Google+
Tampilkan postingan dengan label Pura Kawitan Pasek. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Pura Kawitan Pasek. Tampilkan semua postingan

Mencari Kawitan orang Bali

Mencari Kawitan orang Bali

Banyak orang bingung mencari Kawitan karena pada zaman Bali Kuna belum ada pemujaan Tuhan melalui Bhatara Hyang Kawitan. Setelah kalahnya Bali pemerintahan dipegang oleh Dalem Baturenggong dengan dibantu Danghyang Nirarta yg diberi gelar Pedanda sakti Wawu Rauh baru ada pemujaan Kawitan. Jadi orang2 Bali Mula yg sudah ada di Bali sebelum masuknya Dh Nirarta menjadi bingung untuk menelusuri jejak2 leluhur mereka yg sudah ada sebelum masuknya Danghyang Nirarta.

Sehingga banyak masyarakat Bali Mula masuk kedalam klompok Pasek, contoh: Kubayan, Dukuh, Karang Buncing, Tangkas, Bandesa, masuk ke soroh Pasek, padahal Kubayan itu adalah jabatan rohaniawan desa Bali Kuna sebelum masuknya Hindu ke Bali. Dukuh adalah turunan raja-raja Bali Kuno yg diberi gelar kependetaan oleh Danghyang Nirartta yg diberi julukan Pedanda Sakti Wawurawuh. Banyak sekali kontroversi mengenai sejarah Bali ini yang perlu diluruskan. Catur Lawa (Dukuh, Pasek, Pande, Penyarikan) itu bukan soroh atau kelompok warga.

Pura Kawitan Pasek Sanak Selem

Pura Kawitan Pasek Sanak Selem

Pura pasek panyungsung saudara yang berlokasi bersebelahan dengan pura dasar bhuwana gelgel di desa gelgel. Kecamatan dan kabupaten klungkung, bukan pura kawitan, dan pura kawitan pasek adalah pura lempuyang madya. Kecamatan abang, kabupaten karangasem. Sedangkan pura pasek yang berlokasi bersebelahan dengan pura pasek yang berlokasi bersebelahan dengan pura dasar bhuwana gelgel adalah merajan dalam berbagai status bukan pura kawitan mungkin sebagai merajan / dadya, panti atau paibon, dan juga bukan merajan agung / dadya agung.

Yang dinamakan siswa tidak mesti terhadap seorang sulinggih, dan dapat berubah sesuai dengan situasi dan kondisi, asalkan yang dijadikan siswa adalah mereka yang sudah berstatus sulinggih atau brahmana berdasarkan fungsi.