Google+

Minggu, 14 Maret 2010

Tugas, Peranan dan Fungsi Warna, bukan kasta wangsa

Tugas, Peranan dan Fungsi Warna, bukan kasta wangsa


Peranan dan Fungsi Brahmana

Brahmana (brh artinya tumbuh), berfungsi untuk menumbuhkan daya cipta rohani umat manusia untuk mencapai katentrama hidup lahir batin. Brahmana juga berate Pendeta, yang merupakan pemimpin agama yang menuntun umat Hindu mencapai ketenangan dan memimpin umat dalam melakukan upacara agamanya. Oleh karena tugasnya itu seorang Brahmana wajib untuk mepelajari dan memelihara Weda, dan tidak melakukan pekerjaan duniawi.

Penjelasan tentang Brahmana ada pada Slokantara sloka I yang berbunyi 
“…..tidak ada manusia yang melebihi Brahmana, Brahmana arti (tepatnya) ialah orang yang telah menguasai segala ajaran-ajaran Brahmacari ……….. Brahmana ialah beliau yang mempunyai kebijaksanaan yang lebih tinggi melebihi (pengetahuan) manusia umumnya……” 
selanjutnya Mahabharata III. CLXXX, 21, 25 dan 26 menguraikan sifat-sifat dan tanda-tanda Brahmana dan hal itu tidak turun menurun. Bunyinya 
“…….jujur, dermawan, suka mengampuni, bersifat baik, sopan, suka melakukan pantangan agama dan pemurah dialah yang hendaknya dipandang Brahmana…..”
“……bila sifat-sifat ini ada pada Sudra dan tidak ada pada Brahmana, Sudra itu bukan Sudra dan Brahmana itu bukan Brahmana”
“Pada siapa tanda ini terdapat, hai ular, dialah yang harus dipandang Brahmana, pada siapa tanda ini tidak terdapat, hai ular, dia harus dipandang sebagai Sudra”.
Dalam Manawa Dharmasastra, X, 65 menjelaskan sifat Warna Brahmana itu tidak ditijau dari keturunan. Sloka tersebut berbunyi
 “seorang Sudra menjadi Brahmana dan Brahmana menjadi Sudra (Karena sifat dan kewajiban), ketahuilah sama halnya dengan kelahiran Ksatria dan Waisya”.

Peranan dan Fungsi Ksatria

Ksatria dalam bahasa sansekerta artinya suatu susunan pemerintahan, atau juga berarti pemerintah, prajurit, daerah, keunggulan, kekuasaan dan kekuatan.
Sifat-sifat Ksatria , Bhagavad gita XVIII, 43, menguraikan sebagai berikut 
“Berani, pekasa, teguh iman , cekatan dan tak mundur dalam peperangan, dermawan dan berbakat memimpin adalah karma (kewajiban) Ksatria”.
Dalam Manawa Dharmasastra I, 89, menguraikan tentang kewajiban Ksatria. Bunyinya 
“ Para Ksatria diperintahkan untuk melindungi rakyat, memberikan hadiah-hadiah, melakukan upacara kurban, mempelajari Weda dan mengekang diri dari ikatan-ikatan pemuas nafsu”.
Dalam lontar Brahmokya Widhisastra lembaran 6a, menyebutkan larangan dan sanksi-sanksi Warna Ksatria, bunyinya 
“…. Apabila ada Ksatria berbuat tidak benar………. Diluar sifat Ksatria…… mereka akan menjadi Sudra……”

Peranan dan Fungsi Waisya

Waisya (vic) dalam bahasa sansekerta berarti bermukim diatas tanah tertentu. Dari kata tersebut, kemudian berkembang artinya menjadi golongan pekerja atau seseorang yang mengusahakan pertaniaan.
Dalam Bhagavad gita XVIII, 44, menguraikan kewajiban Waisya, bunyinya 
“…Bercocok tanam, berternak sapi dan berdagang adalah karma (kewajiban) Waisya menurut bakatnya….”
Dalam Slokantara sloka 62, diuraikan juga tugas waisya;
"orang waisya bekerja sebagai petani, pengembala, pengumpul hasil tanah, bekerja dalam lapangan perdagangan dan memiliki rumah penginapan. orang yang lahir di keluarga waisya itu lahir sebagai pelindung ladang"
Selain itu dalam Manawa Dharmasastra I, 90, disebutkan pula 
“Para waisya ditugaskan untuk memelihara ternak, memberikan hadiah, melakukan upacara korban, mempelajari Weda, meminjamkan uang dan bertani”
Jadi singkatnya fungsi waisya adalah dalam bidang ekonomi.

