Google+

Tugas dan Fungsi Brahmana (Guru/Pendeta)

Tugas dan Fungsi Brahmana (Guru/Pendeta)

setelah mengetahui apa sebenarnya "Catur Warna", seperti yang telah di ulas dalam artikel sebelumnya yang berjudul "Catur Warna merupakan Strata Sosial dalam Agama Hindu", sekarang saka akan menjoba ngegulas, apa sebenarnya Tugas dan fungsi dari Brahmana Warna, dengan tujuan agar para pembaca mengerti kebenaran dari ajaran kehidupan ini.

Brahmana (brh artinya tumbuh), berfungsi untuk menumbuhkan daya cipta rohani umat manusia untuk mencapai katentrama hidup lahir batin. Brahmana juga berarti Pendeta, yang merupakan pemimpin agama yang menuntun umat Hindu mencapai ketenangan dan memimpin umat dalam melakukan upacara agamanya. Oleh karena tugasnya itu seorang Brahmana wajib untuk mepelajari dan memelihara Weda, dan tidak melakukan pekerjaan duniawi, itulah sebabnya golongan brahmana menjadi golongan yang paling dihormati.
Dalam ajaran Warna, Seseorang dikatakan menyandang gelar Brahmana karena keahliannya dalam bidang pengetahuan keagamaan.
Jadi, status sebagai Brahmana tidak dapat diperoleh sejak lahir.
Status Brahmana diperoleh dengan menekuni ajaran agama dan pengetahuan lainnya sampai seseorang layak dan diakui sebagai rohaniwan ataupun seorang Guru. 
Brahmana adalah golongan karya yang memiliki kemampuan penguasaan ilmu pengetahuan baik pengetahuan suci maupun pengetahuan ilmiah secara umum. Dengan kemampuannya untuk merenungkan hasrat yang kuat untuk memperoleh pengertian dan memiliki suatu penguasaan naluriah yang tajam terhadap nilai-nilai hidup yang terpenting, mereka ini merupakan para pemimpin intelektual dan pemimpin rohani dari peradaban tersebut. Brahmana merupakan golongan cendekiawan yang mampu menguasai ajaran, pengetahuan, adat, adab hingga keagamaan. Kepada mereka ini dipercayakan berbagaifungsi, yang dalam masyarakat didasarkan pada spesialisasi, diberikan kepada para filsuf,seniman, pemimpin agama dan guru-guru.

Di zaman dahulu, golongan ini umumnya adalah kaum pendeta, agamawan atau brahmin. Mereka juga disebut golongan paderi atau sami. Kaum Brahmana tidak suka kekerasan yang disimbolisasi dengan tidak memakan dari makluk berdarah (bernyawa). Sehingga seorang Brahmana sering menjadi seorang Vegetarian.

Dahulu kita bertanya tentang ilmu pengetahuan dan gejala alam kepada para brahmana. Bakat kelahiran adalah mampu mengendalikan pikiran dan prilaku, menulis dan berbicara yang benar, baik, indah, menyejukkan dan menyenangkan. Kemampuan itu menjadi landasan untuk mensejahterakan masyarakat, negara dan umat manusia dengan jalan mengamalkan ilmu pengetahuannya, menjadi manggala (yang dituakan dan diposisikan secara terhormat), atau dalam keagamaan menjadi pemimpin upacara keagamaan.

Penjelasan tentang Brahmana ada pada Slokantara sloka I dan Sarasamuccaya sloka 130 yang berbunyi:
brahmano wa manusyanam adityo wapi tejasam, siro wa sarwagatresu dharmesu satyam uttamam (slokantara sloka 1)
yan ring janma manusa, brahmana sira lwih, kunang yan ring teja sanghyang aditya sira lwih, yan ring awayawa, nang panipadadi hulu ikang wisesa, yapwan ring dharma, nghing kasatyan wisesa. (sarasamuccaya 130) 
artinya:
seperti halnya golongan brahmana diantara manusia, sebagai halnya matahari diantara sumber cahaya, seperti halnya kepala diantaraanggota badan, demikianpulalah halnya kebenaran (satya) diantara kewajiban (dharma) manusia 

