Google+
Tampilkan postingan dengan label kasta sudra. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label kasta sudra. Tampilkan semua postingan

Sudra Warna - Profesi karyawan hingga direktur perusahaan

Sudra Warna - Profesi karyawan hingga Direktur Perusahaan

dalam keseharian kita dibali, sering kali kita mendengar istilah kaum sudra, bahkan adakalanya seseorang menghina dengan perkataan kasar seperti:
"nyen ci? awak jlema sudra" yang artinya siapa kamu? kamu itu hanya seorang sudra (nista)
berangkat dari perasaan "jengah" kami berusaha mencari-cari padanan kata untuk kaum sudra. dan ternyata setelah dirujukan dengan sistem catur warna, ternyata orang sudra menghina sudra. sungguh aneh... karena itu,  melalui artikel ini mencoba memberi pemahaman kepada semeton bali tentang istilah sudra tersebut. sehingga pertanyaan umum yang harus dicermati bersama adalah:
siapa sebenarnya Orang Sudra tersebut?
Sudra (Sanskerta: śūdra) adalah sebuah golongan profesi (golongan karya) atau warna dalam agama Hindu. Warna ini merupakan warna yang paling rendah. Warna lainnya adalah brahmana, ksatria, dan waisya. dalam Catur Warna, Sudra adalah golongan karya seseorang yang bila hendak melaksanakan profesinya sepenuhnya mengandalkan kekuatan jasmaniah, ketaatan, kepolosan, keluguan, serta bakat ketekunannya.

Tugas utamanya adalah berkaitan langsung dengan tugas-tugas memakmurkan masyarakat negara dan umat manusia atas petunjuk-petunjuk golongan karya di atasnya, seperti menjadi buruh, tukang, pekerja kasar, petani, pelayan, nelayan, penjaga, dll.

tidak hanya itu saja, yang termasuk kaum sudra dijaman modern saat ini adalah semua staf perkantoran, para pegawai, karyawan, bahkan supervisor hingga direktur merupakan golongan dari sudra warna.

Arya pre Gusti menjadi Warna Sudra Jaba

Arya pre-Gusti menjadi Wesya wangsa Sudra Jaba

mungkin ada yang sudah membaca babad Dalem Tarukan, dimana secara umum beliau berpesan agar sentananya tidak menggunakan nama wangsanya "pre gusti" tapi hendaknya menggunakan soroh jaba, karena itulah warnanya yang dijalankan sesungguhnya.

Hal serupa pun terjadi pada keluarga lainnya, dimana leluhurnya pre Gusti keturunannya tidak Gusti, perubahan status seperti itu telah terjadi sudah sejak lama. Sebagai contoh penulis kutip beberapa isi lontar :

Lontar Gusti Brangsinga, halaman 26 muka (26.a)

alih aksaranya: 
“ih kita sewangsaku kinabehan, ngku Hyangkasuhun kidul hana ta wakyanku ri kita mangke kita sinanggeh Arya, apan pangendanin titahku ri wekasan kita mangdadia sudra janma hana pamitangkwa ri kita aja kita lali ring kedaden apan ika ngaraning Aji, yan tan samangkana tan manggih ayu sira ri pretisentana inanggehaken kewangsan, hana juga tan inanggehaken kewangsan aja lupa kita wit sawiji samangkana samapta pawekasku”
Artinya:
hai engkau anak-anakku sekalian, aku adalah Sang Hyang Kasuhun Kidul ada pesanku terhadap dirimu sekarang engkau disebut para Arya (Gusti), karena aku akan mengubah sesuai dengan keinginanku maka keturunanmu kelak tidak akan lagi memakai gelar Arya (Gusti), engkau akan menjadi sudra (Sudra artinya tidak masih menjalankan fungsi sesuai dengan tugas orang tua atau leluhur, “Sudra bukan berarti rendah”), namun ada permintaanku kepada kamu sekalian janganlah lupa tentang asal-usulmu karena hal itu disebut Aji (Aji artinya Bapak, Aji berarti leluhur), jika kamu tidak ingat akan Kawitan sudah pasti tidak menemui kebahagiaan termasuk keturunanmu, namun ada juga keluargamu tidak akan memakai gelar itu (Gusti) namun janganlah engkau lupa asal-usulmu adalah satu, demikian sabdaku kepadamu.

Lontar Usana Jagat Bangsul, halaman 23 muka (23.a)

alih aksaranya
“…….sira sinamuakendenira Sang Prabu maring Sira para Arya sadaya wenang Sira Sang Arya angunggahaken wong sor dening Sira witing Ksatria kula, marianganggehakna aja ngaku Arya nging elingakna kaluhuranta wit sangkyeng para Arya……………..”
Artinya:
……tersebutlah Sang prabu memberikan wejangan kepada seluruh Arya, boleh kamu nanti tidak masih menggunakan wangsa ke Aryan, dan boleh menggunakan sebutan di bawahnya itu (wong sor) sekarang dari seluruhnya kamu ini janganlah masih menyebut diri Gusti namun ingatlah orang tuamu turunan para Arya...

Lontar Purana Bali, halaman 45,

alih aksaranya:
“……..saduk isaka 1817 Sira Pamangku Pura Purusada turunanira Ki Gusti Celuk tan masih inanggehaken Gusti mangkana sodanku Cokorde Mangwi apa matangia mangkana apan sira trehan Celuk mandadia sendianing Pura Purusada, nyadpada linggan Ida, twi mangkana uttama sira apan kita wolih angaturi pangayubhagia jastasmat sidimandi………….”
Artinya :
…….pada tahun isaka 1817 atau 1895 masehi keluarga besar Pamangku Pura Purusada yang merupakan keturunan Ki Gusti Celuk tidak masih menggunakan istilah Gusti demikian perintah Cokorda Mangwi, apakah sebabnya demikian karena trehan Ki Gusti Celuk menjadi sendianing Pura Purusada (orang yang dipercaya sebagai sumbu Bhatara terhadap linggih Bhatara di Pura Purusada), walapun demikian engkau tetap tergolong orang uttama karena engkau aku beri tugas menghaturkan upacara di Pura itu demikian titahku
jadi patutkah kita menghina soroh JABA, karena mereka sejatinya adalah saudara kita juga, tetapi karena keputusannya menekuti WARNA sudra dan wesya wangsa? ingatlah kawaitan/leluhur, maka kita ingat dengan tali persaudaraan kita. om tat sat - tat twam asi.

Sistim Kasta Di Bali

Sistim Kasta di Bali

Sampai saat ini umat Hindu di Indonesia khususnya di Bali masih mengalami polemik. Hal ini menyebabkan ketidaksetaraan status sosial diantara masyarakat Hindu. Masalah ini muncul karena pengetahuan dan pemahaman yang dangkal tentang ajaran Agama Hindu dan Kitab Suci Weda yang merupakan pedoman yang  paling ampuh bagi umat Hindu agar  menjadi manusia yang beradab yaitu memiliki kemampuan bergerak (bayu), bersuara (sabda) dan berpikir (idep) dan berbudaya yaitu menghormati sesama ciptaan Tuhan Yang Maha Esa tanpa membedakan asal usul keturunan, status sosial, dan ekonomi.

Banyak Orang terpengaruh terhadap propaganda pandangan orang-orang Barat tentang Kasta, padahal di Hindu (Veda) tidak ada kasta yang ada adalah "WARNA".

Apa itu KASTA..?