Peranan dan Fungsi Sudra

Sudra artinya pengbdi yang utama.
Peranan dan fungsi Warna Sudra diuraikan pada Sarasamuccaya, 60, bunyinya 
“…….prilahu Sudra, setia mengabdi kepada Brahmana, Ksatria dan Waisya sebagaimana mestinya, apabila puaslah ketiga golongan yang dilayani olehnya, maka terhapuslah dosanya dan berhasil segalanya”
Dalam Bhagavadgita disebutkan bahwa 
“…meladeni (menjual tenaga) adalah kewajiban Sudra menurut bakatnya”.
Warna Sudra bukanlah berarti paling buruk dan jelek. Bhagavata Purana, VII, XI, 24, menunjukan cirri-ciri Warna Sudra sebagai mahkluk Tuhan yang utama. Bunyinya 
“… kerendahan hati, kesucian, bhakti kepada atasan dengan tulus, ikhlas beryadnya tanpa mantra, tidak mempunyai kecenderungan untuk mencuri, jujur dan menjaga sapi sang Vipra (brahmana) inilah cirri-ciri yang dimiliki oleh Sudra”.
Dalam Slokantara sloka 63, diuraikan juga kewajiban seorang sudra:
"seorang sudra ialah membuat barang pecah belah dan berdagang. ia melakukan pembelian dan penjualan, bekerja dibidang jual beli"
dari slokantara diatas, dikatakan bahwa golongan sudra adalah pedagang, menjual belikan barang dagangannya. dia tidak membuat atau memproduksi barang dagangannya karena itu tugas waisya.

Keempat Warna itu akan dapat saling isi mengisi antara satu dengan yang lainnya. Pengelompokan masyarakat ke dalam empat warna itu akan menumbuhkan hubungan social yang saling membutuhkan. Keretakan diantara profesi itu akan dapat merugikan semua pihak. 
lalu adakah golongan selain yang diatas tersebut, selain catur warna...?
tentu ada, yaitu:

golongan CANDALA

dalam slokantara 64 dikatakan bahwa:
"diantara bangsa burung, gagaklah yang candala. diantara binatang berkaki empat, keledailah yang candala. diantara manusia, orang pemarahlah yang candala dan akhirnya orang jahat itulah yang candala"
sebagai imbangan dari sloka diatas, dalam Kitab Niti Sastra I.8 disebutkan bahwa:
"diantara jenis burung jahat, burung gagak yang dianggap candala yang terkenal jahat hatinya. diantara binatang yang berkaki empat, keledailah yang candala karena tersohor rendah budinya. didalam perwatakan, tabiat pemarah itu rendah sekali karena tak mengenal kasih sayang. tetapi candala yang paling rendah melebihi ketiganya diatas itu ialah orang penghianat"
dalam Slokantara 65, kembali ditegaskan lagi bahwa yang bisa dimasukan candala adalah 8 jenis pekerjaan tertentu. adapun bunyinya"
"orang membuat kapur, pembuat arak dan minuman keras lainnya, tukang celup, tukang cuci, pembuat periuk, jagal, tukang mas, tukang celup benang, ini semua termasuk golongan delapan candala"
dan dalam slokantara 66 disebutkan kembali bahwa;
" orang yang membuat minuman keras, pencuci pakaian / penatu, jagal, pembuat periuk belanga dan tukang emas, kelimanya ini dikenal sebagai candala"
dari sloka diatas dapat dikatakan bahwa yang dinamai candala itu bukan orangnya tetapi pekerjaannya. dia tidak akan lagi dinanai candala jika ia berhenti mengerjakan pekerjaan itu.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar