Google+
Tampilkan postingan dengan label Pura Kawitan. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Pura Kawitan. Tampilkan semua postingan

Kawitan Leluhur Bali

Kawitan Leluhur Bali

Orang Bali tidak akan merasa lengkap jati dirinya bila dia belum mengetahui siapa dan dimana "Kawitan” dan sejarah perjalanana Leluhurnya. Mereka tertuntut menelusuri silsilah mereka ke atas, atau yang sudah merasa ‘mempunyai’ berlomba mempertegas “sejarah” (ingat dalam tanda kutip) mereka dengan babad atau unsur-unsur yang mempertegas keberadaan “kepalingbalian” mereka, kemudian diikuti dengan pembentukan organisasi soroh (komunitas yang mendasarkan diri pada persamaan kawitan, pura leluhur), membuat terbitan ekslusif untuk anggota, bahkan terkesan anggota sidang redaksinya “tertutup”, dan seterusnya.

“Kawitan saya dimana dan Siapa ?”
barangkali itulah kalimat yang sering kita dengar di masyarakat.

Apa yang dimaksud sebenarnya dengan Kawitan?

Secara umum masyarakat mengenal kata Kawitan dengan arti asal mula atau leluhur seseorang yang menjadi cikal bakal keberadaan keluarganya di masa kini. Atau bisa dikatakan bahwa Kawitan adalah Asal mula sebuah soroh atau clan yang ada di Bali.

Mencari Kawitan orang Bali

Mencari Kawitan orang Bali

Banyak orang bingung mencari Kawitan karena pada zaman Bali Kuna belum ada pemujaan Tuhan melalui Bhatara Hyang Kawitan. Setelah kalahnya Bali pemerintahan dipegang oleh Dalem Baturenggong dengan dibantu Danghyang Nirarta yg diberi gelar Pedanda sakti Wawu Rauh baru ada pemujaan Kawitan. Jadi orang2 Bali Mula yg sudah ada di Bali sebelum masuknya Dh Nirarta menjadi bingung untuk menelusuri jejak2 leluhur mereka yg sudah ada sebelum masuknya Danghyang Nirarta.

Sehingga banyak masyarakat Bali Mula masuk kedalam klompok Pasek, contoh: Kubayan, Dukuh, Karang Buncing, Tangkas, Bandesa, masuk ke soroh Pasek, padahal Kubayan itu adalah jabatan rohaniawan desa Bali Kuna sebelum masuknya Hindu ke Bali. Dukuh adalah turunan raja-raja Bali Kuno yg diberi gelar kependetaan oleh Danghyang Nirartta yg diberi julukan Pedanda Sakti Wawurawuh. Banyak sekali kontroversi mengenai sejarah Bali ini yang perlu diluruskan. Catur Lawa (Dukuh, Pasek, Pande, Penyarikan) itu bukan soroh atau kelompok warga.

Pura Kawitan Karang Buncing - Babad Bali Kebo Iwa

Pura Kawitan Karang Buncing - Babad Bali Kebo Iwa

Pura Kawitan Treh Sri Karang Buncing

Pura Kawitan Sri Karang Buncing terletak di depan SD Negeri I Blahbatuh, Jalan Dharmawangsa, tepatnya seratus meter ke utara Pura Puseh, Desa Pakraman Blahbatuh, Gianyar. 

Konsep pemujaan Tuhan melalui Bhatara Hyang Kawitan setelah datangnya Danghyang Nirartta di Bali yaitu sezaman dengan keberadaan beberapa generasi setelah era Sri Karang Buncing. 
Sri Karang Buncing muncul dua periode, Sri Karang Buncing ke I saudara kandung dengan Sri Rigis yang melahirkan Sri Kbo Iwa dan adik kandung Sri Kbo Iwa lahir buncing (laki dan perempuan) dan diberi nama Sri Karang Buncing juga, kalau boleh dikatakan Sri Karang Buncing yang ke II, lalu beliau dinikahkan berdua yang melahirkan para warga Sri Karang Buncing yang ada di jagat ini. Sri Karang Buncing II adalah adik kandung dari Sri Kebo Iwa yang hidup sekitar tahun 1324 Masehi. Nama Sri Karang Buncing inilah yang dijadikan momentum untuk mengenang para leluhur oleh para warga dan dipertegas kembali dalam ART Sri Karang Buncing, pasal 21, pada Mahasabha, hari senin, tanggal 2 Pebruari 2004, di Nusa Mandala Tohpati, Denpasar.