“…..tidak ada manusia yang melebihi Brahmana, Brahmana arti (tepatnya) ialah orang yang telah menguasai segala ajaran-ajaran Brahmacari ……….. Brahmana ialah beliau yang mempunyai kebijaksanaan yang lebih tinggi melebihi (pengetahuan) manusia umumnya……”

selanjutnya Mahabharata III. CLXXX, 21, 25 dan 26 menguraikan sifat-sifat dan tanda-tanda Brahmana dan hal itu tidak turun menurun. Bunyinya 
“…….jujur, dermawan, suka mengampuni, bersifat baik, sopan, suka melakukan pantangan agama dan pemurah dialah yang hendaknya dipandang Brahmana…..”
“……bila sifat-sifat ini ada pada Sudra dan tidak ada pada Brahmana, Sudra itu bukan Sudra dan Brahmana itu bukan Brahmana”
“Pada siapa tanda ini terdapat, hai ular, dialah yang harus dipandang Brahmana, pada siapa tanda ini tidak terdapat, hai ular, dia harus dipandang sebagai Sudra”.
dalam Sarasamuccaya sloka 56, dijelaskan pula tugas dari seorang brahmana warna, diantaranya:
adhiyita bhamano wai yajeta dadyadiyat tirthamukhyani caiwa, adhyapayedyajayecchapi yajyan pratigrahan wa wihitanupeyat (sarasamccaya 130)
nya dharma sang brahmana, mangjya, mayadnya, maweha danapunya, magelema atirtha, amarahana, wikwaning ayadnya, mananggapa dana.
artinya
inilah dharma seorang brahmana, mapuja membaca kitab suci dan sastra agama, melakukan yadnya, berderma/punia, berkunjung ke tempat-tempat suci (tirtayatra), mengajarkan agama dan pengetahuan lainnya, memimpin upacara agama dan menerima derma/punia.
disamping itu, dalam sarasamuccaya sloka 57 dijelaskan juga apa brata kewajiban seorang brahmana, berikut ini bunyi slokanya:
dharmacca satyam ca tapo damacca wimatsaritwam hristitiksanasuya, yajnacca danam ca dhritih ksama ca mahawratani dwadaca wai brahmanasya (Sarasamuccaya 57)
nyang brata sang brahmana, rwa welas kwehnya, prayekanya; dharma, satya, tapa, dama, wimatsaritwa, hrih, titiksa, anasuya, yajna, dana, dhrti, ksama, nahan pra tyekayan rwewelas; dharma satya pagwanya, tapa ngarannya sarira sang sosana, kapanasing sarira piharan kurangana wisaya, dama ngaran upasama dening tuturnya, wimatsaritwa ngarani haywa irsya, hrih ngaran ing irang, wruha ring irang wih, titiksa ngaraning haywa gong kroda, anasuya haywa dosagrahi, yadnya ngagem amuja, dana maweha danapunya, dhrti ngaraning maneb ahning, ksama ngaraning kelan, nahan brata sang brahmana.
artinya:
inilah brata seorang brahmana, dua belas banyaknya diantaranya: dharma, satya, tapa, dama, wimarsaritwa, hrih, titiksa, anasuya, yadnya, dana, dhrti dan ksama. demikian keduabelas rinciannya itu. darma dari satyalah sumbernya, tapa artinya penyucian jiwa raga, yaitu dapat mengendalikan jasmani serta mengurangi nafsu, dama artinya tenang dan sabar, bisa dan dapat menasehati diri sendiri, wimatsawitwa artinya tidak dengki dan irihati, hrih berarti malu, mempunyai rasa malu, titiksa artinya mengendalikan amarah dan tidak gusar, anasuya artinya tidak berbuat dosa, yadnya berkemauan dan melakukan yadnya, dana artinya memberikan punia/berderma, dhrti artinya menenangkan dan mensucikan pikiran, ksama artinya pemaaf dan berkesabaran. demikianlah brata (kewajiban) seorang brahmana.
Tugas seorang Guru (brahmana warna)
seharusnya setiap orang mampu menjadi Guru (brahmana) atau berfungsi sebagai seorang guru, yang memberikan pendidikan dan pengetahuan kepada yang bodoh, memajukan pengetahuandan keterampilan, memiliki kemampuan untuk membedakan yang baik dan buruk (bagi anak didik), memiliki wawasan kedepan, bijaksana, dan menjadi pemimpin masyarakat dal sebagainya.

