau mengambil isteri Ni Sagung Alit Tegal juga puteri dari Ida Cokorda Gede Banjar dari Puri Kurambitan.

Adapun Arya yang ke dua adalah I Gusti Ngurah Rai pindah dan bermukim di Penebel, bergelar Ida Cokorda Penebel. Permaisurinya adalah puteri yang berasal dari Jro Subamia.
Sementara itu I Gusti Ngurah Anom mendirikan istana di sebelah Barat Pasar, bernama Puri Mas. Beliau menikah dengan Ni Sagung Made, juga puteri dari Cokorda Kurambitan.
Ida Cokorda Gede wafat meninggalkan beberapa putera.

  • Isteri dari desa Timpag menurunkan putera I Gusti Nengah Timpag. 
  • Isteri dari Sambiahan menurunkan I Gusti Sambiahan. 
  • Dari isteri Ni Luh Made Celuk menurunkan I Gusti Celuk.

Ida Cokorda Sekar (1734) - Babad Tabanan

Ida Cokorda Sekar

Sesuai sabda beliau, maka yang menggantikan kedudukan beliau adalah I Gusti Ngurah Sekar, bergelar Ida Cokorda Sekar, Raja Singhasana. Beliau sempat memecat dan menjadikan sebagai rakyat biasa Ki Ngakan Ngurah dari Kekeran yang durhaka, menyamai busana raja. Pusakanya disita dibawa ke istana.

I Gusti Ngurah Gede, putera dari permaisuri merasa kecewa karena tidak medapatkan kekuasaan. Oleh karena itu pergi ke arah Utara gunung tinggal di rumah keluarga Brahmana Kemenuh, di desa Banjar. Cokorda Sekar merasa risau atas kepergian adiknya. Beliau kemudian mengutus, I Gusti Subamia untuk menjemput agar I Gusti Ngurah Gede bersedia kembali pulang ke Tabanan. 

I Gusti Ngurah Gede bersedia pulang diikuti oleh seorang brahmana, dari Gria Banjar, setelah segala keinginannya dijanjikan oleh I Gusti Subamia. I Gusti Ngurah Gede kemudian memperoleh setengah wilayah dan rakyat, serta mendirikan istana, Puri Kurambitan, meniru arsitektur istana Singhasana Tabanan. Sumber penghasilannya Puri Kurambitan adalah sarang burung. Setelah dinobatkan beliau bergelar Ida Cokorda Gede Banjar. Beliau banyak punya isteri serta menurunkan para Arya di Kurambitan.

Ida Cokorda Tabanan - Babad Tabanan

Ratu Lepas Pemade / Ida Cokorda Mur Pamade

Sri Maghada Sakti kemudian wafat digantikan oleh Putera Mahkota (pemayun), memimpin negara bergelar Ida Cokorda Tabanan, Raja Singhasana. Isteri beliau adalah puteri dari I Gusti Ngurah Bija dari Bun, adalah sepupu dari ibunya I Gusti Ayu Bun. Beliau tidak melakukan hubungan kelamin dengan isterinya karena merasa dekat bersaudara.

Setelah lama beliau memerintah, belum juga beliau berputera, sehingga beliau memutuskan dan berjanji “siapapun putera pertama lahir, walau dari istri Sudra (penawing), maka dialah kelak akan menggantikannya sebagai raja “.Selanjutnya yang pertama hamil adalah istri beliau yang bernamaNi Mekel Sekar, diberi nama I Gusti Ngurah Sekar. Selanjutnya yang kedua hamil pada istri beliau yang permasurinya dan lahir juga seorang putera diberi nama Ki Gusti Ngurah Gede.

I Gusti Alit Dawuh - Babad Tabanan

Sri Magada Sakti (1700)

I Gusti Alit Dawuh kemudian mejadi raja Tabanan bergelar Sri Maghada Sakti Raja Singhasana. Adapun yang menjabat Bahudanda I Gusti Nyoman Kukuh. Semasa pemerintahannya negara aman dan tertib, rakyat sejahtera.

Pada suatu hari yang sudah ditentukan, Raja I Gusti Alit Dawuh mengadakan pertemuan dihadap oleh para punggawa, manteri, bahudanda, pendeta, pejabat-pejabat, serta tokoh-tokoh terkemuka di masyarakat. Dalam pertemuan itu Raja I Gusti Alit Dawuh bersabda, bahwa tidak akan mengabdi lagi kepada Ksatrya Dalem, karena merestui pembunuhan terhadap Maharaja Dewata Bhatara Nisweng Panida. Dalem sudah ingkar terhadap hubungan baik antara leluhur dulu. Semenjak itu putus hubungan kerajaan Tabanan dengan Dalem di Suweca-pura.

Setelah Sri Megada Sakti mantap kekuasaannya, maka ingin membalaskan dendam terhadap wilayah Penida, lalu diserang dan dapat ditaklukan, sehingga semua kekuasaan daerah Penida masuk Kerajaan Tabanan, seperti : Pandak, Kekeran, Nyitdah, Kediri dan lainnya.

Di Kabakaba lalu memerintah Prabu Alit, oleh karena masih muda, timbul pembangkangan dari pengikutnya. Prabu Alit melapor kepada Sri Megada Sakti, lalu beliau menertibkan dan menaklukan desa-desa yang membrontak. Itulah sebabnya daerah negara Tabanan semakin meluas dari lembah Sungai Sungi hingga ke Timur Sungai Pulukan dan sepanjang pantai Selatan.

Diceritakan I Gusti Agung Putu yang kemudian mendirikan kerajaan Mengwi sempat ditawan di Tabanan. I Gusti Agung Putu kalah berperang dengan I Gusti Ngurah Batu Tumpeng dari Kekeran Nyuh Gading. Namun diperlakukan sebagai saudara oleh Sri Maghada Sakti. Kemudian atas permohonan I Gusti Putu Bebalang dari desa Wratmara (Marga), I Gusti Agung Putu diperkenankan diajak ke desanya, dan bersahabat dengan adiknya yang bernama I Gusti Celuk.

Ki Gusti Bola - Babad Tabanan


Berkedudukan di Mal Kangin. Setelah Ki Gusti Bola ( putra dari Ki Gusti Ngurah Tabanan / Prabu Winalwan ) menduduki tahta Singasana, beliau tetap bersikap tidak adil dan menyimpan rasa dendam pada putra mahkota Ki Gusti Alit Dawuh, yang pada akhirnya setelah Ki Gusti Alit Dawuh sudah dianggap dewasa untuk memegang pemerintahan, atas nasihat Ki Gusti Agung Badeng disarankan untuk merebut kekuasaan Ki Gusti Bola. Dalam peperangan Ki Gusti Alit Dawuh dapat mengalahkan Ki Gusti Bola, dimana Ki Gusti Bola tewas ditombak dengan tombak pusaka yang bernama Ki Sandang Lawe.

Ki Gusti Made Dalang - Babad Tabanan

Ki Gusti Made Dalang ( putra Ki Gusti Made Pamedekan ) berkedudukan di Puri Agung Tabanan sebagai Raja Singasana dengan wilayah kekuasaannya di Sebelah Barat Sungai Dikis.

Ki Gusti Nengah Malkangin ( putra Ki Gusti Wayahan Pamedekan ) berkedudukan di Puri Malkangin dengan wilayah kekuasaan di Sebelah Timur Sungai Dikis.

Ki Gusti Made Dalang meninggal tanpa keturunan, sehingga seluruh wilayah Tabanan dapat dipersatukan oleh Ki Gusti Nengah Malkangin menjadi kekuasaannya. Ki Gusti Nengah Malkangin setelah menjadi Raja Singasana, beliau selalu ingin membinasakan putra mahkota yang bernama Ki Gusti Alit Dawuh ( putra Sirarya Ngurah Tabanan / Betara Nisweng Penida ). 

Arya Ngurah Tabanan VI - Babad Tabanan

Putera sulung I Gusti Made Pamedekan, Arya Ngurah Tabanan dilantik menjadi raja Tabanan bergelar Arya Ngurah Tabanan Prabhu Singhasana.