Peralihan kekuasaan memang membawa dampak politik psikologis bagi warga Sri Karang Buncing dalam kepemerintahan di Bali untuk mencari identitas leluhur mereka terdahulu karena nyineb wangsa (menutup asal usul) sehingga di masyarakat ada yang menyebut diri,:

  • prabali karang buncing, 
  • arya karang buncing, 
  • sri karang buncing, 
  • gusti karang buncing, 
  • bendesa karang buncing, 
  • pasek karang buncing, 
  • soroh karang, 
  • dan lain-lain, tergantung dari sisi mana memulainya sesuai tugas dan jabatan beliau saat itu. 

Bhisama Pande 1

Tentang Pura Besakih dan Pura Penataran Pande di Besakih



Bhisama pertama, berupa bhisama agar Warga Pande tidak lupa menyungsung Pura Besakih dan Pura Penataran Pande di Besakih. Bhisama ini dipesankan dengan tegas oleh Mpu Siwa Saguna kepada Brahmana Dwala di Pura Bukit Indrakila sebagai berikut : ”Mangke hiyun ira turun ing Besaki. Didine ane Penataran Pande. Kita aywa lupa bakti ring kawitan ring Besakih”. (Sekarang kupesankan kepadamu, pergilah engkau ke Besakih. Disana ada Penataran Pande. Jangan lupa sujud bakti kepada kawitanmu di Besakih).

Apa akibatnya kalau Warga pande lupa nyungsung Ida Betara Kawitan yang berstana di Pura Ida Ratu Bagus Pande di Besakih ? marilah kita resapkan dan camkan Bhisama Mpu Siwa Saguna kepada Brahmana Dwala berikut : ”Warahakena katekeng mahagotranta, ri wekas inget-inget aja lali. Yan kita lipya ngaturanga panganjali ring Bhatara Kawitan, tan wun kita kabajrawisa de paduka Bhatara, sugih gawe kurang pangan”. (sebarluaskanlah kepada keluarga besarmu, sampai keturunanmu dikemudian hari kelak. Ingatlah selalu, jangan sampai lupa. Kalau engkau sampai lupa menyembah (nyungsung) Bhatara Kawitan, engkau akan disalahkan oleh Ida Bhatara. Kedati usahamu sukses engkau akan selalu kekurangan pangan).

Warga pande harus menyadari bahwa Pura Penataran Ida Ratu Bagus Pande di Besakih memang mempunyai kaitan yang sangat erat dengan Pura Besakih. Gelar abhiseka Ida Bhatara di Penataran Pande di Besakih justru diketemukan dalam Raja Purana Pura Besakih dan di dalam Babad Dalem Tarukan.

Pura Kawitan - Pura Khayangan Jagat


Pura Kawitan semua warga Pasek Sanak Sapta Rsi adalah di Lempuyang Madya.
Tapi sesuai Bisama Ida Bhatara Kawitan, semua warga Pasek wajib juga menyungsung Pura Khayangan lainnya yang masih diantaranya Pura Besakih, Pura Dasar Bhuana dan Pura Silayukti.

Kenapa harus menyungsung Pura-pura tersebut…???

Mari kita kembali ke Babad Kawitan. Ida Hyang Pasupati yang berstna di Gunung Mahameru memerintahkan putra beliau Hyang Gnijaya Ke Bali untuk menata kembali kehidupan disana. Hyang Gnijaya kemudian berstana di Gunung Tohlangkir berputra 5 orang.
  1. Ida Bhatara Kawitan (Mpu Gnijaya) yang kemudian membangun Pesraman di Tampurhyang/Lempuyang (Lempuyang Madya)
  2. Ida Mpu Semeru yang kemudian membangun Pesraman di Besakih
  3. Ida Mpu Kuturan yang kemudian membangun Pesraman di Silayukti
  4. Ida Mpu Ghana yang kemudian membangun Pesraman di Dasar Gelgel
  5. Ida Mpu Bradah tinggal di Tanah Jawi.