seorang brahmana atau Guru ataupun pendeta hendaknya menjadi contoh dalam kemuliaan moralitas, keras dan adil seperti yama dan varuna, mendorong semangat hidup seperti soma, sumber pengetahuan, mengembangkan keingintahuan, menanamkan pengetahuan, disiplin dan kepatuhan. dalam weda juga dijelaskan mengenai tugas seorang brahmana, adapun slokanya:
pavakavarnah sucayovipascitah (Yayurweda XXXIII.81)
artinya:
para brahmana (guru/pendeta) harusnya bersinar seperti api, bajik dan terpelajar.

Rsir vipro vicaksanah (Rgweda IX.107.7)
artinya
seorang brahmana (guru) memiliki pengetahuan yang dalam dan kekuatan yang membedakan yang baik dan buruk, dia bijaksana.

Rsir viprah pura-eta jananam (Rgweda IX.87.3)
artinya:
seorang guru adalah seseorang yang memiliki wawasan kedepan, bijaksana dan pemimpin di masyarakatnya.

yugaya vipra uparaya siksan (Rgweda VII.87.4)
artinya:
brahmana atau Guru yang berpengetahuan tinggi menanamkan pengetahuan kepada murid (sisia) yang mendekatinya.

acaryo mrtyur varunah, soma osadhayah payah (Atharwa weda XI.5.14)
artinya:
Brhmana atau guru, hendaknya keras bagai yama (dewa kematian), seorang hakim bagaikan dewa waruna, pemberi semangat hidup bagai dewa soma, penghancur sifat-sifat buruk bagaikan tumbuh-tumbuhan yang berkhasiat obat dan penyegar bagai air.

siksanarah pradivo akamakarsanah (Atharwa weda XX.21.2)
artinya:
Brahmana atau guruadalah seseorang yang memperoleh pencerahan dan dia tidak menutup keinginanan para muridnya (sisia).
Dalam Manawa Dharmasastra menjelaskan sifat Warna Brahmana itu tidak ditijau dari keturunan. Sloka tersebut berbunyi:
adhiyiramstrayo warnah sakarmastha dwijatayah, prabruyad brahmanas twesam netarawiti niscayah (Manawa Dharma Sastra X.1)
"hendaknya supaya ketiga warna dwijati (brahmana, ksatria dan wesya) melaksanakan tugas-tugas kewajiban mereka, mempelajari weda. tetapi diantara mereka itu brahmana akan berkewajiban mengajarkannya, bukan  kedua golongan lainnya, demikianlah peraturan perundang-undangan yang telah ditetapkan."
sarwesam brahmano widyad wrttyupayanyathawidhi, prabruyaditarebhyasca swayam caiwa tatha bhawet (Manawa Dharma Sastra X.2)
"brahmana harus mengetahui cara-carauntuk hidup sebagaimana ditetapkan menurut undang-undang bagi semua, memberikan petunjuk kepada orang lain dan ia sendiri harus hidup sesuai peraturan yang berlaku."
waisesyat prakrti sraisthyan niyamasya ca dharanat, samskarasya wisesacca warnanam brahmanah prabhuh (Manawa Dharma Sastra X.3)
oleh karena sifatnya yang luar biasa, karena sifat istimewa dari asalnya, oleh karena pelaksanaan peraturan-peraturan yang berlaku, maka brahmana adalah Guru dari semua warna."
 dilihat dari ayat diatas, ditegaskan bahwa, posisi GURU derajatnya lebih tinggi, dimana hanya yang memiliki warna brahmana (profesi menyajar) yang boleh memberikan pelajaran kepada peserta didiknya.
berikut ini lebih lanjut tentang brahmana:
sudra brahmanatameti, brahmaccaiti sudratam, ksatriyajatamewam tu widyadwaisyattathaiwa ca (Manawa Dharma Sastra X.65)
“seorang Sudra menjadi Brahmana dan Brahmana menjadi Sudra (Karena sifat dan kewajiban), ketahuilah sama halnya dengan kelahiran Ksatria dan Waisya”.
brahmana brahmanayonistha ye swakarmanyawasthitah, te samyagupajiweyuh sat karmani yathakramam (Manawa Dharma Sastra X.70)
"brahmana yang beraksud bersatu dengan brahman dan berketetapan untuk melakukan kewajiban mereka akan hidup dengan jalan melaksanakan kewajiban berikut menurut hukumnya"
adhyapana madhyayam yajanam yajnanam tatha, danam pratigrahaccaiwa sat karmanyagrajan manah (Manawa Dharma Sastra X.71)
"mengajar, belajar, melakukan yadnya baik untuk diri sendiri maupun orang lain, memberi dan menerima daksina (punia), adalah enam macam kewajiban bagi brahmana"
sannam ku karmanamasya trini karmani jiwika, yajnadhyapane caiwa wisuddacca pratigrahah (Manawa Dharma Sastra X.72)
"tetapi tiga dari enam kewajiban tersebutmerupakan cara untuk hidup, diantaranya beryadnya untuk orang lain, mengajar (menjadi guru) dan menerima pemberian dari orang-orang suci"
demikian mulia seorang brahmana, sehingga beliau menjadi Guru panutan bagi warna (profesi) lainnya, jadi wajarlah posisi warna brahmana sangat di agungkan.