Diceritakan I Gusti Nengah Mal Kangin yang tidak puas dengan kedudukannya melakukan tipu daya untuk menyingkirkan raja. Ketika didengar Raja Arya Ngurah Tabanan beserta pengiring pergi menghadap Dalem di Suweca-pura, maka kelompoknya I Gusti Nengah Mal Kangin mendahului menghadap Dalem, seraya memfitnah. Sehingga Dalem merestui akan kematian Raja Tabanan. Sampai di desa Penida rombongan Raja disergap oleh pasukan Mal Kangin. Arya Ngurah Tabanan Raja VII Tabanan wafat ditempat penyergapan, bergelar Bhatara Nisweng Panida.

I Gusti Made Pamedekan - Babad Tabanan

Sirarya Ngurah Tabanan V (1647-1650)

Oleh kakaknya ( Ki Gusti Wayahan Pamedekan ) disuruh kembali ke Bali untuk menggantikannya sebagai raja. Anglurah Made Pamedekan lari dikejar tentara Jawa, bersembunyi disebuah gua, ada seekor burung titiran yang bersuara dapat menyelamatkannya, sehingga bisa selamat sampai kembali di Puri Singasana Tabanan. Sejak saat itu Beliu bersumpah dan juga agar keturunan beliau kelak tidak memelihara, membunuh burung titiran

I Gusti Wayahan Pamedekan – Babad Tabanan (-1647)

I Gusti Wayahan Pamedekan – Babad Tabanan (-1647)

Kembali diceritakan, dahulu ketika Sang Prabhu Winalwan Raja IV menyerahkan kerajaan kepada puteranya, maka dilantiklah I Gusti Wayahan Pamedekan bergelar Arya Ngurah Tabanan Natha Singhasana. Adiknya I Gusti Made Pamedekan, yang terkenal sakti dan kebal sebagai pengawal pribadi kakaknya.

I Gusti Wayahan Pamedekan berputera 2 orang:
  1. I Gusti Nengah Mal Kangin
  2. seorang puteri.tidak disebutkan namanya

Raja I Gusti Wayahan Pamedekan, atas perintah Dalem Di Made dari Suwecapura (Gelgel), berangkat ke Blambangan bersama Kyai Ngurah Pacung memimpin laskar Bali menyerang laskar Sultan Agung Mataram. Beliau Berdua tidak berhasil dalam berperang karena kebanyakan musuh, Dalam pertempuran itu pasukan Bali kalah.

Kiyai Wayangan Pemandekan :
"..... Hai adikku, perintahkan seluruh pasukan perang balik ke Bali, biarlah aku menghadapi pasukan perang Mataram seorang diri ....."
Itulah teriakan dan sikap satria
Kiyai Wayahan Pemandekan untuk menghindari korban yang lebih banyak di pihak Bali

Menurut ‘Kidung Pamancanggah” disebutkan bahwa pada masa pemerintahan Dalem Di Made telah dilakukan pertemuan penting di istana Gelgel yang dihadiri oleh seluruh pemuka pemuka di wilayah Bali yang mana pertemuan tersebut membahas tentang perebutan wilayah Kerajajaan Gelgel didaerah Pasuruan yang dilakukan oleh Kerajaan Mataram di Jawa Tengah.

Sang Natheng Singasana - Babad Tabanan

Arya Ngurah Pemayun putra Arya Ngurah Langwang ini memiliki banyak julukan diantaranya Ki Gusti Ngurah Tabanan, Prabu Winalwan, Sirarya Ngurah Tabanan III, Ida Bhatara Makules.

Permaisuri beliau bernama Ki Gusti Ayu Pemedekan, puteri Kyai Ketut Bendesa atau Kyai Nyoman Tegeh. Ini adalah isteri satu-satunya. Beliau tidak beristeri lagi, karena beliau sangat mencintai. Menurunkan 2 orang putera:
  1. Ki Gusti Wayahan Pamedekan
  2. Ki Gusti Made Pamedekan.

Arya Ngurah Langwang - Babad Tabanan

Arya Nangun Graha / Sirarya Ngurah Tabanan II, Raja III

sebagai putera sulung  Beliau menggantikan Ayahnya ( Sri Megada Nata ) menjadi Raja Tabanan, setelah dinobatkan bergelar Sirarya Ngurah Tabanan, sama seperti gelar ayahnya. Beliau didampingi oleh adiknya Kyai Ketut Bendesa.

Kyai Ketut Bendesa rupanya memiliki aura tubuh yang lebih dari pada manusia biasa. Dari kejauhan tubuhnya sering memancarkan sinar, setelah didekati ternyata tidak lain adalah Kyai Ketut Bendesa.

Suatu saat Kyai Ketut Bendesa diuji oleh kakaknya Kyai Ngurah Tabanan untuk memangkas pohon Beringin yang tumbuh di depan istana (sabha). Pohon Beringin ini tumbuh besar dan melebar, cabang-cabangnya dikuatirkan mengganggu kenyamanan. Pohon ini dipandang angker, tidak ada yang berani memangkas. Kyai Ketut Bendesa tidak membantah perintah kakaknya. Segera beliau naik, memotong cabang-cabang Beringin dengan kapak di tangan. Semenjak itu Kyai Ketut Bendesa atau Kyai Ketut Pucangan diberi gelar Arya Notor Wandira (Waringin).

Setelah Arya Notor Wandira melakukan yoga di Gunung Batukaru dan Gunung Batur dan mendapat ilham agar pergi merantau ke negara Badung berjumpa dengan pamannya Kyai Anglurah Tegeh Kori. Arya Notor Wandira kemudian diangkat sebagai anak (kedharma putera) oleh Kyai Anglurah Tegeh Kori, diberi nama Kyai Nyoman Tegeh. Pengangkatan anak ini dilakukan oleh karena Kyai Tegeh Kori kecewa terhadap anak kandungnya Kyai Gede Tegeh dan Kyai Made Tegeh, yang mempunyai prilaku tidak sesuai dengan putera raja, hanya memenuhi indriya saja, mereka tidak mengetahui darma seorang Raja.

Sirarya Ngurah Tabanan I – Babad Arya Tabanan

Sri Magada Nata / Arya Yasan - Raja Tabanan II

Arya Pucangan I, Putera sulung Arya Keceng tidak tertarik memegang pemerintahan. Maka kerajaan Pucangan (Buwahan) diperintah oleh adiknya Arya Pucangan II bergelar Arya Ngurah Tabanan.

Adapun Kyai Tegeh Kori pindah ke Badung, di sebelah selatan Setra Badung. Beliau memerintah wilayah Badung, membuat bendungan di Pegat. Selanjutnya menurunkan warga besar yang disebut Para Gusti Tegeh. Sedangkan yang paling bungsu seorang perempuan tetap tinggal di istana Pucangan.
Sri Megada Nata mempunyai putera :
  1. Arya Ngurah Langwang
  2. Ki Gusti Made Kaler / Utara ( menurunkan Keluarga Besar Jero Subamya )
  3. Ki Gusti Nyoman Dawuh / Pascima (Menurunkan Keluarga Besar Jero Pameregan)
  4. Ki Gusti Ketut Dangin / Wetaning Pangkung ( Menurunkan Pragusti Lod Rurung, Kesimpar & Srampingan )
  5. Ki Gusti Samping Boni ( Menurunkan Pragusti Ersania, Kyayi Nengah & Kyayi Titih )
  6. Ki Gusti Nyoman Batan Ancak ( Menurunkan Pragusti Ancak & Angligan )
  7. Ki Gusti Ketut Lebah

Arya Kenceng - babad arya kenceng

Arya Kenceng Pendiri Kerajaan Pucangan/Buwahan

adalah seorang kesatria dari Majapahit yang turut serta dalam ekspedisi penaklukan Bali bersama Mahapatih Gajah Mada. Banyak versi mengenai keberadaan Arya Kenceng, dalam beberapa babad, misalnya Babad Arya Tabanan, dinyatakan bahwa Arya Kenceng adalah adik dari Arya Damar, yang lain mencatat Arya Kenceng identik dengan Arya Damar, dan beberapa naskah lontar menyatakan beliau adalah anak dari Arya Damar.

