Google+
Tampilkan postingan dengan label Gusti Bija Pulagaan. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Gusti Bija Pulagaan. Tampilkan semua postingan

Gusti Bija Pulagaan menjadi penguasa Bangli

Gusti Bija Pulagaan atau yang lebih dikenal dengan sebutan I Gusti Ngurah Bija Pulaga menjadi penguasa Bangli

Diceriterakan sebelum itu di wilayah Bangli. Ada penguasa di sana yang melawan pemerintahan Dalem. Kekuasaannya meliputi 17 desa. Itu sebabnya Dalem mengutus tanda mantrinya seperti:

  1. Ki Arya Jelantik, 
  2. Ki Arya Pinatih Perot
  3. Ki Gusti Nyoman Rai, menyelipkan keris bernama Ki Tanpa Kandang, diiringkan oleh balatentaranya. 

Setibanya di Bangli, ramai perang di sana, Ki Gusti Ngurah Jelantik berhadapan melawan Ngakan Pog, juga berhadapan dengan Ki Gusti Nyoman Rai dan di tengah-tengah perang itu kalahlah Ngakan Pog serta balatentaranya semua. 

Di sebelah selatan Bangli pasukannya dikalahkan oleh Ki Gusti Pinatih Perot. Takut semua orang Bangli, semua tidak berani melawan, maka amanlah kawasan Bangli itu, namun juga tidak ada yang berkuasa menjadi raja. 

Diceritakan kemudian I Pasek Bendesa, Ki Pasek Telagi, Ki Pasek Kayu Selem, bermusyawarah pula mereka. Karena negara Bangli tidak memiliki raja. Keinginan semua warga Pasek itu, meminta kepada Raja Dalem Ketut Smara Kepakisan di Gelgel agar ada raja yang memerintah kawasan Bangli Singharsa. 
Demikian perbincangan Ki Pasek semuanya, kemudian berjalanlah Ki Pasek semuanya menghadap kepada Dalem Gelgel. Tidak diceritakan di perjalanan. Setelah sampai di hadapan Dalem, Ki Pasek matur, memohon agar Dalem memberikan seorang penguasa yang memerintah kawasan Bangli itu.

Kyai Angelurah Pinatih Mantra di Bali

Kyai Angelurah Pinatih Mantra di Bali

setelah kemenangan Majapahit dalam perang merebut kerajaan Bedahulu, Kyai Anglurah Pinatih Mantra atau Angelurah Pinatih Mantra, diberikan tempat tinggal di Kerthalangu, Badung, menguasai kawasan Pinatih serta diberikan memegang bala sejumnlah 35.000 orang, yakni mereka yang merupakan rakyat dari Senapati Arya Buleteng

Ida Dalem Ketut Kresna Kepakisan sudah berusia senja kemudian di Samprangan beliau wafat berpulang ke Cintyatmaka pada saat mangrwa wastu sirnna pramana ning wang atau tahun Isaka 1302, tahun Masehi 1380. Beliau diganti oleh putranya Dalem Ketut Ngulesir yang bergelar Dalem Smara Kepakisan.

Diceriterakan Kyai Anglurah Pinatih Mantra, memiliki putra laki seorang, bernama:

  • Kyai Anglurah Pinatih Kertha atau I Gusti Anglurah Pinatih Kejot, Pinatih Tinjik atau I Gusti Pinatih Perot. 

Beliaulah yang dikenal menyerang serta mengalahkan kawasan Bangli Singharsa sewaktu pemerintahan Ngakan Pog yang menjadi manca di sana, sesuai dengan perintah Ida Dalem Ketut Ngulesir atau Ida Dalem Smara Kepakisan yang menjadi penguasa tahun Masehi 1380 sampai dengan 1460. 

Kyayi Anglurah Pinatih Mantra sudah tua, kemudian berpulang ke sorgaloka. Kyai Anglurah Pinatih Kertha Kejot berputra:

  • dari isteri pingarep bernama Ki Gusti Anglurah Pinatih Resi
  • dari isteri putri I Jurutkemong bernama Ki Gusti Anglurah Made Bija Pinatih 
  • serta putra laki-laki dari sor bernama I Gusti Gde Tembuku.

Diceriterakan kemudian, Kyai Anglurah Made Bija Pinatih sudah mempunyai putra, namun kakaknya I Gusti Anglurah Pinatih Rsi belum beristeri. 
Para putra I Gusti Anglurah Made Bija bernama:

  1. I Gusti Putu Pahang, 
  2. I Gusti Mpulaga utawi Pulagaan, 
  3. I Gusti Gde Tembuku, 
  4. I Gusti Nyoman Jumpahi, 
  5. I Gusti Nyoman Bija Pinatih dan 
  6. I Gusti Ketut Blongkoran. 

I Gusti Bija Pulagaan, sesuai perintah Ida Dalem Ktut Smara Kapakisan kemudian menjadi Manca di kawasan Singharsa Bangli sejak tahun Masehi 1453. Hentikan dahulu .