Tugas seorang Guru (tenaga pengajar)

disamping sloka-sloka diatas, ada beberapa sloka yang berkaitan dengan brahmana warna yang hendaknya diketahui pula, dimana sloka ini berkaitan dengan pentingnya ilmu pengetahuan serta yang berkaitan dengan tugas-tugas seorang Guru atau warna brahmana, diantaranya:
ketum krnvan aketave, peso marya apesase, sam usadbhir ajayathah (Rgweda I.6.3)
"wahai umat manusia (guru), engkau dilahirkan bersama fajar. berilah pengetahuan kepada orang-orang yang bodoh dan berilah kecantikan kepada orang-orang yang buruk rupa prilakunya"

imam dhiyam siksamanasya deva, kratum daksam varuna samsisadhi (Rgweda VIII.42.3)
"ya hyang Baruna, majukanlah intelek para siswa dan tanamkanlah pengetahuan dan ketangkasan kepada mereka"

gudham jyotih pitaro anvavidan (Rgweda VII.76.4)
"orang yang berpengetahuan tingi memiliki cahaya yang rahasya (siddhas)"

pavakavarsnah sucayo vipascitah (Rgweda VIII.3.3) 
"mereka (guru) memiliki kecemerlangan bagai kecemerlangan seperti api, memiliki kekuatan membedakan yang baik dan buruk dan mereka bijaksana"

sa cid viveda nihitam yad asam, apicyam guhyam nama gonam (Rgweda IX.87.3)
"seorang guru sarjana mengetahui rahasya (makana) pembicaraan"

trtiyena jyotisa sam visasva (Rgveda X.56.1)
"wahai umat manusia, milikilah mata ketiga dari pengetahuan itu"

 brahma jinvatam uta jinvatam dhiyah (Rgweda VIII.35.16)
"ya para dewa Aswin, semoga engkau memajukan pengetahuan dan intelek kami"

 aksan aho nahyatanota somyah (Rgweda X.53.7)
"wahai para sarjana yang mulia, kendalikanlah organ dan inderamu"

acetayad acito devo aryah (Rgweda VII.6.7)
"hyang baruna yang mulia , melalui guru menanamkan pengetahuan kepada orang-orang bodoh (orang yang tidak tahu)" 

jyotir yacchanti saviteva bahu (Rgweda VII.79.2)
"mereka para guru, bagaikan sinar, menyebarkan terang (pengetahuan)"