Adwaya Brahman Shri Tinuheng Pura ( Beliau yang di hormati di Singasari & Majapahit ) beristrikan Dar Jingga ( Sira Alaki Dewa / beliau yang bersuami seorang Dewa ), berputra :
  1. Raden Cakradara (suami Tribhuwana Tungga Dewi)
  2. Arya Damar / Adityawarman Raja Palembang
  3. Arya Kenceng
  4. Arya Kuta Wandira
  5. Arya Sentong
  6. Arya Belog (arya tan wikan)

Sekilas tentang Arya Damar

Adityawarman / Arya Damar 

yang bergelar Udayadityawarman Prataparakramarajendra Mauliwarmadewa, adalah seorang panglima Majapahit abad ke-14 yang kemudian menjadi uparaja (raja bawahan) Majapahit untuk wilayah Sumatera. Di katakan bahwa Arya Damar menjadi raja di Palembang, sebab penulis babad Jawa menganggap Palembang yang dulunya pusat Sriwijaya, mengacu pada Melayu atau Sumatera. Sebenarnya Arya Damar alias Adityawarman bukan menjadi raja di Palembang melainkan di Hulu Batang Hari Jambi, tepatnya di Kerajaan Darmasraya yang merupakan kerajaan kakeknya yaitu Prabu Mauliwarmadewa yang merupakan ayah dari Dara Jingga ibu dari Adityawarman.

Adityawarman adalah pendiri Kerajaan Pagaruyung di Sumatra Barat pada tahun 1347, dan ia adalah seorang panglima Kerajaan Majapahit yang berdarah Melayu. Ia adalah anak dari Adwaya Brahman seorang kerabat Raja Kertanegara dari Kerajaan Singhasari yang memangku jabatan sebagai Menteri Hino yaitu jabatan tertinggi setelah Raja pada masa pemerintahan Kerajaan Singhasari.

Sistim Kasta Di Bali

Sistim Kasta di Bali

Sampai saat ini umat Hindu di Indonesia khususnya di Bali masih mengalami polemik. Hal ini menyebabkan ketidaksetaraan status sosial diantara masyarakat Hindu. Masalah ini muncul karena pengetahuan dan pemahaman yang dangkal tentang ajaran Agama Hindu dan Kitab Suci Weda yang merupakan pedoman yang  paling ampuh bagi umat Hindu agar  menjadi manusia yang beradab yaitu memiliki kemampuan bergerak (bayu), bersuara (sabda) dan berpikir (idep) dan berbudaya yaitu menghormati sesama ciptaan Tuhan Yang Maha Esa tanpa membedakan asal usul keturunan, status sosial, dan ekonomi.

Banyak Orang terpengaruh terhadap propaganda pandangan orang-orang Barat tentang Kasta, padahal di Hindu (Veda) tidak ada kasta yang ada adalah "WARNA".

Apa itu KASTA..?


Nama Orang Bali

Nama Orang Bali

Nama orang Bali ini merupakan salah satu keunikan yang ada di Bali dan hingga saat ini sebagian besar orang Bali masih menggunakannya.
Mungkin Anda yang bukan orang Bali bertanya-tanya; mengapa nama depan orang Bali ada kemiripan satu sama lainya. 

Orang Bali umumnya memiliki nama depan seperti I Putu, I Wayan, I Gede, I Made, I Nyoman, I Ketut, dst. Ada juga yang memiliki nama depan seperti: Ida Bagus, Cokorda, I Gusti, Anak Agung, dst. Lalu apa sebenarnya makna dari nama depan tersebut?

Nama Orang Bali pada umumnya relatif panjang. Sebagai contoh I Dewa Agung Made Mahendra. Cukup panjang bukan? Itu padahal nama intinya hanya satu kata yaitu “Mahendra”, bisa jadi lebih panjang lagi jika nama intinya lebih dari satu kata.

Lalu apa maksud dari “I Dewa Agung Made” pada nama saya?