manur bhava, janaya daivyam janam (Rgweda X.53.6)
"wahai manusia (guru), bijaksanalah dan buatlah orang lain menjadi mulia" 

mantra-srutyam caramasi (Rgweda X.134.7)
"wahai guru, ikutilah perintah-perintah dalam ajarana weda yang suci" 

vajram sisati dhisana varenyam (Rgweda VIII.15.7)
"intelek itu menajamkan pengetahuan yang berkilauan bagai kilat (halilintar)"

jyotismatah patho raksa dhiya krtan (Rgweda X.53.6)
"semoga engkau (guru) melindungi tradisi-tradisi yang mulia yang didirikan oleh para leluhur"

vidvan padasya guhya na vocat (Rgweda VII.7.4)
"para sarjana dapat mengungkapkan berbagai rahasya pengetahuan"

acharya upanayamano brahmacarinam krnute garbhan antah (Atharwa weda XI.5.3)
"sorang Guru, pada waktu menerima seorang murid, memberikan benang/ikatan suci (upavita) kepadanya dan berada dibawah pengawasannya" 

acharyo brahmacari, brahmacahi prajapatih (Atharwa weda XI.5.16)
"Guru memelihara keungulan moral seperti pencipta alam semesta"

acaharyas tataksa nabhasi ubhe ime, urvi gambhire prthivim divam ca (Atharwa weda XI.5.8)
"Guru memperoleh pengetahuan tentang langit dan bumi serta menanamkannya kepada para muridnya"

guha nidhi nihitau brahmanasya (Atharwa weda XI.5.10)
"Guru menyimpan rahasia-rahaisa langit dan bumi di pikirannya"

sikseyam in-mahayate dive dive (Rgweda VII.32.19)
"Guru harus mengajar para siswa yang patuh setiap hari"

sikseyam asmai ditseyam sacipate manisine (Rgweda VIII.14.2)
"ya Tuhan, kami seharusnya mengajarkan dan menanamkan pengetahuan kepada siswa agar mereka cerdas"
dapat disimpulkan bahwa

Kasta Brahmana tidaklah ada, 

Agama Hindu hanya mengakui Warna Brahmana

demikian berat tugas Guru dalam hal ini warna brahmana, sehingga bila ada orang yang mengaku menjadi guru/brahmana tetapi dia tidak melaksanakan ketentuan diatas, maka tingkat pengetahuan serta kredibilitasnya sebagai brahmasa sangat diragukan. berikut ini beberapa artikel pembanding tentang Tugas dan Fungsi Brahmana (Guru/Pendeta). adapun artikel yang terkait dengan Tugas dan Fungsi Brahmana (Guru/Pendeta) diantaranya:


demikianlah sekilas Tugas dan Fungsi Brahmana, semoga para pembaca bisa lebih memahami arti warna dalam kehidupan, dan ini diharapkan menjadi penegasan, bahwa dalam agama hindu tidak mengakui adanya "Kasta Brahmana", dihindu yang ada hanyalah Brahmana Warna, dan dapat disimpulkan, bahwa apabila ada umat yang masih mengagung-agungkan Kastanya, dia dapat difonis bukan sebagai GURU ataupun umat Hindu, dimana Hindu terutama ajaran sanatana dharma tidak pernah mengenal strata sosial Kasta. dan bila umat menyebut dirinya dari Kasta Brahmana, sebenarnya dialah yang menghancurkan ajaran dan keluarganya, karena keyakinannya terhadap ajaran Dharma telah punah. sekian artikel Tugas dan Fungsi Brahmana (Guru/Pendeta) ini, semoga bermanfaat.

2 komentar:

  1. Om Swastiastu

    Semoga selalu dalam Lindungan Sang Hyang Widhi Wasa, selalu mendapat waranugraha -Nya, dengan Blog yang selalu update, bagus untuk umat Hindu dimanapun berada, umat mendapatkan informasi-informasi yang benar tentang Agama Hindu

    BalasHapus
    Balasan
    1. OM SWASTIASTU...
      suksma sampun nyarengin ring blog tyg niki, mogi sangkan paraning numadi, blog nike state mresidang state update...

      Hapus